Paradigma Pengelolaan Sampah Di Kota Malang, Dari Zero Waste Hingga Teknologi Hidrotermal
By: Date: June 13, 2017 Categories: Uncategorized

Sejalan dengan perkembangan peradaban, bumi bertransformasi dengan pesat. Rupa bumi kini lebih didominasi sang area terbangun. Hamparan hijau pada bagian atas bumi semakin tersingkir & tergerus oleh adanya pembangunan yang menggeliat. Meskipun tidak dipungkiri pembangunan infrastruktur dalam dasarnya adalah tolok ukur taraf perkembangan suatu kawasan & membawa manfaat positif bagi rakyat.

Udara segar, air bersih, serta tanah yg gembur kini sulit didapatkan khususnya pada daerah perkotaan. Akibatnya, ekosistem sedikit-sedikit terdegradasi disertai dengan berkurangnya keanekaragaman hayati. Terlebih pemanasan dunia memicu perubahan iklim global sehingga bumi tidak lagi berada dalam performa yg baik. Dalam beberapa dekade mendatang dikhawatirkan kondisi bumi semakin ruai sebagai akibatnya tidak bisa lagi menyokong segala aktivitas manusia dengan kualitas yang baik. Apresiasi terhadap bumi terus digaungkan buat bisa memperbaiki kondisi bumi demi menopang perikehidupan makhluk hayati. Dengan mengusung pembangunan kota berkelanjutan melalui konsep kota hijau seyogyanya bisa mewujudkan kota yang layak huni dan serasi menggunakan alam.

Pengelolaan terhadap permasalahan lingkungan menjadi salah satu isu global yang perlu diselesaikan bila ingin mewujudkan sebuahSmart City atau Kota Cerdas. Sampah menjadi masalah lingkungan khususnya di kota-kota besar yang memerlukan pengelolaan baik. Jika tidak segera ditangani maka akan timbul masalah-masalah baru. Seperti semakin banyaknya lahan yang dipakai untuk pembuangan sampah, selain itu juga menyangkut masalah kesehatan, sosial, dan semakin membengkaknya anggaran. Sampai dengan saat ini, pengelolaan persampahan yang dilakukan oleh pemerintah masih menggunakan pendekatan end of pipe solution. Pendekatan ini menitikberatkan pada pengelolaan sampah ketika sampah tersebut telah dihasilkan, yaitu berupa kegiatan pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Dalam mewujudkan Kota Cerdas penting juga menjalankanSmart Environment. Ada beberapa aspek yang perlu dikelola seperti tata ruang, green space proliferationatau ruang terbuka hijau. Selanjutnya aspek pengendalian pencemaran dan transportasi hijau alias ramah lingkungan. Tanggung jawab produser, atau penghasil produk dan tanggung jawab masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan penyelesaian yang cepat, tepat, dan aman supaya terjaganya siklus pengelolahan sampah yang baik.

Kota Malang yang pada jaman kolonial mendapat julukan Switzerland of Indonesia karena pernah dianggap mempunyai tata kota terbaik di antara kota-kota Hindia Belanda, kini justeru  menyisakan permasalahan terkait dengan pembangunan berwawasan lingkungan dengan masih banyaknya sumber-sumber sampah yang bermunculan di Kota Malang. Ditingkat hulu, kondisi lingkungan sangat memprihatikan yaitu gunungan sampah di sepanjang aliran sungai menyebabkan pendangkalan, banjir, penyakit, saluran air buntu dan sampah banyak yang tercecer dipinggir jalan menganggu arus kendaraan. Di TPS (tempat pembuangan sementara) terjadi penumpukan sampah karena sampah banyak yang belum terangkut menyebabkan lingkungan tidak sehat, sarana prasarana mudah rusak dan sering terjadi kebakaran di TPS.  Permasalahan di TPA (tempat pembuangan akhir) yaitu sampah dibuang begitu saja di TPA dengan sistem open dumping yaitu cara pem-buangan sampah yang sederhana, yaitu sampah dihamparkan disuatu lokasi dan dibiarkan begitu saja, setelah lokasi penuh dengan sampah maka ditinggalkan. Teknik open dumping menyebab-kan umur TPA pendek, sering terjadi kebakaran dan menimbulkan masalah pencemaran air.

Konflik primer sampah adalah pertarungan paradigma,konduite & kesadaran. Perhatian primer kepada TPA sebagai solusi tampaknya telah membentuk karakter warga yang nir peduli sampah, tidak mau bertanggung jawab atas sampah, & dimanjakan pemerintah. Pembahasan mengenai pengelolaan sampah yg berkelanjutan akan membuat jawaban terhadap pertanyaan tentang cara mengatasi perseteruan pengelolaan sampah.

Tidak hanya persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan yang menjadi PR kota tercinta ini. Kerusakan yang berdampak pada menurunnya mutu lingkungan di Kota Malang pada dasarnya adalah akibat kelalaian atau kesengajaan oleh masyarakat dan pemerintah, seperti kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan atau penampung air hujan dijadikan kawasan perumahan atau bentuk pemanfaatan lain yang secara nyata menghalangi dan mengurangi daya resap tanah terhadap air hujan.  Persoalan tersebut antara lain semakin tumbuh suburnya pembangunan ruko yang terkesan tanpa perencanaan yang memadai, pembangunan pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan ruang terbuka hijau (RTH).

Konsekwensi di masa mendatang konsep pembangunan Kota Malang harus dikembalikan pada konsep pendekatan pembangunan berwawasan lingkungan Garden City/Kota Taman, karena sejak awal berdirinya Kota Malang, konsep inilah yang dipakai oleh Thomas Karsteen. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang mempersyaratkan 30% lahan perkotaan harus difungsikan untuk ruang terbuka hijau (baik privat maupun publik).

http://jawakuno.com

Untuk mengembalikan Malang ijo royo-royo. Inovasi dalam pengelolaan sampah adalah suatu keharusan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah yang baik berdampak pada kebersihan dan kelestarian lingkungan.  Langkah-langkah untuk menumbuhkembangkan inovasi membutuhkan suatu sistem yang disebut Sistem Inovasi Daerah (SIDa). SIDa diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Negara Riset Dan Teknologi Republik Indonesia Dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2012 Dan Nomor 36 Tahun 2012. SIDa membantu daerah dalam menghasilkan dan mengembangkan produk unggulannya yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah, mengatur dan mengarahkan untuk terbentuknya kondisi lingkungan yang kondusif dan harmonis serta mendorong terciptanya teknologi baru yang bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi proses.

Program Inovasi Pengelolaan Sampah pada Kota Malang

Sasaran dari kebijakan inovasi pengelolaan sampah adalah mewujudkan Kota Malang sebagai kota “zero waste”. Prinsip nol sampah atau zero waste dasarnya bukanlah pengelolaan hingga tidak ada lagi sampah yang dihasilkan karena tidak ada aktivitas manusia yang tidak menghasilkan sampah. Namun, konsep ini menekankan pada upaya pengurangan hingga nol jumlah sampah yang masuk ke TPA. Untuk mengurangi beban lingkungan serta ancaman terhadap kesehatan Manusia, dalam beberapa tahun terakhir di beberapa negara, pembuangan sampah ke TPA telah diupayakan untuk dikurangi jumlahnya dengan regulasi yang lebih ketat, menggalakkan pengurangan sampah dari sumber (source reduction), penggunaan kembali sampah yang masih bisa digunakan dan daur ulang, serta produksi energi dari sampah.

Namun seiring kemajuan teknologi, sampahpun jika dikelola dengan baik justeru akan menjadi sahabat manusia seperti untuk bahan bakar bensin maupun batu bara. Seperti yang kita ketahui, bahan bakar fosil seperti bensin ataupun batu bara merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan dunia akan bahan bakar akan terus meningkat sedangkan persediaan yang ada dialam semakin menipis. Teknologi Hidrotermal adalah produk inovatif untuk mengurai masalah sampah. Cara kerjanya adalah dengan mengubah sampah menjadi produk yang bermanfaat dan ramah lingkungan, seperti bahan bakar padat menyerupai batu bara, pupuk dan pakan ternak. Teknologi ini pertama kali dikembangkan dan diimplementasikan secara komersial di Indonesia oleh Dr. Eng. Bayu Indrawan, doktor muda Indonesia lulusan Jepang, peneliti dan ahli di bidang pengolahan sampah dan energi terbarukan.

Pada dasarnya pengolahan sampah dengan teknologi mutakhir ini memakai temperatur tertentu menggunakan tekanan yang tinggi. Dengan menggunakan boiler/mesin uap akan dihasilkan uap bertekanan tinggi dengan temperatur yg cukup tinggi sehingga pengolahan hidrotermal dapat dilakukan. Pengolahan secara hidrotermal cocok pada lakukan dalam kondisi sampah yg tercampur misalnya pada Indonesia dalam umumnya yg belum secara efektif menerapkan pemilahan sampah secara baik dan benar. Sampah basah maupun kemarau dapat disatukan pada prosesnya tanpa menurunkan efektifitas kinerja dari indera ini sendiri.

Teknologi Pengolahan Sampah Hidrotermal (http://www.Shinko-indonesia.Com)

Pengolahan Sampah Tercampur untuk Produk Bahan Bakar Padat (http://www.Shinko-indonesia.Com)

Pengolahan Biomassa untuk Pupuk dan Pakan Ternak

(http://www.Shinko-indonesia.Com)

Pengolahan dimulai dengan memasukkan bahan mentah (biomassa tercampur) kedalam reaktor, dan kemudian menyuntikkan uap jenuh sekitar 200ºC dan 2 MPa ke dalam reaktor. Proses pencampuran kemudian dilanjutkan dengan proses pengadukan dalam reaktor untuk sekitar selama satu jam pada proses penahanan temperatur dan tekanan dalam reaktor. Produk yang dihasilkan setelah proses di dalam reaktor hidrotermal selama kurang lebih 30 menit, berupa padatan hitam yang apabila setelah dikeringkan memiliki nilai kalori hampir serupa dengan batubara. Secara sederhananya, proses hidrotermal mempersingkat waktu pembentukan batu bara yang pada umumnya ribuan tahun secara natural, dengan bantuan panas dan tekanan tinggi akan menjadikannya hanya dalam waktu yang singkat. Setelah selesai waktu penahanan dan pelepasan uap, akan dihasilkan produk berupa sludge yang seragam (homogen) dan kemudian dapat dengan mudah dikeringkan sesuai kondisi pengeringan yang lebih baik.

Pengolahan sampah menjadi bahan bakar akan sebagai solusi yg sangat menjanjikan buat membantu menghasilkan tenaga buat kehidupan yang berkelanjutan tanpa mengindahkan keramahan lingkungannya. Hidrotermal menjadi alternatif teknologi buat membarui sampah sebagai tenaga memiliki keunggulan pada penggunaan bahan baku sampah tercampur tanpa pemilahan yg mana sangat cocok menggunakan jenis sampah yg terdapat pada Indonesia.

Mewujudkan Kota Malang sebagai kota yg higienis, nyaman, asri & ijo royo-royo menjadi dambaan semua masyarakat Malang. Program inovasi pengelolaan sampah pada Kota Malang tentu saja tidak akan mampu berjalan sendiri. Terbatasnya finansial, budaya warga yang masih sulit dirubah menjadi masalah hambatan pada mencapai sasaran pengurangan sampah.

Selain pemanfaatan tekhnologi Hidrotermal, konsep zero waste harus didukung aspek teknis yang jelas tentu juga harus didukung oleh aspek sosial-budaya pada masing-masing anggota keluarga. Pelaksanaan pengelolaan sampah dengan konsep zero waste pada rumah tangga pada umumnya diinisiasi oleh salah satu anggota keluarga yang bertindak sebagai agent of change (agen perubah). Agent of change terbentuk karena bertambahnya pengetahuan seseorang tentang lingkungan terutama mengenai dampak sampah terhadap lingkungan yang diperoleh dari luar rumah. Meningkatnya pengetahuan ini akan dapat memicu terbentuknya persepsi individu mengenai sampah dan pada akhirnya menimbulkan inisiatif untuk melakukan tindakan nyata menjaga lingkungan salah satunya yaitu mengelola sampah dalam rumah tangga. Tingkat pengetahuan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap terbentuknya persepsi individu, sedangkan aksebilitas terhadap informasi,khususnya mengenai pemilahan dan daur ulang sampah, secara signifikan memberikan kontribusi terhadap persepsi individu dan partisipasi dalam pengelolaan sampah.

Dalam ranah ini, sosialisasi  dan strategi dari hulu hingga tingkat hilir perlu ditingkatkan pemerintah kota Malang kepada instansi kecamatan, kelurahan dan kader lingkungan yang akan menyampaikan langsung kepada masyarakat dan instansi-instansi sekolah, terutama di daerah perbatasan dan daerah yang padat penduduknya. Adanya kontak langsung dengan pelaksana program memudahkan proses tersampaikannya informasi.

Referensi :

STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH BERKELANJUTAN

KONSEP SMART CITY DAN PENGEMBANGAN PARIWISATA

DI KOTA MALANG

Pengelolaan Lingkungan Jalan Mewujudkan Kota Cerdas

STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH BERKELANJUTAN

PROGRAM INOVASI PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA MALANG

Pengelolaan Sampah Berbasis “Zero Waste” Skala Rumah Tangga SecaraMandiri

Teknologi Hidrotermal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *