Derap Langkah Millenial Menggarap Koperasi di Abad Digital
By: Date: May 9, 2017 Categories: Uncategorized

Tak bisa dipungkiri, generasi millenial Indonesia adalah aset penggerak ekonomi di masa depan. Mereka memiliki tiga karakter yang khas yakni terkoneksi dengan internet, memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta kreatif. ketiga karakter ini jika digarap dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin di masa depan menjadi aset berharga bagi keberlangsungan bangsa ini menuju masyarakat Indonesia yang adil makmur. Kedepan, sejumlah tantangan yang sekaligus menjadi peluang akan dihadapi millenial Indonesia. Salah satunya dengan telah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tanggal 1 Januari 2016 dan era bonus demografi Indonesia yang dimulai pada tahun 2020. Generasi Millenial sendiri berada pada Golongan Gen Y (lahir tahun 1980-1997). Mereka dianggap sebagai aset masa depan, karena dipastikan 70% dari generasi millenials berada pada masa produktif pada 2030.

https://kumparan.com

Oleh karenanya dalam menyambut bonus demografi, bangsa kita harus memastikan adanya produktivitas pada era bonus demografi tersebut melalui peningkatan kapasitas, kreativitas, dan daya saing pemuda kita dalam rangka melakukan optimalisasi peran bonus demografi dalam mengejar ketertinggalan bangsa kita. Hal tersebut harus dilakukan dengan memperbaiki pendidikan, kesehatan, dan melakukan penyediaan lapangan kerja di masyarakat. Pada akhirnya, bonus demografi ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Namun, dalam hal ini, bonus demografi bisa menjadi bencana demografi jika tidak dipersiapkan kedatangannya dengan baik.

Menyiapkan penduduk usia produktif

Koperasi sebagai salah satu soko guru ekonomi Indonesia, merupakan lembaga yang paling tepat untuk mengatasi ketimpangan sosial-ekonomi menjelang bonus demografi. Apalagi masyarakat Indonesia dikenal memiliki semangat kerjasama dan kegotongroyongan yang tinggi. Atas dasar itu, the founding father Mohammad Hatta menyusun usaha yang dianggap sesuai dengan sifat-sifat dasar masyarakat Indonesia.

Tidak sampai disitu. Mengemban amanah Nawacita, koperasi dituntut untuk dapat meningkatkan daya saing di pasar internasional. Organisasi ini pun dibebani untuk mengoptimalisasi sektor-sektor strategis ekonomi di domestik dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi.  Bukan tanpa alasan mengingat Indonesia harus bisa maju dan bangkit bersama-sama dengan negara Asia lainnya. Sehingga peningkatan kelayakan, produktivitas, dan nilai tambah koperasi untuk “naik kelas” bertumbuh ke skala yang lebih besar dan berdaya saing global.

Faktanya, kalangan generasi millenial saat ini banyak yang tidak mengetahui dan memahami mengenai hakekat dan pentingnya koperasi, sebagai salah satu bentuk ekonomi kerakyatan. Hal ini didorong oleh perubahan gaya hidup generasi milenial (zaman now) yang begitu cepat dan tidak menentu (disruptif), akibat perkembangan teknologi informasi, robotic, artifical intelligence, transportasi, dan komunikasi yang sangat pesat. Pola dan gaya hidup generasi milenial bercirikan segala sesuatu yang lebih cepat (real time), mudah, murah, nyaman, dan aman.

Beranjak dari fenomena diatas, maka lembaga dan insan Koperasi sudah saatnya mentransformasi dan mereformasi dirinya untuk menata organisasi dan strategi bisnisnya sesuai dengan perkembangan zaman. Koperasi wajib semakin kreatif dan inovatif untuk menghasilkan produk produk yang berkualitas agar dapat memanfaatkan potensi pasar ASEAN yang berpenduduk 450 juta jiwa. Koperasi diharapkan berperan secara strategis menggerakkan anggotanya sebagai pelaku usaha daripada penonton di negerinya sendiri karena populasi penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa lebih atau sebesar 47% dari seluruh populasi negara negara ASEAN. Ini potensi pasar yang luar biasa besar dan harus dimanfaatkan secara maksimal.

Untuk menuju koperasi yang kuat maka koperasi harus mendapatkan menu empat sehat lima sempurna, yaitu : akses permodalan, kualitas SDM, manajemen lebih baik dan bantuan pemasaran/penjualan serta kemitraan dengan perusahaan besar (match making). Sementara, demi meningkatkan citra koperasi dimata generasi muda, adalah dengan pengejawantahan konsep filantropi yang kini intens menjadi perhatian generasi millenial. Pendefinisian yang paling mutakhir filantropi adalah sebagai social investment (investasi sosial) di mana seseorang, sekelompok orang atau perusahaan bermitra dengan orang-orang yang dibantunya.

https://slideplayer.info/slide/15799746/

Konsep filantropi ini  tentunya sangat relevan dengan fungsi dan peranan Koperasi yang dijabarkan dalam Undang-undang No. 25 tahun 1992 yaitu : mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat, berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia, memperkokoh perekonomian rakyat, mengembangkan perekonomian nasional, serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa.

Dalam sejumlah studi, ditemukan bahwa salah satu karakter dan kultur generasi millenial ini adalah memiliki kepedulian pada isu-isu sosial kemanusiaan, mereka senang berbagi kepada sesama. Generasi millenial tumbuh di bawah asuhan budaya (social sharing) yang tinggi. Temuan ini adalah fakta menarik bagi pegiat kemanusiaan dalam menggalang donasi. Bahwa generasi millenial perlu didekati dengan inovasi. Menggalang charity dari entitas millenial, berarti memperluas spektrumnya kemanusiaan.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, para muda kreatif tersebut tidak hanya sekedar ingin terlibat dalam kegiatan filantropi dengan memberikan donasi, tapi juga memanfaatkan potensi dan kapasitasnya untuk mengembangkan dan mempertajam inisiatif sosial yang dilakukan. Generasi millenial ini memperluas bentuk kontribusi atau sumbangannya menjadi 6 bentuk, yakni pengetahuan/keterampilan, waktu, voice (suara/aspirasi), jaringan, cinta (kinesthetic ability) dan dana. Dengan menggabungkan 6 bentuk pemberian itu, generasi millenial tidak hanya melihat filantropi sebagai kegiatan sosial, tapi sebagai investasi sosial yang berdampak luas dan berkelanjutan. Mereka juga memandang keterlibatannya dalam kegiatan filantropi sebagai investasi bagi pengembangan karakter dan kapasitasnya untuk menjadi pemimpin di masa mendatang.

Melalui  komunitas jaringan dengan  memanfaatkan  tekonologi  informasi  dan  budaya pop, para filantrop milenial yang lahir dari berbagai latar belakang enterpreuneur, ahli IT, pekerja seni dan pegiat sosial diharapkan dapat menjadi kepanjangan tangan koperasi dalam mengemas program koperasi agar terlihat lebih populer, menyenangkan serta mengandung aspek pemberdayaan ekonomi. Sehingga mereka dan para millenial lainnya kelak akan menjelma  sebagai  seorangtech savvy, wirausahawan, berpendidikan dan berpikiran independen yang terdorong untuk “berbuat baik.”

Pada akhirnya, sebagai produk filantropi, koperasi harus mampu menjawab berbagai tantangan zaman yang dihadapi para generasi millenial. Koperasi dalam hal ini dapat menumbuhkan kelompok masyarakat millenial yang produktif dan potensial. Jika dimanfaatkan dengan baik, hubungan koperasi dan generasi millenial bisa menjadi simbiosis mutualisme yang mendatangkan kesejahteraan bagi para millenials, juga menguatkan eksistensi koperasi di abad digital seperti sekarang ini.

** *

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi PRAJA 2019 Kategori Karya Tulis Blog yang diselenggarakan oleh praja2019.multiintisarana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *