SEKOLAH BUKAN PENJARA
By: Date: March 22, 2017 Categories: Uncategorized

Sekolah Bukan Penjara

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Sejatinya sekolah/madrasah adalah lembaga mulia yg sang seluruh stakeholdernya dijadikan loka untuk menggali ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter. Tetapi sekolah/madrasah yg semestinya sebagai loka favorit untuk pengembangan ilmu pengetahuan, keberadaanya bagaikan sebuah tempat yg kurang menyenangkan bagi sebagian mereka yg kesehariannya beraktifitas pada sana.

Betapa nir, ternyata sekolah/madrasah bukanlah tempat yg menciptakan betah buat berlama-lama . Kalaupun mereka (peserta didik) datang, sepertinya sebagian antara lain hanya lantaran merasa terpaksa, sehingga ketika sudah berada pada lingkungan sekolah/madrasah mencari seribu alasan dan cara buat mampu keluar lagi dari lingkungan sekolah/madrasah.

Sering kita mendengar anak yg membolos, padahal ketika di sekolah/madrasah masih lama . Sebagian lagi ada yang berdasarkan rumahnya berangkat pakai seragam lengkap namun tidak sampai ke sekolah/madrasah. Bahkan buat mengelabui, mereka berani datang ke sekolah/madrasah hanya hingga pintu gerbang, lalu nir masuk malah keluyuran pada tempat umum dengan pakaian seragam yg masih mereka kenakan.

Yang tidak kalah memprihatinkan merupakan siswa yang membolos padahal sekolah/madrasah dijaga menggunakan ketat. Mereka berani ‘kabur’ dengan cara memanjat benteng tinggi yang dilengkapi alat pelindung menurut bahan berbahaya yang sudah niscaya tidak baik bagi keselamatan mereka jikalau nekat bolos dengan cara memanjat.

Sebegitu membosankankah yg namanya sekolah/madrash bagi sebagian mereka? Sehingga berani mempertaruhkan keselamatan hanya sekedar buat mampu menghindarinya. Sekolah/madrasah bagaikan sebuah penjara yg membosankan, tak banyak daya tarik yg bisa membuat sebagian mereka betah berlama-usang. Padahal sekolah/madrasah seharusnya merupakan tempat yang mereka pilih buat menghabiskan waktunya karena masa depan mereka sebagian ada di loka yg mulia tadi.

Fenomena ini terjadi mungkin bukan tanpa sebab, sekolah/madrasah yang semestinya mempunyai daya tarik tak mampu mengalahkan para pesaingnya yg memiliki magnet lebih kuat untuk menarik anak supaya meninggalkannya. Bahkan sekolah/madrasah sepertinya menjadi momok yg merampas kebebasan mereka buat beraktifitas dalam kesehariannya.

Beberapa faktor yang menyebabkkan sekolah/madrasah nir sebagai pilihan anak buat menghabiskan waktunya diantaranya:

1.        Pengelolaan sekolah/madrasah

Pengelolaan sekolah/madrasah adalah suatu hal yang sangat penting pada menjalankan aktivitas pembelajaran. Komiten yang bertenaga dari pengelola buat menigkatkan kualitas merupakan kunci utama supaya aktivitas pempelajaran di sekolah sebagai menarik bagi seluruh stakeholder yang ada di dalammya.

Pelayanan yang optimal terhadap siswa menjadi suatu hal yg sangat penting agar eksistensi mereka merasa diakui. Konsep terarah yg didukung wahana dan prasarana yang memadai, kenyamanan guru pada menjalankan tugasnya, adalah kapital yang relatif bertenaga buat menarik siswa supaya betah berada pada sekolah/madrasah.

2.        Kurikulum sekolah/madrasah

Tuntutan kurikulum yg sangat poly menggunakan berbagai mata pelajaran yg wajib dikuasai, membuat anak merasa tertekan dan terbebani sebagai akibatnya mereka nir nyaman berada di sekolah/madrasah. Kurikulum nasional yang diberlakukan secara serempak tanpa memperhatikan latar belakang serta tingkat kemampuan anak, sebagai kurang efektif ditambah lagi sebagian akbar guru jua belum faham sepenuhnya dalam melaksanakan kurikulum tersebut.

Perubahan kurikulum secara konsep nyatanya belum sanggup membawa perubahan signifikan terhadap kemajuan pendidikan, karena pada tataran pelaksanaannya masih banyak guru yang mengajar & mendidik dengan gaya usang atau ?Warisan? Menurut guru pendahulunya yang mungkin sudah kurang relevan menggunakan perubahan zaman & tuntutan kehidupan ketika ini.

3.        Guru

Kemampuan pengajar pada melaksanakan pembelajaran sangat penting diperhatikan, sebab hal ini akan memilih apakah peserta didik tertarik atau nir buat mengikuti pembelajaran. Pengajar yang masuk ke kelasnya sembarangan tanpa mempersiapkan segala hal yang diperlukan buat membantu proses pembelajaran, cendrung membuat peserta didik menjadi bosan & menaruh respon negatif.

Literasi manusia yang dilakukan sang guru pula sebagai faktor penting pada pembelajaran, guru harus memahami psikologi anak sehingga tidak galat dalam menaruh perlakuan terhadap peserta didik. Guru yg tidak memahami anak cenderung akan memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan kebutuhan & impian anak dalam menjalani proses pembelajaran yang akhirnya menyebabkan pertarungan yang membuat anak tidak merasa nyaman buat mengikuti pembelajaran.

4.        Orang tua

Kewajiban mendidik anak sebetulnya yang paling utama merupakan tanggung jawab orang tua, selama ini poly orang tua yg merasa relatif menyerahkan urusan pendidikan anaknya kepada sekolah/madrasah tanpa ingin memahami banyak sekali konflik yang dialami anaknya selama pada sekolah/madrasah. Kurangnya perhatian orang tua kepada anak membuat anak berani buat melakukan apapun sekendaknya tanpa memikirkan dampak yang mereka akan dapatkan.

Orang tua nir cukup hanya memenuhi materi yang dibutuhkan anak pada menjalankan proses pembelajarannnya pada sekolah/madrasah, namun keterlibatan orang tua pada perkembangan anak ketika mengikuti proses pendidikan sangat diharapkan, sebab kebersamaan anak menggunakan orang tua waktunya lebih lama dibanding keberadaaanya pada sekolah/madarasah

5.        Motivasi anak

Motivasi menjadi salah satu faktor krusial pada mengikuti proses pembelajaran, kurangnya motivasi menyebabkan anak sebagai malas pada mengikuti semua aktivitas di sekolah/madrasah. Motivasi akan muncul bila anak merasa perlu terhadap suatu hal sehingga mereka dengan sukarela dan penuh pencerahan akan melakukan aktifitas tadi.

Rendahnya motivasi menyebabkan anak menjadi bosan dan jenuh ketika berada pada sekolah/madrasah. Keinginan yg nir sesuai dengan fenomena menciptakan penolakan yang bertenaga dan bahkan sanggup sebagai beban bagi mereka yg akhirnya mencari pelampiasan untuk memenuhi keinginannya walaupun terkadang wajib melakukan hal yang negatif.

6.        Lingkungan/masyarakat

Lingkungan merupakan faktor yang paling besar memberikan pengaruh terhadap anak. Keengganan masyarakat terutama lingkungan sekitar dalam membantu program sekolah/madrasah memberikan kesempatan kepada anak untuk berprilaku negatif, misalnya kalau menemukan anak berkeliaran di luar sekolah ketika sedang jam pelajaran, mereka tidak memberikan peringatan, malah justru mereka senang karena anak tersebut jajan atau main game di warnetnya.

Kepedulian rakyat sangat diharapkan pada upaya mencegah prilaku negatif anak, jangan sampai karena mengaharapkan laba yang tak seberapa mengorbankan masa depan anak, walaupun mungkin anak tadi bukan anak kandungnya, tetapi masyarakt wajib punya pemahaman bahwa hal serupa jua nir ingin menimpa terhadap anak kandungnya sendiri.

Berbagai perseteruan yg terjadi pada sekolah/madrasah menyangkut perilaku anak semestinya sebagai tanggung jawab beserta seluruh elemen, orangtua, masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah. Perseteruan ini tidak terlepas berdasarkan masih rendahnya pelayanan/kualitas pendidikan yg waktu ini sedang terjadi dalam sistem pendidikan kita, hal ini menuntut semua pihak buat beserta-sama meningkatkannya.

Memang tidak seluruh seluruh sekolah/madrasah yg ada pada negara kita secara forum masih rendah kualitasnya, terutama sekolah/madrasah yang dikelola oleh warga /swasta. Sekolah/madrasah tersebut memberikan pelayanan yang optimal kepada siswa sehingga mereka mampu menikmati proses pembelajaran menggunakan nyaman. Namun pelayanan prima yg diberikan berbanding lurus menggunakan porto yang dikeluarkan sang orang tua kepada pengelola, sehingga apa pun yg diinginkan peserta didik mampu dipenuhi dengan baik.

Apabila pengelolaan sekolah/madrasah kurang memperhatikan keinginan peserta didik, maka  mereka akan merasa bosan dan akhirnya akan berusaha untuk menghindarinya. Konsep sekolah/madrasah yang ramah anak ataupun sekolah/madrasah yang menyenangkan mungkin bisa menjadi pilihan pengelola untuk menerapkannya, konsep ini mengupayakan agar peserta didik bisa nyaman dan betah berlama-lama tinggal di sekolah/madrasah untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.

Untuk mewujudkan sekolah menyenangkan, dituntut kesiapan stakeholder buat mempunyai komitmen menciptakannya, selain itu dukungan berdasarkan orang tua, masyarakat dan pemerintah juga diharapkan buat membuatkan gerakan ini. Di Indonesia ketika ini telah ada Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas oleh pemerhati & praktisi pendidikan yg merupakan dosen Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta.

Gerakan sekolah menyenangkan pada intinya merupakan bagaimana memperlakukan peserta didik sebagai manusia yg mempunyai sifat heterogen tetapi mempunyai satu tujuan yg sama, sehingga keberadaan mereka di sekolah/madrasah merasa diakui. Semua potensi yg dimiliki oleh siswa dicoba buat digali & dikembangkan secara aporisma. Membangun kesetaraan antara siswa dengan guru sangat diperlukan buat menciptakan interaksi serasi antar keduanya sebagai akibatnya proses pembelajaran mampu berjalan dengan baik.

Penulis sendiri sedang mempelajari bagaimana mengembangkan GSM ini untuk bisa diterapkan di lembaga pendidikan tempat penulis mengabdi. Untuk informasi tentang GSM bisa di dapat pada laman http://sekolahmenyenangkan.org atau FB: Gerakan Sekolah Menyenangkan atau melalui IG: gsm_indonesia.

Artikel ini pertama kali di muat di https://www.kompasiana.com/agusnuryana/5ce634c095760e704372e832/sekolah-bukan-penjara

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

Penulis juga aktif mengelola blog pribadi bertema Pendidikan Karakter dan dapat di kunjungi di http://www.agusnananuryana2.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis jua aktif di komunitas Gumeulis (Pengajar Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *