Guru Jangan Kuper
By: Date: May 16, 2017 Categories: Uncategorized

Guru Jangan Kuper!

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Suatu saat saya ditanya oleh seorang pengajar yang hendak mengikuti aktivitas training yang diselenggarakan sang pihak terkait. Pelaksanaan aktivitas tadi rencananya bertempat pada sebuah hotel yang letaknya nir jauh berdasarkan ibukota provinsi dan adalah wilayah wisata.

Dengan polosnya dia bertanya, kang (sunda, kak/abang) nanti aku wajib bawa piring atau gelas sendiri untuk konsumsi? Apakah aku juga wajib bawa indera mandi dan sederet kebutuhan eksklusif yang biasanya digunakan sehari-hari, beliau bertanya menurut pengalaman sebelumnnya ketika mengikuti kegiatan sekolah (?Kemah?).

Pertanyaan itu sungguh menggelitik, & seharusnya ditanyakan bila yg bersangkutan memang tidak mengetahui. Pengajar tersebut telah mengajar pada sekolah milik pemerintah kurang lebih 6 tahunan dengan status kepegawaian yg masih ‘abu-abu’. Saya nir hanya menyebut guru menggunakan status ?Abu-abu? Saja, lantaran mungkin saja pengajar yang status kepegawainnya telah jelas juga mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang sama tentang hal tadi.

Baca juga: Mewujudkan Guru yang Patut Digugu dan Ditiru

Profesi pengajar waktu ini memang menjadi pilihan orang dengan taraf ekonomi menengah ke bawah, sepertinya jarang ada orang menggunakan latar belakang taraf ekonomi atas berminat menjadi pengajar. Bukan rahasia umum lagi bahwa menentukan profesi menjadi guru pada Negara tercinta ini nir mampu menjamin seseorang menjadi kaya, kalau mau kaya ya ‘jangan jadi pengajar’, jadilah pengusaha, dokter, politisi atau profesi lainnya.

Jadi masuk akal kalau banyak guru yang nir terbiasa menggunakan pergaulan tingkat menengah ke atas, walaupun mereka memahami mungkin hanya sebatas pengetahuan yg mereka pelajari di sekolah/madrasah namun belum pernah mereka lakukan pada kehidupan nyata.

Semestinya seseorang pengajar haruslah sebagai orang yg berlimpah ilmu dan pengalaman untuk disampaikan dan menjadi model bagi peserta didiknya, nir hanya dalam kompetensi pedagogik atau professional saja. Namun pula pada kompetensi sosial & kepribadian. Perkembangan zaman yg selalu berubah dan terus bergerak maju, menuntut insan buat terus berubah sesuai zamannya termasuk bagi seorang pengajar.

UU no. 14 tahun 2005 tentang pengajar & dosen pasal 10 ayat 1 mensyaratkan seseorang guru buat mempunyai dan menguasai empat kompetensi, yaitu pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial. Salah satu tuntutan kompetensi sosial adalah seseorang pengajar mempunyai kemampuan buat berteman menggunakan siswa, orang tua dan masyarakat generik.

Untuk sanggup bergaul dengan aneka macam kalangan, seseorang pengajar harus mempunyai pengetahuan, kemampuan dan pengalaman bergaul menggunakan banyak sekali kalangan. Kemampuan ini akan mereka miliki jika guru memiliki pengalaman yg mungkin tidak mereka dapatkan waktu sekolah atau kuliah, tetapi mereka harus mempunyai kemampuan tadi saat sudah menjadi guru.

Pertarunga ini sebagai tanggung jawab beserta bagi seluruh stakeholder pendidikan buat menyelesaikannya. Pengajar semestinya diberi kesempatan buat menerima pengalaman tersebut, & buat merealisasikan seluruh itu seorang pengajar memerlukan dukungan menurut aneka macam pihak diantaranya:

1. Dukungan dari diri sendiri

Zaman yg bergerak maju menuntut pengajar buat mampu mengimbangi perubahan yg terjadi. Seorang guru nir boleh merasa relatif menggunakan kompetensi yg dimiliki saat ini, karena boleh jadi kemampuan yg mereka miliki telah tidak relevan dengan situasi dilapangan saat ini.

Pengajar harus selalu mengupgrade pengetahuan dan pengalamannya supaya tidak ketinggalan liputan. Perilaku peserta didik yg nir sama pada setiap zamannya nir bisa diberi perlakuan yang serupa, karena nir akan nyambung & cenderung tidak disukai oleh mereka. Penyesuaian ini krusial dilakukan supaya peserta didik merasa tertarik mengikuti proses pembelajaran sinkron dengan cara & hasrat yang tak jarang mereka lakukan dengan bimbingan sepenuhnya berdasarkan guru.

2. Dukungan kepala sekolah/madrasah.

Kepala sekolah/madrasah wajib menaruh kesempatan pada pengajar waktu guru tadi hendak mengikuti kegiatan diluar sekolah/madrasah buat peningkatan kompetensinya baik inisiatif eksklusif, diminta atau ditugaskan oleh dinas terkait.

Dukungan tersebut sangat dibutuhkan oleh seseorang pengajar baik moril juga materil. Kepala sekolah/madrasah semestinya nir melarang pengajar selagi yang dilakukan masih proporsional, lantaran apa yg dilakukannya adalah sebuah upaya yg nantinya berimbas positif terhadap kemajuan siswa maupun sekolah/madrasah.

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diberikan oleh pemerintah buat membantu porto operasional sekolah dalam memenuhi 8 standar pendidikan termasuk didalamnya baku pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), dan uang BOS sanggup di gunakan buat membantu pengajar dalam menaikkan kompetensinya.

3. Dukungan Dinas Terkait

Dalam menaruh pembinaan terhadap guru, dinas terkait (Disdik/Penmad) semestinya sanggup mengatur agar kesempatan yang diberikan buat mengikuti pelatihan mampu merata dirasakan sang setiap guru, tidak memandang status kepegawaian pengajar tadi. Kenyataan di lapangan sering terjadi bahwa pengajar yg mengikuti training orangnya itu-itu saja.

Selain itu dinas terkait harus mampu mendorong pengajar yang sudah mengikuti training supaya melakukan desiminasi pengetahuan yg mereka dapatkan saat mengikuti training. Desiminasi ini harus ditugaskan eksklusif kepada guru bersangkutan & wajib sebagai tagihan sebagai bentuk laporan pada dinas terkait sehabis menugaskan guru tadi.

Baca juga: Guru Profesional Harus Aktif Berorganisasi

Guru kuper (?Kurang pergaulan?) sebagai galat satu dilema yang harus selesaikan agar kualitas pendidikan sanggup meningkat, karena pengajar adalah ujung tombak kemajuan pendidikan yang berimbas pada kualitas output sekolah/madrasah sebagai akibatnya bangsa Indonesia mampu maju dan sejajar dengan negara-negara besar lainnya yg telah terlebih dahulu mempunyai kualitas tinggi di banyak sekali bidang yg diawali menggunakan kualitas pendidikan yg tinggi.

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melalui http://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melalui http://www.pergumapi.or.id

*Penulis pula aktif pada komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *