MENJADI GURU BEDA
By: Date: June 15, 2017 Categories: Uncategorized

Menjadi Guru Beda

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Pengajar Matematika pada MTs Cijangkar Ciawi Tasikmalaya

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetah ui lagi maha mengenal. (QS, Al-Hujurat: 13)

Sudah menjadi sunnatulloh bahwa manusia diciptakan oleh Alloh swt. berbeda-beda. Tidak ada satupun mahkluk yang diciptakan-Nya walaupun sejenis akan memiliki kesamaan yang persis 100%. Itulah kemahakuasaan Alloh swt. Yang tidak akan bisa ditandingi oleh siapapun.  Penciptaan makhluk yang dibuat berbeda-beda ini seharusnya menjadi suatu hal yang membawa kebaikan, karena dengan perbedaan satu dan yang lainnya akan saling mengisi kekurangannya sehingga semua mahluk bisa hidup dengan nyaman tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Pada dasarnya awal mula penciptaan manusia sama yaitu diciptakan oleh Alloh swt. Berdasarkan ?Tanah?. Pada mulanya Alloh swt. Menciptakan nabi Adam as. Seorang diri, namun lantaran nabi Adam as. Merasa kesepian maka Alloh swt. Membangun sahabat Adam yaitu Hawa, menurut sini sudah tampak disparitas tentang penciptaan insan. Kemudian selesainya Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, mulailah tersebar manusia dengan banyak sekali perbedaan output dari hubungan hayati yg dilakukan keduanya.

Alloh swt. Menciptakan seluruh manusia dalam hakikatnya sama, seluruh mempunyai potensi tanpa terdapat disparitas tetapi dalam bentuk fisik yang bermacam-macam supaya insan mampu saling mengenal. Dihadapan Alloh swt. Seluruh manusia sama, tidak dilihat dari bentuk fisik, kedudukan, suku, bangsa & ras, tetapi yang sebagai penentu kemulian seorang dihadapan Aloh swt. Merupakan lantaran taqwanya.

Perbedaan yg terjadi diantara insan bukan berarti bahwa seorang atau segolongan manusia diciptakan sang Alloh swt. Lebih baik, tetapi bagaimana seorang itu mampu mengoptimallkan berbagai potensi yang diberikan sang Alloh swt. Tanpa melanggar anggaran yg telah ditetapkan-Nya, sehingga orang tersebut sanggup menerima derajat kemuliaan disisi Aloh swt. Potensi yg diberikan Alloh swt. Kepada seluruh insan sama, tidak ada yang lebih diantara yang lainnya, tergantung bagaimana insan memanfaatkan potensinya secara optimal.

Menjadi seorang yg berbeda diantara yg sama menjadi suatu keunggulan tersendiri bagi yg melakukannya. Setiap orang niscaya mempunyai potensi dalam dirinya masing-masing yg mampu dikembangkan, tergantung bagaimana orang tadi memasak potensinya sebagai akibatnya sebagai unggul dari orang lain. Keunggulan yang dimiliki sang seseorang sebenarnya bukan lantaran orang tadi lebih hebat, namun lantaran orang tadi bisa mengoptimalkan semua potensinya yg nir dilakukan oleh orang lain.

Tidak ada manusia yg paripurna pada global ini, yg dipercaya sempurna sang orang lain merupakan justru yg sanggup berbagi potensinya secara optimal sehingga berbeda dengan orang lain. Bukankah Alloh swt. Telah mengungkapkan bahwa ilmu yang dimiliki oleh insan itu hanya sedikit? Tidak terdapat manusia yg mampu hayati sendiri pada global ini, mereka mesti saling membutuhkan & saling mengisi kekurangan satu sama lainnya.

Seorang yang bergelar professor belum tentu sanggup menambal ban mobilnya yang bocor dengan baik, maka beliau harus membawanya pada seorang yang pakar walaupun mungkin secara akademik dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Itulah disparitas yang dikembangkan, sehingga insan sanggup saling membantu satu menggunakan yg lainnya. Kehidupan sosial insan mutlak diperlukan buat permanen menjaga keberadaan manusia pada muka bumi ini, apabila insan sudah nir bisa hidup bersosial maka ini merupakan ciri kehancuran.

Memilih profesi sebagai pengajar, poly orang yang bisa melakukannya, namun menurut sekian poly orang yang menjadi pengajar mungkin hanya sedikit guru yang memiliki perbedaan menggunakan pengajar-guru yang lainnya, menjadi guru beda nir seluruh orang mampu melakukannya. Kenapa harus menjadi guru beda?

Melaksanakan tugas guru misalnya biasa mungkin semua orang mudah melakukan, tetapi menjadi pengajar luar biasa tidak seluruh guru sanggup melakukannya. Sebetulnya dengan tugas pengajar yang begitu poly telah menandakan perbedaan profesi pengajar menggunakan profesi lain, pekerjaan pengajar sebenarnya nir terbatas ruang & saat, bisa 24 jam pada sehari guru mengerjakan tugasnya karena tugas pengajar bukan hanya melakukan tatap muka pada kelas & melakukan kegiatan pembelajaran untuk mentransfer ilmu pengetahuannya kepada peserta didik tetapi guru jua mempunyai tugas mendidik kepada siswa yg ketika dan tempatnya nir mampu dibatasi. Setiap saat pengajar wajib berprilaku sebagai guru, baik pada keluarga, lingkungan masyarakat apalagi pada lingkungan sekolah/madrasah, sebab guru merupakan orang yang setiap perilakunya wajib menjadi contoh & panutan bagi semua orang tidak dibatasi oleh anak didik sebagai peserta didiknya.

Menjadi guru wajib siap dengan berbagai konsekwensi, nir hanya menjadi orang yg memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni dalam bidangnya, namun guru jua secara ilmu kependidikan, secara pribadi & sosial wajib memiliki kematangan yg patut dicontoh oleh orang lain terutama oleh siswa yg menjadi tanggungjawab pengajar secara pribadi pada sekolah/madrasah pada hal pendidikannya.

Menurut pengalaman penulis sebagai praktisi pendidikan, pada lapangan waktu ini masih poly pengajar yg baru sebatas mentransfer ilmu pengetahuan yg dimilikinya kepada peserta didik dalam menjalankan tugasnya sebagai guru menggunakan berbagai keterbatasan yg dimilikinya. Masih poly yang belum menyadari bahwa tugas guru tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan. Mereka kebanyakan hanya memperhatikan satu aspek kompetensi yang harus dikuasai dan kurang memperhatikan aspek kompetensi yg lainnya.

Setiap ketika pengajar wajib sebagai manusia pembelajar, sebab setiap hari pengajar wajib mengurus pendidikan insan yang sifatnya bergerak maju. Perubahan yg begitu cepat dalam berbagai aspek kehidupan manusia harus bisa diimbangi oleh seorang guru agar eksistensi mereka selalu sanggup diakui. Guru harus sanggup menghadapi seluruh tantangan yang dihadapi dengan cara terus belajar dalam menghadapi semua duduk perkara, guru harus sanggup sebagai sosok yg patut buat digugu & ditiru oleh peserta didiknya supaya wibawanya sebagai guru nir luntur dihadapan peserta didiknya.

Menjadi guru beda sebenarnya tidak mesti melalukan hal-hal yang lebih di luar tugasnya selain guru, apabila seseorang pengajar sudah sanggup melaksanakan tugasnya sinkron dengan tupoksi yang di menetapkan & selalu mengupgrade kemampuannya dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan, maka berdasarkan penulis guru tadi telah menjadi guru ?Beda?, karena nir semua orang yang berprofesi sebagai guru sanggup melakukan tugasnya sinkron menggunakan ketentuan yg sudah ditetapkan.

Dari dulu sampai sekarang kinerja guru selalu menjadi sorotan, berbagai tanggapan miring tentang guru seringkali kita dengarkan, terkadang guru juga menjadi orang yang paling disalahkan jika terjadi suatu penyimpangan yang dilakukan oleh seorang peserta didiknya. Menjalankan tugas sebagai seorang guru memang menjadi pilihan yang berat, bagaikan makan buah simalakama. Satu sisi guru harus secara tegas menjalankan tugasnya dalam upaya mendidik, namun di sisi lain ada yang merasa tidak nyaman kalau guru menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan. Pada akhirnya banyak guru yang memilih posisi aman dan terkadang bersikap apatis terhadap perilaku peserta didik yang menyimpang sehingga hal ini menyebabkan permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan.

Tidak sanggup dipungkiri bahwa nir semua pengajar mempunyai tanggung jawab yg sama pada menjalankan tugasnya, pada seluruh profesi pasti terdapat yang kurang ataupun lebihnya. Melihat kejadian yang terjadi ketika ini dalam global pendidikan yang dirasa telah banyak terjadi defleksi dan mengalami kemunduran semestinya menjadi bahan renungan buat kita semua, tidak hanya guru namun semua pihak wajib ikut memikirkan dan mencari solusi buat perbaikannya, sebab tanggung jawab pendidikan nir hanya tertumpuk dalam pundak para guru, semua elemen warga harus terlibat lantaran ini sebagai duduk perkara bangsa yang bisa menghipnotis keutuhan dan kemajuan negara.

Sebagai renungan bagi para guru pada merampungkan perkara pendidikan yang waktu ini sedang terjadi menurut ekonomis penulis adalah salah satunya menggunakan mempertinggi kesadaran dan kemampuan dalam menjalankan tugas sebagai guru. Konsep tentang tugas pengajar yg waktu ini dibentuk sang pemerintah sebetulnya sudah sempurna pada sistem pendidikan kita yg merujuk dalam upaya tercapainya tujuan pendidikan nasional yg disesuaikan dengan tujuan dan budaya negara kita, tinggal bagaimana para guru bisa menjalankan tugasnya sinkron menggunakan tupoksi yang sudah ditetapkan tadi.

Dalam upaya menjalankan tugas guru sesuai tupoksi tersebut memang tidak semudah yg kita bayangkan, karena yg dihadapi sang pengajar adalah mahkluk hayati yang selalu dinamis yang bisa terpengaruh sang perilaku-perilaku yang mereka temukan pada luar sekolah, & ini sebagai tantangan bagi pengajar untuk menangkal pengaruh yang tidak baik dari lingkungan di luar sekolah/madrasah.

Upaya para pengajar buat mengoptimalkan pada menjalankan tugasnya adalah sebuah upaya yang mutlak harus dilakukan. Profesi guru mempunyai fungsi, kiprah, & kedudukan yg sangat penting dalam mencapai visi pendidikan, yaitu membentuk manusia Indonesia yg cerdas, komprehensif dan kompetitif. Keseriusan dan kemampuan pengajar pada menjalankan tugasnya memang sangat dibutuhkan, sebagai guru ?Beda? Adalah sebuah pilihan yang sempurna menjadi sebuah tanggung jawab profesi yang harus dilaksanakan oleh seorang pengajar.

Menjadi guru beda memang memerlukan pengorbanan yang sangat berat, namun semua itu harus dijalani sebagai bentuk tanggungjawab dalam menjalankan tugas profesi. Tuntutan yang sangat berat terhadap profesi guru dengan berbagai kekurangannya menunjukan bahwa profesi sebagai guru bukan perkara yang mudah seperti anggapan yang selama ini terjadi di masyarakat. Objek yang menjadi tanggungjawab guru adalah manusia, jadi kalau seorang guru membuat kesalahan dalam menjalankan tugasnya sehingga menghasilkan output yang ‘kurang berkualitas’, maka kegagalan itu akan dirasakan ‘seumur hidup’ oleh peserta didiknya dan resikonya bahwa kesalahan itu juga akan ikut tersebar ke lingkungan lain dimana output itu berada.

Tugas pengajar di era milenial saat ini dimana fase revolusi industri 4.0 sedang berlangsung, menuntut pengajar buat terus sebagai insan pembelajar yg selalu mengikuti perkembangan zaman yang bergerak menggunakan sangat cepat. Dengan kemajuan teknologi dan informasi maka asal pembelajaran sanggup dengan mudah diperoleh, pengajar & siswa bisa bersaing buat duluan menguasai pengetahuan yg sedang dibahas di sekolah/madrasah yg beredar dan dengan gampang mampu dihasilkan berdasarkan aneka macam asal dengan memakai kecanggihan teknologi.

Semakin cepat & mudahnya arus berita yg diterima sang manusia tanpa pandang positif atau negatif menambah tugas berat guru buat mengarahkan & membimbing siswa pada menyerap liputan yang mereka dapatkan, sebagai akibatnya tugas guru menjadi pendidik lebih dominan diharapkan ketimbang menjadi guru yang bertugas mengungkapkan ilmu pengetahuan. Hal ini perlu dilakukan buat menangkal impak negatif yg diterima oleh siswa dari banyak sekali sumber fakta yang tidak mampu dicegah & dibantah, peran pengajar sebagai pendidik inilah yang mesti diperkuat sang seorang guru yang semestinya menguasai kompetensi personal & kompetensi sosial tidak hanya memperkuat kompetensi paedagogik & profesional saja.

Posisi seseorang guru sahih-benar wajib mampu digugu dan ditiru sang peserta didiknya, hal ini memerlukan kematangan personal berdasarkan seorang pengajar buat menempatkan diri sinkron dengan posisinya. Kalau hal ini tidak disadari dan diantisipasi oleh pengajar, maka jangan berharap bahwa siswa akan menuruti apa yang diperintahkannya sebagai akibatnya menggunakan insiden ini terjadilah perseteruan antara pengajar & peserta didik yg mengakibatkan hubungannya nir serasi dan inilah yg mungkin mengakibatkan banyak terjadinya perkara-masalah kekerasan yang dilakukan sang guru terhadap siswa atau pun kebalikannya.

Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, ?Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk tabiat serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan buat berkembangnya potensi siswa agar sebagai manusia yang beriman & bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.? Melihat tujuan pendidikan nasional tadi jelas bahwa tugas pengajar sebagai pendidik lebih lebih banyak didominasi dibanding sebagai pengajar, guru dituntut buat membangun karakter siswa supaya menjadi insan Indonesia yang ?Paripurna? Yg bisa mengangkat harkat prestise diri dan negaranya.

Untuk menciptakan karakter yang baik seorang peserta didik, maka pengajar wajib terlebih dahulu berkarakter baik, pengajar wajib menjadi suritauladan dalam segala hal bagi peserta didiknya. Saat ini poly cacat negatif yang ditujukan kepada guru yang dinilai belum sanggup mempertinggi kualitas pendidikan sedangkan kesejahteraanya sudah diperhatikan dan ditingkatkan sang pemerintah walaupun belum merata dirasakan sang semua pengajar. Bahkan dikalangan guru dikenal beberapa penyakit mental yg dimiliki misalnya yg disampaikan sang Mulyasa diantaranya: Virus EBOLA (Enggan Belajar Otaknya Lamban), TBC (Tidak Bisa Computer), Kurap (Kurang Aplikatif), Kudis (Kurang Disiplin), Asma (Asal Masuk), Hipertensi (Hiruk Persoalkan Tentang Sertifikasi), Mual (Mutu Ujian Amat Lemah), Asam Urat (Asal Selesai Mengajar, Materi Usang Kurang Akurat), Kram (Kurang Terampil), Gatal (Galau Tanpa Alasan), Tipus (Tidak Punya Selera), Koreng (Kurang Objektif, Ribet, Enggan Bertanggung jawab), Virus SMS (Susah Melihat Orang Lain Senang), Lesu (Lemah Sumber), Liper (Lemah Ilmu Pengetahuan, Empati Rendah), Diabetes (Dihadapan Anak Bekerja Tidak Serius).

Diakui atau tidak saat ini masih banyak guru yang mengidap penyakit mental tersebut, kalau guru sudah bisa mengatasi penyakit-penyakit mental yang dituliskan di atas, maka guru tersebut patut disebut guru beda. Menjadi guru beda menjadi keniscayaan bagi siapa saja yang berprofesi sebagai guru yang dituntut untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional sesuai dengan cita-cita bangsa ditengah persaingan global yang tidak bisa dibendung akibat semakin pesatnya kemajuan teknologi dan informasi yang terjadi saat ini. Sebagai negara yang memiliki kepribadian dan beragama kita tidak bisa menerima begitu saja pengaruh global yang saat ini berseliweran, oleh karena itu kita harus menyiapkan putra-putri bangsa yang berkualitas dan mampu bersaing secara global namun juga dibekali dengan norma-norma atau karakter baik bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Mudah-mudahan semakin banyak guru yang membuka dirinya untuk menjadi guru beda demi terwujudnya Negara Kasatuan Republik Indonesia yang baldatun warobbungofur. Amin

Artikel ini juga di muat dihttps://www.kompasiana.com/agusnuryana/5cabf4e295760e52660d3712/menjadi-guru-beda?page=all

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melaluihttp://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melaluihttp://www.pergumapi.or.id

*Penulis pula aktif pada komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *