HAKIKAT GURU BERPRESTASI
By: Date: May 14, 2017 Categories: Uncategorized

HAKIKAT GURU BERPRESTASI

Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan. Peran penting guru sangat menentukan kualitas pelaksanaan pendidikan sehingga menghasilkan output pendidikan yang bermutu, output pendidikan yang bermutu akan mengasilkan outcame yang berkualitas yang dapat bersaing ketika mereka terjun ke lingkungan yang lebih luas dengan tingkat persaingan sangat tinggi.

Dalam UU No. 14 Tahun 2005 mengenai Pengajar dan Dosen dalam pasal 1 dijelaskan bahwa pengajar adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, & mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kemudian dalam Pasal 6 dijelaskan bahwa kedudukan pengajar sebagai tenaga profesional bertujuan buat melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik supaya sebagai insan yg beriman & bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta sebagai rakyat negara yang demokratis & bertanggung jawab.

Memperhatikan peran guru yang di jelaskan dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, ternyata beban yang dipikul oleh seorang guru bukanlah tugas yang gampang untuk dilaksanakan. Tanggung jawab yang diberikan kepada guru demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional merupakan tugas berat yang harus diupayakan oleh  para guru dalam merealisasikannya. Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang paripurna memerlukan kecakapan dan usaha yang sungguh-sungguh, sebab ini sangat menentukan kualitas sumber daya manusia yang akan mengelola negara ini sehingga secara pribadi dan secara nasional warga negara kita bisa bersaing dengan negara-negara lain di seluruh dunia.

Dalam menjalankan tugas yg mulia ini para guru tentu wajib memiliki bekal kemampuan yang mumpuni untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi seorang guru mutlak harus dimiliki & dikuasai sang para pengajar agar mereka dalam menjalankan tugasnya sanggup penekanan terhadap tujuan yang sudah ditetapkan. Dalam UU No. 14 Tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen dalam Pasal 10 dijelaskan bahwa Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yg diperoleh melalui pendidikan profesi.

Keempat kompetensi yang harus di miliki dan dikuasai oleh para guru merupakan modal penting dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga profesional. Oleh karena itu penguasaan dan pemahaman para guru terhadap empat kompetensi tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas output pendidikan yang dituntut agar bisa menjadi manusia yang paripurna. Dalam upaya membentuk manusia paripurna, seorang guru di sekolah harus berupaya agar dapat mencetak peserta didik yang berprestasi dibidang akademik maupun non akademik, oleh karena itu tuntutan terhadap peserta didik agar berprestasi semestinya juga diikuti pula oleh guru yang berprestasi.

Dalam panduan pemilihan pengajar berprestasi, kementerian pendidikan & kebudayaan melalui direktorat jenderal pengajar dan tenaga kependidikan, mengungkapkan bawa guru berprestasi merupakan guru yang memiliki kinerja melampaui baku yang ditetapkan oleh satuan pendidikan, mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, membentuk karya kreatif atau inovatif yg diakui baik pada tingkat daerah, Nasional dan/atau Internasional, dan secara eksklusif membimbing peserta didik hingga mencapai prestasi pada bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurikuler.

Indikator utama yang ditetapkan oleh kementerian pendidikan untuk menetapkan guru berprestasi adalah bahwa guru yang berprestasi adalah guru yang memiliki kinerja melampaui standar yang ditetapkan oleh satuan pendidikan, artinya bahwa guru yang berprestasi ini adalah seorang guru yang kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugasnya dengan bekal kompetensi yang secara umum harus dikuasai oleh setiap guru. Jadi siapapun gurunya kalau dia sudah melakukan kegiatan kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugasnya itu sudah dikatakan guru berprestasi, sehingga dengan prestasi guru seperti itu diharapkan akan muncul output pendidikan yang berkualitas. Adapun guru yang memiliki predikat dan sertifikat sebagai guru berprestasi itu adalah hasil dari pengakuan yang dilaksanakan melalui proses penilaian oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk memberikan penghargaan kepada guru bersangkutan atas dedikasi yang dilakukannya selama menjalankan tugasnya sebagai guru.

Pemilihan guru berprestasi dimaksudkan antara lain buat mendorong motivasi, dedikasi, loyalitas dan profesionalisme pengajar, yg dibutuhkan akan memberi pengaruh positif terhadap peningkatan kinerja & prestasi kerjanya. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen, Pasal 36 ayat (1) mengamanatkan bahwa ?Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan?. Dengan istilah lain pemerintah sahih-benar memperhatikan kualitas pengajar dengan cara memberdayakannya terutama buat pengajar yg berprestasi.

Tugas guru yang sangat banyak menggunakan banyak sekali tuntutan yg dibebankan sang pemerintah melalui regulasi-regulasi yg berkaitan dengan pendidikan, sebenarnya sudah sangat menguras energi & pikiran dari para pengajar, bahkan menggunakan tututan yg standar saja masih poly pengajar yg belum sanggup melaksanakannya. Banyak sekali faktor yang mensugesti kenapa masih banyak pengajar yang belum bisa mencapai baku dalam menjalankan tugasnya, baik faktor internal juga eksternal.

Faktor internal timbul berdasarkan guru itu sendiri, ketidakfahaman akan tugas yg di embannya, keengganannya buat belajar kembali mengenai ilmu-ilmu pendidikan masa sekarang, tingkat kesejahteran yang rendah sehingga ada sebagaian guru yg mencari penghasilan tambahan dengan berprofesi ganda merupakan penyebab guru nir sanggup melaksanakan tugasnya sinkron menggunakan standar. Faktor eksternal yang mensugesti kinerja pengajar merupakan acapkali berubahnya regulasi yang di buat sang pemerintah yang waktu perubahannya sangat singkat, jadi regulasi yang keluar pertama belum difahami dan dilaksanakan sang para guru ternyata telah ada regulasi yg sama yang akan menggantikannya seperti misalnya perubahan kurikulum yg tenggang waktunya sangat singkat.

Seorang pengajar yang dapat menjalankan tugasnya sinkron standar yang ditetapkan oleh pemerintah sebenarnya berdasarkan penulis merupakan sebuah prestasi, karena saking banyaknya tuntutan yang diberikan pada pengajar. Sebagai seorang guru, kenyataannya dilapangan masih poly guru yg belum sanggup melaksanakan tugas minimalnya menggunakan sangat baik contohnya pada perkara disiplin waktu, buat tiba ke sekolah/madrasah tepat waktu, masuk & keluar kelas tepat saat ternyata masih banyak pengajar yg belum mampu melaksanakannya, padahal setiap aktifitas di pada kelas itu sangat tergantung sang eksistensi guru. Terjadinya kenakalan peserta didik pada pada kelas merupakan keliru satunya ditimbulkan oleh kiprah pengajar dalam melaksanakan tugasnya sesuai menggunakan jadwal yg telah ditetapkan tidak berjalan menggunakan baik.

Jadi prestasi guru yang sesungguhnya adalah tidak ditentukan oleh predikat atau sertifikat yang diperoleh seorang guru, namun indikator paling penting adalah bagaimana guru bisa memberikan pelayanan yang optimal terhadap peserta didik yang jadi tanggungjawabnya ketika berada di dalam kelas. Guru yang dapat menghasilkan output yang berkualitas, itulah sesungguhnya guru yang berprestasi dan itulah hakikat dari guru berprestasi yang tidak semata ditentukan oleh predikat dan sertifikat yang diberikan oleh seseorang atau lembaga tertentu.

Menurut penulis peserta didik harus dilibatkan dalam penilaian ketika ajang guru berprestasi digelar, tidak hanya portopolio, hasil karya ilmiah serta wawancara yang semuanya bersifat teoritik akademik dan subjektifitasnya sangat tinggi yang menjadi acuan penilaian guru berprestasi, tetapi tim penilai harus melakukan uji petik langsung ke sekolah/madrasah  untuk mengecek langsung bagaimana sesungguhnya guru yang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Dalam uji petik tersebut tim penilai harus melibatkan semua stakeholder sekolah/madrasah dalam menghimpun informasi tentang guru yang dinilai, terutama terhadap peserta didik, sebab mereka adalah yang merasakan langsung pelayanan dari seorang guru.

Indikator paling penting dari keberhasilan pendidikan adalah output pendidikan yang berkualitas, yang secara otomatis akan membuat sumber daya manusia berkualitas pula. Sebuah bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas akan menjadi bangsa yang besar, maju disegani oleh bangsa lain dan rakyatnya hidup dalam kemakmuran dan itulah sebenarnya tujuan pendidikan nasional yang ingin dicapai oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini melalui guru-guru kreatif dan inovatif sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan. Mudah-mudahan negara kita dapat mencapai tujuan nasional pendidikan agar bangsa ini menjadi bangsa yang baldatun toyyibatun warobbungofur. amin

Penulis : Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.

Staf Pengajar Mata Pelajaran Matematika dalam MTs Cijangkar & Sekolah Menengah Kejuruan Cijangkar Ciawi Tasikmalaya Jawa Barat

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *