MENULIS BERBASIS IKHLAS
By: Date: January 15, 2017 Categories: Uncategorized

Menulis Berbasis Ikhlas

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Staf Pengajar Matematika

pada MTs Cijangkar Ciawi Tasikmalaya

Kegiatan menulis bagi sebagian orang adalah aktifitas yang sulit dan kadang menjemukan. Alasan ini adalah yg paling seringkali dilontarkan sang kebanyakan orang yang nir punya tuntutan buat menulis, bahkan oleh orang yg seharusnya melakukan aktifitas menulis.

Melakukan aktivitas menulis di zaman milenial yg serba berbasis teknologi bukan lagi hal yg sulit lantaran mampu dilakukan dimana pun & kapan pun menggunakan menggunakan peralatan yang super mudah dan canggih. Namun sepertinya walau didukung menggunakan kemudahan yang disediakan oleh teknologi, nir dan merta pula orang sanggup menulis.

Tak terkecuali juga bagi seseorang yg semestinya tidak mampu dilepaskan menurut aktivitas menulis seperti seorang akademisi, tidak seluruh diantara mereka yg terbiasa melakukan aktivitas menulis.

Berbagai alasan kadang terlontar waktu seseorang akademisi ditanya kenapa nir menulis, & alasan paling klasik merupakan lantaran tidak punya kemampuan buat menulis.

Kemampuan menulis, misalnya halnya aktivitas lain perlu dilatih agar sanggup terbiasa. Manusia ditakdirkan oleh Alloh menjadi makhluk terbaik diantara makhluk-makhluk yang lain dituntut untuk sebagai insan pembelajar berdasarkan sejak pada kandungan sampai masuk ke liang lahat.

Kegiatan belajar inilah yang memungkinkan seorang buat mampu melakukan apapun termasuk menulis. Maka saat kita ingin bisa menulis maka menulislah! Sebab belajar menulis yang paling efektif merupakan dengan menulis. Bisa dibayangkan andai saja seorang insan yang waktu kecilnya nir mau belajar berjalan, maka sampai kapanpun maka dia tidak akan bisa jalan.

Menulis merupakan salah satu upaya buat mentransfer pengetahuan yg terdapat dalam otak kedalam bentuk goresan pena agar pengetahuan tersebut bisa dibaca dan dipelajari sang orang lain, sehingga pengetahuan tadi sanggup berguna bagi banyak orang.

Seseorang yg berupaya buat mentransfer pengetahuan lewat tulisan tentu nir begitu saja menuangkan gagasan dalam bentuk goresan pena namun beliau wajib memiliki dasar ilmu yg dipelajari, sebagai akibatnya apa yg dituliskan sanggup dipertanggungjawabkan.

Proses pencarian ilmu inilah yg sebagai sangat penting waktu seorang ingin menuangkan gagasan pada bentuk goresan pena, mereka dipaksa wajib mencari asal informasi yg dibutuhkan buat disampaikan pulang dalam bentuk karya tulis. Jadi intinya kegiatan menulis harus dibarengi dengan aktivitas membaca.

Kegiatan menulis dan membaca bisa diibaratkan menjadi pasangan suami-istri pada tempat tinggal tangga yg satu dengan lainnya saling melengkapi. Oleh karena itu seorang yang rajin menulis, maka wajib rajin membaca, karena wangsit-inspirasi yg dipaparkan lewat tulisan itu sebagiannya adalah keterangan menurut output membaca & mungkin ditambah dengan pengalamannya Secara eksklusif.

Perlu perjuangan yang berat untuk sanggup menuangkan gagasan pada bentuk goresan pena, namun hal ini menjadi cara yang baik agar manusia mau terus belajar. Perlu keikhlasan dalam melaksanakannya, karena hasil jerih payah kadang tidak sebanding menggunakan output ‘materi’ yang didapat.

Profesi sebagai penulis mungkin nir poly orang yg menginginkan mengingat beban berat yg wajib ditempuhnya, namun terdapat kepuasan tersendiri yang dirasakan sang seseorang penulis yaitu waktu tulisannya mendapatkan apresiasi dari pembacanya, nir mesti berbentuk ‘materi’ tetapi pula mampu berupa tanggapan memuaskan menurut orang yang membaca goresan pena tersebut.

Saya berpendapat bahwa menulis harus diniatkan ibadah dan bersedekah, jikalau orang kaya mampu bersedekah menggunakan hartanya yang melimpah, maka seorang penulis bersedekah menggunakan ilmunya yg pahala menurut keduanya sama saja kalau niatnya ikhlas karena Alloh.

Kalau kita menulis telah diniatkan beribadah yg wajib dikerjakan dengan ikhlas, maka itu nir akan jadi beban bagi para pelakunya malah mungkin akan sebaliknya menjadi penyemangat buat terus berkarya, karena keyakinan akan mendapatkan pahala terus mendorong buat melakukan aktivitas menulis walaupun bisa saja output karyanya tersebut dikomersilkan.

Kegiatan menulis yang diawali dengan keikhlasan akan membentuk karya yang berguna bagi orang lain, sebab tulisan tersebut nir terbebani dengan hal-hal yg sifatnya materialistis. Sang penulis akan menuangkan gagasannya secara lugas & all out tanpa ada tekanan berdasarkan pihak manapun baik internal maupun eksternal.

Belajar dari para ulama terdahulu ratusan  tahun yang lalu, mereka dengan ikhlas membukukan ilmunya dalam bentuk kitab-kitab yang sampai saat ini hasil karyanya masih digunakan. Walaupun hasil karyanya masih digunakan namun mereka tidak mendapatkan royalti dari ribuan bahkan jutaan kitab yang sudah diperbanyak. Namun walau pun demikian nama mereka tetap harum dan panjang umur karena masih dikenal oleh umat Islam sampai saat ini, dan itulah pahala yang mereka dapatkan yang tidak bisa dibandingkan dengan materi apapun.

Sungguh keikhlasan menebar ilmu melalui karya tulis ini memberikan manfaat yang tidak terkira, insan yang hayati ratusan bahkan ribuan tahun setelah ilmu itu dibukukan masih sanggup mendapat paedahnya padahal orang yang menulisnya sudah tidak terdapat. Mudah-mudahan kita bisa kita semua selalu diberikan keikhlasan dalam menebar kebaikan. Amin

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melalui http://www.gokalimah.com

Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melalui http://www.pergumapi.or.id

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *