Urgensi Syarikat Islam Dalam Membangun Kemandirian Ekonomi Umat
By: Date: July 2, 2017 Categories: Uncategorized

Salah satu tujuan dari sistem ekonomi kerakyatan adalah pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang terkandung dalam konsep tricle down effect (efek menetes kebawah) yaitu bahwa kesejahteraan itu dapat menetes kebawah dan dapat dirasakan oleh masyarakat kecil. Prof. Mubyarto, seorang pakar ekonomi kerakyatan menjelaskan bahwa arti ekonomi kerakyatan adalah sebuah sistem ekonomi yang mempunyai keberpihakan kepada rakyat banyak. Sebuah sistem ekonomi yang dapat dikembangkan dan dapat dilaksanakan namun bukan untuk diberdayakan. Karena yang diberdayakan adalah para pelakunya yaitu pengusaha kecil.

Dalam terminologi Islam, rakyat kecil yang telah tergeser, terjepit dan tersingkir inilah yang diklaim menggunakan kaum mustadh?Afin. Jadi, ekonomi masyarakat merupakan ekonominya kaum mustadh?Afin. Yaitu orang miskin karena adanya ketimpangan struktur akibat sistem ekonomi yg nir berpihak pada masyarakat mini . Krisis moneter yang terjadi satu dasa warsa kemudian adalah dampak dari sistem ekonomi yang hanya dikuasai oleh sekelompok perusahaan-perusahaan akbar.

Di sisi lain, ekonomi Islam memiliki misi yang jauh lebih luas & komprehensif, dimana ekonomi pembangunan bukan sekadar menciptakan ekonomi rakyat melainkan yang lebih penting adalah membangun sikap mental(mental attitudes) yang berarti pula membangun manusia secara utuh. Bukan saja sisi jasmani, namun pula kebutuhan spiritual-transendental. Dalam konteks pengembangan warga Islam, pemberdayaan adalah sebuah pembelajaran kepada masyarakat agar mereka bisa secara mandiri melakukan upaya-upaya pemugaran kualitas kehidupannya baik yang menyangkut mengenai kesejahteraan & keselamatannya pada global juga kesejahteraan dan keselamatannya pada akhirat.

Pemberdayaan ekonomi umat bisa dicermati dari tiga sisi:

1. Menciptakan suasana atau iklim yg memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Titik tolak pemikirannya merupakan sosialisasi bahwa setiap manusia, & setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tidak ada masyarakat yg sama sekali tanpa daya.

2. Memperkuat potensi ekonomi yang dimiliki oleh masyarakat itu. Untuk memperkuat potensi ekonomi umat ini, upaya yg sangat pokok adalah peningkatan tingkat pendidikan, derajat kesehatan, serta terbukanya kesempatan buat memanfaatkan peluang-peluang ekonomi.

3. Mengembangkan ekonomi umat juga mengandung arti melindungi rakyat & mencegah terjadinya persaingan yg nir seimbang dan mencegah eksploitasi golongan ekonomi yang bertenaga atas yg lemah. Upaya melindungi warga tadi tetap dalam rangka proses pemberdayaan & pengembangan prakarsanya

Jadi bisa dikerucutkan bahwa memberdayakan ekonomi umat pada sini, berarti upaya buat menaikkan harkat & prestise lapisan rakyat Islam dari kondisi tidak mampu, dan melepaskan diri berdasarkan perangkap kemiskinan & keterbelakangan ekonomi. Dengan kata lain, sebagai upaya membangun kemandirian umat di bidang ekonomi.

Sayangnya program pengentasan kemiskinan yang ada saat ini kebanyakan masih bersifat karitatif (bagi-bagi habis) dan konsumtif. Program belum mengarah kepada program yang lebih produktif dan memberdayakan. Sebaliknya,  negara-negara  Islam khususnya  Indonesia justru  mengalami ketergantungan yang tinggi terhadap sistem dan pola yang ditawarkan system ekonomi konvensional. Sehingga kemudian teriadi proses pendiktean oleh negara dan lembaga donor dan ketidakmampuan untuk lepas dari jerat krisis. Padahal solusi penyelesaiannya sebenamya tergantung kemampuan untuk bisa lepas dari jerat krisis dan membangun fundamental ekonomi yang lebih mandiri.

Syarikat Islam Dan Kemandirian Umat

Keberadaan ormas-ormas besar keagamaan dicirikan oleh landasan ruh pendirian organisasi itu, yang nir lain berlandaskan pada pencerahan ideologi buat membangun jati diri & kepribadian warga secara baik yang berdasarkan dalam ahlaqulkarimah, sehingga pada tataran kegiatannya sudah bisa menggerakkan swadaya rakyat secara efisien dan berorientasi pada kaum lemah, yg pula menghadirkan konsep-konsep alternative yang terkadang nir terjangkau sang pemerintah secara kelembagaan, sehinga lebih bersifat inovatif. Melihat kiprahnya yg begitu akbar hampir pada setiap bidang kehidupan, maka eksistensi ormas-ormas tadi dianggap telah sanggup melakukan transformasi sosial di tengah-tengah masyarakat.

Agar ormas tetap dapat berperan dan eksis pada tengah-tengah warga maka wajib melakukan manfaatnya sesuai menggunakan landasan organisasinya masing-masing. Wujud berdasarkan peran dan tadi, secara nyata wajib dirumuskan dan diterjemahkan ke pada acara-program kerja secara teknis sinkron menggunakan perkembangan & tantangan zaman dalam ketika ini. Kecermatan perumusan program kerja adalah galat satu langkah awal pengakuan akan eksistensi ormas tersebut. Ini merupakan, akan terjadi seleksi secara ilmiah, dimana ormas yg sahih-sahih melakukan peran demi pemberdayaan warga yg akan terus memperoleh loka dan dukungan dari rakyat, ad interim ormas yg hanya mementingkan kepentingan kelompoknya secara sempit akan dengan sendirinya tersingkir menurut kehidupan warga .

Sejarah sudah mencatat dengan jelas bagaimana perlakuan yg sangat nir proporsional dilakukan sang pemerintah kolonial terhadap rakyat Indonesia. Maka muncullah beberapa gerakan organisasi buat menegakkan hak-hak warga & menolak penolakan diskriminatif, pada antaranya adalah Sarekat Islam (SI) yg didirikan tanggal 16 Oktober 1905 oleh H. Samanhudi & diteruskan sang HOS Tjokroaminoto. SI merupakan organisasi modern pertama dan terbesar sepanjang sejarah pergerakan nasional Indonesia yang sebelumnya yg adalah transformasi berdasarkan Sarekat Dagang Islam (SDI). Perubahan ini dilatarbelakangi adanya keinginan perkumpulan ber peran ke arah kemajuan pada segala bidang dan bukan hanya berdagang saja. SDI akhirnya berubah sebagai SI yang memainkan peranan sangat urgen, yakni menjadi penggerak utama dalam bidang politik mudah maupun dalam bidang pemberdayaan warga .

Lahirnya Sarekat Islam bukanlah suatu kebetulan dalam sejarah yg nir dilatar belakangi sang kesadaran yang dalam & panjang. Kelahiran Sarekat Islam bisa dikatakan menjadi suatu keharusan sejarah bagi perjalanan politik umat Islam Indonesia. Secara ideologis, SI mendahului suatu nasionalisme yang programatik sebagaimana kemudian diungkapkan dalam istilah kebangsaan yg merdeka. Secara religius, SI jua mendahului program pembaharuan Islam sebagaimana secara khusus diungkapkan dalam nilai-nilai sosial dan politik Islam. Melalui protes-protesnya yg kuat pada status quo kolonial, keluhan-keluhannya yg lantang dibidang ekonomi & sosial, dan tuntutan-tuntutannya yg nir tabah lagi bagi swatantra yang lebih akbar.

SI didirikan atas empat pokok pikiran yang menjadi tujuan gerakannya. Pertama, memperbaiki nasib rakyat dalam bidang sosial ekonomi. Kedua,mempersatukan pedagang batik agar dapat bersaing. Ketiga,hendak mempertinggi harkat dan martabat bangsa Indonesia yang pada saat itu sering disebut bumi putera. Keempat, memperkembangkan serta memajukan Islam melalui pendidikan. Pada perkembangannya, Sarekat Dagang Islam sebagai organisasi yang memilih basis massa mayoritas dari masyarakat, mampu mengangkat masalah-masalah tentang kegelisahan masyarakat atas berbagai kebijakan pemerintah kolonial. Orang pribumi menganggap Sarekat Dagang Islam sebagai alat bela diri terhadap kekuasaan kolonial yang terlihat monolitis dan tidak sanggup mereka hadapi sendiri.

Dalam konteks kekinian, upaya mewujudkan kemandirian ekonomi umat, merupakan sebuah pekerjaan besar dan panjang. Pertama, membangun etos entreprenership ummat dan membekali mereka dengan skills yang unggul dan berdaya saing. Kedua, melaksanakan training-training dan workshop keterampilan. Hal ini penting, karena kualitas SDM umat masih rendah. Selain itu perlu meningkatan kualitas pendidikan dan strata pendidikan umat melalui pendidikan formal. Ketiga, Jika Usaha kecil itu merupakan produsen, maka mereka harus dibantu dalam pamasaran  produk-produknya. Keempat, meningkatkan kualitas produk yang memenuhi standar. Kelima, memberikan dukungan permodalan melalui program pemerintah, lembaga perbankan dan keuangan mikro syariah. Keenam, mendorong dan memotvasi umat untuk produktif di sektor pertanian, pertambangan, perkebunan, dsb, agar mereka mandiri secara ekonomi.Ketujuh, membantu usaha kecil dan mikro dalam mengakses lembaga perbankan, baik dalam pembuatan proposal, membuat laporan keuangan dan penerapan manajemen keuangan yang modern.

Cita cita mewujudkan kemandirian ekonomi umat sampai kini memang masih jauh panggang dari api. Upaya untuk membangkitkan kemandirian itu menghadapi sejumlah tantangan dan kendala, antara lain struktur  kekuasaan yang belum pro-umat. Struktur eksisting  itu merupakan tembok terjal  menuju kemandirian ekonomi umat baik itu kekuasaan yang berasal dari dalam negeri (internal), kekuasaan ekonomi-politik neoliberalisme (eksternal), ataupun penggabungan dari keduanya.

Sejalan dengan Pemikiran begawan SI HOS Tjokroaminoto, dalam menumbuhkan ekonomi hendaknya dimulai menurut bawah yaitu berbasis kerakyatan. Maksud kerakyatan buat mewujudkan ekonomi yang tumbuh sehat dan berkualitas dan peduli pada usaha mini menengah (UKM) sebagai aktualisasi kemandirian umat guna memenuhi kebutuhannya baik materi juga non materi. Dengan demikian, umat atau rakyat menggunakan lingkungannya mampu secara partisipatif membuat & menumbuhkan nilai tambah yg menaikkan kemakmuran dan kesejahteraan mereka. Rakyat miskin atau yg belum termanfaatkan secara penuh potensi nya akan semakin tinggi bukan hanya ekonominya, namun pula harkat, prestise , rasa percaya diri, dan harga dirinya. Bilamana konsepsi ini sudah menjadi prinsip hayati warga muslim secara umum dikuasai saat ini, maka akan terbentuk suksesnya pembangunan bangsa.

Tulisan ini dibentuk pada rangka mengikuti Blog Competition Syarikat Islam #syarikatislam #blogcompetition

Referensi :

PotensiZakat pada Pemberdayaan Wirausaha

Zakat dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

KONTRIBUSI SAREKAT ISLAM

DALAM MEMBENTUK MASYARAKAT MADANI

MELALUI PENDIDIKAN

Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *