Marimas Ecobrick, Saatnya Kembalikan Bumiku Lebih Bermartabat
By: Date: March 1, 2017 Categories: Uncategorized

Sampah..Lagi-lagi kasus sampah. Satu persoalan serius yg terus mengusik pikiranku.Setiap kali melewati sungai,parit, selokan hatiku serasa dihimpit ngilu melihat tumpukan sampah menggunung tidak terkendali. Ibarat mutiara penuh daki. Disatu sisi kita sanggup hidup dengan kehidupan yang lebih baik, lantaran alam membagi hadiah semesta dengan cuma-cuma. Tetapi dilain waktu, insan lupa berterima kasih dan tidak lagi peduli telah melukai bumi menggunakan bermacam sampah kehidupan.

Aku bukanlah aktivis lingkungan, mantan MAPALA atau pemerhati persampahan yang saban hari ngurusin hal-hal kotor yg sudah tak lagi menjadi perhatian manusia. Sungguh, aku hanya nir ingin bumiku menangis lantaran tidak lagi bisa bernafas lega. Aku tidak ingin kelak anak cucuku hilang kesempatan menikmati ranumnya aroma kembang pada kala pagi, lantaran bumi telah tidak sudi membagi oksigennya.

Lain hari waktu animo penghujan tiba, pemandangan menakjubkan pulang mengerjapkan mataku. Dari kembali angkot yang kutumpangi, aku mampu menyaksikan sungai, parit, selokan yang beberapa waktu sebelumnya penuh daki kini berubah bening. Tak tampak lagi butiran plastik, diapers anak, pembungkus ditergent juga remah-remah sisa makanan insan. Sekejab hatiku bimbang, bermuara kemanakah kiranya jerami- jerami sampah itu?

Tahukan anda, saat ini Lautan dunia semakin dicemari dan dipenuhi sampah buangan manusia yang berasal dari aliran sungai. Menurut laporan Ocean Conservancy , sebuah organisasi nirlaba bidang konservasi laut dari AS, sebanyak 95 persen sampah justru terendam di bawah permukaan. Sampah tersebut tak hanya mencelakai makhluk bawah air namun juga merusak tatanan ekosistem yang ada. Laporan itu menyebutkan lima negara yang paling berkontribusi untuk krisis sampah di lautan. Semua berada di Asia yaitu Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang memuntahkan sekitar 60 persen dari sampah plastik yang masuk lautan di seluruh dunia.

Dengan taraf kecepatan misalnya ini, diperkirakan menjelang 2025, buat setiap tiga ton ikan, akan ada 1 ton sampah plastik di bahari. Jumlah yang membuat konsekuensi ekonomi & lingkungan menjadi sangat parah & tak terbayangkan. Polusi bahari dampak sampah ini, nir hanya berdampak tidak baik terhadap lingkungan, tapi jua merugikan menurut sisi ekonomi karena pendapatan negara dari sektor kelautan jua menurun. Pemerintah Indonesia sendiri sudah menyatakan komitmennya untuk mengurangi sampah plastik yang ada pada laut hingga 70 persen dalam 2025 mendatang.

Mengapa Perlu Membuat Ecobrick?

Studi ilmiah memperlihatkan bahwa bahan kimia plastik yg terbuat dari petro-kimia ini beracun buat manusia dan tidak cocok bagi ekologi. Bahkan jumlah yg sangat mini berdasarkan bahan kimia ini memiliki imbas buruk dalam insan & mengakibatkan alergi, ketidakseimbangan hormonal, kanker serta keracunan akut. Anak-anak pada usia belia merupakan yg paling rentan terkena pengaruh buruknya. Ketika plastik dibakar, petrokimia pada dalamnya bergabung membentuk dioksin. Dioksin merupakan racun jelek & mencemari baik udara melalui asap maupun bumi dan air melalui abu.

Seiring waktu, ketika bahan kimia tersebut larut ke dalam tanah, air dan udara, mereka diserap oleh tanaman dan hewan yang pada akhirnya akan diserap juga oleh manusia, menyebabkan cacat lahir, ketidakseimbangan hormon, dan kanker. Sampah plastik yang berserakan, dibakar atau dibuang akan menghasilkan bahan kimia beracun. Bahkan rekayasa TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terakhir) juga tidak bisa menjadi solusi yang baik. Dalam waktu sepuluh tahun, atau bahkan seratus tahun, bahan kimia ini pada akhirnya akan meresap ke dalam biosfer, yang mempengaruhi peternakan dan kehidupan manusia. Plastik tidak terurai, mereka photodegrade. Ini berarti bahwa plastik perlahan-lahan akan pecah menjadi potongan-potongan kecil-kecil kemudian meresap ke dalam tanah atau air. Karena potongan-potongan ini sangat kecil mereka mudah diserap oleh tanaman, ikan dan hewan yang kita makan. Plastik juga menjadikan suhu udara menjadi lebih panas dari ke hari, karena sifat polimernya yang tidak berpori.

Dalam diskusi bertema ?Inovasi Pengurangan Sampah Plastik buat Hilirisasi Industri & Masyarakat? Di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, akhir Agustus 2017, terungkap adanya potensi sampah plastik buat dijadikan produk bermanfaat buat bangunan. Sebut saja untuk membuat material konstruski, misalnya paving, bata buat dinding, atap, & lain sebagainya.

Pemakaian plastik oleh para peneliti ITS disebut sebagai agregat yang akan mengurangi pasir, koral, maupun semen. Pemanfaatan sampah plastik, tentunya disesuaikan dengan komposisi produk yang dibutuhkan. Menurut tim peneliti ITS, dibandingkan dengan produk yang ada saat ini, dipastikan produk yang menggunakan limbah plastik tidak jauh beda mutunya. Pemanfaatan limbah plastik tersebut , tentunya harus melalui proses pemilahan yang peruntukannya sesuai konstruksi yang dibutuhkan. Misalnya untuk dinding, dipilih yang PVC karena kuat, begitu juga untuk paving atau lantai dibuat dengan mencampur pasir atau tidak.  Kelebihan kontruksi berbahan palstik menurut peneliti ITS lebih ringan. Sebab, massa jenis beton yang ada pasir, batu, semen itu jauh lebih besar dibandingkan plastik. Sehingga, akan menghemat beban yang ditanggung bangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *