Bagai Buah Simalakama, Antara Tugas Mendidik dan Intimidasi
By: Date: March 19, 2017 Categories: Uncategorized

Bagai Buah Simalakama, Antara Tugas Mendidik dan Intimidasi

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Guru Matematika di MTs Cijangkar

Dalam proses pembelajaran pada sekolah/madrasah tugas seorang guru bukan hanya mengajar mengungkapkan ilmu pengetahuan tetapi pula mendidik agar peserta didik mempunyai karakter yg baik menjadi bekal kehidupan pada masa yg akan tiba. Pendidikan karakter diperlukan untuk membentuk bangsa yg maju ditengah arus globalisasi yg makin nir terbendung.

Kedudukan guru sebagaimana tertuang pada Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Pengajar dan Dosen pasal 6 menjelaskan bahwa guru sebagai energi profesional bertujuan buat melaksanakan sistem pendidikan nasional & mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi siswa supaya menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, berdikari, dan menjadi rakyat negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Merujuk tujuan pendidikan nasional kentara bahwa pendidikan karakter adalah tujuan primer yang ingin dicapai oleh negara terhadap semua warganya, & tanggungjawab ini sebagian besar terletak di pundak pengajar menjadi pelaksana pendidikan di lapangan. Tugas berat yang dipikul oleh seseorang pengajar dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional semestinya didukung sang berbagai macam peraturan yg bisa membantu pengajar dan menaruh perlindungan secara hukum dalam menjalankan tugasnya, jangan sampai guru sebagai korban waktu sedang menjalankan tugas negara tadi.

Terkadang pada menjalankan tugasnya sehari-hari terutama waktu pengajar berupaya buat menanamkan karakter baik terhadap peserta didik, pengajar sering mendapatkan hambatan dan hadangan menurut berbagai elemen masyarakat yg merasa tidak puas dengan apa yg dilakukan oleh guru, padahal yang dilakukan sang guru masih pada koridor melaksanakan tugas. Tidak sejalannya perlakuan pengajar pada sekolah/madrasah pada mendidik anak menggunakan orang tua di tempat tinggal terkadang menjadi kendala pada upaya penguatan pendidikan karakter.

Contoh kendala yang di dapatkan oleh guru dalam menjalankan tugasnya yaitu ketika guru menjalankan peraturan sekolah/madrasah yang sudah dimusyawarahkan dan disepakati oleh seluruh stakeholder sekolah/madrsah. Saat guru menangani peserta didik yang melanggar peraturan sekolah/madrasah, kemudian disampaikan kepada orang tua/walinya, namun terkadang orang tua tidak menerima dan terkesan membela anaknya yang bermasalah, bahkan mereka sampai membawa elemen masyarakat yang lain seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tidak berkepentingan dalam menyelesaikan masalah.

Bentuk intimidasi terhadap guru pada menjalankan tugasnya ini menciptakan pengajar sebagai serba salah pada menyelesaikan permasalahan siswa yg seharusnya ditangani dengan sebaik-baiknya. Sehingga hal ini Mengganggu proses pendidikan karakter yang saat ini sedang digencarkan oleh pemerintah sebagai upaya untuk memajukan pembangunan bangsa dibidang pendidikan.

Perlakuan intimidasi yg diterima oleh guru pada menjalankan tugasnya sehari-hari bisa berupa fisik & fsikis. Tidak sporadis guru mendapatkan ancaman berdasarkan pihak-pihak tertentu yang merasa nir bahagia lantaran pengajar tersebut dipercaya berlebihan pada menjalankan tugasnya. Bahkan pengajar diancam akan dilaporkan dan diperkarakan secara hukum kepada pihak yg berwajib dikarenakan pengajar menangani perkara yang dilakukan sang seorang peserta didik.

Intimidasi yg didapatkan oleh guru dari pihak-pihak tertentu dapat mempersempit bahkan menghalangi pengajar pada menjalankan tugasnya, hal ini sebagai tanda yg jelek bagi dunia pendidikan kita. Rasa takut yang dirasakan oleh guru sebagai masalah & bagai buah simalakama bagi seseorang guru. Guru yg menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan kiprahnya menjadi tidak sanggup optimal yang mengakibatkan tujuan pendidikan nasional tidak tercapai.

Perlindungan terhadap profesi guru menjadi sangat krusial untuk menjaga agar kiprah dan fungsi pengajar bisa berjalan dengan optimal. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan diperlukan bisa membuat suatu aturan yg bisa melindungi pengajar dalam menjalankan tugasnya, & memberikan pemahaman yg komprehensif pada pengajar mengenai pelindungan terhadap guru ketika menjalankan tugasnya, agar guru tahu koridor dalam menjalankan tugas dan tidak terbebani menggunakan resiko kerja yg mereka hadapi saat terdapat perseteruan menjadi efek dari tugas yg mereka jalankan.

Rasa tanggungjawab seluruh pihak terhadap keberhasilan pendidikan sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Pemahaman yg sama akan pentingnya pendidikan karakter pada siswa absolut dibutuhkan supaya proses pembelajaran yang dilaksanakan sang guru sebagai pelaksana pendidikan pada institusi formal sanggup berjalan dengan optimal, sehingga tujuan pendidikan nasional sanggup tercapai yang berimbas dalam kemajuan bangsa dan negara yang mampu bersaing dengan negara lain dalam berbagai bidang sampai sanggup mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata global internasional.

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www. pergumapi.or.id

*Penulis juga aktif pada komunitas Gumeulis (Pengajar Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *