SELAMATKAN GURU
By: Date: February 12, 2017 Categories: Uncategorized

Selamatkan Pengajar

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Pengajar Matematika di MTs Cijangkar

Beberapa saat yg kemudian kita kejutkan dengan tayangan video yg viral di media umum mengenai sebuah insiden yg sangat memprihatinkan & menampar dunia pendidikan. Bagaimana tidak? Perilaku yang semestinya nir terjadi dalam sebuah institusi yang berupaya buat memanusiakan insan. Seorang guru yang semestinya sebagai panutan seseorang peserta didik dan seharusnya menjadi orang yang dihormati sudah dilecehkan seperti barang yg sama sekali nir berguna dan tidak berharga dihadapan para peserta didiknya.

Dalam insiden tadi, seseorang siswa menggunakan tanpa malu merokok pada pada kelas dan dengan sombongannya menantang guru yang disaksikan sang rekan-rekannya. Sungguh ini merupakan suatu perilaku yang sangat tidak pantas terjadi dalam dunia pendidikan. Guru yg di sekolah/madrasah berperan menjadi orang tua seharusnya menjadi panutan & pada hormati telah direndahkan dengan sangat hina oleh anak didiknya.

Seolah tak pernah berhenti kejadian serupa terus terjadi, ini merupakan kejadian yang terpublikasi, dan mungkin banyak kejadian yang sama namun tidak diketahui oleh masyarakat luas. Bencana dalam dunia pendidikan ini terus terjadi  seolah  kita  tidak pernah belajar dari kejadian-kejadian yang sama sebelumnya. Kita semua patut prihatin atas terjadinya bencana seperti ini, sebab ini adalah pertanda bahwa masalah dalam dunia pendidikan kita sudah sangat akut dan mesti mendapatkan perhatian yang ekstra untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan yang dicita-citakan oleh bangsa kita sejalan dengan yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional negara Indonesia.

Masalah pendidikan sebagai tanggung jawab kita seluruh menjadi bangsa. Guru pada sekolah/madrasah hanya sebagian kecilnya saja berperan & bertanggungjawab pada melaksanakan aktivitas pendidikan. Tugas dan kiprah pengajar pada sekolah/madrasah dibatasi sebagai pelaksana pendidikan pada instansi formal yg masih sangat banyak keterbatasan. Selama ini poly diantara kita yg menumpukan seluruh tanggung jawab pendidikan pada sekolah/madrasah dan ke pundak guru. Secara formal memang bahwa lingkungan sekolah/madrasah adalah institusi yg kentara menjadi pelaksana pendidikan, tetapi nir semua tanggung jawab pendidikan mampu dipikul sendiri sang sekolah/madrasah. Perlu kerjasama banyak sekali elemen buat menjalankan proses pendidikan. Semua unsur harus terlibat mulai dari orang tua yang lebih banyak waktu kebersamaannya dengan anak, lingkungan masyarakat yg setiap hari anak menghabiskan paling poly ketika di sana, pemerintah sebagai penghasil kebijakan yang berhubungan dengan pendidikan. Semuanya harus ikut aktif terlibat dan saling bekerja sama pada mewujudkan pendidikan yg berkualitas demi tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Di sekolah/madrasah guru adalah ujung tombak keberhasilan pendidikan yang sering kali dijadikan barometer keberhasilan pendidikan. Peran guru yang krusial  dalam proses pendidikan memerlukan perhatian yang serius dari berbagai pihak terutama dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang mengatur standar pendidik yang memenuhi agar bisa melaksanakan tugas profesinya sebagai guru. Guru berkualitas yang dapat melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pendidik mutlak diperlukan agar pendidikan berkualitas dapat menghantarkan output dan outcame pendidikan yang berkualitas pula, sehingga dapat bersaing dengan negara lain yang ada di seluruh dunia. Output berkualitas tidak hanya dari segi intelektualnya saja namun harus disertai dengan kematangan perilaku, karakter yang baik agar hasil dari pendidikan tidak hanya mencetak manusia yang berilmu saja tapi juga sekaligus manusia berilmu dan beradab.

Manusia yg mudun adalah manusia yang memiliki konduite layaknya insan yg selalu membatasi dirinya menggunakan norma-norma yg berlaku pada masyarakat sebagai upaya buat mempertahankan keberlangsungan kehidupan sebagai mahkluk sosial. Manusia akan memiliki peradaban misalnya layaknya insan bila mereka diasuh & pada didik oleh insan lagi, dan guru mempunyai peranan yang sangat krusial pada upaya memanusiakan manusia melalui jalur pendidikan. Oleh karena itu diperlukan guru yg berkualitas buat mewujudkan semua itu.

Dalam menjalankan tugasnya pengajar saat ini memiliki tantangan yang berat dibandingkan zaman dulu. Berbagai rintangan dan hadangan harus dihadapi oleh pengajar baik pribadi juga tidak pribadi. Perkembangan zaman yang telah serba sophisticated membarui cara pandang & rapikan kehidupan rakyat, sebagai akibatnya guru saat ini sepertinya kurang leluasa pada menjalankan tugasnya lantaran banyak sekali pertimbangan, terkesan bahwa pengajar selalu serba galat pada bertindak terutama dalam upaya mendidik anak atau siswa. Sifat pengajar yang kaku ini menyebabkan peristiwa-kejadian yg salah mengenai perilaku anak menjadi terbiarkan yg mengakibatkan anak menggunakan bebas berprilaku sinkron dengan apa yg diinginkannya entah itu keliru atau benar.

Perilaku-konduite anak yang dikerjakan pada sekolah/madrasah tidak terlepas menurut apa yang seringkali mereka lakukan di luar sekolah/madrasah. Kebiasaan-kebiasaan mereka entah itu baik atau jelek mungkin akan mereka kerjakan juga di sekolah/madrasah sebagai akibatnya lingkungan bergaul anak di luar sekolah sangat krusial diperhatikan terutama sang orang tuanya dan juga warga dimana anak itu sehari-hari beraktivitas. Disinilah pentingnya kiprah dan orang tua, keluarga & warga dalam pendidikan anak sehingga nir setiap perseteruan yang dilakukan sang anak selalu kesalahannya ditujukan terhadap institusi pendidikan atau guru.

Menjadikan guru berkualitas memang tidak semudah membalikan telapak tangan, perlu proses & upaya yang berkelanjutan di sesuaikan menggunakan perkembangan zaman. Banyak faktor yg mensugesti guru sebagai berkualitas, beberapa pertarungan yang selama ini merusak peningkatan kualitas pengajar antara lain:

1.    Sistem rekrutmen guru.

Profesi guru waktu ini masih dipandang profesi yg mudah dilakukan, sang karena itu siapa saja menggunakan gampang mampu sebagai guru. Anggapan tadi mungkin nir keliru namun pula kurang tepat, sebab tugas seorang guru tidak hanya transfer ilmu pengetahuan saja akan tetapi guru juga harus menguasai banyak sekali ilmu mengenai pendidikan atau pengajar harus mempunyai kompetensi pedagogik. Rekrutmen guru yg terkesan longgar mengakibatkan kualitas guru sebagai kurang karena mungkin guru tersebut hanya memiliki kompetensi profesional, sedangkan kompetensi yg lainnya yaitu kompetensi sosial, kompetensi kepribadian/personal & kompetensi pedagogik kurang menguasai. Memperketat proses seleksi pengajar & mengawasinya menggunakan benar mungkin menjadi solusi buat menjaga kualitas agar pendidikan bermutu mampu dicapai.

2.    Bermunculan sekolah/madrasah yang kurang memperhatikan kualitas.

Diakui atau nir waktu ini banyak sekolah/madrasah yang sebenarnya kurang layak buat menyelenggarakan pendidikan. Masyarakat yang berniat membantu pada upaya melaksanakan pendidikan memang tidak salah bahkan dibutuhkan oleh negara, namun terkadang mereka kurang memperhatikan kualitas institusi yg mereka kelola dan terkesan sembarangan pada mengelola lembaganya, termasuk pada menyediakan energi pengajar. Jadi lembaga yang tadinya berniat membantu malah harus dibantu lantaran kurang matangnya perencanaan & pengelolaan. Bahkan malah ada oknum yang memanfaatkan forum pendidikan untuk mencari laba pribadi yg akhirnya menambah makin semrawutnya sistem pendidikan. Kalau kita berkaca pada negara maju, warga yang ingin membantu pemerintah semestinya sudah mapan dalam segala hal dan siap memberikan sebagian kekayaannya buat kepentingan bangsa.

Perlu tindakan yang jelas dan tegas dari pemerintah dalam memberikan izin pendirian sekolah/madrasah. Pengkajian yang matang tentang kesiapan lembaga tersebut dalam melaksanakan kegiatan pendidikan harus betul-betul menjadi perhatian, sebab hal ini akan berimabas pada kualitas output dari sekolah/madrasah tersebut. Standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah semestinya harus ditaati dengan sepenuhnya agar kualitas pendidikan bias terjamin. Memperhatikan kualitas jauh lebih penting dari pada kuantitas sebab keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

3.    Kurangnya pelatihan guru yang berkesinambungan.

Tugas guru sehari-hari adalah berhadapan dengan mahkluk hidup yang dinamis dan cenderung mengalami perubahan yang sangat cepat. Seorang guru harus bisa mengimbangi perubahan tersebut sesuai dengan situasi yang dibutuhkan, oleh karena itu peningkatan kualitas kompetensi guru atau upgrading guru harus dilakukan secara berkesinambungan dan harus mencakup seluruh guru yang betugas di sekolah/madrasah formal tidak melihat status negeri atau swasta dan tidak memperhatikan apakah gurunya ASN atau bukan. Kesibukan guru dalam menjalankan tugas sehari-hari dengan beban kerja yang begitu berat terkadang membuat guru lupa untuk meningkatkan kualitas dirinya dengan mengisi dan mengupgrade pengetahuan yang terbaru sesuai perkembangan zaman yang sedang berlangsung. Pemerintah dalam hal ini berkewajiban untuk menyediakan fasilitas kepada guru untuk meningkatkan kompetensi diri yang mendukung pelaksanaan tugasnya sehari-hari.

4.    Tingkat kesejahteraan guru yang masih rendah.

Masalah klasik yang selama ini selalu ramai diperbincangkan dan sangat berpengaruh adalah kesejahteraan guru yang saat ini mungkin masih jauh dari harapan. Bagaimana tidak? Penghasilan guru yang notabene lulusan perguruan tinggi dan memiliki tanggung jawab yang sangat berat karena menentukan kemajuan sebuah bangsa tapi kalah oleh lulusan dibawahnya bahkan oleh orang yang tidak pernah belajar di sekolah formal sekalipun. Sebuah kata-kata ironi yang mungkin sering terdengar yaitu “Guru kerjanya ga main-main tapi gajinya main-main, sedangkan ada profesi yang kerjanya main-main tapi gajinya ga main-main”.

Dengan pendapatan yang pas-pasan dan cenderung kurang guru dituntut dengan seabreg tanggung jawab yang harus dikerjakannya setiap hari. Beban yang tak sesuai dengan pendapatan ini akhirnya banyak yang membuat guru mencari pekerjaan sampingan untuk mendapatkan pengahasilan tambahan, sehingga mereka tidak bisa fokus terhadap tugasnya sebagai guru. Tuntutan tugas guru yang begitu banyak semestinya memerlukan pesiapan dan perencanaan yang matang dalam melaksanakannya agar tujuan dari pendidikan bisa tercapai sesuai dengan yang diinginkan. Guru semestinya sudah dibebaskan dalam memikirkan masalah financial pribadi dan keluarganya agar mereka bisa focus mengerjakan tugas sesuai yang sudah ditetapkan.

Berkaca menurut Negara-negara yang sudah maju, bahwa guru pada negara-negara tersebut merupakan sebuah profesi yang benar -benar diperhatikan dan dihargai, karena guru menentukan maju mundurnya pendidikan yg berimbas dalam maju mundurnya sebuah negara. Penghargaan dan perlindungan terhadap guru menggunakan menaruh kesejahteraan yang layak akan meningkatkan harkat & martabatnya pada warga sehingga tidak terdapat rakyat yg berani melecehkan profesi guru.

Menyelamatkan profesi guru berarti menyelamatkan bangsa. Profesi guru yang sangat mulia semestinya memberikan imbas yang mulia juga terhadap para pelakunya. Berbagai kalangan harus memahami bahwa peran guru sangat tinggi dalam menyumbang kemajuan sebuah bangsa. Guru berkualitas akan menghantarkan output yang berkualitas pula, agar guru berkualitas maka guru harus diposisikan sebagai profesi yang berharga, yang tanpa keberadaanya maka sebuah bangsa tidak akan mungkin bisa maju dan bersaing dengan negara-negara lainnya di dunia. Mudah-mudahan keberpihakan terhadap profesi guru semakin positif yang akhirnya bisa menyelesaikan berbagai permasalah guru yang selama ini masih membelenggu. Amin

*Pengajar Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www. pergumapi.or.id

Penulis jua aktif pada komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *