ANGIN SEGAR VCT BATCH 6 DITENGAH PANDEMI COVID-19
By: Date: March 14, 2017 Categories: Uncategorized

Angin Segar VCT Batch 6 Ditengah Pandemi Covid-19

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Ditengah pandemi covid-19 dimana pemerintah mengeluarkan kebijakan social dan physical distancing, Virtual Coordinator Indonesia (VCI) kembali menggelar pelatihan bertajuk Virtual Coordinat or Training (VCT), pelakasanaan VCT saat ini sudah memasuki batch 6 yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan yang digelar atas prakarsa Dr. Gatot Hari Prowirjanto sebagai Koordinator SEAMEO Indonesia Centre Coordinator (SEA ICC) diikuti berbagai kalangan terutama para guru yang bersemangat dan secara sukarela mengikuti kegitan ini.

Dari penyelenggaraan batch 1 sampai batch 6 peserta yang mengikuti cenderung bertambah dan yang berhasil sampai menyelesaikan pelatihan pun jumlahnya makin banyak. Di Jawa Barat sendiri VCT batch 6 ini peserta yang mendaftar  sebanyak 3131 orang dari seluruh kabupaten dan kota yang ada di Jawa Barat, kebanyakan peserta berprofesi sebagai guru dari berbagai jenjang mulai TK sederajat sampai SMA sederajat.

Lihat juga: Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Dunia Pendidikan

Perkembangan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) mau nir mau seluruh aspek kehidupan harus mendapat imbasnya, pemanfaatan TIK harus dilakukan buat membantu menuntaskan pekerjaan pada tengah persaingan yg serba ketat dan cepat. Penggunaan TIK menjadi pilihan yang sempurna pada menuntaskan konflik ini, lantaran pemanfaatan TIK lebih efektif, efisien tanpa terbatas ruang dan saat.

Salah satu bidang kehidupan yang mencicipi imbasanya adalah global pendidikan, dominasi TIK sang para pengajar saat ini absolut diperlukan buat membantu menuntaskan pekerjaannya sebagai pendidik ditengah penyebaran covid-19, lantaran Proses Belajar Mengajar (PBM) dilakukan secara daring. PBM yang dilaksanakan secara daring memerlukan wahana dan prasarana berbasis TIK yg didukung oleh koneksi internet.

Pelaksanaan VCT batch 6 disaat pandemi covid-19 terjadi, sangat membantu para guru dalam upaya menguasai TIK untuk digunakan dalam melaksanakan pembelajaran secara daring, karena dalam VCT para peserta diberikan skill set dasar dalam penguasaan TIK yang nantinya bisa dikembangkan secara outodidak oleh peserta atau dengan cara berdiskusi dengan tutor sebaya sesama peserta dan saling berbagi ilmu serta saling membantu dalam menyelesaikan penugasan.

Sebelum dilakukan penugasan para peserta diberikan pembekalan materi & pemahaman mengenai VCT sebagai modal awal pengetahuan yang harus dikembangkan ketika melakukan penugasan hingga selesai mengisi kantong tugas yang semuanya dilakukan secara daring. Peserta dibagi menjadi beberapa gerombolan & dibimbing sang para instruktur serta diharuskan mengerjakan tugas tanpa bertemu secara langsung dan relatif menggunakan media umum buat berkomunikasi.

Lihat juga:Belajar dari Covid-19

Penulis sendiri yang pada penyenggaraan VCT batch 6 ini bertindak sebagai instruktur setelah melewati proses pelatihan sebagai syarat kecakapan, merasakan sendiri manfaat dari penyelenggaraan pelatihan ini. VCT merupakan pintu gerbang untuk membuka wawasan dalam berbagai bidang ilmu. TIK sebagai dasar pengetahuan menjadi media untuk mendapatkan ilmu-ilmu lainnya yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kompetensi peserta yang bekerja di bidangnya masing-masing.

Para peserta mengembangkan ilmu pengetahuan ketika bertugas sebagai presenter buat memenuhi salah satu tugas yang wajib dikerjakan, mereka saling bantu dalam tim kecil buat menyelesaikan berbagai perkara yang mereka temukan waktu mengerjakan tugas. Selama mendampingi para peserta menyelesaikan penugasan penulis menjadi pelatih menemukan beberapa pelajaran yg sangat bermanfaat.

Sebelum pelatihan pada mulai peserta dibagi pada beberapa kelompok mini dan sudah diberitahu lewat grup diskusi pada media sosial bahwa mereka merupakan peserta VCT yg mendaftar melalui link pendafataran yg disebar oleh panitia melalui media sosial. Diawal pelaksaan VCT, peserta dengan beragam profesi & latar belakang mulai terlihat motivasinya mengikuti pembinaan, diantara mereka terdapat yg sungguh-sunguh mengikuti kegitan, ada yang biasa saja, bahkan ada yang acuh tidak acuh tanpa memperdulikan

Selama dua hari pemaparan materi skill set yang harus dikuasai, tidak semua peserta bisa mengikuti kegiatan yang dilakukan secara daring melalui teleconference. Ketika ditanya alasan, beragam jawaban yang mereka sampaikan antara lain: tidak tahu, sibuk dengan kegitan lain, tidak memiliki quota dan sebagian ada yang sengaja tidak ikut karena memang tidak berniat mengikuti pelatihan karena pada saat mendaftar hanya ikut-ikutan teman tanpa mengetahui tujuannya.

Lihat juga:Covid-19 Pintu Gerbang Peradaban Baru

Begitu pun ketika masa peserta harus melaksanakan penugasan, maka seleksi alam mulai berlaku, dari 22 peserta yang saya bimbing hanya tujuh orang yang dapat menyelesaikan tugas. Instruktur harus bekerja ekstra keras untuk memotivasi dan membimbing peserta dalam melakukan penugasan, hampir setiap hari memberikan motivasi agar peserta tetap semangat melaksanakan penugasan ditengah kesibukan dan  kendala yang mereka hadapi.

Tetapi ada rasa bangga yg dirasakan oleh penulis waktu membimbing peserta yg sampai selesai mengerjakan tugas menggunakan aneka macam kendala, mereka dengan gigih terus mencoba walau gangguan permanen terjadi. Peserta yg tempat domisilinya terkendala dengan frekuwensi seluler wajib berupaya mencari saat yang tepat supaya jaringan indah, hingga-sampai harus melakukan penugasan tengah malam. Ibu-ibu yg mempunyai anak kecil, wajib berebut ketika dengan mereka yang ingin diperhatikan, belum lagi harus menyiapkan takjil karena VCT Batch 6 ini pelaksanaannya di bulan Ramadhan, & saat adzan magrib berkumandang masih melaksanakan penugasan.

Sungguh usaha yg luar biasa, apalagi apabila pengetahuan TIK masih terbatas, tetapi dengan semangat yg tinggi mereka bahu-membahu saling bantu antar satu dengan yang lainnya sampai tugas pun terselesaikan dilaksanakan & bisa memenuhu kantong tugas yg disediakan oleh panitia. Namun bagi peserta menerima ilmu pengetahuan itu lebih penting dibanding mendapatkan selembar sertifikat menjadi bukti keikutsertaan.

Seluruh peserta yg penulis bimbing berlatar belakang pengajar, dengan sukarela mereka menyediakan waktu, pikiran, tenaga dan bahkan biaya sendiri buat membeli quota agar dapat menyelesaikan tugas VCT ini. Bagi mereka pengorbanan yg sangat berat tadi nir masalah disaat situasi darurat & sulit misalnya ini asalkan mereka menerima ilmu buat menaikkan kompetensinya.

Lihat juga: Mahadata Telur Covid-19

Kalau ada orang nyinyir terhadap profesi guru yang dianggap gaftek, bagi peserta itu tidak berlaku, karena mereka tahu bahwa manusia itu harus menjadi pemelajar, kehidupan yang dinamis harus diimbangi dengan upaya positif dalam meningkatkan ilmu pengetahuan.  Stigma guru makan gaji buta dimasa pandemi covid-19 kenyataannya terbalik dengan apa yang mereka lakukan, siang malam mereka bekerja dengan berbagai keterbatasan demi kemajuan diri yang akan menyokong kemajuan bangsa melalui dunia pendidikan.

Tak sanggup dipungkiri nir semua guru memilki semangat yg sama menggunakan mereka, namun setidaknya upaya mereka sanggup menularkan energi positif bagi guru-pengajar lainnya supaya mau meningkatkan kompetensi. Semangat yang membara berdasarkan para peserta ini jua semestinya didukung sepenuhnya sang instansi terkait dengan menaruh dukungan baik moril atau bahkan materil.

VCT adalah training berbasis kesadaran, peserta menggunakan sukarela mengikuti tahapan aktivitas, pemerintah tidak perlu mengeluarkan porto tinggi untuk mengakomodir kebutuhan yang dibutuhkan oleh peserta training. Selama ini terdapat bentuk pembinaan yang dilakukan oleh intansi-intansi pemerintah dengan biaya yang jumlahnya nir sedikit, karena menggunakan fasilitas yg menyenangkan yg terkadang outputnya kurang memberikan dampak positif terhadap kemajuan yang ingin dicapai.

Pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku , outputnya tidak akan memberitahuakn output pada jangka ketika yang singkat, namun upaya wajib terus likakukan agar terbentuk suatu budaya baik yg berimbas terhadap kemajuan bangsa. Dalam melakukan proses niscaya ditemukan kekurangan & ini nir hanya terjadi pada dunia pendidikan saja, yg paling krusial merupakan bagaimana kita memperbaiki diri, dan belajar dari kesalahan tanpa menghakimi orang lain.

Itulah secercah cahaya yang penulis dapatkan setelah mengikuti VCT, energi positifnya harus tetap dipelihara dan disebarkan. Tak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Aloh swt., jangan berhenti berbuat baik karena Aloh swt. sangat tahu apa yang kita butuhkan,  sejatinya tugas manusia di dunia ini adalah hanya untuk beribadah (QS. 51:56).

Tulisan ini pertama di muat diberitadisdik.com melalui link: http://beritadisdik.com/news/unggul/angin-segar-vct-batch-6-di-tengah-pandemi-covid-19-

*Guru di MTs Cijangkar Ciawi Tasikmalaya, InstrukturVirtual Coordinating Training (VCT) Batch 6 Provinsi Jawa Barat

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttps://kalimahtasikmalaya.blogspot.com/

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis juga aktif di komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *