EDITORIAL PRO:AKTIF ONLINE EDISI AGUSTUS 2017
By: Date: September 14, 2017 Categories: Uncategorized

Para pembaca budiman,

 Kembali kita berjumpa dalam Pro:aktif & kali ini memasuki edisi Agustus 2017 dengan membawa tema ?Berjejaring dalam Keberagaman pada Negara Kesatuan Republik Indonesia?. Bulan Agustus bagi bangsa Indonesia selalu menjadi bulan penting karena peringatan hari kemerdekaan yg jatuh pada tanggal 17 Agustus dan selalu mengumandangkan refleksi perjalanan buat merengkuh kemerdekaan tersebut menggunakan susah payah. Refleksi kemerdekaan kali ini kiranya perlu membawa kita semua buat mengingat bahwa bangsa ini dibentuk menurut keberagaman & sudah menjadi identitasnya sejak semula. Menilik perkembangan dinamika di masyarakat akhir-akhir ini yg seolah mengakibatkan keberagaman menjadi sumber pertentangan, tentu mengundang keprihatinan tersendiri, bagaimana kita dapat mewariskan nilai luhur yang arif pada menyikapi keberagaman?

Pro:aktif edisi Agustus sudah mengumpulkan banyak sekali tulisan yg kiranya bisa menginspirasi anak-anak bangsa ini untuk merayakan keberagaman menjadi nikmat dan karunia Yang Mahakuasa. Di samping itu, yg paling utama merupakan ajakan buat berjejaring dalam keberagaman yang kiranya akan selalu mampu memantik ilham-ide cemerlang memajukan negeri ini.

Kita akan mengawali edisi kali ini dengan rubrik MASALAH KITA yg diisi sang Dhitta Puti Sarasvati yang menunjukkan kepada kita wacana dinamika yg dihadapi sang para aktivis ketika berinteraksi dengan sesama aktivis. Selain disparitas karakter, perbedaan paradigma berpikir dan pandangan politik tidak jarang menyulut perdebatan. Situasi demikian tidak harus membuat kita menjadi tersingkir menurut pergaulan menggunakan sesama aktivis atau bahkan hidup ini menjadi terasa begitu menyesakkan. Perbedaan dalam hayati aktivis tak ubahnya dengan realitas kehidupan lainnya, sebagai akibatnya cara menghadapinya akan sangat penting buat membuat hayati yang beragam ini mempunyai kekayaannya.

Memasuki rubrik PIKIR menggunakan penulis Sylvania Hutagalung akan membawa kita pada permenungan menyoal arah masa depan peradaban manusia ke depannya. Memakai kacamata arsitektur, tetapi tidak terbatas dalam global kearsitekturan itu sendiri, dimana dimensi pembangunan tidak lagi sebatas pada bangunan fisik semata. Perluasan dimensi pembangunan yg perlu dirambah sang penggiat arsitektur telah memasuki aspek sosial kemasyarakatan yg semata menyesuaikan pada kebutuhan zaman. Keterlibatan komunitas dalam pembangunan nir lagi sebagai objek pembangunan, melainkan menjadi subjek yg menuangkan ilham pada dalamnya. Membawa laporan Biennale tahun 2016 di Venesia sembari mengangkat syarat dunia arsitektur Indonesia.

Umbu Justin dalam rubrik OPINI mengantarkan para pembaca untuk mengingat kembali jejak sejarah, bagaimana bangsa Indonesia memang sejak semula dibangun oleh keberagaman dan sudah menjadi identitas warga bangsa ini untuk beragam. Walau berbagai tantangan jaman menerpa, terutama dinamika dunia politik yang menjerumuskan bangsa ini pada pertentangan identitas di akar rumput, selayaknya ada yang harus mengingatkan kembali kepada jejak perjuangan merengkuh kemerdekaan agar bangsa ini tetap menjaga keutuhannya. Kebhinnekaan dalam kemerdekaan perlu dikumandangkan lagi agar segenap bangsa Indonesia ini kembali nyaman dalam keberagaman.

Sementara rubrik TIPS mengajak kita buat merefleksikan manfaat olahraga dalam melebarkan jejaring sosial, sehingga tidak hanya manfaat kesehatan fisik yg didapat. Kukuh Samudra menegaskan pulang bahwa berolahraga nir hanya memperhatikan aspek fisik semata, namun jua perlu memperhatikan aspek sosialnya dengan melakukannya beserta-sama dalam sebuah komunitas ataupun dalam jejaring pergaulan yg nir sebatas dalam satu jenis olahraga saja.

PROFIL kali ini, Navita Kristi Astuti bercerita mengenai organisasi Peace Generation yg secara konsisten berupaya mengembangkan nilai-nilai universal perdamaian seluas-luasnya, terutama melalui pendidikan di sekolah. Organisasi yang berbasis di Bandung ini, didirikan oleh dua manusia berdasarkan latar kebangsaan yang tidak selaras, berupaya membuat dunia menjadi lebih hening menggunakan memunculkan para agen-agen perdamaian di tingkat lokal. Perkenalan ini sekaligus juga memberikan ajakan terbuka buat berpartisipasi di dalamnya.

Sejenak JALAN-JALAN ke Gedung Indonesia Menggugat yang sarat sejarah perjuangan bangsa Indonesia, karena di gedung ini, salah satu pandangan baru kebangsaan berdasarkan Bapak Proklamator yakni Ir. Soekarno berkumandang pada pledoinya, yakni ?Indonesia Menggugat?. Reina Ayulia Rosadiana akan menjadi pemandu bagi para pembaca menjelajah ke sudut-sudut ruangan yg terdapat di sana. Selain itu, para pembaca juga sanggup mencicipi suasana di dalam Gedung Indonesia Menggugat yang jauh berdasarkan gugatan-somasi kebangsaan karena sudah bertransformasi sebagai ruang publik yg sebagai titik temu inspirasi-pandangan baru segar menurut generasi muda Indonesia.

Fransiska Damarratri menghadirkan film Tabula Rasa dalam rubrik MEDIA kali ini, yang tidak saja menggugah selera makan, melainkan juga menggugah kesadaran kita tentang jalinan keberagaman antar tokoh yang sebetulnya representasi singkat akan identitas hidup ini serta bangsa Indonesia. Keberagaman identitas – baik budaya, logat, bahasa, serta cara berpikir – sebagaimana masakan Minang dalam film tersebut laksana sebuah syarat agar hidup ini semakin nikmat. Analogi perbedaan dalam bumbu-bumbu dan bahan makanan yang diracik sedemikian rupa hingga menghadirkan sensasi kenikmatan di lidah, maka demikian pula kiranya keberagaman dalam hidup.

Pemandu RUMAH KAIL kali ini adalah Any Sulistyowati yg akan mengajak pembaca melihat kebun KAIL yang menerapkan prinsip permakultur. Prinsip ini menekankan keragaman jenis, nir hanya tumbuhan tetapi peran menurut makhluk yang ada pada pada kebun agar bisa menjaga kualitas alam di sekitarnya. Tidak hanya soal teknis menanam, melainkan terdapat info pemanfaatan ruang supaya kebun bisa menjadi tempat bermain, dimana anak-anak sendiri berkenalan dengan kegiatan berkebun jua.

Akhir kata, terbersit asa agar para pembaca turut menyerap semangat keberagaman yang sudah menjadi nafas hidup bangsa ini selama lebih kurang 72 tahun kemerdekaannya.

Salam Bhinneka. Merdeka!

David Ardes Setiady

(Editor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *