[OPINI] DISKURSUS PEKERJA PEREMPUAN DAN UPAH RENDAH
By: Date: September 12, 2017 Categories: Uncategorized

GLOBALISASI DAN PEKERJA PEREMPUAN

Globalisasi memiliki pengaruh positif dan negatif bagi pekerja wanita. Dampak positif glo

balisasi berimplikasi pada kesadaraan kesetaraan gender. Dengan adanya tuntutan globalisasi akan profesionalisme, & merebaknya teknologi canggih, kaum perempuan berpeluang memanfaatkan potensi diri buat karier mereka, contohnya melalui bisnis-bisnis pendidikan, ekspansi jaringan pergaulan profesional, pengasahan keterampilan dan lain sebagainya. Melalui bisnis-bisnis pengembangan diri yg konstruktif dan kreatif, perempuan mampu berkompetisi secara sehat dalam global kerja menggunakan memakai ide-inspirasi, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan bisa memanfaatkan fakta dan teknologi dengan baik dan tak kalah militan/taktisnya menggunakan pria.

Dampak negatif globalisasi bagi pekerja wanita terbukti karena banyaknya wanita digunakan sang investor/pengusaha sebagai pekerja lantaran keuntungan-laba. Perempuan ditinjau menjadi angkatan kerja yang mampu dipakai dalam industri ekspor & impor, seperti industri garmen, tekstil, sepatu, perkebunan, penjualan eceran/grosir & sebagainya. Mereka ini antara lain bisa diupah murah dibanding menggunakan pekerja laki-laki , tidak perlu diberikan tunjangan suami, tidak terlalu poly menuntut, tidak terlalu kritis, luwes, raji

n bekerja. Oleh karenanya pekerja perempuan dianggap lebih menguntungkan. Selain itu pekerja perempuan lebih cocok buat dipekerjakan di lapangan kerja yang sudah dipengaruhi oleh beberapa investor menurut paradigmanya yg masih bias gender.

Dikotomi Gender pada Industri

Paradigma beberapa investor yg masih bias gender tersebut, merupakan isu yg masih sanggup dibenarkan apabila pihak pekerja perempuan merasa bahwa stereotipnya menjadi perempuan merupakan kodrat, sehingga mereka enggan mengeksplorasi diri mereka buat sebagai lebih asertif dan kreatif. Oleh karenanya, upah rendah yang diperoleh oleh pekerja perempuan adalah konsekuensi logis karena kemampuan yang sangat minim (unskilled labour) dan enggan mengembangkan potensi diri.

Namun, gosip tersebut bisa sebagai hal yg kontroversial jika diskriminasi upah terhadap pekerja wanita berdasarkan atas prasangka yg bias gender, & bukannya karena berbedanya sifat pekerjaan, bobot pekerjaan dan waktu kerja. Sehingga perlu solusi yg menguntungkan kedua pihak pada interaksi kerja.

Prasangka yang berdasarkan pada bias gender yang biasa berlaku pada masyarakat secara makro, termasuk lingkungan usaha merupakan menjadi berikut :

Pada dasarnya, wanita distereotipkan seperti tabel pada atas karena pengkondisian berdasarkan lahir, dan sebenarnya yg membedakannya dengan pria hanyalah menurut hal alat-alat reproduksinya saja. Hal tersebut terbukti dari hasil penelitian mengenai dua anak kembar perempuan . Sejak lahirnya pada usia tertentu (dini) dipisah, yg seorang dikondisikan seperti layaknya wanita dan seorangnya lagi dikondisikan misalnya laki-laki . Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hal-hal pada luar alat-indera reproduksinya, masih bisa dipertimbangkan sebagai hal yang bisa setara dengan pria, misalnya otak/kecerdasan, sifat, konduite, perilaku ataupun tindakan. Perempuan bisa juga setangkas & setaktis pria.

Di samping pengakuan stereotip wanita seperti tabel di atas, beberapa hal yg turut menghipnotis pola pikir dan perlakuan diskriminatif para investor/pengusaha tersebut terhadap pekerja wanita adalah :

? Dalam giliran kerja (shift), pekerja wanita pada biasanya nir mampu bekerja lembur hingga jauh malam bahkan menjelang pagi. Hal ini ditimbulkan oleh budaya rakyat yg berlaku bahwa perempuan jelek kerja malam ataupun pagi, kondisi tubuh perempuan nir memungkinkan untuk melakukan kerja demikian & sebagainya.

? Kompetensi perempuan lebih bersifat tidak kentara dibanding pria sebagai akibatnya nir mudah buat dikuantifikasikan. Kompetensi yang kualitatif tersebut merupakan kemampuan menjalin hubungan yg baik antarpribadi, ketelitian, kecekatan, kerajinan & sebagainya yg tak jarang diabaikan dalam unsur-unsur Penilaian Karya (Performance Appraisal). Hal itu menampakan bahwa adanya pengabaian keunggulan kemampuan pekerja perempuan di sisi lain keunggulan kemampuan pekerja pria.

? Sifat pekerjaan paruh atau penuh waktu dapat mempengaruhi jumlah upah yg dibayarkan atas dasar prosentase ketika kerja.

? Sepanjang masa kerja perempuan , terdapat ketika-waktu tertentu yg dianggap mengurangi produktifitasnya & termasuk hal yg dipercaya merugikan perusahaan, yaitu cuti haid, perlop bersalin.

? Masih berlakunya pola pikir bahwa pekerja perempuan hanya menjadi pencari nafkah tambahan. Oleh karena itu mereka nir mendapatkan tunjangan suami yg adalah pelengkap menurut upah mereka. Dalam kenyataannya, poly pekerja wanita bekerja buat diri sendiri, orang tua, anak-anak atau saudaranya. Mereka adalah tulang punggung famili lantaran aneka macam hal, antara lain suami tewas, cerai atau ditinggal pergi sang suami.

Dengan demikian, merupakan suatu tanggung jawab moral bagi para investor/pengusaha tersebut buat tetap mampu menyadarkan & berusaha memperbaiki pola pikir & kondisi mereka, misalnya: melalui pelatihan, pembelajaran melalui bimbingan senior, bonus, pinjaman lunak, penyediaan tempat kerja dan fasilitas yg ergonomis, serta usaha positif lainnya.

Fakta-keterangan Pekerja Perempuan & Upah Rendah, Isu pekerja wanita menjadi kaum marginal dan masyarakat angka dua, tidak hanya berlaku pada Indonesia, tetapi pula berlaku pada negara-negara berkembang dan maju.

Isu pekerja perempuan merupakan gosip global yg sudah ada sejak pra dan pasca revolusi industri yg lalu melahirkan wujud-wujud globalisasi. Sampai saat ini gosip pekerja perempuan adalah gosip yang perlu dicari penyelesaiannya lantaran terkait menggunakan doktrin kepercayaan -agama, peraturan-peraturan atau UU negara yang masih mengandung bias gender pada budaya warga yg patriarki.

Isu pekerja wanita menggunakan upahnya yang rendah adalah informasi yang dibahas pada aneka macam penelitian oleh lembaga atau orang-perorang yang teorganisir. Hasil-hasil penelitian itu antara lain menunjukkan masih adanya masalah diskriminasi upah terhadap pekerja perempuan dampak bias gender.

Di Indonesia, banyak sekali masalah-masalah subordinat tadi, banyak pekerja perempuan yg menerima upah rendah sehingga sangat sulit buat menutupi kebutuhan hidupnya secara layak.

Dalam penelitian Molly Jacobs (Low-Wage Women : The Demographic Determinants of their Wages, Duke University, Durham, North Carolina, 31 May 2003), disebutkan bahwa 59% angkatan kerja perempuan di Jerman masih memperoleh upah yg rendah. Hampir 70% angkatan tadi bekerja dalam ranah kerja feminin, misalnya klerikal, penjualan, ataupun bidang jasa yang terkait. Pekerjaan seperti Pengajar, Sekretaris & Pramuniagapun cenderung mendapatkan upah yang lebih rendah dibanding pekerjaan yang sama bagi pria.

Margarita Dimitrova , dalam makalahnya mendeskripsikan kondisi upah secara keseluruhan sektor bagi pekerja wanita dan pria di Amerika (http://www.Aubg.Bg/home/students/MDD000/otb paper.Doc) menjadi berikut : (gambar 15)

Di samping upah yang diterima pekerja wanita pada atas lebih rendah menurut pekerja pria, pekerja perempuan pula tidak difasilitasi premi dan tunjangan lainnya buat famili mereka.

Dua hal ini merupakan sebagian dari sekian banyak fakta yang mendeskripsikan adanya diskriminasi upah bagi pekerja wanita, & pekerja perempuanlah yg wajib menanggung bebannya.

Usaha-bisnis Perbaikan bagi Pekerja Perempuan

Beberapa landasan pola pikir dan tindakan yang mampu dipakai buat memperbaiki kondisi pekerja perempuan oleh para investor & pimpinan/pengusaha, yaitu :

1. Filosofis

Para investor/pengusaha harus mengambil tindakan afirmasi atas isi Deklarasi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan & Konvensi PBB Desember 1979 yg terkait, misalnya Hak-hak Ekonomi yang mencakup hak yg sama menggunakan pria pada segala bidang kehidupan ekonomi & sosial, antara lain :

a) hak buat mendapat latihan kejuruan, bekerja, memilih jabatan & pekerjaan menggunakan bebas, dan memperoleh kemajuan dalam keahlian & kejuruan, tanpa perbedaan antara perempuan yg berstatus belum atau sudah menikah,

b) hak buat mendapatkan upah & perlakuan yang sama menggunakan pria & perlakuan yang sama berkaitan dengan pekerjaan yg sama nilainya (Deklarasi PBB 1967, pasal 10).

C) berhak menikmati syarat hidup yg memadai, terutama yang berhubungan dengan perumahan, sanitasi, penyediaan listrik & air, pengangkutan dan komunikasi (Konvensi PBB 1979 pasal 14).

2. Praktis

Para investor/pengusaha harus mempunyai niat baik dan berusaha memperjuangkan terlaksananya perbaikan kondisi pekerja perempuan . Beberapa cara yang sanggup ditempuh, diantaranya :

a) Audit SDM perlu dilengkapi dengan pelaksanaan kampanye penghapusan subordinat upah dampak bias gender, dan bukan akibat sifat pekerjaan, dan bobot pekerjaannya yg tidak sama.

B) Merekonstruksi peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan perusahaan pada hal pembayaran upah & tunjangan, misalnya kenaikan upah yang layak, tunjangan suami, pinjaman menggunakan bunga lunak, bonus, penyediaan transportasi, fasilitas kesehatan, fasilitas kerja yang aman dan nyaman.

C) Menyelenggarakan acara pendampingan kerja, pendidikan & pembinaan.

D) Membangun jaringan kerja kemitraan menggunakan lembaga-lembaga yang peduli/peka gender, misalnya LSM Perempuan & lembaga lainnya. Hal ini perlu dilakukan sebagai warga negara yang peduli dengan kasus perempuan . Dengan demikian secara sinergi, antara investor/pengusaha, LSM, dan bahkan pemerintah diperlukan dapat lebih efektif mengeliminir beban wanita.

Merujuk pada esensi interaksi manusiawi, bahwa siapapun berhak atas perlakuan keadilan & kemanusiaan, maka wanita menjadi bagian berdasarkan warga dunia perlu diperjuangkan hak-haknya sesuai perannya. Itu seluruh tugas yg harus dipikul beserta & diperjuangkan demi kesejahteraan dan kesetaraan beserta.

Maria Clara Neti Veronica (Staf Personalia, CSIS Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *