Menuju Surabaya Cerdas Bercitarasa Modern : Catatan HJKS ke-724
By: Date: January 13, 2017 Categories: Uncategorized
Parade Budaya dan Bunga di Surabaya, Risma Punya Pesan Khusus

Warga asing turut mewarnai parade budaya HJKS ke- 724 (https://news.Dtk.Com)

Surabaya terus berbenah. Tak hanya menawarkan peluang emas bagi industri tanah air, salah satu icon pendidikan pada timur Jawa ini, kini menjelma bak gadis remaja yang sedang ranum-ranumnya. Anggun,dagi dan gemar bersolek. Penutupan lokalisasi terbesar se Asia menjadi catatan cantik, heroiknya perjuangan para elite pemerintah untuk merubah citra metropolitan yang nyaman bagi siapapun. Keramahan itu semakin konkret dengan eksistensi Jembatan Suramdu & hijaunya taman bungkul, menandakan kota berlatar sejarah ini siap menghadapi persaingan globalisasi namun tidak meninggalkan budaya adi luhung warisan pendahulunya.

Kedepan, berbagai langkah strategis pun telah dipersiapkan secara matang untuk menarik minat wisatawan. Mulai dari membangun infrastuktur dan  menciptakan ikon-ikon monumental baru dalam membangun potensi wisata seperti Jembatan Kenjeran yang hendak direalisasikan sebagai ikon wisata Surabaya Timur. Pengembangan wisata bahari itu juga akan diperkuat dengan pembangunan kereta gantung atau gondola yang akan menghubungkan jembatan Kenjeran ke Suramadu.

Harus disadari, dalam beberapa dasawarsa terakhir, pariwisata telah menjadi asal penggerak dinamika warga , dan sebagai galat satu parameter pada perubahan sosial ? Budaya. Pariwisata sudah sebagai keliru satu industri terbesar pada global, dan adalah andalan utama dalam membuat devisa di berbagai negara. Namun pariwisata bukan hanya kasus ekonomi, melainkan juga perkara sosial. Pariwisata adalah suatu sistem yg multikomplek, menggunakan banyak sekali aspek yg terkait & saling mempengaruhi antar sesama. Pariwisata akan berkembang seiring menggunakan perkembangan transportasi, telekomunikasi, Sumber Daya Manusia, lingkungan hayati, & lain sebagainya. United Nation World Tourism Organization (UNWTO) meramalkan bahwa kedatangan wisatawan internasional diperkirakan mencapai 1,6 miliar orang dalam tahun 2020. Dari jumlah tadi 1,dua miliar wisatawan dari dari antar daerah (intraregional) sedangkan 378 juta orang merupakan wisatawan yg melakukan bepergian jauh.

Bagi Surabaya yg minus sumberdaya alam, kebudayaan lebih-lebih pada sinergi religi, ekologi dan pariwisata merupakan potensi dan modal yg andal. Kota ini telah berkembang pada empat gelombang kebudayaan: kebudayaan masyarakat, kebudayaan kolonial, kebudayaan nasional & kebudayaan terbaru yg secara holistik merepresentasikan peradaban seperti tergambar pada pelaksanaan HJKS ke-724.

Keselarasan budaya  budaya berbalut modernitas dalam rangkaian pelaksanaan hari jadi kota Surabaya (HJKS ke-724 ) memberi makna Surabaya siapa menjadi rumah bagi segenap elemen anak bangsa tanpa mengesampingkan sentimen negatif yang akhir-akhir ini menjadi persoalan serius negeri ini. Selayaknya pesan perjuangan, kembali merdeka dari kejumudan sosial. Parade budaya dan fashion adalah jawaban etinitas berbagai elemen masyarakat yang datang dari penjuru tanah air seperti Sumatera, Bali, Maluku hingga Papua. Berbagai karya fenomenal dari tangan-tangan kreatif semakin melengkapi keseriusan pemerintah menggali potensi lokal, salah satunya yang cukup terkenal adalah batik mangrove yang sempat mendapatkan penghargaan dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak berhenti sampai disitu. Sebagai bagian penting menurut pendidikan serta industri nusantara membawa konsekwensi kota akbar yang berkembang menjadi mega-urban buat selalu seiring menggunakan peta globalisasi. Perambahan wilayah hijau sebagai sentra perbelanjaan raksasa seringkali terjadi tarik ulur kepentingan. Satu sisi wajib menghadapi tekanan & keinginan kekuatan komersial, disisi lain Kebutuhan akan tekhnologi yang terus mengalami perkembangan, membutuhkan ruang supaya rakyat kian melek tekhnologi. Memiliki SDM memadai serta tak gagap tekhnologi tentu saja menjadi aset buat keberlangsungan pembangunan kini dan di masa yg akan datang tanpa menaifkan arti penting menurut nilai history yang akan senantiasa sebagai pengingat sepanjang zaman.

Sebagai bagian krusial dari perjalanan negeri ini, mencirikan sebuah budaya tidak relatif hanya berbekal teori semata manakala generasi belia tak tertarik lagi buat mewarisi peradaban yg sudah diperjuangkan dengan segenap jiwa raga, terrmasuk melestarikan hidangan tempoe doeloe yang sarat menggunakan makna filosofi. Festival rujak cingur & Pasar Malam Tjap Toenjoengan sebagai bagian sakral menurut aplikasi HJKS ke-742. Dengan permanen mengusung semangat 45 tanpa meninggalkan citarasa kekinian turut juga dihadirkan ragam masakan menurut penjuru nusantara.

Pesan lain yang ingin disampaikan dalam seremoni HJKS ini merupakan kekuatan finansial daerah merupakan kekuatan yg tak sanggup ditawar-tawar. Tidak sekedar merumuskan kecerdasan bagi kehidupan masyarakatnya namun bagaimana kontribusi daerah bisa menaruh sumbangsihnya terkait peningkatkan kesejahteraan jasmani serta pemenuhan kesehatan baik spirit juga mental. Untuk mencapai target tadi dibutuhkan kontuinitas pemerintah & pelaku kesehatan supaya semua elemen masyarakat bisa menikmati fasilitas kesehatan tanpa terbebani rupiah yang acapkali sebagai hambatan khususnya bagi warga kurang berada.

***

Merubah kota yg dulu identik menggunakan kekusutan tentu membutuhkan tekad dan kerja keras menurut segenap elemen masyarakat Surabaya. Dimulai dari kesadaran menurut para elite pemerintahnya bahwa globalisasi menuntut semuanya serba cepat dan jua serba terkini ditengah percaturan industri nasional khususnya pariwisata yg semakin ketat. Keunggulan lainnya adalah keberagaman masyarakatnya. Masyarakat heterogen yang dimilki Surabaya tentu saja menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mensinergikan kekuatan yg kian menampakan super powernya selama hampir satu dasa warsa ini.

Merujuk pada konsep kota cerdas atau smart city di global, keliru satunya melalui rendezvous Puncak Kota Besar Cerdas Dunia di Istambul, Turki 27 November 2013. Dari point of origin Kota Istambul, konsep kota cerdas menyebar ke banyak sekali penjuru dunia: (1) smart people ; (dua) smart governance ; (tiga) smart environment ; (4) smart economy ; (5) smart mobility ; & (6) smart living. HJKS menjadi modal andalan dan opsi baru yang dapat dikembangkan sebagai langkah inovasi dalam optimalisasi program city tour. Keseluruhan elemen tadi pada sinergi keharmonisan budaya, tekhnologi dan keramahan manusia sebagai daya tarik pariwisata Surabaya yg berpotensi menghasilkan variasi, penemuan menggunakan nilai tambah yg tinggi secara ekonomi, sosial & kultural.

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba Hari Jadi Kota Surabaya HJKS 724

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *