HARUSKAH GURU MENULIS?
By: Date: February 13, 2017 Categories: Uncategorized

Haruskah Pengajar Menulis?

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Pengajar Matematika pada MTs Cijangkar Ciawi Tasikmalaya

Guru merupakan orang yg paling berperan dalam proses pembelajaran pada sebuah lembaga pendidikan baik formal maupun informal, boleh dikatakan bahwa guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan. Peran pengajar yang sangat signifikan ini tidak sanggup digantikan oleh apapun, peserta didik yang memiliki kemampuan sangat pandai pun tetap memerlukan pengajar dalam mengikuti proses pembelajaran.

Diera revolusi industri 4.0 yg ketika ini sedang berlangsung, kita menggunakan mudah mendapatkan media yg sanggup dijadikan menjadi sumber buat menggali ilmu pengetahuan yg kepintarannya mungkin melebihi kepintaran pengajar yang sesungguhnya yaitu manusia. Semua warta tentang ilmu pengetahuan sanggup dicari menggunakan sangat lengkap, gampang, cepat dan murah pada media tadi, media ini mampu kita katakana menjadi guru, tetapi pengajar yg berupa mesin.

Pertanyaannya merupakan cukupkah insan jika hanya berguru pada mesin? Tentu jawabannya tidak. Secara realistis kita tidak sanggup membantah bahwa guru mesin memiliki kelebihan dibanding pengajar insan yg kelebihan-kelebihan itu nir sanggup disamai oleh manusia. Namun kelebihan-kelebihan yg dimiliki oleh pengajar mesin tetap saja mempunyai kekurangan, karena guru mesin diciptakan sang insan, jadi sepintar apapun mesin maka tetap nir bisa mengalahkan kepintaran insan.

Dalam ajaran agama Islam pencipta tidak bisa disamakan dengan hasil ciptaanya, kedudukan pencipta pasti lebih tinggi dari pada yang diciptakannya, jadi kalau manusia hanya belajar kepada mesin, maka ini akan bertentangan dengan ketentuan Alloh. Manusia tetap harus belajar kepada manusia, sebab manusia bukan mesin yang tidak memilki sifat-sifat kemanusiaan. Keberadaan  mesin masih sangat tergantung kepada kehendak manusia, oleh karena itu mesin hanya bisa dipakai sebagai media yang membantu mempermudah pekerjaan manusia dan tidak bisa menggantikan posisi manusia dalam berbagai hal.

Guru manusia nir akan pernah tergantikan perannya hingga kapan pun sang teknologi yang sophisticated. Hanya manusia yang mengerti insan, mesin yang di ciptakan manusia nir akan bisa tahu manusia yg diciptakan Tuhan. Kalau yg mengajar manusia semuanya telah digantikan sang mesin, maka insan lambat laun akan musnah.

Mesin diciptakan sang insan, jadi jika manusianya hancur tidak akan terdapat lagi yg menciptakan mesin, karena mesin tidak akan sanggup membentuk mesin. Kalau insan hancur maka alam inipun akan musnah, karena mesin tidak akan sanggup mengelola bumi. Sudah jelas penerangan Alloh pada wahyu-Nya bahwa yg sebagai kholifah pada muka bumi adalah manusia.

Tak terbantahkan bahwa pengajar teknologi sangat diharapkan pada proses pembelajaran, tetapi itu hanya sebatas transfer pengetahuan saja yg itupun membutuhkan manusia untuk mengoperasikannya. Mesin memiliki kemampuan yang hebat tetapi mempunyai kekuatan yg terbatas, tanpa manusia mesin sehebat apapun tidak terdapat artinya, sebab yg menjalankan teknologi adalah insan.

Manusia tidak akan mampu menciptakan mesin yang sama persis seperti manusia, seperti Tuhan yang menciptakan Tuhan, mesti hanya ada satu Tuhan saja. Semakin manusia berupaya menciptakan mesin yang menyerupainya maka makin dekat kemusnahannya, namun perkembangan teknologi pun tidak ada yang mampu membantahnya. Sampai kapanpun selama manusia masih ada, guru manusia akan tetap dibutuhkan, karena ada banyak hal  yang tidak ada pada guru teknologi. Teknologi seharusnya berfungsi sebagai alat bantu manusia untuk mempermudah menjalani kehidupannya.

Uraian di atas membuktikan bahwa peran insan sebagai guru memang sangat penting keberadaanya, sebab kalau manusia hanya belajar pada mesin maka global ini akan lebih cepat mengalami kepunahan. Peran penting guru ini wajib diimbangi dengan berbagai upaya buat mempertinggi kualitas menjadi seorang guru. Kelebihan yg dimiliki oleh pengajar adalah bahwa pengajar memiliki sifat humanisme (rasa) yang tidak dimiliki oleh mesin, sifat ini nir sanggup dihilangkan berdasarkan manusia menjadi penyeimbang terhadap ilmu pengetahuan yang dikuasainya pada upaya mengolah bumi buat kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan mesin.

Sisi humanisme ini nir terbentuk begitu saja, namun harus dilatih supaya manusia bisa benar-sahih sebagai insan & ini adalah tugas penting menurut seorang guru, yaitu memanusiakan insan. Dalam upaya menjalankan tugasnya tadi, seseorang guru wajib mempunyai bekal ilmu pengetahuan yg relatif, sang karena itu guru wajib terus berupaya untuk menjadi insan pembelajar yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Pengajar wajib mempunyai sifat yg dinamis sebagaimana ilmu pengetahuan selalu berkembang sesuai menggunakan zamannya.

UU Nomor 14 tahun 2005  tentang Guru dan Dosen pasal 10 mensyaratkan bahwa seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Dari keempat kompetensi tersebut, tiga diantaranya adalah kompetensi yang hanya bisa dilakukan oleh guru manusia yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian dan sosial yang semuanya lebih dominan memperhatikan sifat kemanusiaan.

Untuk melatih dan meningkatkan penguasaan kompetensi-kompetensi tersebut, seorang guru harus terus mengupgrade pengetahuan dan  kemampuannya agar bisa mengimbangi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Kemudian apa hubungannya menulis dengan peningkatan kompetensi guru? Apakah guru benar-benar harus menulis?

Menulis merupakan proses memindahkan ide atau gagasan yg ada pada otak kedalam bentuk goresan pena, setiap insan pasti memiliki kemampuan buat memasak ide & gasasan tentang suatu hal pada versi yang bhineka. Tulisan yg memberikan manfaat adalah tulisan yg memuat gagasan positif yg merupakan hasil olah pikir berdasarkan penulis yang memiliki dasar ilmu pengetahuan output gugusan antara ilmu yg diperoleh melalui output penelitian atau gagasan orang lain yg sudah dibuktikan secara ilmiah dengan pengetahuan & pengalaman yang dimiliki oleh seseorang penulis.

Untuk menyimpan ilham & gagasan dan pengetahuan yg telah dimiliki sang seorang (guru) akan lebih aman dan berguna bila dibentuk pada bentuk goresan pena. Pengetahuan yg telah terdokumentasikan pada bentuk goresan pena ini nantinya sanggup pula dimanfaatkan buat berbagai hal, baik oleh pengajar itu sendiri juga orang lain yang membutuhkan, sebagai bahan surat keterangan atau bukti fisik pembuatan karya ilmiah.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kegiatan menulis ini menandakan bahwa ada upaya dari seorang guru buat mempertinggi kompetensi sebagai penunjang dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari sebagai pengajar. Guru menjadi galat satu asal belajar bagi siswa di sekolah/madrasah yg mungkin sang beberapa peserta didik masih di tempatkan sebagai asal ilmu yang utama. Jadi kalau gurunya memiliki kemampuan yang rendah, bagaimana dengan peserta didiknya?

Tugas guru disekolah/madrasah tidak sebatas mentransefer ilmu pengetahuan yg dimilikinya, tetapi juga bertanggung jawab atas pembentukan karakter peserta didik, pada kata lain adalah pengajar bertanggung jawab terhadap pendidikan moral di sekolah/madrasah. Guru yang sepantutnya pada gugu & ditiru wajib memberikan contoh yang baik terhadap siswa. Kalau pengajar menghendaki peserta didiknya wajib sebagai insan pembelajar, maka yang pertama harus mencontohkan merupakan guru.

Kegiatan menulis ini adalah salah satu upaya membisaakan guru sebagai insan pembelajar yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Kegiatan guru menulis tidak menjadi keharusan yg penekanannya ketat seperti yang ditugaskan pada seseorang dosen, kalaupun pengajar diberikan tugas untuk membuat suatu karya ilmiah atau penelitian, maka tugas penelitian itu dilakukan buat hal-hal yg sifatnya sederhana & objek penelitiannya hanya sekitar lingkungan sekolah/madrasah loka guru melaksanakan tugasnya sehari-hari. Beda menggunakan dosen yang memang wajib melakukan penelitian sesuai menggunakan bidang keilmuanya, hal ini sinkron dengan tri pengabdian perguruan tinggi yang keliru satunya merupakan melakukan penelitian ilmiah.

Sebagaimana tertuang pada UU Nomor 14 tahun 2005 mengenai pengajar dan dosen pasal 1 menjelaskan bahwa: pengajar merupakan pendidik profesional menggunakan tugas primer mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, & mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sedangkan dosen adalah pendidik profesional & ilmuwan menggunakan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, & menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Tugas utama guru lebih dititikberatkan terhadap proses pembentukan karakter peserta didik yang semuanya berkaitan dengan rasa atau sifat kemanusiaan. Kegiatan ini tidak bisa dilakukan oleh mesin, oleh karena itu guru harus betul-betul memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memanusiakan manusia. Kemampuan ini tidak serta merta dikuasai oleh guru, namun harus melalui proses pembelajaran dan latihan yang berkesinambungan yang setiap zamannya pasti berubah tergantung dari culture manusia yang sedang berlangsung. Jadi kalau guru tidak berupaya menjadi manusia pembelajar, bagaimana guru bisa melaksanakan tugasnya sesuai dengan yang diharapkan?

Menjadi insan pembelajar merupakan suatu keharusan bagi setiap kita, tidak mesti yg berprofesi sebagai guru, bahkan pada ajaran Islam diwajibkan mencari ilmu itu pada setiap insan dari semenjak dalam kandungan hingga masuk ke liang lahat. Pengajar yang bertugas sehari-hari sebagai penyebar ilmu pengetahuan telah semestinya menempatkan diri menjadi manusia pembelajar.

Kegiatan menulis bagi seorang guru sebagai keliru satu jalan buat mempertinggi kompetensi, sebab sebelum menulis mesti memiliki bahan pengetahuan yg akan dituliskan. Bahan pengetahuan ini mampu dihasilkan menurut kegiatan membaca atau output pengalaman sehari-hari yg diperoleh. Semoga kita seluruh diberikan kekuatan untuk selalu berupaya sebagai manusia pembelajar.

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

Penulis jua aktif pada komunitas Gumeulis (Pengajar Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *