PENGABDIAN TANPA BATAS SEORANG GURU
By: Date: July 28, 2017 Categories: Uncategorized

PENGABDIAN TANPA BATAS SEORANG GURU

Oeh: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

*Guru Matematika

di MTs Cijangkar Ciawi Tasikmalaya

?Tugas pengajar profesional yg tidak main-main semestinya dihargainya menggunakan tidak main-main jua, karena ini menentukan masa depan bangsa?

Para pengajar pada Indonesia akan memperingati hari guru dalam lepas 25 November setiap tahunnya. Peringatan hari guru nasional ini adalah penghargaan kepada para pengajar atas pengabdiannya kepada bangsa dan Negara pada rangka mewujudkan pembangunan bangsa Indonesia dibidang sumber daya insan. Para guru telah mengabdi semenjak masih zaman penjajahan Belanda, dan dengan semangat yg gigih pada tahun 1912 para guru mendirikan PGHB (Persatuan Pengajar Hindia Belanda) yg kemudian berubah sebagai PGI (Persatuan Pengajar Indonesia) pada tahun 1923 menggunakan dasar asa yg bertenaga buat kemerdekaan Negara Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya 100 hari sesudah kemerdekaan Negara Indonesia yaitu tanggal 24-25 November 1945 PGI mengadakan kongres di Surakarta dan menghasilkan keputusan yang keliru satunya adalah mengubah PGI menjadi PGRI (Persatuan Pengajar Republik Indonesia). Melalui Keputusan Presiden nomor 78 tahun 1994 ditetapkan bahwa hari lahir PGRI sebagai hari guru Nasional tepatnya lepas 25 November.

Dalam undang-undang guru dan dosen angka 14 tahun 2015 pasal 38 disebutkan bahwa pemerintah bisa tetapkan hari guru nasional sebagai penghargaan kepada guru yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. Hal ini menegaskan pengakuan pemerintah kepada profesi guru yang harus dihargai sebagai profesi yang professional dengan kiprah dan kegunaannya sangat krusial dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ungkapan ?Guru pahlawan tanpa tanda jasa? Mungkin sudah tidak asing lagi bagi indera pendengaran kita. Kata-istilah tadi bila ditelaah sepintas misalnya menghargai profesi guru yang kiprahnya sama seperti pahlawan yg berjasa bagi bangsa & Negara, tetapi menggunakan ditambah kata-istilah ?Tanpa tanda jasa? Menyiratkan bahwa profesi pengajar merupakan profesi biasa yg tidak perlu diperhatikan tingkat kesejahteraan & perlindungan yang cukup bagi seseorang guru, sehingga profesi pengajar bukan profesi menjanjikan bagi masyarakat Negara Indonesia, bahkan sebagaian menentukan profesi pengajar sebagai profesi sampingan atau sebagai guru lantaran tidak diterima di loka kerja yang lain, benar-benar pilihan yang nir layak.

Profesi pengajar yg tidak menjanjikan berimbas dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Seiring perkembangan zaman dimana persaingan hayati semakin ketat & panas yang membarui pola hidup manusia menuntut perubahan pengakuan terhadap profesi pengajar yg perannya sangat krusial. Melalui usaha PGRI pada tahun 2005 terbitlah Undang-undang angka 14 tahun 2005 yang intinya adalah adanya pengakuan pemerintah atas profesionalitas profesi pengajar pada Indonesia, dan semenjak terbitnya undang-undang tersebut, maka profesi pengajar tidak lagi ditinjau sebelah mata.

Dalam Undang-undang Pengajar dan Dosen angka 14 tahun 2005 pada bab I pasal 1 disebutkan bahwa Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas primer mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, & mengevaluasi peserta didik dalam pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dan dalam pasal 4 disebutkan bahwa Profesional merupakan pekerjaan atau aktivitas yg dilakukan sang seorang dan sebagai sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau kebiasaan eksklusif serta memerlukan pendidikan profesi. Terbitnya undang-undang ini mudah-mudahan bisa mengangkat harkat prestise guru yang selama ini ditinjau sebagai kasta kelas bawah pada tatanan kehidupan sosial bangsa Indonesia.

Terbitnya undang-undang pengajar dan dosen mulai terasa keuntungannya sehabis tunjangan profesi guru yang adalah amanat undang-undang dilaksanakan oleh pemerintah apalagi sesudah tunjangan tunjangan profesi guru bisa dinikmati oleh para pengajar walaupun prosesnya masih belum lancar seperti yang dibutuhkan lantaran aneka macam keterbatasan pemerintah dalam menjalankan amanat undang-undang tadi. Hal inipun harus diimbangi sang peningkatan profesionalitas atau pelayanan yg diberikan sang para guru pada melaksanakan tugasnya sehari-hari.

Dalam rangka peningkatan profesionalitas pengajar, pemerintah sudah menetapkan banyak sekali regulasi yang terkait menggunakan pendidikan yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh para guru. Regulasi-regulasi ini di buat oleh pemerintah supaya pendidikan pada Indonesia maju & tujuan pendidikan nasional yg ditetapkan bisa tercapai secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Tugas & beban berat ini harus dipikul & dilaksanakan sang seluruh guru yg menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan.

Tugas guru memang sangat berat, pada menjalankan tugasnya guru tidak boleh terlepas dari aturan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai pegangan guru dalam menjalankan proses pendidikan sinkron dengan baku nasional pendidikan. Dalam UU angka 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I Pasal 1 ayat 17 dinyatakan bahwa standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal mengenai sistem pendidikan pada seluruh daerah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam BAB IX Pasal 35 ayat 1 dijelaskan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, wahana & prasarana, pengelolaan, pembiayaan, & evaluasi pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan terjadwal.

Stándar nasional pendidikan yang berkaitan langsung dengan tugas guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan di sekolah/madrasah adalah stándar kompetensi lulusan (SKL) yang diatur dalam Permendikbud nomor 20 tahun 2016, standar proses yang diatur dalam permendikbud nomor 21 tahun 2016, standar proses yang diatur dalam permendikbud nomor 22 tahun 2016, standar penilaian yang diatur dalam permendikbud nomor 23 tahun 2016 dan ditambah dengan permendikbud nomor 24 tahun 2016 tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu oleh masing-masing guru. Keempat standar tersebut yang dikelompokan dalam standar akademik harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan oleh setiap guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Tuntutan yg akbar terhadap profesi pengajar sebagai tantangan bagi semua guru buat meningkatkan kompetensinya sebagai guru atau pekerja yg profesional, sebagai akibatnya pemerintah tidak sia-sia menganggarkan biaya yang akbar buat menaruh tunjangan profesi pada guru demi menghargai jasa profesionalitasnya, walaupun tunjangan yang diberikan kepada setiap pengajar profesional yg statusnya honorer belum sebanding menggunakan tugas yg wajib dikerjakannya, bahkan bila dibandingkan dengan standar gaji karyawan yang hanya tamatan SMA/SMK, sertifikasi guru masih rendah pada bawah honor karyawan/buruh. Saat ini memang terdapat upaya pemerintah buat menyetarakan tunjangan profesi guru yang statusnya honorer menggunakan gaji guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui proses penerbitan Surat Keputusan (SK) inpasing yang dikeluarkan oleh pemerintah yang ketika ini proses penerbitan SK tersebut masih berproses & belum merata ke semua sekolah/madrasah pada Indonesia.

Tugas berat yang diemban oleh seseorang pengajar sebagai pilihan yg wajib diterima sang seorang guru. Anggapan warga yg selama ini menilai bahwa profesi guru merupakan profesi yg gampang adalah asumsi yang sangat galat, sebab tanggung jawab yg dipikul sang seorang guru nir hanya tanggung jawab sebatas melaksanakan tugas mengajar akan tetapi pula memilki tanggung jawab moral bagi peserta didik, orang tua dan rakyat dalam upaya mencapai output pendidikan yg berkualitas sinkron menggunakan baku nasional pendidikan. Bagi seseorang pengajar yang profesional sepertinya ketika 8 jam sehari nir akan cukup buat menjalankan seluruh tugas yang diamanatkan, bahkan mungkin perlu 2 kali lipat waktu kerja yg dipengaruhi buat benar-sahih sebagai guru yg profesional, sebagai akibatnya mereka nir mungkin buat berprofesi ganda buat mencari penghasilan yang lain, sebagai akibatnya pemerintah wajib benar -betul memberikan kesejahteraan yg pantas bagi profesi pengajar yang profesional.

Kerjasama yang baik antara pemerintah dan para guru perlu dibangun dengan baik buat memajukan bangsa ini dalam mempersiapkan sumber daya insan yg berkualitas pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Kebijakan-kebijakan yg menyangkut kesejahteraan guru semestinya dipermudah pelaksanaanya di tataran bawah yg disertai dengan supervisi yang sempurna, karena terabaikannya perhatian pemerintah kepada para pengajar akan menghipnotis kinerja para guru pada melaksanakan tugasnya. Beban kerja guru yang begitu berat & menanggung tanggung jawab moral tidak akan bisa diatasi oleh seseorang guru apalagi mereka wajib memikirkan kebutuhan pokok mereka sendiri & keluarganya sehingga optimalisasi tugas dan peran pengajar menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan tidak akan tercapai sesuai cita-cita yg telah ditetapkan pada tujuan pendidikan nasional, sebagaimana diamanatkan pada UU nomor 14 tahun 2005 mengenai guru dan dosen dalam BAB II Pasal 6 yg menyatakan bahwa Kedudukan pengajar dan dosen menjadi energi profesional bertujuan buat melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi siswa agar menjadi insan yg beriman & bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, berdikari, serta sebagai rakyat negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Semestinya pemerintah memprioritaskan kasus peningkatan pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini jika kita ingin maju. Belajar dari negara-negara yang sudah maju bahwa mereka mengutamakan kualitas pendidikan dinegaranya, sehingga menggunakan rakyat negara yg cerdas dan mempunyai ilmu pengetahuan yg tinggi bisa mengantarkan negaranya menjadi negara yang super dalam banyak sekali bidang, keliru satu cara menaikkan kualitas pendidikannya merupakan dengan memperhatikan kesejahteraan guru, sehingga mereka sanggup penekanan menjalankan tugasnya menggunakan baik. Mudah-mudahan darma para guru di Indonesia yang beban kerjanya sangat akbar dapat terjaga dengan baik walaupun tingkat kesejahteraan mereka masih sangat jauh menurut layak dan pemerintah bisa memprioritaskan perhatiannya buat para guru menjadi pahlawan yang jasanya benar -benar dihargai dengan penghargaan yg setimpal. Amin

Penulis merupakan pengurus KALIMAH (Komunitas Aktifis Literasi Madrsah).

Sebuah komunitas yg mempunyai kepedulian terhadap perkembangan literasi di madrasah yg merangkul para pengajar buat memulai menaikkan literasi secara eksklusif dan lalu dikembangkan pada Madrasah masing-masing.

website KALIMAH bisa dikunjungi di alamat http://www.gokalimah.com

agusnananuryana

Subscribe to receive free email updates:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *