IMPOR GURU, HARUSKAH?
By: Date: May 18, 2017 Categories: Uncategorized

Impor Pengajar, Haruskah?

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan insan dan Kebudayaan, Puan Maharani tentang gagasan mengundang guru atau guru dari luar negeri buat mengajar di Indonesia menerima tangapan pro dan kontra, pernyataan yg disampaikan pada acara diskusi Musrenbangnas yang dihadiri Presiden Republik indonesia itu seolah menggelindingkan bola liar dan panas yang siap di tendang ke sana kemari oleh poly orang menurut sudut pandang yang tidak sama.

Belakangan muncul penyataan yang yang meluruskan melalui menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajjir Effendi bahwa maksud menteri Puan Maharani adalah bukan ‘impor’ guru tetapi ‘mengundang’ guru atau instruktur TOT (Training of Trainer) untuk melatih para guru dalam upaya meningkatkan kualitasnya, hal ini dilakukan untuk berhemat karena biaya mendatangkan guru dari luar negeri lebih murah daripada mengirim guru keluar negeri, walaupun program mengirim guru ke luar negeri tetap akan dilaksanakan.

Isu ini menjadi panas lantaran poly kalangan yang ikut menanggapi berdasarkan berbagai aspek & juga kepentingan, bahkan beberapa organisasi profesi guru pada Indonesia pun memiliki tanggapan yang tidak sama mengenai masalah ini. Pro & kontra sangat masuk akal terjadi bila terdapat pernyataan yg keluar, apalagi kalau yang menyatakannya adalah seseorang pejabat negara.

Terlepas dari pro & kontra mengenai pernyataan tersebut, wajib kita akui bahwa memang kualitas pendidikan negara kita masih rendah dibanding negara lain, apapun yg disampaikan mungkin maksudnya baik yaitu ingin memajukan kualitas pendidikan pada negara kita supaya nir ketinggalan jauh oleh negara lain sebagai akibatnya kita mampu bersaing di tingkat dunia menjadi upaya buat mencapai Indonesia emas yang dicita-citakan sang semua rakyat Indonesia.

Konflik pendidikan sepertinya tidak akan pernah usai buat dibahas, sebab ini menyangkut urusan insan yg selalu dinamis & berubah sangat cepat mengikuti perkembangan zaman yang sedang berlangsung, termasuk permasalahan pengajar yang berdasarkan dulu dijadikan biang kerok masalah pendidikan yg antara lain mengenai sulit meningkatnya kualitas pendidikan pada negara kita tercinta.

Masalah peningkatan kualitas pendidikan sebenarnya bukan hanya tanggung jawab pengajar, tetapi semua elemen warga ikut bertanggungjawab, karena perkara pendidikan merupakan tanggung jawab kolektif. Sejak dulu upaya peningkatan kualitas pengajar telah seringkali dilakukan dengan berbagai macam pelatihan, bahkan sampai mengirim guru ke luar negeri.

Selama ini upaya itu nir relatif buat menaikkan kualitas pendidikan. Dalam aneka macam pelatihan guru disodorkan konsep ideal bagaimana kualitas pendidikan bisa ditingkatkan, Tetapi konsep ideal tanpa dukungan perangkat lain, nir akan berjalan menggunakan baik. Pemenuhan sarana dan prasarana, kebijakan pemerintah yg mendukung, pencerahan masyarakat buat membantu memajukan & meningkatkan kualitas pendidikan jua sangat diperlukan.

Saat ini pengajar berkualitas di Indonesia mungkin sudah poly dan guru yang belum berkualitas sanggup ditingkatkan. Yang diharapkan waktu ini adalah sinergi yang baik menurut aneka macam elemen rakyat dalam upaya menaikkan kualitas pendidikan. Masyarakat waktu ini hanya memandang keliru satu komponen saja dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan yaitu pengajar, sehingga jikalau kualitas pendidikan masih rendah seolah-olah guru yg paling bersalah, padahal hal itu baru sebagian kecilnya saja.

Pengajar yang memiliki konsep/kualitas bagus tidak akan mampu berkecimpung tanpa didukung fasilitas memadai yg seharusnya disediakan sang pengelola sekolah/madrasah dan pula sebagai tanggung jawab pemerintah. Negara kita waktu ini baru belajar bagaimana mempertinggi kualitas pendidikan ke negara maju menurut tataran konsep saja, sedangkan aplikasinya masih miskin lantaran nir sepenuhnya ilmu atau pengalaman yang diperoleh diserap dan diimplementasikan.

Intinya jika kita mencontoh yg baik itu harus laksanakan secara menyeluruh tanpa melanggar kebiasaan yang berlaku di rakyat kita. Selama ini masih poly pengajar yg mengikuti training peningkatan kualitas pendidikan, baik yg dilakukan sang balai diklat atau forum penjamin mutu pendidikan tetapi belum sanggup mengimplementasikan hasil pelatihannya buat peningkatan kualitas pendidikan.

Banyak faktor yang menyebakan hal itu terjadi, antara lain minimnya sarana prasarana atau  fasilitas pendukung yang tersedia di sekolah/madrasah untuk mengaplikasikan hasil pelatihan tersebut atau masih kurangnya kesadaran guru itu sendiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan karena motivasi mengikuti pelatihan hanya sekedar mencukupi kebutuhan angka kredit untuk kenaikan pangkat. Mudah-mudahan kedepan kualitas pendidikan negara kita makin maju sehingga bisa mengangkat harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang besar. Amin.

Tulisan ini juga di muat di https://www.kompasiana.com/agusnuryana/5cda264d750657163f169dc3/impor-guru-haruskah

Tulisan ini jua dimuat pada Koran Kabar Priangan pada rubrik Guru Menulis

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis jua aktif di komunitas Gumeulis (Pengajar Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *