[Media] Menengok Proyek Kebahagiaan dari Sustainable Seattle
By: Date: September 17, 2017 Categories: Uncategorized

Uang, kapal pesiar, banyak uang, uang dan keamanan di masa tua. Itulah jawaban yang keluar dari lima orang responden Amerika yang diberi pertanyaan, “Apakah yang membuatmu bahagia?”. Wawancara ini dilakukan oleh wartawan televisi King5 News di Seattle, Amerika Serikat. Ketika pertanyaan serupa diberikan oleh wartawan Aljazeera di tempat umum  di Seattle, jawaban yang muncul adalah sehat dan kemampuan untuk memberikan kembali ke masyarakat.

Meskipun kebahagiaan diinginkan secara universal, bentuk & nuansanya amatlah bervariasi secara budaya, filosofis dan sejarah. Kebahagiaan bisa berupa sesuatu yang dipercaya hura-hura budaya barat, kepuasan materi bagi warga miskin Afganistan atau kenyamanan bagi para pemeluk Budha contohnya. Dari jawaban responden pada Amerika akan pertanyaan apa yg membuatmu bahagia, uang hampir mendominasi jawaban mereka. Seolah uang berbanding lurus dengan kebahagiaan. Di banyak negara maju yang serius pada perkembangan ekonomi, begitulah hipotesisnya. Benarkah? Menurut Penncock, seseorang pakar kesehatan generik di Vancouver,

meskipun negara maju mengalami keterangan perkembangan ekonomi pada 20-25 tahun terakhir, persentase individu yg menyatakan dirinya puas menggunakan hidupnya sama saja dan bahkan menurun dalam kurun ketika yg sama. Bhutan, yg adalah keliru satu negara yg paling terisolasi & berkembang, masuk pada 10 besar negara paling senang pada global menggunakan parameter kesehatan, kesejahteraan serta akses buat pendidikan.

Kerajaan Bhutan memang pelopor untuk masalah kebahagiaan di dunia. Di tahun 1972, Bhutan menjadi negara pertama yang mengukur kemajuan negaranya menggunakan Gross National Happiness (GNH) alih-alih menggunakan Gross Domestic Product (GDP). Pusat Kajian Bhutan telah menyusun survei ilmiah yang secara holistik mendefinisikan sembilan area kebahagiaan. Kesejahteraan materi berupa uang hanyalah salah satu diantaranya. Kesejahteraan psikologis, kesehatan, keseimbangan waktu, vitalitas dan hubungan sosial, akses pada seni dan budaya, pendidikan dan pengembangan kapasitas, standar hidup, pemerintahan yang bersih serta vitali tas ekologi merupakan delapan area kebahagiaan lainnya. Raja Wangchuck diusianya yang ke-16 bahkan me ngu bah Bhutan menjadi negara republik demokratis untuk memenuhi indikator GNH ini. Survei GNH dapat memetakan kebahagiaan Bhutan dalam s uatu ukuran yang memungk inkan kebijaka n ekonomi men yeimbangkan kebutuhan spiritual dan materi sesuai dengan nilai-nilai negara yang kental dipengaruhi agama Budha. Di tahun 2011, PBB membuat kebahagiaan sebagai suatu indikator kunci untuk agenda pembangunan di seluruh dunia.

Walaupun secara etimologi kebahagiaan lebih lekat dengan keberuntungan, ilmu kebahagiaan menjelaskan tindakan memilih 40% kebahagiaan kita & bahwa kebahagiaan dapat dibuat & terbentuk pada kebiasaan. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai terlibat pada aktivitas pemicu kebahagiaan seperti meditasi, aktivisme, partisipasi budaya, dan lain sebagainya. Tak hanya di tingkatan individu; komunitas, universitas, pusat riset, pemerintah dan pula institusi mulai membangun ruang publik, profesional dan pribadi supaya tercipta kehidupan yang lebih berbahagia. Dalam perkara Bhutan, di tingkat pemerintahan sudah diciptakan ruang buat terciptanya kebahagiaan warga negaranya.

Sementara di belahan negara yg lain, suatu organisasi bernama Sustainable Seattle (S2) juga mulai mengembangkan alternatif lain selain GDP; yaitu indikator lokal kebahagiaan. Terinspirasi menurut Bhutan, S2 mencoba membuat cara lain menurut isu terkini dunia. Di tahun 1991, Sustainable Seattle menjadi organisasi pertama pada USA yg membuatkan indikator lokal kebahagiaan menjadi pilihan lain dari GDP. Saat ini Sustainable Seattle telah sebagai acum dan pandangan baru buat lebih menurut 100 kota pada Amerika dan banyak kota pada semua global. S2 diakui menjadi organisasi berkelanjutan selama lebih dari 20 tahun sejarah berdirinya.

Tahun 1993, S2 mengeluarkan set indikator keberlanjutan yang pertama. Indikator yang mengukur Masyarakat Berkelanjutan ini berbentuk laporan dengan 20 indikator yang dipelajari dengan detil. Indikator keberlanjutan ini terus berevolusi, disusul oleh set kedua yang dikeluarkan dua tahun setelahnya. S2 mengeluarkan set ketiga indikator keberlanjutan regionalnya di tahun 1998. Setelah merilis Indikator 1998, Sustainable Seattle memutuskan untuk meninjau kembali program indikator-nya. Hanya menerbitkan indikator seperti yang dilakukan di tahun 93, 95 dan 98 membuat Dewan prihatin upaya tersebut tidaklah cukup. Program yang sukses perlu melibatkan dukungan aksi oleh warga negara, bisnis dan pembuat kebijakan sehingga mempengaruhi tren yang didokumentasi oleh indikator.

Bekerja dengan indikator sendiri cukup menantang karena indikator amatlah bervariasi sebagaimana sistem yg dimonitornya. Meskipun demikian, terdapat beberapa ciri serupa yang dimiliki sang indikator yg efektif; relevan, menampilkan nilai-nilai komunitas, menarik untuk media lokal, terukur secara statistik, sanggup dipertanggungjawabkan secara ilmiah & logis, dapat diandalkan, terdepan dan relevan dengan kebijakan.

Ada dua pendekatan generik buat mengembangkan indikator buat seluruh populasi (misalnya, kota, negara, atau negara). Salah satu pendekatan bergantung pada para pakar buat memilih indikator yang sinkron untuk mengukur tren. Yang lainnya bergantung dalam pendekatan akar rumput dan terikat dalam nilai-nilai rakyat negara. Banyak program memakai kombinasi berdasarkan keterlibatan masyarakat dikombinasikan menggunakan saran menurut para pakar teknis. Dalam model Sustainable Seattle, nilai-nilai & kebutuhan rakyat negara mendorong proses tetapi data ilmiah dan metode memberikan dasar buat indikator sehingga ukuran yang dipilih bisa dimengerti dan valid.

Set indikator yang keempat baru diterbitkan sembilan tahun setelah yang ketiga. Sustainable Seattle juga menerbitkan kartu Laporan Komunitas Berkelanjutan untuk dua lingkungan (RT) sebagai proyek pilotnya. Di ulang tahunnya yang ke-20, bersama para mitranya, S2 menciptakan model Happiness Initiative dari hasil survei dan pengukuran untuk kebahagiaan serta keadilan sosial sehingga dapat direplikasi di kota manapun di Amerika. S2  terinspirasi oleh Deklarasi Kemerdekaan yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas hak yang melekat padanya, kebebasan, hidup dan mengejar kebahagiaan.”

Happiness Initiative (HI) menyediakan perangkat, bantuan teknis, pendidikan, kampanye kesadaran serta layanan untuk mendukung proyek kebahagiaan. HI menawarkan suatu cara berpikir mengenai kesejahteraan dan memulai konservasi berkelanjutan untuk semua faktor yang mempengaruhi keseja h teraan dalam hidup di komunitas, tempat kerja atau bahkan di kampus. Di bulan Juni 2011, lebih dari 7000 orang sudah mengerjakan surveinya . Survei HI mengukur kondisi dan kepuasan hidup respondennya dalam 10 area kebahagiaan. Area tersebut adalah; kesejahteraan materi, kesehatan fisik, keseimbangan waktu, kesejahteraan psikologis, pendidikan dan pembelajaran, kualitas dan vitalitas lingkungan, vitalitas budaya, pemerintahan, vitalitas komunitas, pengalaman kerja.

Hasil survey menunjukkan bahwa rata-homogen skor dari kesembilan parameter pada Seattle sama atau lebih besar daripada pada loka-tempat lain di luar Seattle. Kesejahteraan psikologis diwakili menggunakan indikator tingkat bunuh diri, kesejahteraan materi diwakili oleh GDP area metropolitan, kesehatan diwakili sang taraf obesitas, vitalitas komunitas sang laporan kekerasan, vitalitas budaya oleh persentase populasi orang non kulit tanpa cacat yg teridentifikasi, rapikan pemerintahan oleh kehadiran pemilih di pemilihan presiden yg terakhir, vitalitas ekologis sang emisi gas tempat tinggal kaca dan ekuilibrium ketika sang waktu tempuh rata-rata ke loka kerja.

S2 menunjukkan layanan berupa kuliah, seminar serta konsultasi. Donasi yang diharapkan dibedakan menurut siapa yg menjadi klien mereka. Ketika klien mereka adalah suatu kelompok mahasiswa misalnya, bantuan yg dipatok hanya sepersepuluh donasi buat klien korporasi perjamnya. Kesemua bentuk layanan S2 dalam dasarnya mencakup langkah-langkah melakukan suatu inisiatif kebahagiaan.

(Hilda Lionata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *