Terapan Manajemen Berbasis Sekolah Sebagai Ikhtiar Dalam Meretas Pendidikan Inklusi di Indonesia
By: Date: April 5, 2017 Categories: Uncategorized
Hasil gambar untuk gambar sekolah ramah anak pdf

Https://www.Youtube.Com/watch?V=jvpdt9kOkac

Sejak era reformasi, mutu & pemerataan pendidikan merupakan perkara yang menerima perhatian serius pemerintah. Peningkatan mutu pendidikan khususnya pada sekolah dasar diarahkan buat menaikkan kemampuan pengajar dan energi kependidikan lainnya serta peningkatan mutu siswa. Dengan peningkatan kemampuan pengajar dan tenaga kependidikan lainnya diharapkan dapat menaikkan kualitas pembelajaran yang ditandai menggunakan peningkatan prestasi belajar murid sesuai dengan batas ketuntasan belajar baik secara individual juga secara klasikal. Sementara siswa atau siswa menjadi orang yang sebagai fokus pada bidang pendidikan perlu ditingkatkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan pribadinya sebagai akibatnya menerima bekal untuk hayati di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke taraf yg lebih tinggi.

Salah satu kebijakan strategis pendidikan nasional sinkron menggunakan amanat Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional merupakan manajemen berbasis sekolah (MBS). MBS tadi merupakan pendekatan manajemen yang harus diterapkan sang sekolah dasar sebagai bagian dari satuan pendidikan dasar menurut standar pelayanan minimal. Penerapan MBS pada sekolah mendorong sekolah harus secara aktif, berdikari, terbuka, & akuntabel melakukan berbagai program peningkatan mutu pendidikan sinkron menggunakan kebutuhan sekolah sendiri menggunakan disertai pembuatan keputusan secara partisipatif. Manajemen berbasis sekolah pada dasarnya menyebarkan manajemen sekolah secara menyeluruh menggunakan fokus pada komponen-komponen eksklusif. Manajemen berbasis sekolah yg telah diimplementasikan sejak tahun 1999 diprioritaskan dalam tiga pilar yaitu manajemen, PAKEM dan kiprah serta warga .

Https://twitter.Com/i/web/status/886942599298244608

Manajemen Sekolah

Berkontribusi pada pencapaian pengelolaan sekolah yang transparan & efisien & nir mengecilkan partisipasi anak-anak pada pengambilan keputusan

PAKEM Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan Kegiatan belajar-mengajar dan interaksi yang positif antara guru dan siswa di sekolah

Partisipasi Masyarakat Keterlibatan langsung orangtua dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatkan pemahaman dan komitmen terhadap Hak-Hak Anak

Dalam konteks ini, maka aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah diakomodasi dalam berbagai kepentingan yang ditujukan pada peningkatan kinerja sekolah, antara lain direfleksikan pada rumusan, visi, misi, program prioritas dan sasaran-sasaran yang akan dicapai dalam pengembangan sekolah.  Karakteristik masing-masing sekolah dicerminkan pula dalam kondisi sarana prasarana pendidikan, mutu sumber daya manusianya dan dukungan pembiayaan bagi pengembangan sekolah sesuai dengan aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah (stakeholder). Dalam kondisi demikian, maka realisasi gagasan manajemen berbasis sekolah akan melahirkan kepemilikan para stakeholder terhadap sekolah. Kondisi ini sangat penting, karena sikap kepemilikan inilah yang akan mendukung pengembangan keunggulan kompetetitif dan komparatif masing-masing sekolah.

Mengapa Harus MBS?

Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara, dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan selanjutnya serta merupakan modal dasar bagi pembentukan manusia Indonesia yang berkualitas yang memungkinkan dapat menikmati hidup dan kehidupannya secara mandiri. Kemandirian dapat diciptakan melalui proses pembelajaran yang memberi kebebasan kepada peserta didik untuk selalu aktif berpendapat dan bertanya, selalu diberi peluang untuk inovatif atau mengkaji sesuatu yang baru, kreatif untuk membuat sesuatu yang baru dari berbagai sumber, menghargai perbedaan pendapat, dan peka terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Inilah yang disebut learning how to learn yaitu pendidikan yang diselenggarakan dengan cara peserta didik belajar bagaimana mereka harus belajar sehingga hasil belajar yang mereka peroleh menjadi lebih bermutu.

Http://disdiktabalong.Net/2016/02/04/874/

Sejalan dengan seruan UNESCO dalam International Education for All (EFA) sebagai kesepakatan global yaitu World Education Forum di Dakar, Senegal pada tahun 2000. Forum yang merupakan followup dari konvensi hak asasi manusia ini melahirkan deklarasi “Education for All” yang menargetkan bahwa pada tahun 2015 semua anak di dunia harus mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan dasar.  Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani perjanjian tersebut telah meratifikasi dalam kebijakan Wajib Belajar 9 tahun yang dijabarkan dalam Undang Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 32 mengatur tentang pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa negara menjamin sepenuhnya pendidikan bagi setiap anak termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam memperoleh kesempatan dan layanan pendidikan yang bermutu, salah satunya melalui sekolah berbasis inklusi.

Pendidikan inklusi merupakan sebuah proses dalam merespon kebutuhan yang majemuk menurut semua anak melalui peningkatan partisipasi pada belajar, budaya dan warga , dan mengurangi eklusivitas pada pada pendidikan. Pendidikan inklusi meliputi perubahan & modifikasi pada isi, pendekatan-pendekatan, struktur & taktik yang dapat mengakomodasi kebutuhan semua anak seseuai dengan grup usianya. Pendidikan inklusi pula bisa dipandang sebagai bentuk kepedulian pada merespon spekturm kebutuhan belajar peserta didik yang lebih kompleks, menggunakan maksud agar baik pengajar maupun anak didik, keduanya memungkinkan merasa nyaman dalam keberagaman & melihat keragaman sebagai tantangan & pengayaan pada lingkungan belajar,bukan sebagai hambatan. Dalam konteks yg lebih luas, pendidikan inklusi jua dapat dimaknai sebagi satu bentuk reformasi pendidikan yang menekankan sikap anti diskriminasi, usaha persamaan hak dan kesempatan, keadilan, & perluasan akses pendidikan bagi semua, peningkatan mutu pendidikan, upaya strategis pada merampungkan wajib belajar 9 tahun, dan upaya merubah perilaku warga terhadap anak berkebutuhan spesifik.

Meskipun definsi tentang pendidikan inklusif itu bersifat progresif dan terus berubah, namun tetap diperlukan kejelasan konsep yang terkandung didalamnya, karena banyak orang menganggap bahwa pendidikan inklusi sebagai versi lain dari pendidikan khusus/PLB (special esucation). Konsep yang mendasari pendidian inklusi sangat berbeda dengan konsep yang mendasari pendikan khusus (special education). Pendidikan inklusi bukanlah istilah lain dari pendidikan khusus. Konsep pendidikan inklusi mempunyai banyak kesamaan dengan konsep yang mendasari pendidikan untuk semua (education for all) dan konsep tentang perbaikan sekolah (schools improvement).

Dalam perspektif pendidikan luar biasa, pendidikan inklusi akan berhasil dengan baik apabila didukung dengan: (1) sikap, komitmen, dan keyakinan yang positif dari seluruh guru, staf sekolah dan orang tua, (2) ketersediaan layanan khusus dan adaptasi lingkungan fisik dan peralatan, (3) sistem dukungan, seperti ketersediaan guru khusus, terdapat kebijakan dan prosedur yang tepat untuk memonitor kemajuan setiap siswa penyandang cacat, termasuk untuk asesmen dan evaluasi, (4) adanya kolaborasi harmonis antara guru khusus dan guru kelas dalam merancang dan menerapkan Program Pengajaran yang diindividualisasikan (individualized educational program – IEP), (5) kurikulum fleksibel dan metode pembelajaran yang tepat, serta (7) kesadaran, partisipasi, dan dukungan masyarakat.

Fakta di lapangan menunjukkan, sekalipun sudah banyak sekolah yang mendeklarasikan sebagai sekolah inklusi, tetapi dalam implementasinya masih banyak yang belum sesuai dengan konsep-konsep yang mendasarinya. Bahkan, tidak jarang ditemukan adanya kesalahan-kesalahan praktek, terutama terkait dengan aspek pemahaman, kebijakan internal sekolah, serta kurikulum dan pembelajaran. Hal ini sekaligus menyiratkan bahwa dalam perjalanan menuju pendidikan inklusi (toward inclusive education), Indonesia masih dihadapkan kepada berbagai isu dan dan permasalahan yang kompleks yang harus mendapatkan perhatian serius dan disikapi oleh berbagai pihak yang terkait, khususnya pemerintah sehingga tidak menghambat hakekat penyelenggaraan pendidikan inklusi itu sendiri. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa sekolah yang secara resmi telah berpredikat sebagai sekolah inklusi, bahkan sekolah percontohan sekalipun, belum menjamin bahwa sekolah tersedut telah melaksanakan pendidikan inklusi secara benar dan baik sesuai dengan konsep-konsep pendidikan inklusi yang mendasarinya.

Di sisi lain, masih Terdapat perdebatan dalam penerapan pendidikan inklusi ini, baik dari pihak sekolah, pengajar serta orang tua murid terhadap manfaat pendidikan inklusi bagi siswa ABK dan siswa non ABK. Pihak yang pro terhadap penerapan pendidikan inklusi, meletakkan argumennya pada filosofi dan moral akan kebebasan, kesempatan yang sama untuk memperoleh akses pendidikan pada semua anak terlepas dari apapun kondisi yang ada, serta dampak positif pada perkembangan akademis dan sosial pada siswa ABK dan non ABK. Sedang dari pihak yang kontra meletakkan argumennya pada kesiapan sekolah, pengajar serta siswa dalam penerapan pendidikan inklusi serta tidak terlihatnya dampak positif yang signifikan pada perkembangan akademis dan sosial pada siswa ABK dan non ABK, malah cenderung menimbulkan hambatan pada perkembangan kedua golongan siswa. Khusus untuk siswa non ABK, perdebatan manfaat pendidikan inklusi bagi siswa non ABK dilatar belakangi oleh aspek tujuan yang harus diperhatikan sekolah dan pengajar di saat yang bersamaan. Aspek pertama yaitu memenuhi standar yang tinggi pada pencapaian akademis dari sekolah dan negara, sedangkan aspek kedua adalah penerapan pendidikan inklusi tidak boleh menganggu atau menurunkan pencapaian prestasi pada siswa non ABK baik secara akademis dan sosial.

Menjadi Sekolah berbasis inklusi tentunya membutuhkan banyak sekali adaptasi sistem dan dukungan fasilitas yang berbeda menggunakan sekolah reguler lainnya. Sekolah yg mengimplementasikan ideologi pendidikan inklusif harus juga mengenal & merespon setiap kebutuhan yg berbeda-beda berdasarkan setiap siswanya. Seperti mengakomodasi aneka macam macam gaya belajar, dan mengklaim diberikannya pendidikan yg berkualitas pada semua siswa, melalui manajemen yang baik, penyusunan kurikulum yang tepat, pengorganisasian yg baik, pemilihan strategi pengajaran yg sempurna, pemanfaatan sumber daya menggunakan sebaik-baiknya, dan penggalangan kemitraan dengan orang tua juga warga sekitarnya. Untuk memenuhi itu seluruh, sekolah perlu diberikan wewenang dalam mengatur beberapa urusannya sesuai dengan syarat sekolah masing-masing. Tanpa adanya swatantra ini, sekolah inklusif akan kesulitan dalam melaksanakan layanan pendidikan yg mengakomodasi anak berkebutuhan khusus.

Https://edufacounseling.Com/implentasi-pendidikan-inklusi-di-sekolah/

Dalam ranah ini, manajeman berbasis sekolah erat kaitannya dengan kesiapan pengelola pendidikan  inklusi untuk melakukan perannya sesuai dengan kewajiban, kewenangan, dan tanggung jawabnya. Manajemen Berbasis Sekolah akan akan efektif diterapkan jika para pengelola pendidikan mampu melibatkan stakeholders terutama peningkatan peran serta masyarakat dalam menentukan kewenangan pengadministrasian, dan inovasi kurikulum yang dilakukan oleh masing-masing sekolah. Inovasi kurikulum lebih menekankan kepada peningkatan kualitas dan keadilan, pemerataan, bagi semua peserta didik yang didasarkan atas kebutuhan peserta didik dan masyarakat lingkungannya.

Sebagai Kesimpulan, bahwa pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah sangatlah penting untuk membenahi konsep pendidikan yang bermutu dan berdaya saing terutama dalam perkembangan zaman yang semakin mengglobal. MBS lahir untuk menunjang menyelenggarakan sistem belajar mengajar yang menghargai setiap potensi yang ada, serta diselaraskan dengan kondisi psikologi siswa, sehingga otak mereka akan sangat mudah untuk bekerja sama dalam proses pembelajaran dan proses belajar pun akan menjadi sangat optimal dan efektif. Budaya belajar harus menjadi “Petualangan seumur hidup” dan “Perjalanan eksplorasi tanpa akhir”, sehingga pertumbuhan seluruh kepribadian terintegrasi dengan nilai-nilai yang dipelajari. Dengan demikian “Belajar” akan menjadi sangat bermakna dan mampu mencetak pribadi-pribadi berkualitas yang lebih dikenal dengan konsep pendidikan ramah anak yang selanjutnya akan disebut sekolah ramah anak. Dengan demikian, tujuan akhir dari semua upaya di atas yaitu kesempatan yang sama bagi seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali dalam memperoleh pendidikan terbaik  dapat direalisasikan secara adil, cepat dan merata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *