KAMPUNG NAGA TANAH ADAT YANG MELEGENDA
By: Date: January 19, 2017 Categories: Uncategorized

Kampung Naga Tanah Adat yang Melegenda

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Tak mampu dibantah kemajuan teknologi mempunyai andil yg sangat besar pada perubahan peradaban suatu daerah. Mudahnya mengakses berbagai informasi yg tidak terbatas ruang dan saat menaruh pengaruh terhadap perubahan sikap & prilaku seseorang yg dalam mulanya mungkin telah memiliki kebudayaan sendiri.

Dalam suatu bepergian menyusuri suatu loka yg merupakan tanah adat dengan sebagian penduduknya masih berupaya terus mempertahankan norma istiadat yg diwariskan secara turun temurun aku menemukan beberapa hal yang patut sebagai bahan pemikiran dan renungan kita semua.

Lihat Juga: Curug Dengdeng Niagara Tasikmalaya

Adalah Kampung Naga yg berlokasi pada desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat berjarak kurang lebih 30 KM berdasarkan sentra kota Tasikmalaya, adalah suatu kawasan yang masih berupaya mempertahankan tanah adatnya berdasarkan efek budaya luar. Sebagian penduduknya mencoba bertahan dengan budaya warisan nenek moyang mereka yg sudah berlangsung puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu.

Memasuki kawasan tersebut, kita di suguhi dengan tantangan  yang harus menyusuri anak tangga sebanyak kurang lebih 450 an. Namun jangan khawatir sebab untuk perjalanan masuknya posisi jalan menurun, jadi kita tinggal menahan keseimbangan badan agar bisa sampai ke tujuan. Namun ketika perjalanan pulang kita harus bersia-siap menyediakan tenaga ekstra karena harus menyusuri anak tangga dengan posisi menanjak.

Mulai memasuki Kampung Naga suasana beda sudah terasa, berdasarkan kejauhan diatas anak tangga telah terlihat kumpulan rumah yang atapnya terbuat menurut ijuk merupakan karakteristik khas berdasarkan Kampung Naga. Suasana kampung yang spesial kental terasa, sungai yg airnya masih mengalir dengan deras yg di pinggirnya jua berderet sawah semakin menambah kentara tradisi yang dijaga pada daerah tadi.

Sampai pada pintu masuk perkampungan, saya dan rombongan nir pribadi masuk, namun kami melakukan botram atau makan beserta di pinggir sungai sembari menikmati alam yang masih asri. Selesai mencicipi kuliner yg sengaja kami bawa dari rumah, aku mencoba mencari fakta mengenai Kampung Naga dan kebetulan terdapat seorang pedagang cincaw bernama kang Oloy yg sedang nongkrong menunggu pembeli.

Pria yg adalah keturunan asli Kampung Naga ini menceritakan perihal Kampung Naga sesuai pertanyaan yang aku ajukan. Kang Oloy sendiri kini tinggal pada luar Kampung Naga yang luasnya terbatas yaitu hanya sekitar 1,lima hektar & nir mampu ditambah pulang lantaran ketersediaan huma yg terbatas. Ketua istiadat memang memberikan kebebasan kepada penduduknya buat permanen tinggal di daerah Kampung Naga atau boleh jua tinggal di luar, bahkan terdapat yang sempat tinggal pada luar negeri karena bekerja dan sekolah.

Memasuki Kampung Naga, pertama yg kami temukan merupakan kondisi bangunan tempat tinggal yg spesial yaitu hampir seluruh bahannya terbuat berdasarkan kayu dan bentuknya seluruh sama. Bahan atap menurut ijuk merupakan ciri khas yang paling kental menurut rumah yg terdapat di Kampung Naga, selain itu posisi rumah dibentuk sama yaitu wajib menghadap utara atau selatan.

Kedatangan kami kesana rupanya bukan diwaktu yang sempurna karena ketika itu sedang ada acara istiadat yang berlangsung sehingga kami tidak sanggup berkeliling ke seluruh Kampung. Biasanya jikalau ada tamu rombongan semestinya membuat janji dulu sehingga waktunya sanggup disepakati dan pengunjung akan diterima disuatu tempat yg bernama bale kampung, yg saat itu tidak diperkenankan dikunjungi, & kami pun nir bisa bertemu dengan ketua tata cara yg sedang melaksanakan ritual tersebut, kami hanya ditemani oleh pemandu yg bertugas memberi penerangan seputar Kampung Naga dan mereka pula bertugas untuk menjaga tamu agar nir memasuki areal yang dipakai buat ritual.

Lihat jua: Batu Mahpar Lava Keras Galunggung

Pemandu yang menemani kami saat itu merupakan seorang bapak paruh baya yang bernama Ana Risman, dia menjelaskan secara singkat mengenai Kampung Naga & menjawab beberapa pertanyaan yg kami ajukan. Beliau merupakan salah satu penduduk yang bertahan tinggal pada sana karena kecintaannya terhadap adat warisan leluhurnya, & beliau rela menikimati hidup dengan serba sederhana ditengah kehidupan kini yg serba moderen dengan banyak sekali fasilitas hayati yg menyenangkan.

Rupanya kegigihan mempertahankan tata cara ini yg menjadi keliru satu daya tarik sehingga poly orang yg ingin menyambangi Kampung Naga, walaupun aku melihat ada beberapa barang terkini yg dipakai di sana seperti televisi & Hand Phone, sedang sumber energi listriknya mengguna daya accu lantaran di Kampung Naga ini tidak diperbolehkan menggunakan tenaga listrik dari PLN, hal ini berdasarkan Pa Ana Risman agar tidak terjadi kesenjangan antar masyarakat disana, karena dengan adanya listrik maka beberapa peralatan terbaru mampu masuk dan rakyat akan berlomba-lomba pada memenuhi perlengkapan-perlengkapan tersebut.

Kebanyakan pengunjung yg tiba ke sana merupakan lantaran penasaran dan terdapat juga yang melakukan penelitan karena Kampung Naga ini sudah dijadikan cagar budaya sang pemerintah, & pengunjung yg datang merupakan wisatawan baik dari pada maupun luar negeri. Masuk ke sana kita nir dipungut porto, relatif membayar parkir buat kendaraan yang kita bawa, dan di sepanjang jalan menuju Kampung Naga poly yang berjualan oleh-sang baik makanan spesial atau pernak pernik seputar Kampung Naga.

Ternyata tak sesakral yg di bayangkan, waktu melihat suasana secara eksklusif di Kampung Naga, rupanya efek perkembangan zaman telah mulai menyusup sedikit demi sedikit mensugesti adat yang turun temurun dijaga sang para pewarisnya dan terdapat beberapa keturunannya yang terpesona sehingga wajib keluar dan hidup di luar Kampung Naga yang ketika ini hanya masih ada 112 bangunan yang terdiri dari 110 loka antara lain merupakan loka tinggal.

Tetapi kekhasan yg tidak terdapat di loka lain tidak mampu dipungkiri sebagai pesona yang menarik buat dinikmati & diteliti, misalnya bentuk rumah yg masih kebanyakan berbahan kayu dan beratap ijuk dan aturan dalam pembuatannya, pelaksanaan ritual-ritual eksklusif yang masih berlangsung & banyak keunikan lainnya.

Beruntung masih ada pewarisnya yg mau mempertahankan tata cara norma tadi, sehingga hingga waktu ini masih terjaga. Tak gampang memang bertahan dalam kesederhanaan & keterbatasan, hanya kecintaan terhadap warisan nenek moyang yang sebagai kekuatan sehingga adat itu terus dijaga.

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis pula aktif di komunitas Gumeulis (Pengajar Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *