PENDIDIKAN KARAKTER HARUS BERBASIS SURI TAULADAN
By: Date: June 16, 2017 Categories: Uncategorized

Pendidikan Karakter Harus Berbasiskan Suri Tauladan

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Sesungguhnya telah terdapat pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yg baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah & (kedatangan) hari qiamat & beliau poly menyebut Allah. (QS, 33:21)

Petikan Arti ayat di atas sangatlah pantas jikalau kita pelajari dan pahami maknanya secara mendalam. Sebagai umat Islam kita niscaya tahu bagaimana Rosullulah Muhammad saw. Berjuang pada mengembangkan kepercayaan Allah swt. Dengan bermodalkan suri tauladan yg selalu dia tonjolkan pada gerakan dakwahnya.

Kita mampu melihat dan nir mewaspadai lagi bagaimana output menurut usaha Rosulullah saw. Tersebut, kesuksesan yg didapatkannya sebagaian besar adalah bermodalkan suri tauladan yg dia perlihatkan kepada umatnya sebagai perwujudan atau aplikasi berdasarkan ajaran yg beliau sampaikan. Sungguh proses penyampaian ilmu atau proses pendidikan yang dilakukan oleh Rosulullah saw. Tadi patut kita contoh & pelajari, lantaran hal itu telah mendulang kesuksesan yg sangat akbar & berpengaruh dalam peradaban dunia.

Pendidikan karakter anak sangat penting dibangun sejak dini agar karakter tadi mampu terus diterapkan pada kehidupan dikemudian hari. Pembentukan karakter anak dimulai dari proses yang beliau dapatkan melalui penglihatan, indera pendengaran & mencontoh menurut lingkungan dimana sehari-harinya anak itu berada.

Tanpa bimbingan yang tepat, maka output pencarian yang mereka dapatkan akan sebagai pembenaran, walaupun sesungguhnya yg mereka lakukan merupakan salah . Oleh karenanya mereka harus ditempatkan pada lingkungan yang baik supaya mendapatkan contoh yang baik buat mereka ambil dan laksanakan dikemudian hari.

Teladan yang baik sangat diharapkan sang seseorang anak pada menciptakan karakter dirinya, cara berfikir polos yg mereka lakukan akan membentuk watak mereka sedikit demi sedikit yang akhirnya akan menjadi watak yang terus ada dalam dirinya sebagai akibatnya menciptakan karakter permanen yg terdapat dalam jiwa mereka. Kalau mereka mendapatkan model yg baik, maka mereka akan memiliki karakter baik, dan sebaliknya bila mereka melihat contoh yg jelek maka karakter mereka pula akan tidak baik.

Memperhatikan sistem pendidikan pada Jepang yg negaranya sudah maju, ternyata mereka sangat memperhatikan pendidikan karakter anak. Anak-anak usia sekolah dasar di Jepang tidak terlalu poly dijejali sang pelajaran yg menyulitkan, tetapi mereka diarahkan buat membetuk karakter yang baik yang ada dalam diri mereka, sehingga kalau karakter mereka sudah baik maka akan tumbuh dalam diri mereka perilaku yang baik dan mereka pun akan menyadari atas kemauannya sendiri tanpa terdapat paksaan akan pentingnya pendidikan.

Kesadaran inilah sesungguhnya yg membetuk langsung anak menjadi insan yang berguna, sehingga mereka mampu membentuk sesuatu yg hebat demi kemajuan diri sendiri secara spesifik & kemajuan negaranya secara generik, dan itulah yg dibutuhkan sang setiap negara dalam membentuk pendidikan.

Kalau kita jajak keberhasilan pendidikan pada negara tercinta ini benar-benar masih banyak sekali ketertinggalannya dibandingkan dengan negara lain. Kenapa hal ini terjadi? Keterpurukan pendidikan pada negara kita, mungkin diakibatkan sang kurangnya banyak sekali faktor pendukung yg di butuhkan dalam setiap pelaksanaan proses pendidikan, namun jika kita hanya menunggu ketersediaan seluruh kelengkapan pendidikan tadi, kita nir memahami kapan hal itu akan tercapai secara penuh, dan kalau nir terdapat kreatifitas dari pelaksana pendidikan buat menaikkan kualitas pendidikan ini, boleh jadi pendidikan di negara ini akan semakin tertinggal & akhirnya kita hanya mampu mengelus dada melihat keberhasilan yang dicapai oleh negara lain tanpa terdapat sesuatu yang bisa kita lakukan.

Bentuk kreatifitas yang patut di model oleh kita khususnya para pengajar menjadi galat satu pelaksana pendidikan yang secara pribadi herbi siswa pada sekolah/madrasah merupakan suatu cara yang dilakukan sang Rosulullah saw. Yaitu sifat suri tauladan yg di tonjolkan pada proses penyampaian ilmu/mendidik. Sering kita (pengajar) mengatakan, peserta didik kita sulit pada mendapat pelajaran karena mereka belajarnya tidak sungguh-sungguh atau malas, padahal jika kita telaah & berintropeksi diri kita (guru) sebenarnya mungkin kita jua ikut-ikutan malas atau bahkan tidak terdapat semangat buat mengajar dan mendidik anak-peserta didik kita.

Salah satu bentuk usaha yang wajib dilakukan sang seorang guru supaya peserta didik menerima kebermaknaan pada belajar adalah menggunakan menaruh teladan yang baik, karena seorang siswa akan merasa bahwa dia harus menghasilkan sesuatu berdasarkan sekolah/madrasah karena mereka semangat pada usaha mendapatkan ilmu dari hasil penglihatan yang dicontohkan sang gurunya.

Misalnya bila seorang pengajar menyuruh kepada peserta didiknya supaya rajin membaca, maka seorang pendidik wajib pula rajin membaca, jangan hanya rajin menyuruh peserta didik saja. Atau salah satu contoh yang sangat ironis bagi seorang pendidik merupakan ketika seorang pendidik menyuruh agar peserta didiknya nir merokok padahal beliau sendiri seseorang pecandu atau bahkan ketika beliau melarang peserta didiknya sembari beliau asik menghisap rokok.

Hal seperti ini akan menghilangkan kepercayaan seseorang peserta didik pada pendidiknya, sehingga mengakibatkan anak sebagai malas buat menjalankan perintah atau saran (nasehat) yang dilontarkan oleh seorang pendidik. Kalau hal ini terjadi posisi seorang pengajar yang harusnya digugu dan ditiru oleh peserta didiknya tidak akan lagi terjadi yg dalam jangka panjang nir akan mampu mendukung buat ketercapaian tujuan pendidikan secara spesifik. Juga secara generik

Paparan diatas menggunakan memberikan keliru satu model yang sangat sederhana, yg mungkin harus kita jadikan penelitian pada kegiatan pendidikan, sebab mungkin saja keberhasilan pendidikan pada negara tercinta ini sangat jauh menurut asa, penyebabnya adalah karena hilangnya fungsi pengajar yang seharusnya menjadi panutan yg sebaliknya malah sebagai ?Cemoohan? Peserta didik. Seorang pendidik (guru) nir bisa menutup mata tentang hal ini, sebab mereka sangat memahami persis syarat yang terdapat di lapangan.

Dengan aneka macam dalih, tak jarang terjadi seseorang pendidik mengelak & menolak ketidakberhasilan pendidikan berkaitan menggunakan peranan yg kurang optimal dari pengajar, alasan kurangnya kesejahteraan, ketidaktersediaan wahana dan prasaran yg mencukupi & aneka macam alasan lainnya acapkali kali terdengar berdasarkan mereka.

Memang berbagai alasan yang dilontarkan sesuai dengan keadaan tetapi dengan keikhlasan dan pencerahan dan sambil terus berusaha yang ditunjang dengan kreatifitas menggunakan cara memanfaatkan syarat, peralatan & hal-hal lain yang terdapat di lebih kurang kita, mungkin kita bisa lebih banyak memberikan hal yg bermakna bagi siswa kita secara spesifik & pada negara tercinta secara generik, hal misalnya inipun dicontohkan sang nabi Muhammad saw. Pada menjalankan misi dakwahnya dan hasilnya kita memahami sangat spektakuler dan akui oleh tokoh-tokoh besar dunia sebagai akibatnya menempatkan nabi Muhamad saw. Pada posisi pertama sebagai orang yg paling terpopuler pada global.

Salah satu penunjang keberhasilan dari pendidikan merupakan lantaran interaksi antara pendidik & siswa terjalin secara baik, tidak terdapat berpretensi negatif berdasarkan kedua belah pihak serta saling mendukung pada menjalankan tugas masing-masing. Sebaiknya syarat ini dilakukan sang seorang pendidik yang memiliki peranan krusial dan kekuasaan lebih banyak dalam proses belajar, sebab seorang siswa akan mengikuti sesuai menggunakan yg diinginkan sang gurunya. Tapi apapun yang dilakukan peserta didik harus diusahakan atas dasar cita-cita dan pencerahan menurut pada hati peserta didik itu sendiri, supaya apapun yg dilakukannya menjadi bermakna & menjadi suatu pelajaran yang sangat krusial bagi peserta didik.

Penilaian sertifikasi kompetensi guru yang sudah dan sedang dijalankan saat ini seharusnya jua melampirkan penilaian siswa pada pendidiknya, karena keberhasilan pendidikan ini sangat ditunjang sang hubungan yang sangat baik antara ke 2 komponen tadi. Jika siswa memberikan penilaian yg baik terhadap seorang pendidik, maka itu menandakan bahwa hubungan antar keduanya terjalin dengan baik, & ini akan memberikan pengaruh yang positif bagi ketercapaian tujuan pendidikan.

Semoga para pendidik pada negara ini bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi peserta didiknya, agar apa yg dicita-citakan oleh seluruh pihak yg tertuang pada tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Amin

Artikel ini pertama kali diterbitkan pada harian umum Kabar Priangan

*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melalui http://www.gokalimah.com

*Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melalui http://www.pergumapi.or.id

*Penulis jua aktif pada komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *