Hidup Lebih Produktif Tanpa Kanker Serviks, Kenapa Nggak?
By: Date: March 17, 2017 Categories: Uncategorized

Gerakan Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker dalam Perempuan Indonesia ini dilaksanakan selama lima tahun di seluruh Indonesia, dimana pencanangan dilakukan oleh Ibu Negara pada tanggal 21 April 2015 pada Puskesmas Nanggulan,Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta menggunakan teleconference 10 provinsi lainnya Sumatera Utara,Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat,Jawa Tengah, JawaTimur, Sulawesi Selatan & Nusa Tenggara Timur. Rangkaian kegiatan mencakup aktivitas promotif, preventif, deteksi dini, dan tindak lanjut. Melalui aktivitas ini diperlukan kesadaran & kepedulian warga terutama dalam mengendalikan faktor risiko kanker dan deteksi dini kanker sehingga dibutuhkan angka kesakitan, kematian,dampak penyakit kanker dapat ditekan. Kegiatan ini merupakan bagian dalam mewujudkan warga hayati sehat dan berkualitas, hal ini sesuai dengan tercapainya Nawacita kelima yaitu menaikkan kualitas hayati manusia.

Di Indonesia, kanker leher rahim atau kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling sering diderita oleh kaum wanita dengan angka kematian yang cukup tinggi. Terjadi 21 ribu kasus kanker serviks (leher rahim) tiap tahunnya di Indonesia sehingga menempati nomor dua dalam jumlah tertinggi di dunia dan pada 2014 lalu, lebih dari 92 ribu perempuan Indonesia juga meninggal karena kanker dengan 10,3 persen di antaranya karena kanker serviks. Sekitar 99,7% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Selama ini telah dikenal dua tipe HPV, yaitu risiko rendah dan risiko tinggi. Infeksi HPV tipe risiko rendah dapat menimbulkan perubahan ringan yang sementara pada serviks namun tidak akan menimbulkan risiko terjadinya kanker. HPV risiko rendah juga terkadang menimbulkan kutil pada alat kelamin. Sementara HPV tipe risiko tinggi terutama yang menetap dapat menyebabkan perubahan bentuk sel serviks yang lambat laun dapat menjadi kanker serviks jika tidak ditangani. Yang berisiko mengalami infeksi HPV tipe risiko tinggi yang menetap diantaranya adalah wanita > 30 tahun, memiliki gangguan kekebalan tubuh (HIV atau lupus), berhubungan seksual di usia belia (< 20 tahun), bergonta-ganti pasangan seksual, merokok, dan sebagainya. Proses infeksi HPV menjadi kanker serviks membutuhkan waktu sekitar 10-20 tahun.

Http://spesialiskelamin.Blogspot.Co.Id

Berdasarkan stadiumnya,nomor bertahan hidup menurut kanker serviks ini, adalah 5 tahun:

Untuk stadium nol (prakanker) dengan sel kanker jinak yang masih kecil pada permukaan dinding serviks, angka bertahan hidup bisa mencapai 100%.

Pada stadium satu (I), kanker menempel kuat pada dinding serviks, peluang sembuh 80%.

Stadium dua (II) kanker sudah menjalar ke tempat lain (sampai rahim), tetapi belum ke bawah (vagina) peluang sembuh 50-60%.

Stadium tiga (III) kanker sudah menyebar ke bagian bawah vagina peluang sembuh 20-30%.

Dan stadium empat (IV) kanker sudah sampai ke organ lain yang jauh seperti anus, ginjal, paru-paru, hati dan tulang peluang sembuhnya 0-5%.

Http://www.Pitterpatter.Com.My/

Penyakit kanker serviks ini berlangsung pada beberapa tahapan, yang dimulai berdasarkan masa tanpa tanda-tanda, keputihan, perdarahan, & rasa nyeri yang seringkali dipercaya menjadi hal yang biasa saja, karena mampu disebabkan sang hal yg lain. Kemudian dalam tahap lanjut baru ada gejalanya yg jelas berdasarkan perubahan sel kanker, berupa perdarahan setelah aktivitas seksual, atau pada antara kedua masa haid. Oleh lantaran tidak memberitahuakn gejala pada awal, banyak yg tidak menyadari dan baru mengetahui waktu kanker serviks sudah berada di stadium lanjut menggunakan taraf kesembuhan yang rendah. Padahal, jika terdeteksi dini & segera menerima penanganan sempurna, kanker serviks masih sanggup disembuhkan. Skrining adalah upaya deteksi dini buat mengidentifikasi penyakit atau kelainan yg secara klinis belum jelas dengan memakai tes, inspeksi atau mekanisme tertentu. Upaya ini dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat namun sesungguhnya menderita suatu kelainan.

Vaksin HPV

Vaksin HPV merupakan salah satu metode pencegahan kanker serviks dengan cara pemberian vaksin untuk merangsang sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi yang dapat mencegah HPV menginfeksi sel yang menyebabkan kanker serviks. Sasaran pengguna vaksin ini adalah wanita sejak usia 10 sampai 55 tahun dan sangat dianjurkan bagi wanita yang belum melakukan hubungan seksual. Pemberian vaksin pada usia muda (10-14 tahun) akan menghasilkan kekebalan dua kali lipat jika dibandingkan dengan vaksinasi setelah usia dewasa (15-25 tahun). Sampai saat ini, vaksin HPV tidak memerlukan booster atau suntikan ulang setelah dilakukan penyuntikan lengkap sebanyak 3 kali. Vaksin HPV tidak dianjurkan selama kehamilan namun dapat digunakan pada masa menyusui. Yang perlu diingat, vaksin ini hanya berfungsi untuk mencegah dan tidak dapat menyembuhkan kanker serviks yang telah terjadi.

Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

Deteksi dini kanker leher rahim dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) ataupun Pap Smear dilakukan sang tenaga kesehatan yg telah dilatih menggunakan pemeriksaan leher rahim secara visual menggunakan asam asetat yang sudah di encerkan, dengan melihat leher rahim buat mendeteksi abnormalitas selesainya pengolesan asam asetat 3-lima%. Daerah yg tidak normal akan berubah warna dengan batas yg tegas sebagai putih (acetowhite), yang menandakan bahwa leher rahim mungkin mempunyai lesi prakanker. Tes IVA dapat dilakukan kapan saja pada daur menstruasi, termasuk saat menstruasi,dan ketika asuhan nifas atau paska keguguran. Kalau dicurigai adanya pertanda positif kanker serviks, diagnosa dapat diperkuat dengan melakukan tes DNA HPV, dan inspeksi kolposkopi. Dengan pemeriksaan kolposkopi dapat diketahui adanya perubahan yg mencurigakan atau syarat prakanker, sehingga dapat ditangani secara tuntas. Pemeriksaan IVA jua bisa dilakukan pada wanita yang dicurigai atau diketahui memiliki ISR/IMS atau HIV/AIDS.

HPV-DNA

Karena tidak menunjukan gejala di awal, pemeriksaan sebelum timbul gejala sebaiknya dilakukan agar dapat terdeteksi dini dan segera mendapatkan penanganan. Saat ini telah dikembangkan pemeriksaan HPV-DNA, yaitu pemeriksaan molekuler menggunakan metoda hybrid capture II yang telah mendapatkan persetujuan Food and Drug Administration (FDA) untuk mendeteksi adanya DNA Human Papilloma Virus (HPV) tipe risiko tinggi pada bahan pemeriksaan yang diambil dari serviks. Terdapat 13 jenis HPV risiko tinggi yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan HPV-DNA. FDA pun telah menyetujui dilakukannya pemeriksaan HPV-DNA bersama-sama dengan Pap Smear sebagai pemeriksaan primer kanker serviks terutama bagi wanita di atas usia 30 tahun. Pemeriksaan HPV-DNA juga dianjurkan bila hasil pemeriksaan Pap Smear tidak jelas atau membingungkan.

Kabar baiknya adalah bahwa penyakit ini dapat dicegah. Kunci dari upaya pencegahannya adalah pendeteksian dini, sehingga dapat diberikan pengobatan pada stadium 0 dengan peluang sembuh 100%. Prodia Women’s Health Centre (PWHC) klinik layanan kesehatan khusus perempuan berbasis Women-Wellness yang pertama di Indonesia hadir sebagai wujud dari komitmen layanan sepenuh hati Prodia bagi para wanita. PWHC didesain khusus dengan karakter dan sentuhan perempuan, dan didukung dengan perlengkapan teknologi diagnostik terbaru untuk pencegahan dini maupun pencegahan lanjutan dalam melakukan pemeriksaan kesehatan perempuan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan dini (primary prevention) seperti penyuluhan /edukasi, vaksinasi/ imunisasi, pencegahan lanjutan (secondary prevention ) seperti medical check-up, tes laboratorium lengkap, dan pap smear, hingga konsultasi dokter, baik dokter umum maupun dokter spesialis dan subspesialis. Untuk  mendapatkan informasi lebih lengkap tentang skrining kanker serviks, segera kunjungiwww.prodia.co.id. Semakin dini terdeteksi, semakin tinggi pula peluang sembuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *