Industri Pariwisata Nasional Kian Cadas Dengan Dukungan Sistem Transportasi Cerdas (Intelligent Transport System)
By: Date: June 21, 2017 Categories: Uncategorized

Ditengah tingginya kebutuhan manusia untuk berekreasi dan berileksasi, industri pariwisata menjelma menjadi sumber penggerak dinamika masyarakat dan menjadi salah satu prime-mover dalam perubahan sosial budaya. Ibarat jantung, industri pariwisata adalah suatu sistem yang multikompleks yang menggerakkan roda perekonomian ekonomi serta penyediaan lapangan pekerjaan. Kesemuanya ini juga berdampak pada dinamika masyarakat dan kesejahteraan masyarakat serta mensukseskan program Perserikatan Bangsa-Bangsa berkaitan dengan Millennium Developmen Goals (MDGs).

Bisa dikatakan, selama berwisata, wisatawan akan melakukan aktifitas belanja, sehingga secara langsung menimbulkan permintaan (tourism Final Demand) pasar barang dan jasa. Selanjutnya final demand wisatawan secara tidak langsung menimbulkan permintaan akan barang dan bahan baku (Investment Devired Demand) untuk memproduksi guna memenuhi permintaan wisatawan akan barang dan jasa tersebut. Dalam usaha memenuhi permintaan wisatawan tersebut diperlukan investasi di bidang transportasi dan komunikasi, perhotelan dan akomodasi lain, industri kerajinan dan industri produk konsumen, industri jasa, rumah makan/restoran dan lain-lain.

Demikian halnya dengan kontribusi sektor pariwisata Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada 2018 naik 15,58% secara year-on-year (yoy) dari capaian tahun sebelumnya sebanyak 14,04 juta. Dengan karakteristik quick yielding yang dapat menghasilkan devisa lebih cepat dibandingkan dengan kegiatan ekspor yang dilakukan secara konvensional, industri pariwisata nasional menjadi penyumbang devisa nasional terbesar ketiga setelah ekspor minyak sawit (CPO) dan batu bara.

Maka tak heran Presiden Joko Widodo dalam program nawa citanya telah menetapkan pariwisata sebagai leading sector perekonomian bangsa. Sektor pariwisata di 2019 ditargetkan menyumbang 20 miliar dolar AS dari 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara, sehingga dapat diandalkan menjadi penyumbang bagi neraca transaksi berjalan.

Untuk merealisasikan target 20 miliar dolar Alaihi Salam berdasarkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara, penetapkan 5 (5) Destinasi Super Prioritas menjadi strategi pemerintah selanjutnya, yakni Danau Toba Sumut, Borobudur Joglosemar, Mandalika Lombok, Komodo, Labuan Bajo NTT & Manado. Ditambah 1 (satu) Calon Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yaitu di Likupang, Sulwesi Utara, yang berasal berdasarkan lima (5) Destinasi Unggulan, yaitu: Sungai Liat Bangka, Tanjung Gunung Bangka, Cikidang Sukabumi Jabar, Pangandaran Jabar & Likupang Sulut.

Selain Destinasi Super Prioritas maupun destinasi unggulan yg digadang-gadang mampu meraup devisa besar , tentunya masih poly lagi lokasi wisata elok yg secara potensial sangat baik buat dikembangkan. Tetapi demikian, mengingat Wilayah Indonesia yg cukup luas, letak Indonesia yang cukup strategis, serta syarat geografis yg cukup unik dibandingkan dengan negara-negara lainnya, menjadikan Indonesia menjadi keliru satu negara akbar jika ditinjau menurut sisi luas daerah dan jumlah penduduk. Sebagai negara kepulauan yang dibatasi samudera , berakibat pembangunan transportasi pada Indonesia merupakan suatu tantangan. Tantangan yang wajib dihadapi merupakan bagaimana menyediakan layanan transportasi yang murah, sempurna waktu, & mampu diakses sang semua kalangan. Tantangan inilah yg harus dijawab pada rangka melakukan upaya ekuilibrium antara transportasi yg berorientasi nasional menggunakan transportasi yg berorientasi lokal dan kewilayahan.

Idealnya, sistem transportasi yang baik akan menjadikan jarak tempuh dari dan menuju tempat wisata menjadi lebih dekat serta mempersingkat waktu perjalanan, Transportasi ini juga mencakup didalamnya jalan, lampu penerangan jalan, dan pedestrian atau ruang bagi pejalan kaki. Sehingga dapat dinyatakan bahwa aksesibilitas merupakan derived demand (permintaan turunan) yang dapat menentukan besar kecil nya jumlah wisatawan yang akan berkunjung ke suatu objek wisata.

Demi mendukung terwujudnya destinasi pariwisata yang terjangkau atau affordable baik dari sisi keterjangkauan wilayah maupun harga, Kementerian Perhubungan dalam hal ini sebagai regulator di bidang transportasi telah menyusun beberapa kebijakan yang diturunkan ke dalam berbagai kegiatan prioritas seperti bisa kita lihat di laman instagram resminya @kemenhub151. Selama 5 tahun berjalan, kemenhub telah melakukan pembangunan infrastruktur transportasi yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, berwawasan lingkungan dan meningkatkan pendapatan nasional, daerah dan masyarakat.

Untuk transportasi angkutan darat, yaitu dengan anugerah layanan subsidi operasional angkutan antarmoda dan angkutan penyeberangan, pengadaan fasilitas perlengkapan keselamatan jalan, Pembangunan dermaga danau dalam daerah pariwisata dan pembangunan kapal Ro-Ro dan bus Air.

Transportasi Perkeretaapian, adalah menggunakan pembangunan jalur KA menuju tempat pariwisata, reaktivasi jalur kereta pariwisata, dan konektivitas jaringan kereta api & menuju ke bandara. Sementara Transportasi bahari, yaitu menggunakan Perpanjangan dermaga & pengerukan kedalaman alur supaya kapal cruise dapat bersandar dan pemberlakuan terminal pelabuhan bahari pada destinasi pariwisata, akan diperuntukan spesifik buat terminal penumpang laut & nir bercampur menggunakan terminal angkutan barang.

Sedangkan untuk transportasi udara, kemenhub sudah melakukan perpanjangan runway & apron untuk bisa didarati pesawat narrow body (sekelas B-737), membuka jalur penerbangan internasional dan peningkatan konektivitas rute menurut dan menuju ke lokasi pariwisata.

Kian Cadas D engan Sistem Transportasi Cerdas

Berbagai terorobosan terkait pengembangan pariwisata nasional patutlah diapresiasi. Di antaranya lewat online, media cetak, pameran, & festival. Kementerian Pariwisata pula sering memanfaatkan film yang dibentuk di Indonesia sebagai alat buat promosi pariwisata di Indonesia.

Disisi lain, harus diakui bahwa kurangnya infrastruktur pariwisata yang layak di Indonesia kerap menjadi masalah klasik yang akan meningkatkan biaya-biaya logistik sehingga membuat iklim investasi kurang menarik dan akan menjadi batu sandungan terhadap keberlangsungan pariwisata dimasa depan. Hal tersebut berkenaan dengan akses, amenitas dan atraksi (3A). Aspek akses sektor pariwisata meliputi kondisi infrastruktur, ketersediaan transportasi, konektivititas, dan integrasi antardestinasi. Aspek amenitas sektor pariwisata mencakup kebersihan, ketersediaan akomodasi, dan fasilitas di destinasi wisata yang perlu terus ditingkatkan, terutama di wilayah Timur Indonesia. Sementara, aspek atraksi meliputi daya tarik (point of interest).serta keramah-tamahan (hospitality).

Sementara lokasi wisata yang sejatinya menjadi ruang untuk berekreasi dan berelaksasi justeru sebaliknya, kerap tidak nyaman disinggahi, apalagi pada moment-moment libur akbar. Berasa suasana kota, macet, polusi, & sangat ramai karena ruang di loka wisata dipenuhi menggunakan kendaraan. Belum lagi, kapasitas tempat parkir & loka istirahat akan penuh dengan tunggangan sehingga jejeran tunggangan diparkir dalam bahu jalan dan pada lapangan-lapangan yg tersedia. Durasi kunjungan wisatawan yang cukup usang akan berdampak pada ketika parkir yg lama , yg menyebabkan semakin sulitnya buat mencari huma parkir.

Fenomena diatas memberitahuakn minimnya integrasi sistem fakta pariwisata menggunakan faktor pendukungnya misalnya hal nya transportasi. Padahal, buat memiliki posisi tawar (bergaining position) Pembangunan kepariwisataan harus menganut prinsip ? Di sini senang , di sana bahagia?. Artinya, prinsip tersebut harus dapat mengakibatkan wisatawan balik ke rumah dengan membawa memeori yg indah tentang destinasi pariwisata atau daya tarik wisata lantaran telah memberikan kenangan manis buat wisatawan & mengajarkan sesuatu yang berharga bagi wisatawan.

Hal ini menjadi catatan buat mengintegrasikan sistem liputan destinasi pariwista menggunakan warta transportasi yg bertujuan buat menaikkan aksesibilitas menuju lokasi wisata. Penyediaan sistem berita transportasi terpadu antar moda sejalan dengan rencana nasional dalam Sistem Integrasi Transportasi Nasional seperti yg dinyatakan oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi bahwa Indonesia wajib mempunyai sistem antar kendaraan umum yg lebih baik di masa depan .

Aplikasi ITS merupakan penerapan teknologi maju dibidang elektronika, informatika dan telekominikasi yang bersifat real time untuk membuat prasarana dan sarana transportasi lebih informatif, lancar, aman dan nyaman sekaligus ramah lingkungan. aplikasi ITS ini terdiri dari sistem informasi dan navigasi modern, sistem manajemen lalu-lintas, sistem manajemen kecelakaan, sistem pengumpulan pembayaran transportasi elektronik, dan juga sistem untuk bantuan mengemudi. pemanfaatan ITS diharapkan akan mampu untuk: (1) mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, (2) memberikan informasi real time tentang kondisi arus lalu lintas, kapasitas parkir destinasi, angkutan umum, dan cara mengakses destinasi wisata, (3) meningkatkan kapasitas dan mobilitas wisatawan pada destinasi wisata, (4) meningkatkan konektivitas dan peralihan antarmoda angkutan umum, (5) mengurangi dampak negatif terhadap sumber daya alam dan lingkungan, (6) memberikan manfaat bagi komunitas lokal, bisnis lokal, dan masyarakat setempat; dan (7) mendapat dukungan dari para pemangku kepentingan terkait.

Tidak cukup hingga disitu, dalam rangka menaikkan kuantitas, kualitas, dan layanan transportasi buat memenuhi mobilitas ekonomi yg menuntut pelayanan cepat, efisien, & tangguh. Maka, dibutuhkan manajemen SDM yg memiliki kompetensi tinggi, meliputi SDM regulator, operator, dan SDM industri yg saat ini masih terbatas.

Jadi, dapat dipastikan dengan sistem transportasi yang cerdas, handal, memadai dan effisien kita harus optimis, perkembangan industri pariwisata Indonesia kedepan akan sangat signifikan mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi sesuai arah tujuan Millennium Developmen Goals yaitu pengentasan kemiskinan, tercapainya kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan.

** *

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Blog yg diselenggarakan sang Kemenhub

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *