Semoga Gelisah ini Bisa Menular
By: Date: April 11, 2017 Categories: Uncategorized

Semoga Gelisah ini Bisa Menular

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Dalam sebuah obrolan ringan dengan rekan sesama guru di ruang guru sambil melepas penat  setelah selesai melaksanakan tugas mengajar, teman saya menyampaikan kegelisahannya  tentang prilaku peserta didik di zaman sekarang yang sepertinya sudah tidak memiliki adab atau sopan santun dalam bergaul sehari-hari, baik kepada guru atau teman sebayanya di sekolah/madrasah. Sebetulnya kegelisahan serupa sudah sejak lama saya rasakan, ketika melihat fenomena yang terjadi terhadap prilaku peserta didik di sekolah/madrasah.

Dalam obrolan itu kami berdua sangat menghawatirkan tentang kehidupan pada masa yg akan tiba ketika anak-anak sekarang yang akan menggantikan generasi setelahnya namun memiliki karakter kurang baik, akan seperti apa tatanan kehidupan yg akan dijalani jikalau manusia telah tidak memiliki peradaban layaknya seorang manusia, yg terbayang pada pikiran kami adalah sebuah kekacauan yang akan terjadi seperti layaknya kehidupan fauna yang tanpa aturan, jika insan hidup telah tidak memperhatikan anggaran, norma dan tatakrama dalam berprilaku apa jadinya kehidupan ini? Masih layakkah manusia diberikan tugas sebagai kholifah di muka bumi ini?

Sebagai pendidik atau praktisi pendidikan kami sangat mengkhawatirkan fenomena tadi, sebagai rasa tanggung jawab moral dimana tugas seorang guru keliru satunya adalah memanusiakan insan, tentu jika insan telah nir berlaku misalnya layaknya insan maka kami sebagai pengajar merupakan pihak yg merasa paling bersalah dan jua pasti jadi tempat pelemparan kesalahan berdasarkan banyak sekali pihak atas peristiwa tadi. Tapi kami juga berpikir apakah semua pengajar mempunyai kekhawatiran yang serupa misalnya yg kami rasakan?

Dalam sebuah tulisan yang saya temukan di media sosial, aku pernah membaca bahwa pengajar-guru pada negara-negara maju, disana dicontohkan adalah Australia, mereka lebih mengkhawatirkan para peserta didiknya nir mampu antri ketimbang nir bisa matematika. Mereka beralasan bahwa kalau siswa mampu antri maka mereka akan mempunyai karakter baik, karena menurut prilaku antri ini peserta didik dilatih dan belajar buat bersabar, menghargai orang lain, menghargai ketika, disiplin, nir egois & aneka macam macam sifat baik lainnya. Sifat-sifat baik ini memerlukan ketika yang sangat panjang buat melatihanya & imbasnya akan dirasakan sang siswa sepanjang hidupnya.

Sedangkan bila peserta didik nir menguasai matematika itu tidak terlalu mengkhawatirkan, sebab kalau siswa mau bisa matematika maka dengan belajar intensif pada hitungan hari maka mereka akan bisa menguasai matematika. Disisi lain pada kehidupan sehari-hari tidak seluruh peserta didik nantinya akan memakai apa yg dipelajarinya waktu belajar pada sekolah/madrasah, oleh karena itu konduite antri lebih penting daripada menguasai matematika. Tulisan ini perlu verifikasi kebenarannya karena menuliskan sebuah masalah yg terjadi pada sebuah negara.

Dalam tulisan yang lain, saya juga pernah membaca tentang prilaku ekstrem yang dilakukan para guru di Inggris yang berbondong-bondong mengundurkan diri dengan alasan bahwa mereka sudah tidak mampu mengendalikan peserta didiknya yang banyak melakukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan seharusnya yang dilakukan oleh manusia. Tulisan ini saya baca di media online dan juga tentu harus dibuktikan kebenarannya karena menuliskan kasus yang terjadi di sebuah negara.

Tetapi menurut bacaan tadi sesungguhnya tidak ada yang salah kalau kita semua putusan bulat bahwa konduite menyimpang atau karakter yg tidak baik dari peserta didik sudah terjadi diberbagai belahan dunia manapun & ini tidak baik bagi tatanan kehidupan insan dimanapun. Penyebab berdasarkan insiden ini adalah lantaran perubahan peradaban insan yg sangat besar dipengaruhi sang perkembangan teknologi & informasi yang menyebabkan perubahan prilaku insan pada berinteraksi sosial.

Kemajuan teknologi dan informasi yang terus selalu berkembang tidak bisa kita cegah dan bantah. Semua sendi kehidupan tidak bisa terlepas dari pengaruhnya, termasuk dunia pendidikan. Oleh karena itu seorang guru harus bisa mengimbangi perkembangan zaman ini dengan upaya menyesuaikan diri dan  berupaya untuk memberikan filter agar pengaruh kemajuan zaman tidak menggerus peradaban manusia yang beradab dalam berprilaku terhadap sesamanya.

Manusia adalah makluk yg diciptakan oleh Alloh swt. Dengan sangat paripurna dan tidak sinkron dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia jua merupakan makhluk yang nanti akan diminta pertanggungjawabannya pada akhirat sebagai balasan kesanggupannya menjadi kholifah di muka bumi. Oleh karenanya insan sepanjang hidupnya harus terus belajar agar mereka sanggup mengolah bumi ini dengan baik buat diambil kemanfaatnnya tanpa wajib merusaknya. Kerusakan yg terjadi di muka bumi ini diakibatkan sang sifat-sifat tidak baik yang menguasai diri manusia yang lalu sebagai penyakit hati yg menghipnotis jiwa dan raganya buat berbuat maksiat & menebar kerusakan di muka bumi.

Penyakit-penyakit hati ini akan sanggup diperbaiki menggunakan pendidikan yang baik yang diberikan kepada insan. Pendidikan yang baik ini sebenarnya menjadi tanggung jawab aneka macam pihak untuk melakukannya bukan hanya tugas berat yg wajib ditanggung oleh pengajar. Fenomena yang terjadi ketika ini mengenai banyaknya prilaku yg telah menyimpang yg dilakukan oleh kebanyakan siswa seharusnya sebagai kegelisah seluruh pihak, orang tua, keluarga, warga , pemerintah harus mempunyai kepedulian yg sama atas merosotnya prilaku baik atau terjadinya degradasi moral yang waktu ini terajdi dalam warga , sebagai akibatnya semuanya sanggup memikirkan solusi terbaik buat menyelesaikannya.

Memang tidak gampang menangkal imbas global yg waktu ini terjadi & sudah masif masuk pada aneka macam sendi kehidupan, namun upaya buat memfilter imbas buruk wajib terus dilakukan buat meminimalisir pengaruh negatif yang terjadi. Semua pihak sanggup berusaha sesuai dengan forsinya masing-masing, orangtua pada rumah, guru pada sekolah/madrasah & rakyat ikut juga andil pada lingkungan mereka yg terkadang dampak lingkungan ini memberikan pengaruh paling besar dalam perubahan prilaku anak/peserta didik.

Tujuan pendidikan nasional dari UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, ?Pendidikan nasional berfungsi menyebarkan kemampuan dan membentuk tabiat serta peradaban bangsa yg bermartabat pada rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan buat berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, berdikari & menjadi masyarakat negara yg demokratis dan bertanggungjawab.? Melihat tujuan pendidikan nasional tadi jelas bahwa tugas guru sebagai pendidik lebih lebih banyak didominasi dibanding menjadi guru, guru dituntut buat membangun karakter siswa agar menjadi manusia Indonesia yang ?Sempurna? Yang bisa mengangkat harkat martabat diri dan negaranya.

Tujuan pendidikan nasional ini tidak mampu diwujudkan hanya oleh pengajar saja, sebab pengajar mempunyai banyak keterbatasan, buat mewujudkannya seluruh pihak harus terlibat sebagaimana yang sudah diuraikan sebelumnya. Negara kita mempunyai tujuan pendidikan nasional seperti itu, karena memang kita seluruh menyadari bahwa negara ini akan tetap tegak berdiri kalau masyarakat yang menghuninya mempunyai karakter yg baik pada mengelola negara dan kebalikannya negara akan hancur bila dikelola oleh warganya yg tidak memiliki karakter baik.

Di lingkungan pendidikan formal guru adalah ujung tombak kemajuan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, dan sering sekali bahwa keberhasilan pendidikan dilihat dari output yang dihasilkan dari institusi pendidikan walaupun sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi dari luar. Oleh karena itu guru harus memaksimalkan perannya dalam menjalankan di sekolah/madrasah. Mudah-mudahan gelisah ini bisa dirasakan oleh semua guru sebagai bentuk tanggung moral dalam upaya menyelamatkan bangsa ini sehingga bisa mendorong untuk diimplemtasikan dalam bentuk nyata dengan berbuat maksimal dalam mencetak generasi bangsa yang bermartabat. Amin

*ASN, Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Pengurus PGM Indonesia Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis jua aktif di komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *