GHIBAH DI ERA MILENIAL
By: Date: May 2, 2017 Categories: Uncategorized

Ghibah di Era Milenial

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Guru di MTs Cijangkar

Ciawi Tasikmalaya

Memviralkan perilaku tidak baik seseorang di media sosial sepertinya sudah menjadi  trend di kalangan masyarakat kita saat ini. Kemudahan teknologi memberikan andil besar dalam penguatan perilaku yang seolah sudah menjadi budaya. Tak terkecuali semua kalangan dari berbagai latar belakang baik ekonomi, pendidikan, profesi bisa ikut terlibat didalamnya.

Sadar atau tidak, kita sebenarnya sudah ikut serta berbuat tidak baik, bukankah aib seseorang itu harus ditutupi? Ajaran agama sudah mengisyaratkan jikalau kita menemukan aib saudara maka kita tidak boleh menyampaikannya pada orang lain,  bahkan kalau bisa kita  harus menutupnya rapat-rapat sehingga tidak bisa diketahui oleh yang lain. Namun yang terjadi saat ini malah sebaliknya, aib itu menjadi bahan lelucon bahkan jadi bahan untuk mencari keuntungan.

Aib yg telah beredar dikemas sedemikian rupa & dihubungkan-hubungkan menggunakan berbagai macam aktifitas kehidupan. Dari sekian poly bungkus itu ada yg sebagai bahan lelucon, mengolok-olok, mencaci bahkan menghina seolah pelaku merupakan orang yang paling bersalah dan yang membully merupakan orang yang paling sahih.

Alangkah sayangnya kalau kretifitas yang di buat sedemikian rupa itu digunakan untuk hal negatif, berbagai meme dibuat yang berhubungan dengan aib yang ingin disebar, sungguh sayang  karya yang dibuat dengan menggunakan energi, pikiran bahkan biaya dibuang sia-sia untuk hal yang kurang bermanfaat, dan cenderung membuat kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.

Mungkin buat sebagian orang hal ini sanggup menguntungkan, akan tetapi tidak kah kita berpikir dampak negatif menurut apa yg kita perbuat buat lingkungan kita, anak cucu kita, bahkan buat kehidupan kita kelak pada alam akhirat.

Memang sebagian diantara kita tidak berpikir dan percaya tentang akhirat, tetapi kita yang mempunyai keyakinan mengenai itu mestinya menyadari bahwa kita akan hayati di alam yang kekal, jangan hingga mengorbankan yg lama demi memenuhi impian sesaat. Kalau kita nir bisa mencegah keburukan, setidaknya kita jangan berbagi keburukan yg kita ketahui, karena kita pun tidak mau jikalau aib kita disebarkan sang orang lain.

Yang lebih berbahaya merupakan apabila keburukan yang kita sebar itu dimanfaatkan sang orang buat mencari laba, bisa jadi suatu yang negatif di balik menjadi mempunyai tanggapan yg positif & ditiru oleh yg lain, maka pembenaran ini merupakan suatu yg menyesatkan & sadarkah bahwa bila kita ikut andil pada dalamnya maka kita telah berbuat suatu dosa yg mungkin kita tidak menyadarinya karena itu dipercaya sebuah lelucon.

Penyebaran liputan yg begitu mudah pada zaman kini tanpa kita sadari sudah menuntun kita pada situasi yang sulit buat memilih, sulit membedakan, dan cenderung buat ikut-ikutan tanpa memikirkan dampak yang ditanggung dari apa yang kita kerjakan. Globalisasi yang begitu cepat & sukar buat dibendung memaksa kita semua buat ikut terlibat pada segala hal walaupun kita nir memiliki kapasitas, maka mampu jadi hal yang tidak baik namun mempunyai kekuatan akan mengalahkan kebaikan yg lemah.

Jalan yang baik yg harus kita pilih untuk membendung seluruh itu tidak lain merupakan menggunakan membentengi diri agar nir gampang terjerumus dalam hal-hal yg buruk tersebut. Salah satu benteng yg mampu menunda itu seluruh merupakan menggunakan menguasai ilmu pengetahuan yang dibarengi menggunakan ketakwaan kepada Alloh swt., orientasi akhirat semestinya lebih dikedepankan dibanding global, sebab buat memperoleh kesenangan global poly orang menghalalkan segala cara buat meraihnya tanpa memikirkan imbas negatif yang akan diterimanya.

Orang yang berilmu & disertai dengan keimanan akan berpikir jernih ketika wajib berprilaku, semua dipertimbangkan menggunakan penuh perhitungan & selalu memikirkan dampak yang akan terjadi jika mau berbuat sesuatu. Ilmu akan menuntun manusia buat selalu berhati-hati dalam bertindak, karena ilmu yang baik akan selalu membimbing manusia buat selamat di global & akhirat. Bukankah dalam setiap kesempatan kita diajarkan buat selalu berdo’a kepada Alloh swt. Buat minta selamat global akhirat. Selain itu kita diperintahkan buat melindungi diri kita dan famili kita supaya terhindar berdasarkan barah neraka.

Yang paling krusial waktu ini dalam menjalani kehidupan yang sudah berada dalam zaman perkembangan ilmu pengetahuan adalah upaya buat mengimbangi pesatnya sains dengan kebiasaan-kebiasaan atau ilmu-ilmu keagamaan. Sebab terkadang dengan berbagai kemudahan yg dapat dilakukan tanpa mengenal batas ruang dan saat, akan menaruh kesempatan kepada seluruh orang untuk berbuat semaunya tanpa berpikir panjang akan akibat yang disebabkan.

Kepedulian yang rendah akan sesama manusia menjadi faktor pendorong yang kuat untuk seseorang berbuat tidak baik sehingga dengan mudah mereka melakukan apa saja yang diinginkan tanpa berpikir panjang akan dampak buruk yang  ditimbulkan, termasuk menyebarkan aib saudaranya yang dia ketahui. Sifat materialistis, individualistis dan hedonis yang  sudah merasuki kehidupan manusia menjadi salah satu penyebab hilangnya rasa kemanusiaan yang seharusnya melekat dalam setiap insan.

Kecanggihan teknologi ketika ini yang berkembang dengan pesat nir bisa dibantah & dibendung oleh siapapun. Yang wajib kita lakukan adalah memanfaatkannya untuk kebaikan sebagai akibatnya apapun yang kita lakukan bisa memberikan manfaat dan menjadi amal ibadah. Bukankah tugas kita pada bumi ini merupakan hanya buat beribadah kepada Alloh swt. Sebagaimana yang disiratkan pada firman-Nya. Semoga kita semua bisa menunda diri buat tidak menggunakan mudah membuatkan keburukan. Amin

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://gokalimah.com

Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://pergumapi.or.id

Penulis juga aktif di komunitas Gumeulis (Pengajar Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *