Mengelaborasi Tafsiran Sejarah Banten Dalam Perspektif Global
By: Date: April 18, 2017 Categories: Uncategorized

Gambar terkait

Diskursus mengenai Banten dalam konteks era masa kemudian maupun masa kini sepertinya menjadi tema yg menarik buat didiskusikan. Faktor kemenarikan tersebut dapat dilihat berdasarkan perspektif makna & kiprah maupun bagaimana peran Banten pada perkembangannya pada tatar Pasundan.

Bandar Banten dalam abad ke-16 hingga 19 merupakan salah satu bandar Nusantara yg bertaraf internasional. Bukti-bukti sejarah dan arkeologi pada Situs Banten menaruh bukti bertenaga, bahwa badar Banten memagang peran relatif besar dalam global perniagaan. Letaknya yang strategis, antara Malaka dan Gresik, telah menjadikannya menjadi galat satu bandar internasional yg berpengaruh di Nusantara baik secara sosial, politik, ekonomi, budaya juga kepercayaan .

Puncak keemasan dan kejayaan Banten terletak pada kebijakan ekonomi dan politik penguasa, demikian salah satu hasil kajian sejarawan Prancis Claude Guillot tentang Banten dalam karya apiknya Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII yang digali dari khazanah arsip Belanda.  Secara umum, buku ini membicarakan tiga topik utama, yaitu banten sebelum kedatangan Islam, komponen- komponen dari masyarakat Banten zaman Islam melalui tata perkotaan, perjuangan-perjuangan merebut kekuasaan dan terikatnya Banten pada dunia agraris, dan yang terakhir hubungan Banten dengan pihak-pihak asing.

Dari sejarah itu, tercatat seseorang waliraja bernama Ranamanggala. Ia memerintah Banten pada 1609, sehabis merebut kekuasan berdasarkan tangan oligarki tengkulak dan pedagang, yang berniaga dengan para saudagar Persia, Gujarat, Malabar, Keling, Pegu, China, Turki, Arab, Abysinia, Portugis, Inggris, Denmark, Prancis, Belanda. Ia memerintah sampai dimakzulkan dalam 1624, sang persekongkolan para pedagang asing itu, yang dirugikan oleh kebijakan politiknya.

Memang, kemakmuran Banten dari menurut hasil perdagangan lada dan perniagaan antar bangsa yg sudah diletakkan dasarnya oleh para penguasa Hindu-Budha. Pemerintahan Islam melanjutkannya & mengandalkan lada menjadi asal primer ekonomi warga & pemerintah.

Dari Rahim Banten jua lahirlah pembesar termasyur. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), seorang pemimpin akbar. Ia melanjutkan visi agraris Ranamanggala pada skala lebih luas. Ia memerintahkan setiap orang menanam 100 pohon kelapa ? Pohon yang berdasarkan akar sampai daunnya memberikan kehidupan?Di pinggiran Sungai Cisadane.

Dapat dikatakan, Ranamanggala dan Sultan Ageng adalah 2 figur visioner yg mencoba ?Meredam? Keserakahan lautan materialisme, dengan solusi ?Balik ke tanah,? Yg lebih santai & kontemplatif. Harus jua dikatakan, mereka adalah ?Bapak pembangunan? Sejati, yang tahu persis kebutuhan rakyatnya, & memahami bahwa benteng pertahanan negara yg primer adalah: ketahanan pangan.

Yang menarik, masa keemasan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa ini menampakan beberapa pelajaran penting bagi pemangku kepentingan waktu ini:

Pertama , menjadi seorang pemimpin tidaklah tercipta dalam waktu singkat. Tidak asal sulap langsung jadi. Ia lahir dari hasil tempaan yang panjang. Sebelum memerintah Banten, Sultan Ageng menemani kakeknya, Sultan Abul Mafakhir Abdul Kadir, dan ayahnya, Sultan Abul Maali Ahmad, dalam pemerintahan. Ia ikut serta dalam memecahkan berbagai persoalan dan masalah politik. Insting politiknya sudah terasah sejak muda. Dihargai oleh para pembesar kerajaan yang menaruh harap besar padanya dan dicintai rakyat yang percaya akan komitmennya menyejahterakan nasib mereka.

Kedua , keberhasilan seorang pemimpin ditopang oleh orang-orang kepercayaan dan para pembantu dekatnya. Sultan Ageng dibantu oleh Perdana Menteri yang amat setia dan kuat: Ki Arya Mangunjaya. Dialah arsitek dan otak keberhasilan pemerintahan Sultan Ageng dalam menjadi stabilitas politik dan keamanan. Ia juga dibantu oleh Menteri Perekonomian yang jitu, dialah Ki Ngabehi Cakradana, orang Cina yang masuk Islam dan punya nama Abdul Gafur. Di tangannyalah, ia menerapkan reformasi ekonomi Banten. Ia menjalin kembali hubungan ekonomi yang telah lama terputus dengan Cina. Membuat kebijakan di pelabuhan Banten yang adil dan tegas. Arsitek kota yang merubah Banten menjadi kota metropolis. Ia tak henti-hentinya membangun ekonomi Banten.

Ketiga , keberagamaan pemimpin memengaruhi masyarakat. Sultan Ageng berupaya membantenkan Islam, sementara Sultan Haji ingin mengarabkan Banten. Sultan Ageng menjunjung nilai dan adat setempat, sementara sang anak dihinggapi perasaan inferioritas terhadap kebudayaan luar, sehingga perlu mengadopsinya. Setelah pulang dari Mekkah, Sultan Haji berpakaian ala orang Arab dan memerintahkan masyarakat Banten memakai jubah dan sorban seperti dirinya. Ayahnya resah dengan sikap anaknya yang dinilai menumbuhkan nilai-nilai fundamentalisme. Yang pertama mendapat simpati masyarakat, yang kedua memperoleh antipati.

***

Sepanjang usianya, Banten terus mengalami dinamika, gejolak, termasuk kebimbangan memilih arah jalan. Semenjak provinsi ini berdiri dalam tahun 2000, 2 unsur penyelenggara pemerintahan daerah yaitu eksekutif & legislatif seakan belum menemukan kemana arah jalan pembangunan Banten.

Pemberlakuan desentralisasi/swatantra daerah Banten masih dibayangi sejumlah kendala transparasi, partisifasi aktif dan kontrol sosial bagi segenap lapisan pembangunan. Peningkatan partisifasi, kepedulian & kontrol sosial akan bermuara dalam pencapaian sasaran ? Target pembangunan yg prestatif dan berkelanjutan.

Untuk menjawab problematika pelaksanaan desentralisasi, ada beberapa hal krusial yang perlu dilakukan, antara lain membangun komitmen jelas antar pemangku kepentingan berkenaan pelaksanaan otonomi daerah, mendorong implementasi good governance, penguatan peran gubernur sebagai wakil pemerintah pusat, adanya political will, mewujudkan harmonisasi hubungan pusat dan daerah, serta konsistensi pemerintah dalam mengendalikan gejala pemekaran wilayah.

Dalam ranah ini, Penetapan bukti diri lokal pada konteks dominasi daerah bukan semata-mata praktik romantisasi masa kemudian dalam pandangan esensialis, namun sebagai cara paling praktis & mudah dalam menjamin kepemilikan kekayaan kultural. Karenanya, pembentukan identitas lokal lebih menjadi taktik resitensi pada menghadapi kekuatan dunia.

Dengan demikian, menyelidiki masa lampau Banten adalah keniscayaan ketika kita menghadapi gempuran global menggunakan segala eksersis geopolitik dan ekonomi, yg syahdan membawa nilai-nilai universal, tetapi faktanya universalisme itu hanya ?Pembaratan? Entitas lokal. Maka, mengungkapkan elemen kearifan lokal merupakan suatu upaya tahu apakah pemerintah dan elemen rakyat Banten telah melakukan pembaharuan sendiri pada setiap periode sejarah, lalu mempertanyakan apakah cermin sejarah itu memantulkan berbagai local genius (gagasan, konduite & karya) yg bernilai positif pada menghadapi banyak sekali tantangan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *