MEMBANGUN KECAKAPAN HIDUP
By: Date: January 2, 2017 Categories: Uncategorized

Membangun Kecakapan Hidup

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Suatu waktu saat mendampingi perserta didik kelas X SMK dalam aktivitas kunjungan industri, dengan tujuan sebuah instansi pemerintah yg berada pada pusat Ibukota negara. Agenda kami selain melaksanakan kegiatan kunjungan industri ke forum yang sesuai dengan jurusan adalah sekaligus hiburan/study tour.

Sekolah kami yang berada di pedesaan yang adalah pinggiran kabupaten dalam keseharian memang nir terlalu seringkali berteman dalam kehidupan seperti di perkotaan, & peserta didik kami pun kebanyakan bertempat tinggal pada pedesaan. Ada beberapa pengalaman yang aku dapatkan menurut rangkaian kegiatan tersebut yang membuat pikiran ini tergiur buat menuliskannya, yg berdasarkan aku perlu jadi bahan kajian dan perlu upaya positif buat memperbaiki dalam rapikan kehidupan di abad 21 ini.

Saat ini kita berada dalam masa era revolusi industri 4.0 yg menuntut beberapa kecakapan hidup yg kita kenal dengan kecakapan hidup abad 21 yaitu berpikir kritis dan pemecahan perkara, kreatifitas, komunikasi dan kolaborasi. Empat kecakapan ini penting dikuasai supaya sanggup bersaing menggunakan orang lain pada menjalani kehidupan.

Baca Juga: Penerapan Pembelajaran Abad 21

Kecakapan hayati (life skills) adalah kemampuan seseorang menerapkan sesuatu yang positif dalam kehidupan, sehingga mereka bisa mengatasi tantangan hayati yang dihadapi dan bisa bersaing menggunakan orang lain dalam mendapatkan yg diinginkannya. Kecakapan hidup ini krusial dimiliki sang setiap individu untuk menjaga keberadaan mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam sebuah acara pemaparan materi yang disampaikan pada kunjungan tadi, pemateri mencoba mengajak komunikasi menggunakan siswa supaya suasana sebagai cair dan tidak kaku, dengan segala upaya pemateri mengajak peserta untuk berkomunikasi 2 arah bahkan hingga mengiming-imingi dengan bantuan gratis bagi yg aktif. Namun selama program berlangsung tampaknya agak sulit buat membawa peserta larut pada kegiatan diskusi tadi, sebagai akibatnya pemateri harus sedikit memaksa mereka supaya ikut aktif terlibat.

Dari pengalaman tadi saya berpikir bahwa ternyata buat membentuk sebuah komunikaksi yg efektif itu nir gampang, perlu latihan dan pembiasaan sebagai akibatnya hal ini mampu menjadi suatu kecakapan yg mampu menjadi bekal pada kehidupan. Saya menganalisa insiden tersebut mungkin ditimbulkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Kondisi anak-anak yg kelelahan selesainya melakukan perjalan selama lebih kurang enam jam, istirahat yg tidak efektif menciptakan mereka tidak konsentrasi dan kurang semangat pada mengikuti kegitan.

Di zaman yg penuh tantangan ini menuntut insan buat bisa bekerja pada seluruh kondisi, sang karena itu menjaga fisik yg kuat sangat perlu dilakukan. Menjaga kebugaran menggunakan melakukan olahraga yg efektif dan efisien wajib dilatihkan kepada anak-anak sejak dini, supaya mereka terbiasa melakukannya. Namun gaya hayati yg sulit tanggal menurut gadget menjadi tantangan berat buat melakukan pembiasan tersebut, sebagai akibatnya mereka harus paham bagaimana cara memakai gadget yang ramah bagi kesehatan.

2. Suasana lingkungan baru mungkin membuat anak-anak menjadi kaku dalam beraktifitas, apalagi situasi yang sangat senjang yang mereka dapatkan diluar norma sehari-hari.

Adaptasi yg cepat perlu dibiasakan saat mereka menemukan suasana yang baru, sebagai akibatnya terbangun komunikasi yang lancar antara kedua belah pihak bisa terjalin dan hal ini akan memudahkan kolaborasi yg dapat memberikan hasil yang memuaskan.

3. Malu dan takut membicarakan perkara di depan orang poly, terutama dihadapan orang yg masih asing menyebabkan pikiran mereka sebagai dangkal dan sulit buat berpikir.

Melatih mental yg bertenaga pada setiap situasi perlu dilakukan, misalnya keberanian dalam mengungkapkan pendapat lewat diskusi-diskusi pada kelas akan mengakibatkan anak-anak belajar buat berfikir kritis pada menghadapi persoalan yg dihadapinya.

4. Terbatasnya pengetahuan yang dimiliki mengakibatkan mereka bingung buat melakukan sesuatu yg semestinya.

Penguatan literasi sangat penting dalam upaya membekali diri buat bisa merampungkan masalah (Problem Solving), pembiasaan membaca banyak sekali literatur perlu dilakukan baik melalui media cetak atau on line menggunakan memanfaatkan norma hayati mereka yang nir mampu dilepaskan menurut gadget.

Baca juga: Ghibah pada Era Milenial

Semua permasalahan tersebut harus sanggup diatasi pada memenuhi tantangan hidup pada abad 21 ini yg sedang masuk dalam fase revolusi industri 4.0 bahkan di negara maju misalnya di Jepang telah memasuki fase society 5.0 yang tantangannya jauh lebih berat. Tidak gampang buat menguasai berbagai kecakapan hayati tadi, namun menggunakan usaha & upaya yg terus menerus dilakukan sebagai akibatnya menjadi norma & tumbuh sebagai karakter hidup, semua niscaya dapat diraih.

Baca jua: Pemanfaatan Media Sosial pada Pengembangan Karakter Anak

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis jua aktif pada komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *