Resolusi Lebaranku, Hemat Pangkal Selamat
By: Date: January 17, 2017 Categories: Uncategorized

Bagi saya yang bukan pekerja kantoran, tidak mudah lho mengatur keuangan jelang lebaran seperti sekarang ini. Butuh perencanaan secara matang jika tidak mau stabilitas keuangan rumah tangga morat-marit. Jauh hari, berita tentang kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok sudah membuat gemas para manajer keuangan rumah tangga. Beban itu masih ditambah pula dengan moment kenaikan kelas yang berdekatan dengan lebaran yang tentunya anggaran semakin membengkak.

Sayangnya, walaupun harga-harga dirasa mahal, harus diakui kalau budaya konsumtif umat muslim, selama Ramadhan amat sangat membudaya. Faktanya, penjual makananan tetap bertebaran di sepanjang jalan dengan antrian pembeli yang juga berdesak-desakan. Perilaku inilah yang kerap dimanfaatkan penjual untuk menaikkan harga semaunya demi meraih untung sebesar-besarnya, istilah kerennya terjadilah yang namanya inflasi. Belum lagi godaan diskon besar-besaran yang bertebaran di setiap swalayan yang menurut sumber terpercaya adalah penipuan terselubung bisa jadi akan mengganggu stabilitas iman.

Ngomongin soal resolusi keuangan sebelum hingga lebaran usai, sayapun dituntut untuk memegang amanah keuangan dari suami. Berat? Memang iya, karena saya harus memutar otak agar keuangan keluarga tetap stabil dan kondusif dan kami sekeluarga bisa merayakan lebaran tanpa takut kebobolan. Agar dapat melewati momen ramadhan dan lebaran dengan “selamat” tentu saja diperlukan perencanaan serta tips-tips untuk mengelola keuangan yang tepat menjelang ramadhan sampai lebaran agar ibadah yang saya jalani membawa berkah.

Berhemat  Sejak Awal Puasa

Komitmen ini saya pegang sejak awal puasa. Karena saya berharap puasa Ramadhan tahun ini menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika tahun-tahun sebelumnya, puasa masih setengah iman (ini istilah saya sendiri) dan baru sebatas menahan makan dan dahaga,  maka tahun ini mata dan lidah harus benar-benar diajak berpuasa. Apalagi saya harus memberikan teladan kepada si kakak yang sudah mulai belajar berpuasa. Perilaku konsumtif selama ini dalam menyediakan menu berbuka ‘’istimewa’’ menjadi agenda yang harus disingkirkan. Caranya adalah dengan mencatat menu harian mulai takjil,makan besar hingga hidangan sahur mata penting mengingat selama puasa uang belanja saya alokasikan dengan membeli makanan matang. Walaupun sedikit mahal, tapi tidak ada makanan terbuang jika saya harus memasak. Untuk menghindari keinginan membeli beraneka rupa makanan, tips dari saya adalah acara ngabuburit alias berburu makanan saya lakukan mendekati bedug maghrib. Alhamdulillah, cara ini sukses menghalau nafsu belanja saya.

Puasa Baju Baru

Siapa yang tidak ingin lebaran tampil cantik dan menawan dengan baju baru. Ketika saya berkekeliling melihat- lihat harga pakaian anak mata saya terbelalak. Saya yakin itu bukanlah harga nominal sebenarnya. Bayangkan, jika harga satu pakaian anak berkisar antara Rp.100-150.000 ribu. berarti untuk 2 pasang pakaian saya harus menyisihkan sekitar Rp. 300.000 ribu dan berarti juga untuk 2 jagoan saya saya harus punya modal sekitar Rp.600.000 ribu. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran saya. Maka demi anak-anak dan menghemat anggaran tak ada salahnya tahun ini saya dan suami mengalah tak membeli baju baru.

Kelola THR Dengan Cermat

Bagi ibu rumah tangga seperti saya, yang bukan pekerja kantoran, mendapat jatah THR suami ibarat mendapat durian runtuh. Walaupun banyak yang beranggapan uang THR adalah uang ‘’nganggur’’ sehingga bisa bebas diperlakukan semaunya. Untuk saya pribadi uang THR sama saja dengan uang harian. Sama-sama ‘’uang panas’’. Jika tidak hati-hati dipastikan akan ludes dalam hitungan jam. Masalah memperlakukan uang THR ini saya dapatkan ilmunya setelah membaca artikel https://www.cermati.com/artikel/5-cara-bijak-memakai-uang-thr

Kesimpulan dari artikel yang saya baya uang THR jangan sampai membuat kalap mata sehingga melupakan kewajiban yang lain seperti bersedekah dan bayar zakat apalagi yang masih punya tunggakan hutang (nggak enak banget khan kalau lebaran masih harus berurusan dengan debt colector?)

Kurangi Stok  Kue Lebaran

Yuhuu. Siapa sih yang tidak tergoda jika bertamu disuguhi beraneka kue yang menggoda lidah. Belum lagi minuman berwarna-warni. Apalagi kalau tuan rumah lumayan royal. kita bisa memilih mau minum teh, sirup atau air mineral. Tak apalah,setahun sekali, begitulah kira-kira pikiran tuan rumah. Sayangnya masalah minuman ini seringkali terjadi pemborosan. Air minum yang disuguhkan dalam gelas sering tak habis terminum dan terpaksa dibuang karena tamu kerap menolak dengan alasan sudah minum ditempat lain. Tapi untuk saya yang masih keluarga kecil dan tak terlalu banyak tamu yang datang, cukuplah menyuguhkan beberapa jenis kue dan minuman instant sekali minum. Selain menghemat uang, tentu saja membeli makanan dan minuman dalam jumlah kecil akan menjauhkan dari mubadzir.

Siapkan Dana Ekstra

Lebaran adalah moment istimewa bagi umat Islam. Saling silaturaahim antar sesama kerabat menjadi ritual yang tak boleh terlewatkan. Ketika itu kita sering harus mengeluarkan anggaran mendadak seperti harus menyediakan hidangan istimewa bagi tamu yang datang dari jauh. Budaya salam tempel (istilah saya untuk hadiah uang untuk saudara dan tamu kecil) juga harus dijadikan perhitungan. Dan terakhir adalah menyiapkan dana ekstra liburan yang seringkali tak terduga.

So, itulah resolusi saya dalam mengatur keuangan menjelang lebaran. Selamat merayakan Idul Fitri, semoga artikel saya bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *