Rebranding Koperasi Dan Relevansi Filantropi ala Generasi Milenial
By: Date: May 24, 2017 Categories: Uncategorized

Menurut Undang-Undang No. 2009 tentang kepemudaan, yg dimaksud dengan pemuda adalah warga negara Indonesia yg memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yaitu berusi 16-30 tahun. Kisaran usia ini termasuk dalam usia produktif insan. Dalam teori generasi (Generation Theory) hingga saat ini dikenal terdapat 5 generasi, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964, (dua) Generasi X, lahir 1965-1980,(tiga) Generasi Y, lahir 1981-1994. Generasi Z, lahir 1995-2010, dan (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Generasi Z (dianggap pula iGeneration,Generasi Net, atau Generasi Internet) terlahir menurut generasi X & Generasi Y. Generasi Z Mereka lahir dan dibesarkan di era digital, dengan aneka teknologi yang komplet & sophisticated, seperti: personal komputer /laptop, HandPhone, iPads, PDA, MP3 player, BBM, internet, dan aneka perangkat elektronik lainnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui generasi milenial Indonesia terlahir sebagai aset penggerak ekonomi di masa depan. Seperti dilansir katadata.co.id, generasi milenial tersebut memiliki tiga karakter yang khas, yakni terkoneksi dengan internet, memiliki kepercayaan diri tinggi, dan kreatif. Saat ini pemerintah mencari formula bagaimana ketiga karakter ini menjadi aset yang berharga. Pemerintah ingin membuat 3C (connectivity, confidence, creativity) ini menjadi potensi, bukan disaster, sehingga bisa menciptakan suatu aset yang kreatif dan aktivitas ekonomi untuk menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

8

Kedepan, sejumlah tantangan yg sekaligus menjadi peluang akan dihadapi pemuda Indonesia. Salah satunya menggunakan telah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tanggal 1 Januari 2016 dan era insentif demografi Indonesia yang dimulai dalam tahun 2020. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Saat itu, dua pertiga berdasarkan seluruh penduduk Indonesia adalah usia produktif. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan berdasarkan sisi pembangunan sebagai akibatnya dapat memacu pertumbuhan ekonomi ketingkat yg lebih tinggi. Dampaknya merupakan meningkatkannya kesejahteraan warga s e c a r a keseluruhan. Tetapi sanggup berbalik menjadi bencana jika insentif demografi tadi nir dipersiapkan kedatangannya. Dalam hal ini pemerintah wajib mampu membangun syarat, iklim, & kebijakan yg memastikan optimalisasi berdasarkan bonus demografi ini terealisasi secara efektif.

Oleh karena itu kebijakan yg mempertinggi dan memperpanjang akses pendidikan, penyediaan layanan kesehatan yang memadai, memudahkan warga buat menabung, & memudahkan tersedianya lapangan kerja akan membantu Indonesia buat mengoptimalkan momentum insentif demografi ini. Pada akhirnya, insentif demografi ini diharapkan bisa menaikkan kesejahteraan warga secara keseluruhan.

Koperasi sebagai salah satu soko guru ekonomi Indonesia, selain perusahaan swasta dan BUMN, merupakan lembaga yang paling tepat untuk mengatasi ketimpangan sosial-ekonomi menjelang bonus demografi.  Pasalnya, falsafah dasar dari pendirian Koperasi adalah dari anggota dan untuk anggota.

Terbukti, koperasi tetap eksis ditengah badai krisis menggunakan menaruh donasi konkret bagi pembangunan ekonomi menggunakan turut membangun lapangan pekerjaan & pemerataan kesejahteraan.

Tidak sampai disitu. Mengemban amanah Nawacita, koperasi dituntut untuk dapat meningkatkan daya saing di pasar internasional. Organisasi ini pun dibebani untuk mengoptimalisasi sektor-sektor strategis ekonomi di domestik dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi.  Bukan tanpa alasan mengingat Indonesia harus bisa maju dan bangkit bersama-sama dengan negara Asia lainnya. Sehingga peningkatan kelayakan, produktivitas, dan nilai tambah koperasi untuk “naik kelas” bertumbuh ke skala yang lebih besar dan berdaya saing global adalah sebuah hal yang mandatory.

Faktanya, kalangan Generasi Millenial saat ini banyak yang tidak mengetahui dan memahami mengenai hakekat dan pentingnya koperasi, sebagai salah satu bentuk ekonomi kerakyatan. Hal ini didorong oleh perubahan gaya hidup generasi milenial (zaman now) yang begitu cepat dan tidak menentu (disruptif), akibat perkembangan teknologi informasi, robotic, artifical intelligence, transportasi, dan komunikasi yang sangat pesat. Pola dan gaya hidup generasi milenial bercirikan segala sesuatu yang lebih cepat (real time), mudah, murah, nyaman, dan aman.  Padahal banyak faedah dan keuntungan yang didapat daripada keanggotaan koperasi antara lain :

Keuntungan Ekonomi

Koperasi memberikan kesempatan pada anggota buat menjual atau membeli

barang atau jasa secara bersama-sama. Sehingga, porto yg timbul sebagai lebih rendah

Koperasi menampung output produksi anggota yg menjualnya ke pasar. Dengan menjual secara beserta-sama melalui koperasi, maka porto yang dimuntahkan oleh setiap anggota sebagai lebih rendah, dibandingkan dengan menjual secara indvidual-sendiri

Koperasi menyediakan barang dan jasa kebutuhan anggota dengan membeli secara beserta-sama melalui Koperasi, maka memungkinkan anggota buat mendapatkan barang dan jasa pada jumlah dan kualitas yang baik & harga yang murah

Koperasi menaruh kemudahan bagi anggota yg membutuhan fasilitas kredit dalam bentuk proses yang cepat, jaminan yg ringan, & bunga yg rendah. Hal ini bisa dilakukan, karena anggota merupakan pemodal (memilik) yang sekaligus pengguna

Sebagai anggota, kita akan memperoleh bagian sisa hasil usaha (SHU).  Besarnya SHU di hitung berdasarkan transaksi dan partisipasi modal yang telah kita lakukan terhadap koperasi

Keuntungan Sosial

Gerakan koperasi mempunyai potensi buat menekan atau mensugesti kebijakan ekonomi yg dikeluarkan oleh pengambil keputusan. Karena, gerakan koperasi mewakili kepentingan orang poly dengan menghimpun massa yang relatif besar

Pendidikan dan pelatihan dan peningkatkan pengetahuan pencerahan & keterampilan pada berkoperasi

Agar terpupuk rasa kesetiakawanan antara anggota, maka koperasi dapat menyelenggarakan kegiatan premi perumahan, jasa kesehatan, tunjangan hari tua dan lain-lain

Beranjak menurut kenyataan diatas, maka lembaga & insan Koperasi telah saatnya mentransformasi & mereformasi dirinya untuk menata organisasi dan strategi bisnisnya sinkron dengan perkembangan zaman dan IPTEKS di era Industri 4.0. Koperasi yg bertenaga & mandiri, diyakini akan bisa bersaing dengan korporasi besar dan perusahaan BUMN. Semangat menjadikan koperasi menjadi kekuatan beserta, & gotong royong akan sanggup bersaing serta cepat beradaptasi menggunakan perkembangan zaman.

Program Reformasi total koperasi disebut sebagai langkah awal rebranding. Rebranding sendiri memiliki makna merubah atau memperbaharui sebuah brand image yang telah ada agar menjadi lebih baik. Rebranding ini perlu dilakukan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat kepada Koperasi. Tentunya dengan mengangkat nilai-nilai dan prinsipnya sebagai basis keunggulan dari generasi ke generasi. Koperasi harus dapat memenuhi sektor riil, profesional, mencakup usaha besar dan tidak ketinggalan zaman. Inilah yang dibutuhkan agar koperasi mampu bersaing dengan bisnis lainnya. Program ini diharapkan dapat memunculkan koperasi-koperasi berkualitas sehingga dapat membukakan mata generasi muda terhadap peran koperasi sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional.

Reformasi koperasi pun harus melahirkan sistem koperasi sebagai organisasi yang kaya fungsi dan efisien serta ditunjang dengan manajemen yang profesional. Sehingga tidak dapat dihindarkan bahwa modernisasi manajemen bisnis dan organisasi koperasi dengan berbasis IT menjadi sebuah keharusan. Harus disadari bahwa sudah saatnya diterapkan sistem aplikasi di koperasi, jaringan kerja serta konsolidasi bisnis jaringan koperasi yang terintegrasi dan reliable. Di samping itu, perlu dibentuk sistem yang mengakomodir standarisasi pengelolaan SDM yang meliputi diklat vokasional, training dan pendampinganyang fokus kepada core-business. Langkah reformasi koperasi tersebut pun harus substansial dan komprehensif. Dengan kata lain, strategi yang diterapkan harus menunjang koperasi yang memiliki keunggulan bisnis yang kompetitif.

Sementara, demi meningkatkan citra koperasi dimata generasi muda, adalah dengan pengejawantahan konsep filantropi yang kini intens menjadi perhatian generasi muda. Pendefinisian yang paling mutakhir filantropi adalah sebagai social investment (investasi sosial) di mana seseorang, sekelompok orang atau perusahaan bermitra dengan orang-orang yang dibantunya.

Kalau kita lihat dari konteks Indonesia, di situ ada konsep keadilan sosial yang menjadi falsafah hidup kita sebagai bangsa dan tercantum dalam salah satu sila dari dasar negara kita, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sementara kalau kita lihat pandangan-pandangan lain dari segi filosofis misalnya, Aristoteles mengatakan bahkan keadilan sosial adalah pembagian yang adil dalam masyarakat yang didasarkan atas pembagian kepada seseorang sesuai dengan kebutuhannya. Sekarang filantropi tidak lagi dilihat sebagai individu, tetapi juga dilihat sebagai suatu institusi yang bisa memberikan bantuan, sehingga muncullah istilah corporate philantropy.

Kontribusi filantropi sendiri terhadap pencapaian SDGs atau konsep pembangunan berkelanjutan saat ini cukup besar. Filantropi Indonesia telah berkomitmen untuk berkontribusi dan membantu pencapaian dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Apalagi, semua pencapaian di SDGs menjadi prioritas dari Filantropi Indonesia. Keamanan sosial juga diperlukan untuk pencapaian 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tersebut. Bisnis dan filantropi, telah 3 tahun lebih cepat memasuki pola pikir untuk membuat suatu tujuan pembangunan berjangka panjang, sumber bacaan baca disini

Konsep filantropi ini  tentunya sangat relevan dengan fungsi dan peranan Koperasi yang dijabarkan dalam Undang-undang No. 25 tahun 1992 yaitu : mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat, berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia, memperkokoh perekonomian rakyat, mengembangkan perekonomian nasional, serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa.

Kabar gembiranya, diantara serbuan modernisasi dan budaya pop instant,  dalam 5 tahun terakhir peran dan keterlibatan kaum muda dalam kegiatan filantropi justeru meningkat secara signifikan. Sebagian mereka mendirikan yayasan atau organisasi berbasis komunitas untuk mengembangkan berbagai program sosial yang menjadi minat atau perhatiannya. Sebagian lainnya menjadi pendukung, volunteer dan donatur di berbagai organisasi sosial.  Keterlibatan kaum muda dalam kegiatan filantropi  ini merubah  peta dan pola filantropi di Indonesia. Filantropi  tak lagi  identik  dengan  aktivitas  kedermawanan “orang  tua” atau “orang kaya” yang bisanya  dilakukan di hari  tua  atau  menjelang  pensiun. Filantropi juga  tidak lagi identik dengan  kegiatan  kedermawanan  dalam  bentuk  pemberian donasi  untuk kegiatan keagamaan, penanganan bencana, penyantunan dan pelayanan sosial.

Dalam sejumlah studi, ditemukan bahwa salah satu karakter dan kultur generasi millenial ini adalah memiliki kepedulian pada isu-isu sosial kemanusiaan, mereka senang berbagi kepada sesama. Generasi millenial tumbuh di bawah asuhan budaya (social sharing) yang tinggi. Temuan ini adalah fakta menarik bagi pegiat kemanusiaan dalam menggalang donasi. Bahwa generasi millenial perlu didekati dengan inovasi. Menggalang charity dari entitas millenial, berarti memperluas spektrumnya kemanusiaan. Temuan ini adalah fakta menarik bagi pegiat kemanusiaan dalam menggalang donasi. Bahwa generasi millenial perlu didekati dengan inovasi. Menggalang charity dari entitas millenial, berarti memperluas spektrumnya kemanusiaan.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, para muda kreatif tersebut tidak hanya sekedar ingin terlibat dalam kegiatan filantropi dengan memberikan donasi, tapi juga memanfaatkan potensi dan kapasitasnya untuk mengembangkan dan mempertajam inisiatif sosial yang dilakukan. Generasi millenial ini memperluas bentuk kontribusi atau sumbangannya menjadi 6 bentuk, yakni pengetahuan/keterampilan, waktu, voice (suara/aspirasi), jaringan, cinta (kinesthetic ability) dan dana. Dengan menggabungkan 6 bentuk pemberian itu, generasi millenial tidak hanya melihat filantropi sebagai kegiatan sosial, tapi sebagai investasi sosial yang berdampak luas dan berkelanjutan. Mereka juga memandang keterlibatannya dalam kegiatan filantropi sebagai investasi bagi pengembangan karakter dan kapasitasnya untuk menjadi pemimpin di masa mendatang.

Inisiatif sosial  kemanusiaan  dan  pemberdayaan yang dilakukan  kaum  muda  ini  jika digarap serius sejatinya menjadi peluang emas bagi pengembangan koperasi dimasa depan. Melalui  komunitas jaringan dengan  memanfaatkan  tekonologi  informasi  dan  budaya pop, para filantrop milenial yang lahir dari berbagai latar belakang enterpreuneur, ahli IT, pekerja seni dan pegiat sosial diharapkan dapat menjadi kepanjangan tangan koperasi dalam mengemas program koperasi agar terlihat lebih populer, menyenangkan serta mengandung aspek pemberdayaan ekonomi. Sehingga mereka dan para millenial lainnya kelak akan menjelma  sebagai  seorangtech savvy, wirausahawan, berpendidikan dan berpikiran independen yang terdorong untuk “berbuat baik.”

Benar, perubahan merupakan suatu kepastian. Tetapi, koperasi sebagai organisasi jika mampu mengantisipasi perubahan lebih cepat, serta mampu melakukan adjustment kapabilitas, resource dan strategi dengan melakukan stretchingterhadap perubahan tersebut akan menjadi pemenang setiap kompetisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *