TIDAK BELAJAR DI SEKOLAH FAVORIT BUKAN QIAMAT
By: Date: January 24, 2017 Categories: Uncategorized

Tidak Belajar di Sekolah Favorit Bukan Qiamat

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Kebijakan pemerintah yang memberlakukan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (P2DB) tahun 2019 melalui Peraturan Menteri Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2018 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, SD, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan menuai pro & kontra pada warga .

Reaksi negatif timbul lantaran ketidakpuasan dengan sistem zonasi yg diberlakukan yang dirasa tidak memenuhi rasa keadilan sebagian masyarakat. Mereka merasa dirugikan karena nir sanggup memilih sekolah sinkron dengan keiinginannya walaupun mempunyai prestasi. Sebagian berdasarkan mereka beranggapan bahwa belajar yg dilakukan menggunakan susah payah sebagai sia-sia karena ditolak masuk di sekolah favorit.

Berbagai penolakan ditujukan oleh rakyat dengan berbagai cara, ada yg menuntut supaya kebijakan ini dicermati ulang atau dibatalkan bahkan terdapat yang menuntut supaya menteri pendidikan mundur menurut jabatannya. Belakangan tersebar warta viral di internet tentang seseorang anak yg membakar piagam penghargaan & piala yang dimilikinya gara-gara nir diterima pada sekolah yang diinginkannya.

Maksud pemerintah menerapkan kebijakan ini sebenarnya positif, yaitu ingin agar pemerataan kualitas pendidikan terjadi, sebagai akibatnya masyarakat seluruhnya sanggup merasakan layanan pendidikan berkualitas tanpa melihat latar belakang apapun. Tetapi rupanya niat baik ini tidak selamaya diterima oleh warga lantaran ada yang merasa dirugikan bahkan merasa didzolimi.

Melihat reaksi yg majemuk ini, belakangan pemerintah mengeluarkan surat edaran Mendikbud tentang PPDB Nomor 3 Tahun 2019 mengenai perubahan prosentase sistem zonasi yang awalnya 90% penjadi 80% berdasarkan daya tampung sekolah yg akan menerima siswa baru buat meredam gejolak yg terjadi.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah memang tidak akan memuaskan semua lapisan warga , namun jikalau kita melihat niat baik yg dilakukan maka kita patut mengapresiasi kebijakan tersebut dengan aneka macam pandangan yg dapat membantu pemerintah dalam menjalankan kebijakan tersebut. Kebijakan yang dikeluarkan niscaya akan menanggung resiko, sang karena itu seluruh pihak harus mampu menyikapi resiko tadi dengan mencari solusi terbaik demi kemaslahatan bangsa.

Pemberlakukan kebijakan ini setidaknya mengundang berbagai pemikiran & perilaku yg positif dari aneka macam pihak diantaranya:

1.    Pemerintah

Ketika pemerintah ingin menjalankan kebijakan ini, maka sebelumnnya wajib melalui beberapa tahapan analisis mengenai baik buruknya penerapan kebijakan. Selain itu pemerintah harus mencari solusi terbaik agar resiko negatif bisa ditangani. Seperti misalnya pemerintah menguapayakan agar seluruh sekolah mempunyai kualitas yang sama dalam berbagai aspek yang mendukung terlaksananya proses pembelajaran sehingga masyarakat tidak ragu untuk belajar pada sekolah manapun.

Pemerataan kualitas sekolah/madrasah sangat penting dilakukan agar tidak ada lagi istilah sekolah favorit atau sekolah. Adanya stigma sekolah favorit dan tidak favorit pada warga menjadi syarat yg kurang baik & melemahkan global pendidikan, karena ada sebagian pandangan masyarakat yang beranggapan bahwa menyekolahkan anaknya pada sekolah favorit mampu menjamin masa depan mereka menjadi lebih baik, padahal semua itu belum tentu benar.

2.    Orang tua

Cara berpikir orang tua yg selama ini harus menyekolahkan anak ke sekolah favorit wajib mulai diubah, karena anak berprestasi itu nir hanya diukur menggunakan nilai akademik tinggi atau banyak sekali penghargaan yang diterima, nilai akademik harus jua disertai menggunakan nilai perilaku & spiritual yang baik, orang tua harus berpikir bagaimana proses anak itu mendapatkan nilai.

Pembentukan karakter yang baik pada diri seorang anak itu jauh lebih krusial dari angka-angka yang mereka dapatkan. Anak yang mempunyai karakter baik, belajar di sekolah manapun pasti akan memiliki prestasi, bahkan mereka sanggup mendorong sahabat-temannya yg lainnya buat menajadi lebih baik sebagai akibatnya pemerataan pendidikan bisa dirasakan oleh seluruh pihak.

Adanya istilah sekolah favorit & non favorit juga terkadang sebagai ajang persaingan antar orang tua. Sebagian orang tua akan merasa bangga & terangkat gengsinya jika anaknya mampu belajar pada sekolah yang dari mereka termasuk sekolah favorit, sang karena itu mereka berupaya menggunakan berbagai cara supaya anaknya bisa belajar pada sekolah favorit walaupun terkadang wajib memakai cara yg kurang baik, dan ini merupakan sudah mendidik anaknya secara tidak langsung untuk melakukan hal yang buruk.

3.    Anak

Selama ini kita melatih anak buat mampu berkompetisi menggunakan orang lain, yg terkadang untuk memenagkan kompetisi tersebut dilakukan dengan cara yg nir sesuai atau menyalahi aturan. Padahal ada yg lebih krusial yaitu mengajarkan anak buat mampu berafiliasi dengan orang lain, hal ini akan menumbuhkan kepedulian sosial yg tinggi pada diri anak yang tidak melulu memikirkan diri sendiri.

Pendidikan anak harus disesuaikan dengan tuntutan zaman yang sedang berlangsung, saat ini kita sedang menghadapi tantangan abad 21 termasuk dalam dunia pendidikan yang menuntut agar peserta didik menguasai empat tangtangan yang harus diahadapi yang dikenal dengan istilah 4C yaitu (Critical Thinking and problem solving, Creativity and innovation, Communication, dan Collaboration).

Diakui atau tidak, selama ini kita hanya mengukur keberhasilan anak dalam belajar hanya menilai prestasi akademik saja, padahal prestasi akademik wajib jua dibarengi menggunakan pembentukan karakter baik pada diri anak. Prestasi akademik yg diraih ketika ini belum tentu sanggup menghantarkan keberhasilan anak pada masa yang akan datang begitu mereka menjalani kehidupan yg sebenarnya pada rakyat.

Di zaman kini dimana teknologi berkembang menggunakan sangat pesat, poly sekali cara untuk mengakses ilmu pengetahuan yg nir terbatas tempat, ruang dan waktu. Serorang anak yg belajar di sekolah Favorit atau bukan mempunyai kesempatan yg sama untuk mendapatkannya, apalagi saat ini alat-alat teknologi telah merambah ke seluruh kalangan pada rakyat.

Lain halnya dengan pendidikan karakter atau kompetensi perilaku dan spiritual, seorang buat menerima kecakapan tersebut harus melatih dan mengasahnya dengan bimbingan dari orang lain atau guru. Kecakapan inilah yg sebetulnya akan sangat berguna bagi anak dikemudian hari.

Banyak model orang yg berhasil pada kehidupannya walaupun belajarnya tidak di sekolah/madrasah favorit, atau bahkan terjadi sebaliknya. Katakan saja Thomas Alva Edison, seseorang pengusaha dan penemu/peneliti sukses pada global yg nir belajar pada sekolah favorit bahkan disekolah formal karena dicap sang gurunya termasuk anak yang tertinggal atau kolot, namun berkat bimbingan ibunya beliau bisa sebagai orang yang sanggup dikenal hingga saat ini.

Bisa di bayangkan oleh kita andai saja Thomas Alva Edison yg tidak poly mengahabiskan waktu belajarnya di sekolah formal/favorit tidak menemukan bola lampu yg keuntungannya sanggup kita rasakan sampai saat ini, mungkin kita tidak bisa menikmati terangnya malam hari waktu kita beraktifitas. Jadi buat menjadi orang yg berhasil pada kehidupan nir mesti belajar di sekolah favorit, sebab masa depan kita yg memilih.

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif mengelola blog pribadi bertema Pendidikan Karakter dan dapat di kunjungi di http://www.agusnananuryana2.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis pula aktif pada komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *