Merawat Yang Tersisa Dari Kejayaan Singhasari Sebagai Cagar Budaya Indonesia
By: Date: June 24, 2017 Categories: Uncategorized

‘’jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan mempelajari sejarah, kita akan lebih mengenal dan menyadari siapa diri kita sebenarnya. Karena pemahaman yang dalam akan masa lalu, membuat kita lebih berhati-hati sebelum melangkah di masa depan’’ (Soekarno)

Tak disangkal, pesona Candi Singhasari atau Singosari sebagai jejak peninggalan Dinasti Rajasa, sungguh menawan. Kisah mengenai dinasti penguasa Nusantara ini banyak termaktub dalam kitab kuno, prasasti, dan catatan kerajaan lain di luar negeri. Kedua kerajaan yang mereka dirikan (Singhasari dan Majapahit) memang termasyhur di kalangan sejarawan mancanegara. Kitab Nagarakretagama yang merupakan sumber utama kisah Dinasti Rajasa bahkan diterjemahkan oleh sejarawan Belanda, Dr Pigeaud. Banyak tulisan-tulisan Barat menceritakan tentang Ken Arok dan Ken Dedes. Karena itu, sering pula para wisatawan asing berkunjung ke Candi Singosari. Candi Singosari adalah tempat kontemplasi yang tepat untuk merenungi sejarah Nusantara dalam bingkai Dinasti Rajasa, dinasti para raja Singhasari dan Majapahit.

Diceritakan bahwa Ken Dedes adalah seorang nareswari, perempuan istimewa yang ditakdirkan menjadi “ibu para raja”. Lelaki manapun yang menikahinya akan menjadi seorang raja. Tanda-tandanya adalah, dari “daerah kewanitaannya” memancarkan cahaya yang terang benderang. Oleh karena itulah, saat tak sengaja melihat kain Ken Dedes tersingkap di Taman Boboji, Ken Arok langsung berhasrat ingin menikahinya karena melihat “sinar” tersebut. Padahal, saat itu Arok telah memiliki istri bernama Ken Umang. Namun ambisi Arok menjadi seorang raja membuat dia memaksa ingin menikahi Dedes dan menjadikannya permaisuri meskipun saat itu Dedes telah bersuamikan Tunggul Ametung.

Di kemudian hari, ramalan Dedes sebagai perempuan nareswari ternyata terbukti. Raja-raja Singhasari dan Majapahit semuanya adalah keturunan langsung dari rahim Ken Dedes, baik hasil pernikahannya dengan Tunggul Ametung maupun dengan Ken Arok. Keturunan Ken Arok dengan istrinya yang lain justru tidak bertahan lama menjadi raja. Keberadaan Ken Dedes menjadikan Dinasti Rajasa terasa istimewa. Dinasti kerajaan terbesar di Nusantara itu ternyata berpangkal pada seorang perempuan, bukan seorang laki-laki. Ken Dedes mengejawantahkan peran utama seorang perempuan sebagai ibu. Melalui Ken Dedes kita dapat melihat bahwa generasi yang istimewa, terlahir dari seorang ibu yang istimewa.

Pusat pemerintahan Kerajaan Singosari diperkirakan berada di sekitar Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Oleh karena itu, selain Candi Singosari, masih banyak ditemukan benda, situs, dan bangunan peninggalan Kerajaan Singosari. Peninggalan tersebut diantaranya Mata Air Banyu Biru, Sumber Nagan, Candi Gunungtelih, Arca Dwarapala, Candi Singosari, Candi Sumberawan, Petirtaan Watugede, dan yang terbaru Pemerintah Kabupaten Malang telah membangun Museum Singhasari.

Dalam kitab Pararaton

Menurut Pararaton, Candi Singosari merupakan tempat pendarmaan Raja Kertanegara di daerah Tumapel (sekarang merupakan Kecamatan Singosari). Pada awal ke- abad 19 (1800-1850) Candi Singosari disebut dengan nama Candi Menara oleh orang Belanda. W.F. Stutteirheim, seorang ahli purbakala Eropa menyebutnya “Candi Cella”sebagai ganti nama Candi Menara. Disebut Candi Cella karena memiliki empat buah celah pada dinding-dinding bagian tubuh candi. Namun nama tersebut tidak dipakai oleh banyak orang. Akhirnya nama yang sekarang digunakan adalah Candi Singosai sesuai dengan letaknya yang berada di Kecamatan Singosari.

Menurut Negarakertagama

Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 serta Prasasti Gajah Mada bertanggal 1351 M di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat “pendharmaan” bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.

Pemugaran dan usaha konservasi

Candi Singasari baru mendapat perhatian pemerintah kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20 dalam keadaan berantakan. Restorasi dan pemugaran dimulai tahun 1934 dan bentuk yang sekarang dicapai pada tahun 1936.

Struktur dan kegunaan bangunan

Komplek percandian menempati areal 200 m × 400 m dan terdiri dari beberapa candi. Di sisi barat laut komplek terdapat sepasang arca raksasa besar (tinggi hampir 4m, disebut Dwarapala) dan posisi gada menghadap ke bawah, ini menunjukkan meskipun penjaganya raksasa tetapi masih ada rasa kasih sayang terhadap semua mahkluk hidup dan ungkapan selamat datang bagi semuanya. Dan posisi arca ini hanya ada di Singhasari, tidak ada di tempat ataupun kerajaan lainnya. Dan di dekatnya arca Dwarapala terdapat alun-alun. Karena letak candi Singhasari yang sangat dekat dengan kedua arca tersebut yang terdapat pada jalan menuju ke Gunung Arjuna, penggunaan candi ini diperkirakan tidak terlepas dari keberadaan gunung Arjuna dan para pertapa yang bersemayam di puncak gunung ini pada waktu itu.

Tak Lekang waktu

Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari masa lalu melalui tinggalan budaya berupa material (material culture). Objek arkeologi adalah sesuatu yang unik, langka, dan tidak dapat diperbaharui oleh karena itu melestarikannya  merupakan cara untuk mempertahankan keberadaannya agar dapat diambil manfaatnya. Selama ini masyarakat dapat menyaksikan benda-benda tersebut ditampilkan dimuseum-museum atau melalui media cetak berupa buku, brosur, maupun media cetak lainnya. Walaupun demikian arkeologi masih dirasakan sebagai sebuah ilmu masa lalu yang kuno, yang mungkin akan menghambat pembangunan atau modernisasi.

Candi Singasari adalah satu dari sekian banyak situs peninggalan arkeologi warisan leluhur yang kini keberadaannya masih bisa kita nikmati. Namun demikian kurangnya apresiasi terhadap benda cagar budaya tersebut disinyalir menjadi salah satu faktor semakin tingginya ancaman seperti pencurian dan perusakan. Kondisi tersebut masih diperparah dengan keadaan ekonomi masyarakat yang minim serta lemahnya penegakan hukum. Masyarakat sekitar juga dapat menjadi berjarak dengan situs atau benda cagar budaya tersebut karena perbedaan zaman dan kultur. yang dipeluk masyarakat sekitar cagar budaya saat ini, sehingga penghargaan terhadap benda cagar budaya itu pun mengalami pergeseran.

Sebagaimana dikutip dari National Geographic Indonesia (2016), bahwa dampak pencurian dan perusakan cagar budaya sangat besar bagi generasi mendatang karena akan menghilangkan kesempatan untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan bangunan, situs, dan benda cagar budaya. Jika kita tidak bergerak menyelamatkan warisan leluhur, di masa depan kita akan menghasilkan masa depan tanpa sejarah dan itu sangat berbahaya.

UNESCO dalam The General Conference at its seventeenth session di Paris pada 16 November 1972 menegaskan bahwa baik pusaka budaya (cultural heritage) maupun pusaka alam (natural heritage) tingkat keterancamannya semakin meningkat. Sebabnya tidak hanya oleh proses pelapukan alamiah, tetapi dampaknya jauh lebih serius karena keterbatasan sumber daya, baik dari sisi ekonomi, kapasitas pengetahuan, dan teknologi di negara tempat pusaka itu berada.

Belajar dari keluhuran bangsa Eropa. Sebagai bangsa yang berperadaban tinggi, mereka tak pernah melupakan atau mengabaikan sejarah budayanya sendiri. Karya-karya nenek moyangnya, sejak zaman Yunani Kuno, Romawi Kuno, Abad Pertengahan, Renaisans, dan seterusnya justeru menjadi pelecut untuk membangun masa depan peradaban mereka yang lebih tinggi.

Dalam hal ini, UNESCO juga mengungkapkan, bahwa kelestarian suatu situs peninggalan banyak tergantung pada pengetahuan budaya dan kesadaran dari masyarakat setempat secara keseluruhan. Manusia secara kebanyakan adalah penyebab ancaman atas situs peninggalan. Akar penyebabnya adalah pengetahuan yang tidak mencukupi mengenai warisan budaya dan arti pentingnya. Pada akhirnya, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini mewajibkan setiap negara dalam konvensi ini mengakui perlindungan, pelestarian, dan penyampaian (wujud dan nilai) pusaka untuk generasi masa depan di negara masing-masing.

Memang tidak bisa dipungkiri, seiring perubahan jaman, suatu pusaka akan mempunyai bentuk dan fungsi yang terus berubah dari generasi ke generasi. Jadi, konsep pelestarian yang dilakukan saat ini wajib memiliki arah dan tujuan yang berbeda daripada sekedar mengawetkan dan mencagarbudayakan seperti yang telah banyak dilakukan sejak masa kolonial. Upaya pelestarian harus benar-benar dilakukan untuk mendapatkan gambaran kejadian di masa lalu yang dapat dijadikan bahan belajar bagi generasi masa kini dan masa depan. Pelestarian harus benar-benar digunakan tidak sekedar untuk mempelajari keagungan masa lalu, tetapi juga kegagalan-kegagalan peradaban di masa lalu. Dari tinggalan kebudayaan di masa lampau, saat ini kita bisa mempelajari dinamika kehidupan yang dialami oleh generasi terdahulu; tak terkecuali kaitannya dengan kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya yang menyebabkan kerugian dan kehancuran.

Menjadi penting bahwa setiap generasi muda harus memiliki kesadaran sejarah sebagai pendorong sekaligus pembentuk jatidiri bangsa. Seperti ungkapkan bung Karno diawal tulisan, jatidiri suatu bangsa ditentukan oleh dua hal, yakni warisan budaya yang berupa hasil-hasil penciptaan di masa lalu dan hasil-hasil daya cipta di masa kini yang didorong atau dimungkinkan oleh tantangan aktual zaman sekarang. Bangsa yang tak punya kesadaran sejarah berpotensi menjadi bangsa yang lemah dan mudah dijajah melalui berbagai modus (politik, ekonomi, budaya).

Dalam release resminya UNESCO menyatakan: “Young people are not only our future – they are our present. Bukan cuma di masa depan anak muda menjadi tulang punggung bagi dunia, tapi bahkan sudah mulai hari ini peran mereka menjadi sangat sentral bagi perdamaian dunia. Kita tahu bukan saja di masa depan anak muda akan menjadi pengambil keputusan penting dalam menyelamatkan Warisan Dunia, tapi apa yang dilakukannya hari ini bahkan sudah bisa mempengaruhi keberadaan Warisan Dunia dan menjadikannya sebagai jati diri untuk membangun bangsa yang berkarakter budaya.

Itu sebabnya anak muda perlu dibekali pengetahuan bukan cuma secara kognitif, tapi juga secara psikomotor dan afektif, sehingga pengetahuan tidak tinggal hanya sebagai pengetahuan yang kemudian terlupa seperti hapalan di sekolah. Anak muda perlu dilibatkan secara aktif dan ikut memikirkan cara-cara kreatif dalam menyelamatkan Warisan Dunia. Mereka bukan sekedar obyek dari program-program tersebut. Hanya dengan menjadi subyek, anak muda akan memiliki rasa cinta dan rasa memiliki. Dan cuma mereka yang merasa memilikilah yang akan mati-matian menjaga Warisan Dunia.

Media cyber

Sebagai bentuk komunikasi kepada masyarakat terkait upaya pelestarian, pengemasan budaya yang digabungkan dengan efek teknologi dan media kini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Setidaknya lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia telah menggunakan telepon genggam berbasis internet yang mampu menyebarkan dan menerima informasi dengan cepat. Terkait dengan hal itu, media cyber seakan sudah menjadi kebutuhan primer yang tak bisa jauh dari kehidupan anak muda generasi now. Oleh karena itu, mengkomunikasikan arkeologi kepada publik dalam bentuk cyber arkeologi merupakan salah satu cara untuk melestarikan warisan budaya.

Komunikasi melalui cyber pada akhirnya akan membentuk cyber culture dalam dunia arkeologi. Ini adalah manfaat dari kemajuan teknologi yang memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Keberadaan benda cagar budaya yang sebelumnya hanya diketahui oleh segelintir orang, dan hanya berputar di lingkungan peneliti atau pelestari arkeologi saja, saat ini dapat tersebar luas melalui media digital. Transfer pengetahuan melalui media internet yang di dalamnya juga mencakup foto digital merupakan media yang mudah diakses oleh masyarakat, sehingga dapat menjangkau kepada banyak orang, seperti menyajikan website interaktif sehingga pengunjung dapat mengekplorasi secara virtual.

Mengadakan Penyuluhan-Penyuluhan

Maksud penyuluhan ini selain untuk menambah pengetahuan juga sekaligus memotivasi warga masyarakat khususnya generasi muda agar memberikan perhatian yang besar bagi pelestarian benda/situs cagar budaya. Karena hal ini bukan hanya tanggung jawab aparatur pemerintah beserta perangkatnya, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh warga. Maksud penyuluhan ini selain untuk menambah pengetahuan juga sekaligus memotivasi anak muda agar memberikan perhatian yang besar bagi pelestarian benda/situs cagar budaya

Arkeologi di Dunia Maya

Generasi saat ini adalah generasi yang teknologi maupun informasi berada di genggaman, dengan bermunculannya teknologi baru di dunia informasi maka informasi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Kemajuan teknologi ini mendorong arkeologi untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Menuntut para arkeolog untuk lebih kreatif dalam menampilkan dunia arkeologi kepada khalayak ramai dalam berbagai segmentasinya. Arkeolog atau siapapun yang terlibat dalam pelestarian benda arkeologi haruslah menempatkan objek arkeologi sebagai product-knowledge, yaitu objek arkeologi merupakan pesan yang nilai informasinya objek arkeologi tidak hanya menampilkan bendanya saja tetapi juga pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan pesan tersebut selanjutnya dapat membawa orang yang melihatnya kepada peristiwa yang pernah dialami oleh benda tersebut

Berdasarkan beberapa hal yang dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa upaya pelestarian Candi Singosari dapat berjalan dengan baik apabila pemahaman mengenai cagar budaya serta pelestariannya dimiliki pula oleh masyarakat khususnya generasi muda. Melalui komunikasi maka berbagai informasi berkaitan dengan ke-arkeologi-an baik penelitian maupun pelestariannya dapat disampaikan kepada masyarakat. Dalam hal ini, kolaborasi merupakan hal yang penting, karena pelestarian tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kerjasama aparatur pemerintahan dan masyarakat. Sementara, Kesadaran masyarakat yang terbentuk melalui proses komunikasi dalam penyampaian informasi akan membentuk masyarakat yang peduli terhadap warisan budayanya, kepedulian yang akan membawa masyarakat pada peran sertanya dalam melestarikan, menginternalisasikan dalam diri dan kemudian dapat menyampaikannya kepada orang lain.

Ayo generasi muda berpartisipasi dengan menceritakan Cagar Budaya Indonesia di sekitar kita melalui kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!

info lomba 300x300 - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *