MEMAKNAI HARI GURU
By: Date: July 18, 2017 Categories: Uncategorized

Memaknai Hari Guru

Oleh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Guru Matematika pada MTs Cijangkar Ciawi Tasikmalaya

Sejatinya pengajar adalah sebuah profesi yang mulia, betapa tidak pengajar adalah seorang yg sudah menaruh jalan kepada orang lain buat berkembang pada menjalani hidupnya, sanggup dibayangkan jika seseorang tidak pernah memiliki pengajar pada kehidupannya, mungkinkah beliau bisa melanjutkan kehidupan?

Profesi pengajar memang tidak terbatas pada lembaga formal saja, semua orang bisa menjadi pengajar, karena dalam hakikatnya insan semuanya merupakan pembelajar, nir pantas bila insan berhenti belajar lantaran dia menyandang status seseorang pengajar misalnya.

Guru yang secara formal bertugas pada lembaga-lembaga formal memang memiliki tanggung jawab khusus dalam mengerjakan tugasnya sehari-hari, karena itu adalah tuntutan profesi yang menjadi konsekuensi menurut kesanggupan seseorang menjadi pengajar.

Menjadi guru pada lembaga formal tidak semudah yang dibayangkan, banyak sekali tuntutan yg harus dipenuhi sang seorang guru. Oleh karenanya seorang guru semestinya nir menganggap enteng dan mudah akan pekerjaannya, karena pengajar sebagai ujung tombak dari keberhasilan pendidikan.

Tugas yg berat yg disandang oleh seorang guru semestinya disikapi menggunakan arif oleh setiap guru. Mereka wajib memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki kiprah yang sangat krusial dalam pendidikan, oleh karena itu guru wajib selalu sanggup mengaktualkan diri mengikuti perkembangan zaman supaya mereka mampu terus diterima sang lingkungannya terutama dilingkungan pendidikan.

Tidak sporadis kita mendengar cibiran atau kebanggaan bagi seseorang yg memiliki profesi menjadi pengajar, hal ini lumrah terjadi karena setiap profesi pasti terdapat yg senang dan nir. Bagi yang suka akan membela mati-matian dan begitupun yg tidak suka maka akan menghancurkan mati-matian juga.

Oleh karenanya maka seseorang guru harus bisa memantaskan diri supaya sanggup diterima oleh orang lain menggunakan profesinya sebagai pengajar. Tidak salah bila seorang pengajar acapkali mengintrospeksi dirinya sendiri buat mempertinggi kemampuan dan pelayanan pada warga sebagai ‘penerima jasa’ menurut seorang pengajar.

Kritik yang dilontarkan orang lain mestinya sebagai cambuk & penyemangat buat menaikkan kompetensinya sebagai pengajar. Pengakuan pemerintah terhadap profesi guru waktu ini sudah menaikkan harkat dan prestise pengajar dihadapan masyarakat, jika dulu guru adalah profesi yg dianggap sebelah mata, maka kini sebagai guru menjadi rebutan banyak orang sebagai akibatnya ini bisa menaikkan semangat para guru bahwa jadi guru nir sanggup dijalani menggunakan sembarangan, tetapi wajib mempunyai kompetensi yg betul-benar sanggup menjalankan tugasnya sebagai guru.

Guru zaman sekarang mempunyai tantangan yang lebih berat dibanding guru zaman dulu, jikalau dulu profesi guru dipandang menjadi profesi yang gampang sebagai akibatnya sebagai pengajar merupakan pelampiasan lantaran tidak mendapatkan pekerjaan yg lain, maka ketika ini hal itu nir lagi berlaku.

Pengajar wajib bisa menghilangkan cacat negatif yg melekat pada seseorang pengajar yang telah sejak lama didengar dan dirasakan. Beberapa stigma buruk yang masih inheren pada seorang guru merupakan pandangan negatif terhadap guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Beberapa stigma yg dilekatkan terhadap guru yang dicermati menjadi sifat negatif guru diantaranya merupakan: 1. Mengambil jalan pintas pada pembelajaran

dua. Melaksanakan pembelajaran tanpa perencanaan

tiga. Menunggu peserta didik berprilaku negatif

4. Menggunakan destruktif disiplin

5. Mengabaikan disparitas siswa

6. Merasa diri paling pintar

7. Diskriminatif

8. Memaksa hak siswa

9. Melakukan evaluasi nir berkesinambungan

(E. Mulyasa)

Sifat-sifat negatif yg telah disebutkan pada atas semestinya menjadi bahan pemikiran bagi para guru untuk ditinggalkan & sanggup mengubahnya menjadi lebih baik agar profesionalitas guru bisa terealisasi menggunakan baik yg akan menaikkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru.

Selain sifat-sifat negatif yang dimiliki oleh pengajar misalnya yg telah diuraikan tersebut, stigma negatif yang diarahkan terhadap pengajar merupakan bahwa guru memiliki beberapa penyakit akut yg sulit disembuhkan yg terkadang ini jua sebagai guyonan tetapi jua mungkin terdapat benarnya.

Beberapa penyakit mental yang wajib disembuhkan sang para pengajar diantaranya:

1. Virus EBOLA (Enggan Belajar Otaknya Lamban)

2. TBC (Tidak Bisa Computer)

3. Kurap (Kurang Aplikatif)

4. Kudis (Kurang Disiplin)

5. Asma (Asal Masuk)

6. Hipertensi (Hiruk Persoalkan Tentang Sertifikasi)

7. Mual (Mutu Ujian Amat Lemah)

8. Asam Urat (Asal Selesai Mengajar, Materi Usang Kurang Akurat)

9. Kram (Kurang Terampil)

10. Gatal (Galau Tanpa Alasan)

11. Tipus (Tidak Punya Selera)

12. Koreng (Kurang Objektif, Ribet, Enggan Bertanggung jawab)

13. Virus SMS (Susah Melihat Orang Lain Senang)

14. Lesu (Lemah Sumber)

15. Liper (Lemah Ilmu Pengetahuan, Empati Rendah)

17. Diabetes (Dihadapan Anak Bekerja Tidak Serius)

(E. Mulyasa)

Terlepas berdasarkan stigma negatif yg poly ditujukan pada pengajar, kenyataannya peran guru tidak mampu digantikan menggunakan apapun, bahkan sang teknologi secanggih apapun. Kalaupun stigma itu terdapat, semestinya itu mampu dijadikan penyemangat para guru buat mampu memperbaikinya.

Setiap profesi yg dijalankan oleh seseorang niscaya terdapat kekurangan dan kelebihan dari para pelakunya, oleh karenanya guru wajib sanggup memposisikan diri menjadi insan pembelajar yang tidak pernah berhenti buat terus menaikkan kualitas diri menggunakan cara menggali berita menurut banyak sekali sumber yang dapat membantu & menaikkan literasi yang berkaitan dengan profesi yang dijalani. Apalagi pada zaman globalisasi seperti ketika ini, yang orang menyebutnya dengan era revolusi industri 4.0 dimana perkembangan teknologi canggih yg sudah merambah ke berbagai bidang dan tidak ada seorangpun yang bisa membantahnya, maka guru pun wajib mengimbanginya dengan menaikkan kemampuan dalam dominasi teknologi.

Tak terdapat manusia yg paripurna yg bisa melakukan segala-galanya menggunakan baik, mesti terdapat kekurangan yg dihasilkan dalam diri setiap insan, tetapi kekurangan itu sanggup diisi dengan belajar supaya kekurangan tersebut mampu diantisipasi.

Tak terdapat gading yg tidak retak, manusia hanya mampu berusaha, kasus hasil urusan Alloh yang memilih.

Jangan berhenti buat belajar, lantaran dengan ilmu kita akan menerima kebahagiaan dunia & akhirat

SELAMAT HARI GURU 25 November 2018

#Banggamenjadiguru #Bahagiamenjadiguru #…#

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *