HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku
By: Date: January 11, 2017 Categories: Uncategorized

”Artikel Lomba Hari Pangan Nasional Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia”

Momentum Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober, sudah semestinya menjadi tonggak kebangkitan industri pangan nasional sebagai mesin penggerak untuk memanfatkan alam nusantara menjadi aneka produk pangan yang bernilai gizi tinggi. Sebagai produk budaya, pangan merupakan hasil adaptasi aktif antara manusia/masyarakat dengan lingkungannya, sehingga perwujudan ketahanan pangan harus bertumpu pada sumberdaya dan kearifan lokal, sehingga ia dapat menjadi media dalam mengembangkan budaya dan peradaban bangsa. Pangan juga terkait dengan roda perekonomian khususnya bidang pertanian, produksi pangan dan pengolahannya serta kegiatan bisnis dan perdagangan pangan. Oleh karena itu, perwujudan ketahanan pangan dan gizi tidak dapat dilepaskan dari upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan individu dan masyarakat, peningkatan daya saing SDM, yang selanjutnya menjadi daya saing bangsa.

Selain itu sinergi dan keterpaduan pembangunan bidang pangan dan gizi akan menjadi kekuatan potensial dalam pelaksanaan Program Pembangunan yang Berkeadilan dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milennium (MDGs) sebagaimana dituangkan oleh World Food Summit tahun 2009 bahwa ketahanan pangan terjadi ketika semua orang, setiap saat memiliki akses fisik, sosial dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka dan diutamakan makanan untuk hidup aktif dan sehat.

Penanganan pangan & gizi tentu saja mempunyai tantangan dan perkara yg luas & kompleks sebagai akibatnya memerlukan keterlibatan banyak sekali pemangku kepentingan baik pemerintah sentra, pemerintah daerah, termasuk warga /konsumen dari aneka macam gerombolan & lapisan, serta dunia bisnis & industri lain yang terkait. Sebagaimana yg dirilis WHO, situasi gizi global waktu ini menunjukkan dua syarat yang ekstrem. Mulai dari kelaparan sampai pola makan yg mengikuti gaya hayati yaitu rendah serat & tinggi kalori, dan kondisi kurus & pendek hingga kegemukan. Di sisi lain, penyakit menular & penyakit nir menular jua semakin tinggi. Sangat jelas peran gizi berkontribusi bermakna pada penanggulangan ke dua jenis penyakit ini. Untuk mencapai status kesehatan yang optimal, dua sisi beban penyakit ini perlu diberi perhatian lebih dalam pendekatan gizi, baik pada masyarakat kaya maupun pada grup warga miskin (WHO, 2008).

Pada ketika yang sama sebagian akbar bangsa Indonesia masih poly yang menderita kekurangan gizi terutama dalam bunda, bayi & anak. Beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain, merupakan masih tingginya nomor kemiskinan; rendahnya kesehatan lingkungan; belum optimalnya kerjasama lintas sektor & lintas program, melemahnya partisipasi rakyat; terbatasnya aksesibilitas pangan dalam tingkat keluarga terutama pada keluarga miskin; masih tingginya penyakit infeksi; belum memadainya pola asuh bunda; & rendahnya akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *