Koperasi Indonesia,Saatnya Cerdas Membaca Arah Zaman
By: Date: February 24, 2017 Categories: Uncategorized

Apabila partai politik membawa orang berpisah berdasarkan ideologi dan keyakinan politik maka koperasi membawa orang manunggal dalam membela hasrat kemakmuran beserta (M.Hatta)

Menjadi persoalan sendiri saat forum keuangan mikro dihadapkan pada masalah permodalan. Begitulah yg aku rasakan saat bekerja di sebuah instansi koperasi beberapa tahun silam. Koperasi yang mengkhususkan buat pengembangan modal bisnis pedagang, pelan namun pasti mulai mendapatkan tempat dihati rakyat. Menerapkan sistem sederhana koperasi ini menjadi oase para pelaku ekonomi mini selepas kebakaran hebat melanda pasar pada selatan kota Malang.

Namun pada perjalannya tidak semulus tekad yg didengungkan pengelola. Masalah permodalan menjadi batu sandungan yg cukup pelik. Beberapa bank konvensional yang konon sebagai kawan KSP nyatanya hanya cantik dibibir. Bunga yg cukup tinggi membuat kami wajib menimbang ulang buat bermitra menggunakan mereka yang telah bermetaformosis menjadi lembaga syariah. Tak relatif sampai disitu. Belum adanya kesadaran dari anggota buat menggunakan sebaik-baik pinjaman menjadi kapital usaha, tetapi faktanya tidak sedikit yg terpakai buat kepentingan pribadi. Hingga satu waktu sebuah bank konvensional memberikan iming-iming donasi kredit yg relatif menggiurkan. Alhasil, tak hanya mangkir berdasarkan pembayaran kredit koperasi. Justeru sebaliknya, para pelaku usaha mini itu poly yg terperdaya & terpaksa rol tikar, lantaran tak bisa mengembalikan modal pinjaman beserta bunganya.

Koperasi nir hanya adalah satu-satunya bentuk perusahaan yg secara konstitusional dinyatakan sinkron dengan susunan perekonomian yang hendak dibangun sang bangsa, namun juga dinyatakan menjadi soko guru perekonomian nasional. Koperasi dipilih sebagai tulang punggung perekonomian nasional karena sangat cocok buat menumbuhkan dan menyebarkan potensi ekonomi rakyat serta mewujudkan kehidupan demokrasi ekonomi yang berciri demokratis, otonom, partisipatif, terbuka dan berwatak sosial. Oleh karenanya pembangunan Koperasi diarahkan supaya mempunyai kemampuan sebagai badan bisnis yg efisien & sebagai gerakan ekonomi yg tangguh dan berakar dalam warga , makin mandiri dan sanggup berperan pada seluruh bidang usaha, dan memajukan kesejahteraan anggotanya.

Namun harapan tersebut tidak selamanya berjalan sinkron dengan yg direncanakan karena semakin tajamnya persaingan di dalam perekonomian berpengaruh terhadap perkembangan Koperasi. Hal ini didukung juga sang kebijakan yg menunjuk pada mekanisme pasar, menjadi akibat berlakunya sistem liberalisasi ekonomi yg kurang menguntungkan bagi Koperasi khususnya KSP. Sementara peran strategis negara buat mewujudkan ideologi ekonomi berbasis koperasi nir secara konkret & signifikan memberikan hak sosial ekonomi masyarakat berupa kemakmuran. Pertarunga lainnya adalah kepastian bisnis, segmentasi pasar, dan daya dukung organisasi yg sangat lemah. Percepatan usaha yang dimiliki berjalan lamban, dan kurang mampu bersaing di pasar, baik pasar lokal, regional, dan nasional apalagi pasar internasional.

Di satu sisi, pertumbuhan jumlah koperasi relatif menggembirakan meski berkiprah lambat. Gembar-gembor berbagai simbol ekonomi baru masa kini , seperti bank, forum gadai, bahkan forum simpan pinjam mengakibatkan pamor koperasi kian terbatas. Ekspansi koperasi untuk tampil lebih militan & sebagai besar juga tidak terlihat. Banyak usaha warga terutama pertanian dan peternakan dipercaya belum berjalan dengan efektif di tengah eksistensi koperasi. Akibatnya, secara umum publik menilai kinerja koperasi waktu ini belum cukup memuaskan.

Www.Depkop.Go.Id

Kabar baiknya, di kembali pertumbuhan yg lambat, modal yg dikelola koperasi tampak melonjak setiap tahun. Hal ini menerangkan koperasi sebagai salah satu cara lain ekonomi yg semakin akbar pada tengah kemandekan pertumbuhan anggota.

Www.Depkop.Go.Id

Secara de facto, harus diakui sosok peran koperasi memang masih tertinggal. Kedudukan koperasi terstruktur dalam posisi yg marginal & terbelenggu oleh banyak sekali kasus internal yang melemahkan seperti kapital usaha & kurangnya tenaga professional. Disisi lain, pesatnya pengaruh globalisasi pasar bebas ekonomi global sudah menggiring perekonomian Indonesia ke arus kapitalisme yg menggurita, & pada gilirannya kian menyulitkan posisi & kiprah koperasi di zona ekonomi negeri ini. Padahal bila kita pahami koperasi seharusnya justru telah selangkah lebih maju dalam modelnya, bila dibandingkan dengan contoh perusahan lain. Koperasi itu sebagai perusahaan ?Go-public? Yg nir hanya sudah membiarkan setiap orang untuk mengaksesnya. Sementara pada kepemilikannya jikalau dalam banyak sekali contoh perusahaan berbasiskan modal baru menerapakan ESOP (employee Share Ownership Plan) atau kepemilikan saham menurut para karyawan, di koperasi jangankan para karyawan, setiap konsumennya merupakan pemilik jikalau mereka menghendakinya.

Hingga waktu ini memang masih sulit pada Indonesia buat menemukan contoh-model koperasi yg ideal. Koperasi waktu ini belum banyak mengangkat keunggulannya menjadi sebuah bangun perusahaan yg maju & lebih progress di bandingkan menggunakan perusahaan yg berbasiskan pada kapital. Kebanyakan dari koperasi kita menjalankan praktek-praktek yg tidak terdapat bedanya menggunakan perusahaan yang berbasiskan kapital. Koperasi sebagai seakan-akan milik dari para pengurusnya. Anggota pasif dan tidak lebih hanya sebagai konsumen dan obyek saja. Koperasi pada parameternya pada ukur pada contoh perusahaan profit motif.

Dari hasil jajak pendapat yg dilakukan Litbang Kompas, akhir Juni 2015, diketahui bahwa hanya 17 % responden yang sebagai anggota koperasi berbagai jenis. Padahal, tingkat kepercayaan pada forum ekonomi ini relatif tinggi. Lebih menurut 70 % responden percaya bahwa koperasi masih berguna dan memberikan harapan positif buat mengembangkan kesejahteraan para anggotanya. Sayangnya persepsi positif tersebut nir berlanjut sebagai tindakan melibatkan diri sebagai anggota koperasi. Sebagian besar responden sebenarnya optimistis terhadap peran koperasi pada Indonesia. Responden meyakini eksistensi koperasi mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Dalam situasi pengembangan perekonomian warga saat ini, koperasi dipercaya sanggup membantu anggota supaya usaha mereka dapat berjalan lebih lancar.

Http://kopkuninstitute.Org

Demi mencapai pertumbuhan koperasi yang sehat, berkualitas dan berdikari, Kementerian Koperasi dan UKM menempuh kebijakan Reformasi Total Koperasi. Gerakan ini diimplementasikan dengan 3 langkah strategis, yaitu Rehabilitasi, Reorientasi dan Pengembangan.

Sumber : www. Koperasi.Net

Rehabilitasi merupakan  pembaharuan Organisasi Koperasi melalui Pemutakhiran Data dan Pembekuan/Pembubaran Koperasi. Langkah rehabilitasi diambil karena jumlah koperasi di Indonesia sangat banyak namun kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional rendah. Jumlah koperasi pada 2015 mencapai 212.135 unit namun setelah pemutakhiran data menunjukkan koperasi yang aktif hanya 150.223 unit dan sekitar 62.000 koperasi tidak aktif dibubarkan.

Reorientasi merupakan mengubah paradigma dari pendekatan Kuantitas menjadi Kualitas. Langkah ini ditempuh dengan mendorong koperasi berbasis IT sebagai bentuk efisiensi. Contohnya koperasi juga sudah dapat melakukan RAT secara Online. Melalui reformasi koperasi juga menekankan pada kualitas koperasi bukan pada jumlah atau banyaknya koperasi.

Pengembangan merupakan bentuk kebijakan reformasi koperasi yang bertahap dan terukur. Dalam hal ini, pembenahan regulasi, meningkatkan akses pembiayaan  dan fokus pada koperasi berbasis ekspor.

Masa Depan Koperasi

Esensi globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas yg sedang berlangsung waktu ini & pada masa depan merupakan semakin menghilangnya segala macam hambatan terhadap kegiatan ekonomi antar negara & perdagangan internasional. Di negara maju koperasi lahir & tetap terdapat karena satu hal, yakni adanya distorsi pasar yang membuat sekelompok petani atau penghasil mini secara individu tidak akan mampu menembus atau bermain pada pasar secara optimal. Oleh karenanya, mereka melakukan suatu kerjasama yg dilembagakan secara resmi pada bentuk suatu koperasi. Demikian pula lahirnya koperasi simpan pinjam atau kredit. Lantaran poly rakyat nir mampu menerima pinjaman menurut bank komersial konvensional, maka koperasi kredit sebagai suatu alternatif.

Apakah lembaga yang namanya koperasi sanggup survive atau sanggup bersaing di era globalisasi ekonomi & liberalisasi perdagangan global? Apakah koperasi masih relevan atau masih diperlukan warga , khususnya pelaku bisnis pada era terkini kini ini? Jawabnya: ya. Buktinya sanggup dipandang pada poly negara maju. Pada Belanda, contohnya, Rabbo Bank adalah bank milik koperasi, yg dalam awal dekade 20-an merupakan bank ketiga terbesar & konon bank ke 13 terbesar di dunia. Di AS, 90% lebih distribusi listrik desa dikuasai sang koperasi. Di Kanada, koperasi pertanian mendirikan industri pupuk & pengeboran minyak bumi. Di negara-negara Skandinavia, koperasi sebagai soko pengajar perekonomian. Di Jerman, bank koperasi Raifaissen sangat maju & krusial peranannya, dengan kantor-tempat kerja cabangnya di kota juga desa. Dan poly lagi model lain.

Tema ”Revolusi Pengelolaan Koperasi menuju Kemandirian Ekonomi Rakyat” sangatlah tepat di usia ke-61 tahun gerakan koperasi di Indonesia, mengingat koperasi masih tertinggal jauh bila dibanding soko guru ekonomi yang lain, yaitu swasta.  Di tengah derasnya persaingan dalam dunia usaha, teknologi yang semakin canggih, serta informasi yang semakin kompleks, penanganan koperasi secara tradisional rasanya sudah tidak relevan lagi karena hanya akan menghambat perkembangan koperasi. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan dari manajemen tradisional yang dijalankan oleh koperasi agar lebih professional.  Pemberdayaan Koperasi secara terstruktur dan berkelanjutan diharapkan akan mampu menyelaraskan struktur perekonomian nasional, mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, mengurangi kemiskinan, mendinamisasi sektor riil, dan memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat.

Merujuk penerangan Pasal 5 ayat (1) alfabet e Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian ? Mengandung pengertian ekonomi rakyat yang bisa berdiri sendiri, tanpa bergantung dalam pihak lain yang dilandasi oleh agama pada pertimbangan, keputusan, kemampuan, dan bisnis sendiri. Dalam kemandirian terkandung juga pengertian kebebasan yang bertanggung jawab, otonomi, swadaya, berani mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri, & kehendak untuk mengelola diri sendiri.

Oleh karenanya perlu adanya pengembangan dari manajemen tradisional yg dijalankan sang koperasi agar lebih professional. Penerapan manajemen kualitas perlu dilakukan pada perkoperasian. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : peningkatan partisipasi anggota, informasi pasar, peningkatan taktik pemasaran, peningkatan produktivitas dengan penggunaan faktor produksi secara efektif, komunikasi dengan indera modern, aliran kabar yg lancar, & penggunaan teknologi yg tepat guna.

Kesimpualnnya :

1. Koperasi akan eksis jika terdapat kebutuhan kolektif buat memperbaiki ekonomi secara berdikari. Masyarakat yg sadar akan kebutuhannya buat memperbaiki diri menaikkan kesejahteraannya atau berbagi diri secara berdikari adalah prasyarat keberadaan koperasi.

2. Koperasi akan berkembang bila terdapat kebebasan (independen) & otonomi buat berorganisasi serta pemahaman nilai-nilai koperasi sang pengurus

tiga. Koperasi akan semakin dirasakan peran dan manfaatnya bagi anggota dan rakyat pada umumnya bila terdapat kesadaran & kejelasan pada hal keanggotaan koperasi.

Referensi :

PERAN KOPERASI DALAMPENGEMBANGAN PEREKONOMIAN RAKYAT

PROSPEK PERKEMBANGANKOPERASI DI INDONESIA KE DEPAN: MASIH RELEVANKAH KOPERASI DI DALAM ERAMODERNISASI EKONOMI?

Langkah MenujuKonglomerasi Koperasi di Indonesia

Koperasi Dipercaya, Tetapi Kurang Diminati

Koperasi Indonesia Semakin Dewasa Hadapi PasarGlobal

Koperasi Wujudkan Ekonomi Kerakyatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *