GURU PROFESIONAL HARUS AKTIF BERORGANISASI
By: Date: May 19, 2017 Categories: Uncategorized

Pengajar Profesional Harus Aktif Berorganisasi

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Akhir-akhir ini kita digemparkan menggunakan berbagai pemberitaan di media masa yg mencabik-cabik global pendidikan pada negara kita tercinta. Dimana seorang guru yang semestinya dihormati dan jadi panutan bagi peserta didik, sekarang seolah nir berarti lagi. Posisi seseorang guru yg semestinya berperan sebagai orang tua di sekolah/madrasah yg memberikan ilmu, membimbing & mengarahkan dalam hal-hal yg baik dipercaya menjadi musuh & orang yang posisinya nir krusial, sebagai akibatnya seorang seseorang peserta didik berani mengabaikan, melawan, bahkan yg paling parah adalah menganiaya yg menyebabkan seseorang guru menjadi terluka bahkan kehilangan nyawa ditangan peserta didiknya sendiri.

Kejadian tragis tersebut menurut para ahli disebabkan oleh banyak faktor yang tidak hanya melibatkan emosi seorang peserta didik, namun pemicunya juga bisa disebabkan oleh sikap guru yang mungkin membuat emosi anak menjadi meledak-ledak. Hal ini memberikan gambaran bahwa seorang guru semestinya juga mencari cara yang tepat dalam memperlakukan seorang peserta didik. Guru tidak boleh berpikir bahwa posisi seorang peserta didik zaman dulu sama dengan peserta didik zaman sekarang. Kejadian ini semestinya harus dijadikan auto kritik bagi setiap guru agar selalu berupaya untuk meningkatkan kompetensinya sesuai dengan pekembangan zaman, agar tujuan pendidikan nasional bisa tercapai sesuai dengan yang diinginkan.

Dalam aplikasi proses pendidikan, pengajar memiliki kiprah dan fungsi yg sangat krusial. Guru sebagai tulang punggung kemajuan bangsa pada bidang pendidikan yang posisinya sangat strategis dalam menopang pembangunan nasional, karena salah satu penunjang kemajuan suatu bangsa adalah keberhasilannya pada bidang pendidikan. Sudah poly contoh negara-negara yg maju pada segala bidang, hampir sanggup dipastikan bahwa pendidikannya pun maju.

Keberadaan pengajar pada sistem pendidikan tidak sanggup digantikan sang apaun, bahkan sang perangkat yg sangat sophisticated sekalipun, karena tugas guru tidak hanya menyampaikan materi pemberlajaran yang sudah ditetapkan, namun guru pula memiliki tugas buat mendidik, membimbing, menilai & tugas lainnya misalnya yg tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat 1 yg menyebutkan bahwa ?Pengajar merupakan pendidik profesional menggunakan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa dalam pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah?.

Posisi pengajar waktu ini sudah mengalami perubahan pengakuan yang sangat signifikan. Sebagai energi profesional, seorang pengajar wajib benar -benar mempersiapkan diri buat memberikan pelayan optimal pada bidang pendidikan. Tuntutan ini diimbangi dengan diberikannya penghargaan kepada profesi pengajar yaitu pemberian tunjangan profesi guru pada upaya peningkatan kesejahteraan pengajar.

Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat 4 menjelaskan bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.  Sebagai seorang profesional, guru harus menguasai setidaknya empat kompetensi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah antara lain, kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.

Dalam menjaga profesionalitasnya seorang pengajar dituntut buat selalu menaikkan kompetensinya. Oleh karenanya seseorang guru wajib memposisikan diri menjadi pembelajar yg selalu haus akan ilmu pengetahuan yg bisa menunjang peningkatan pelayanannya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Tidak hanya mengajar, guru jua harus peka terhadap perkembangan zaman yg semakin dinamis dan memerlukan penyesuain dalam menghadapinya.

Salah satu cara supaya pengajar bisa selalu mempertinggi kompetensinya adalah dengan aktif dalam organisasi-organisasi profesi pengajar. Keterlibatan pengajar pada aneka macam organisasi profesi guru akan memberikan pengalaman & pengetahuan terbaru sekitar profesi yang digelutinya sehingga mereka nir ketinggalan berita & selalu melakukan inovasi dan kreatif pada melaksanakan tugasnya sehari-hari.

Organisasi profesi guru adalah perkumpulan yg didirikan & diurus oleh pengajar dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan profesionalitas guru, sebagaimana tercantum pada Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen Pasal 41 ayat (1) sampai dengan ayat (5) yaitu (1) Pengajar membentuk organisasi profesi yg bersifat independen; (2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi buat memajukan profesi, menaikkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, proteksi profesi, kesejahteraan, & pengabdian kepada rakyat; (3) Guru harus sebagai anggota organisasi profesi; (4) Pembentukan organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sinkron menggunakan peraturan perundang-undangan; dan (5) Pemerintah &/atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi organisasi profesi guru dalam aplikasi pelatihan dan pengembangan profesi guru.

Memperhatikan undang-undang pengajar dan dosen, maka seorang pengajar wajib untuk menjadi anggota salahsatu organisasi profesi pengajar pada rangka buat menaikkan kompetensinya. Aturan undang-undang ini mestinya mengikat dan sang kerena itu setiap guru harus sebagai anggota salah satu organisasi profesi, bila tidak berarti telah melanggar undang-undang.

Saat ini telah poly organisasi profesi guru, baik yang berafiliasi dengan pemerintah ataupun oganisasi profesi pengajar yang independen. Seorang pengajar boleh memilih untuk dapat aktif dalam organisasi profesi tersebut. Ketika seorang guru aktif pada organiasasi profesi, maka pengajar tadi berupaya buat meningkatkan kompetensi profesional & kompetensi sosial. Peningkatan kompetensi profesional pengajar contohnya sanggup mereka lalukan waktu guru aktif pada organiasi guru mata pelajaran seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) buat taraf Sekolah Dasar/MI dan Musyawarah Pengajar Mata Pelajaran (MGMP) buat tingkat Sekolah Menengah pertama/MTs atau SMA/Sekolah Menengah Kejuruan/MA.

Selain organisasi profesi guru yg berkaitan menggunakan mata pelajaran, seseorang guru jua sanggup aktif pada organisasi profesi guru yg lebih luas, contohnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) atau Perkumpulan Pengajar Madrasah Indonesia (PGM Indonesia) yang garapannya tidak terbatas hanya dalam satu bidang, namun mengelola seluruh bidang yg berkaitan menggunakan kegiatan & kepentingan guru pada melaksanakan tugasnya sehari-hari.

Berkaitan dengan kewenangan organisasi profesi,  Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 42 mengatur bahwa: Organisasi profesi guru mempunyai kewenangan: (1) menetapkan dan menegakkan kode etik guru;  (2) memberikan bantuan hukum kepada guru; (3) memberikan perlindungan profesi guru; (4) melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru; dan (5) memajukan pendidikan nasional. Pada Pasal 43 dijelaskan lagi bahwa: (1) Untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru membentuk kode etik. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi norma dan etika.

Keterlibatan guru dalam organisasi profesi jelas akan membantu para guru untuk terus berupaya meningkatkan kompetensinya dan berupaya menjalankan tugas sesuai dengan tupoksi yang sudah ditetapkan. Kegiatan diskusi atau pertemuan guru dalam organisasi dengan guru-guru yang lain akan saling mengingatkan mereka untuk selalu melaksanakan tugas sesuai dengan aturan dan saling bertukar pengalaman dengan dalam hal melaksanakan tugasnya sehari-hari, sehingga informasi yang diterima oleh seorang guru selalu up to date mengikuti perkembangan zaman yang sedang terjadi.

Interaksi antar sesama guru dalam organisasi profesi akan mengasah kompetensi sosial mereka ke arah yg lebih baik, karena menggunakan adanya hubungan tadi setiap pengajar akan terbiasa dengan disparitas pendapat, perbedaan pemahaman, perbedaaan harapan & hal-hal lain yang membuat para guru buat selalu belajar pada menyikapi & menuntaskan setiap perseteruan. Pada penerangan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Pengajar dan Dosen Pasal Pasal 10 Ayat (1) mengungkapkan bahwa yang dimaksud menggunakan kompetensi sosial adalah kemampuan guru buat berkomunikasi & berinteraksi secara efektif & efisien dengan siswa, sesama pengajar, orangtua/wali siswa, dan masyarakat lebih kurang yang mengikat perilaku guru pada aplikasi tugas keprofesionalan.

Pengalaman guru pada menyelesaikan perkara yg berkaitan menggunakan organisasi profesi mampu dijadikan pengalaman buat menyelesaiakan setiap permasalahan yg terjadi di sekolah/madrasah, dimana prinsip penyelesaian kasus dilakukan atas dasar kepentingan & tujuan yang sama buat menerima kebaikan beserta tanpa merugikan atau menyakiti keliru satu pihak yang dilakukan menggunakan penuh pencerahan buat mendapatkan solusi yang terbaik. Kalau prinsip ini dipegang menggunakan bertenaga oleh semua pihak, maka nir akan terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan atau tersakiti.

Kesadaran dalam menjalankan tugas sesuai dengan koridor yg ditetapkan sebagai hal yg sangat penting untuk dipegang teguh sang setiap orang. Seorang guru sebagai orang berpendidikan dan tenaga profesional semestinya terus berupaya menaikkan kompetensinya agar mampu mengimbangi arus perkembangan zaman yg semakin deras, jangan sampai pengajar dikatakan ?Bagai katak dalam tempurung? Yg tidak berdaya dan merasa cukup dengan keadaan waktu ini sebagai akibatnya enggan buat belajar pada upaya menaikkan kompetensinya buat memenuhi tantangan zaman yg semakain cepat berubah.

Dengan keterlibatan pengajar dalam banyak sekali organisasi profesi pengajar, mudah-mudahan bisa memberikan solusi terbaik buat menuntaskan kasus-perkara yang sedang dihadapi ketika ini pada global pendidikan kita, sebagai akibatnya pengajar profesional yg diperlukan sanggup terwujud nyata yang bisa menghantarkan pada tercapainya tujuan pendidikan nasional negara kita tercinta. Amin.

*Staf Pengajar Mata Pelajaran Matematika dalam MTs Cijangkar & SMK Cijangkar Ciawi Tasikmalaya, Sekretaris DPC PGM Indonesia Kec. Ciawi Kab. Tasikmalaya.

Agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *