[OPINI] Membaca dan Berpikir Kritis
By: Date: September 18, 2017 Categories: Uncategorized

Penulis : Umbu Justin

Membaca demi memanusia

Segala sesuatu membaca. Membaca merupakan sentra eksistensi segala sesuatu, masing-masingnya dan totalitasnya. Berhenti membaca, berhenti sebagai sesuatu; berhenti mengada, hilang begitu saja ?

Salah satu syair kuno Yunani mengenai penciptaan bertutur bahwa Sang Pencipta itu, yakni Dia yg mula-mula merupakan Kata. Kata adalah bacaan.

Semesta merupakan peristiwa membaca yg tak pernah usai. Berhenti membaca, semesta pun berakhir. Daya-daya purba semesta membaca kepadatan gravitasi tak berhingga, membaca dengan suara ledakan keras, dentuman purba, big-bang, lepas memancar, meluas menciptakan ruang tak bertepi sampai kini . Semesta, cerita mengenai pembaca setia, membaca pesan intrinsik pada dirinya & membacakan lahirnya insiden-insiden baru, semesta-semesta baru, daya-daya baru, pusaran-pusaran cakram galaksi baru; berada, melenyap & berpendar mengada lagi, semesta yg terus lahir, menjadi remaja, dewasa, menua & mati menggunakan letusan cemerlang sebagai hembusan kabut gas warna-warni & kepingan-kepingan mineral, emas, perak, besi, tembaga & air raksa sebelum melapuk hanyut pada lautan luas ruang tak berbatas atau berlanjut ditarik ke pada pusaran-pusaran galaksi baru.

Terjadinya semesta tidak seperti narasi penciptaan biasa di mana sang pencipta bisa lalu menaruh karyanya di etalase, memajang di dinding atau menjualnya lalu melupakannya begitu saja. Semesta bertumbuh bagai pohon besar , meruang-luas, dan akarnya menjangkau jauh ke pada hakekatnya sendiri, menimba pesan buat terus berada dengan berevolusi memperbaharui diri.

Evolusi berarti mengatasi krisis, karena hubungan antar bentuk-bentuk lama tidak lagi aktual, perlu adaptasi dan antisipasi buat menghadirkan bentuk-bentuk interaksi baru. Membaca bagi semesta berarti tindakan menjawab krisis, berubah menuju dinamika relasional baru.

Lahirnya kehidupan, pada konteks kita, merupakan narasi beragam. Bumi memiliki kemiringan sumbu dan jarak yg pas terhadap matahari, sehingga air padanya senantiasa cair, sehingga bisa tercipta arus dan pasang-surut dampak gravitasi bulan. Pembacaan berulang kali berjuta tahun, pasang-surut, arus lautan, rotasi, revolusi, siang-malam, pergantian animo, membacakan narasi baru: pemunculan kehidupan, sebuah narasi menggunakan intrikasi tenunan sebab akibat yg sangat kompleks; berdasarkan situ tak ada yang mampu diurai, dilepaskan menjadi kalimat tunggal buat berdiri sendiri.

Dinamika semesta raya terus berubah menuju pembacaan yang semakin kompleks, berevolusi menuju kesadaran, conscientia, kehidupan berbudaya, sebuah pencapaian kesetimbangan baru dengan hadirnya mahluk berbudi bahasa…

Manusia, pengeja kesadaran, ada dari jalan panjang evolusi, berkutat membaca pesan semesta dalam dirinya: mempertahankan hayati, bersosialisasi, bermigrasi, merespon bahaya, mengatasi perseteruan & seterusnya melalui kecakapan membaca intrinsik. Pada jutaan tahun pertama, setiap pengalaman insan adalah reaksi pribadi, pada mana pengalaman konkret inheren erat dalam seluruh penginderaannya & menggunakan tubuhnya insan mengambil respon yang sinkron buat mempertahankan hayati.

Ia hadir dengan canggung sebab tubuhnya tidak ‘selengkap’ mahluk lain yang leluasa berhadapan dengan tantangan alam liar, tak berbisa, tidak ber-mimicri, tidak bertanduk atau memiliki cakar, tidak secepat , selincah yang lain. Manusia membutuhkan kecakapan sosial, kemampuan berinteraksi dalam keluarga, suku dan jaringan kebersamaan yang lebih kompleks. Manusia awal membutuhkan jenis pembacaan yang mendampingi pembacaan intrinsiknya, yakni daya baca abstrak, ekspresi dari conscientia, berupa tutur bahasa.

Beruntung insan awal berlindung dalam gua-gua alam yang menjorok ke pada perut tebing-tebing batu. Kegelapan gua sanggup ‘mematikan’ alat, melepaskan insan berdasarkan global luar yang sangat menyita perhatian. Manusia ‘melihat’ kegelapan, meraba kekosongan dan mendengarkan keheningan. Kegelapan, loka berhenti bereaksi, tempat tetirah dan mencicipi dunia lain yg lebih luas, alam batiniah, tempat roh mengambil alih daya-daya jasmani dengan dinamika yg jauh lebih beraneka warna: refleksi, khayalan dan abstraksi.

Dalam kegelapan, mimpi & khayalan menerima loka, merasuk jauh ke pada dasar batin. Pengalaman luar gua, penginderaan total yg serba konkret, muncul pulang sebagai gambar-gambar reflektif, tidak konkret, imajiner. Kegelapan gua sebagai terang paling brilian bagi insan: ruang pencerahan baru, abstraksi, khayalan, pelepasan diri berdasarkan kejasmanian menuju yang spiritual. Manusia mulai membaca dengan bahasa, reflektif, tanpa terikat pengalaman konkret global luar.

Gambar-gambar binatang & grafis perburuan di dinding gua-gua purba seperti di Altamira, adalah aktualisasi diri reflektif itu, lompatan akbar pada sejarah membaca. Kita melihat bison-bison di dinding gua berderap di padang-padang terbuka di batin kita. Imajinasi sebagai yg aktual.

Dalam gua gelap kita butuh konkretisasi pengalaman batin. Maka lahirlah gambar, simbolisasi yang melepaskan kita berdasarkan persentuhan eksklusif menggunakan dunia luar dan sekaligus mengkonkretkan dunia batin. Simbol tidak terikat pada fenomena namun simbol mampu mengarahkan respon manusia buat mengatasi krisis dalam situasi nyata menggunakan lebih berkala. Simbol menyimpan fenomena dengan lebih aktual dibandingkan menggunakan peristiwanya sendiri. Simbol bison di dinding gua menyimpan dan menghadirkan kesan tentang seluruh bison di padang mana pun, yang sudah ada atau pun yang belum terdapat. Bagi para pemburu purba, gambar bison itu adalah seruan panggilan buat menghadirkan kembali perburuan kawanan bison itu pada saatnya, sebuah ujud pengharapan, doa atau mantra.

Sebelumnya kecerdasan membaca hanya berlangsung secara intrinsik, genealogis, pada riwayat biologis badan kita, misalnya dalam tubuh yg berjalan tegak, penglihatan panoramik, tangan yang bebas buat sanggup membentuk peralatan. Sementara abstraksi merupakan daya membaca yang baru, kita dapat berbahasa, menciptakan simbol-simbol dan indikasi-pertanda, memberi nama dalam sesuatu, generalisasi, menghitung, menyimpulkan dan membuat prediksi. Yang terpenting, kita bisa membahasakan pengalaman supaya pengalaman itu dapat direka-ulang, diceritakan pulang.

Kemampuan menceritakan kembali, menghadirkan pengalaman nyata atau imajiner, merupakan perayaan sosial yg dulu sangat dihargai. Di kurang lebih api unggun, pada bawah fresko bison dan kuda-kuda purba warna-warni ataupun di ekspresi gua, di bawah selimut bintang-bintang kekal, nenek moyang kita mendengarkan shaman atau tetua bercerita tentang riwayat kehidupan. Saat inilah daya membaca kita merumuskan arah & orientasi baru, yakni kebebasan & kreativitas yang benar-benar hidup menurut global batin kita. Membaca menggunakan bahasa menciptakan hayati nir terikat pada urusan respon demi keamanan fisik, nafsu, makan atau kelaparan. Membaca sebagai perayaan, menjadi representasi kemanusiaan yang berbudi bahasa. Hidup datang-datang sebagai lebih luas menurut sekedar keberlangsungannya.

Kita mungkin lupa dalam daya baca intrinsik yg tersimpan pada memori jasmani kita, tetapi kita sudah mengangkat memori itu ke dalam daya ungkap bahasa & melahirkannya menjadi budaya. Beribu-ribu tahun selesainya barah unggun pada bawah fresko kawanan bison dan ringkik kuda purba, bahasa sudah sebagai semakin kompleks. Semesta permanen membaca secara bergerak maju, bintang-bintang dan galaksi besar -kecil masih mengalir deras, meruang dalam arus sungai penciptaan yang tak pernah mati, & pilihan terhadap manusia sebagai mahluk simbolik atau mahluk berakal budi sebagai narasi yg paling menakjubkan.

Membaca Kritis : Antara Alice dan Pinocchio

Kita tidak pernah sanggup membaca hal yang sama dua kali tetapi kita selalu membaca buat mencari tahu mengenai satu hal saja, yakni kebenaran eksistensi kita.

"Segala sesuatu mengalir, seluruh berlalu", kata Heraclitus, filsuf berdasarkan kota Efesus, Yunani kuno, "kita tidak pernah bisa menginjakkan kaki di sungai yg sama."

Yang tak berubah merupakan perubahan itu sendiri…

Parmenides, filsuf Yunani antik dari Elea membaca bahwa semesta nir dapat berubah, hanya kesan dalam kita saja yang berubah, seluruh hal sama saja, pada balik tampilan yang bervariasi & berubah-ubah, terdapat hanya yang sama senantiasa.

Kita hidup saat ini, lebih dari 2500 tahun setelah Heraclitus dan Parmenides, di antara kedua kutub tersebut, antara mengejar perubahan yang sedemikian cepat dan kecenderungan untuk mempertahankan kenyamanan, keyakinan, nilai, kebenaran, dogma dan seluruh kehidupan. Dan dengan terjebak di antara kedua kutub tersebut kita sama sekali tidak sempat membaca dengan benar. Pada kutub Heraclitus, pembela perubahan, kita dikepung oleh tuntutan untuk meng-update pengetahuan dan cara hidup. Pengetahuan kita menjadi sangat ephemeral, berumur pendek, gampang kadaluarsa. Kita mengejar percepatan dengan bekerja lebih efisien, lebih mudah, lebih singkat namun tetap tak terpuaskan. Meski akses pada pengetahuan menjadi sangat mudah,semua menjadi tidak bernilai, tak sempat berakar, hati kita terganggu untuk mengejar percepatan.

Di kutub Parmenides, pembela kemapanan, lantaran hati kita goyah dan was-was, takut dalam arus perubahan yang menyapu seluruh milik kita, maka kita menegaskan kemurnian iman, keyakinan, norma norma, nilai-nilai dan dogma-dogma menantang semua percepatan perubahan.

Mari kita kembali ke gua-gua purba kita, ketika kegelapan membutakan mata kita dan membuka mata batin kita, memandang gambar-gambar polychromos: bison-bison dan kuda-kuda yang berlarian di savana hati kita, mencari keniscayaan jadinya suatu lingkupan dunia yang sungguh bisa dilepaskan dari gejala badaniah kita kita melalui proses kebahasaan. Bison di dinding gua, apakah ia sungguh mewakili semua bison yang pernah ada, yang akan ada, bison dari tanah liat, atau awan berbentuk bison di mata kanak-kanak dan semua yang kita anggap bison? Sebuah gambar, sebuah simbol, sebuah kata, sebuah nama, apakah sungguh menunjuk pada realitasnya?

Filsuf Plato pada dialognya yg terkenal ‘Cratylus’ berkata: "Dalam istilah Mawar, terkandung seluruh mawar?" Dalam istilah Nil, membentang seluruh alur-aliran sungai akbar tadi, semua keloknya yang mengukir tanah tandus afrika utara, semua bangsa yg mengikatkan sejarah mereka pada kesuburannya & ada tenggelamnya dinasti-dinasti perkasa pembangun piramida. Sebuah istilah, benar-benar penuh daya cipta menakjubkan. Maka bahasa merupakan mantra pemanggil dunia dan setiap buku merupakan semesta yang siap dilahirkan.

Namun pada balik keajaiban istilah, nama, gambar, simbol, masih ada sebuah dinamika kontras, meski mengikat & menghadirkan realitas, bahasa pun ternyata segera memisahkan insan menurut semesta. Di luar gua manusia berhadapan dengan kesamaan pragmatis, buat menjamin keberlangsungannya, insan membutuhkan jeda yang memadai terhadap semesta, buat sanggup menghindari ketak-terdugaan insiden, dan mengendalikan kejadian-kejadian, menciptakan prediksi, membuat perencanaan supaya hanya yg diinginkan yg sanggup menjelma sebagai insiden. Manusia memisahkan diri dari totalitas semesta, sebagai individu dengan membangun lingkungan yg mampu dikendalikan. Caranya merupakan menggunakan menciptakan bahasa menjadi sebuah instrumen. Gambar & simbol disederhanakan sebagai goresan pena dan indikasi. Lambang-lambang fragmental segera menjadi pengubah cara hayati. Manusia berani keluar gua, membangun kota dan peradaban, mengubah semesta menjadi landskap tekstual yg sanggup dibaca, dikendalikan dan ditata.

Manusia berkebudayaan telah mengubah pengalaman membaca yang intuitif dalam gua-gua menjadi instrumen komunikasi. Membaca kemudian kehilangan spontanitasnya, pula kehilangan kekuatan intuitifnya yang sanggup memanggil semesta. Masyarakat bukanlah kelompok pemburu gua yg berkumpul di sekeliling api unggun. Masyarakat dibangun sang daya-daya artifisial, agama, politik, kebudayaan, kenangan-kenangan akan peperangan, batas-batas geografis, kepentingan-kepentingan ideologis, ekonomi, konstitusi, dengan konsekuensi yg efektif menafikan nilai individu. Konstituen warga bukanlah individu melainkan daya-daya artifisial tadi. Individu wajib mampu membaca, menginternalisasi daya-daya artifisal tersebut buat mampu terhindar menurut ketiadaan; suatu ketiadaan artifisial, non person, kehilangan pengakuan jika individu nir bisa membaca teks konstituen rakyat: kepercayaan , politik, ideologi & seterusnya.

Membaca yg sebenarnya

Alberto Manguel yang memperkenalkan dirinya sebagai pembaca, menulis tentang perbedaan antara Pinocchio (Collodi 1883) dan Alice (Lewis Carroll, 1865) dalam membaca. Pinocchio boneka kayu miskin namun bercita-cita tinggi dengan segala nasib buruknya ia berusaha bersekolah supaya bisa membaca dan pada gilirannya bisa hidup layak dan diakui resmi dalam masyarakat. Alice di lain pihak adalah gadis kecil yang bertualang karena rasa penasaran yang kuat terhadap kelinci sedang bergegas. Petualangan Pinocchio tidak menyuguhkan cerita tentang pengalaman membaca selain prestasi belajarnya yang baik dan membuat teman-temannya iri hati. Alice sebaliknya berkutat dengan pengalaman eksistensial tentang kebenaran dan realitas dirinya akibat permainan makna kata dan tutur bahasa yang begitu majemuk, non-singular dan tidak stabil.

Pinocchio mewakili hampir semua anak korban metodologi pembelajaran saat ini, yakni sekadar buat melaksanakan transfer ilmu pengetahuan. Kita bersekolah & merogoh spesialisasi buat mampu membaca menggunakan keterampilan tertentu & menerima peran yang sesuai dalam warga . Menjadi kampiun, memenangkan medali olimpiade matematika atau fisika merupakan kemewahan yang sangat diharapkan orang tua pada anaknya. Pinocchio yg sebagai brutal & nakal lalu mengalami banyak sekali nasib tidak baik lantaran menghindari sekolah yg memberi pesan moral untuk beretika terpelajar dalam anak-anak.

Kisah Alice di lain pihak menggemakan kembali pengalaman kebahasaan yang sangat imajinatif pada pada gua-gua purba nenek moyang kita. Berbahasa adalah berdaya cipta, berkreasi, bermain dengan pengalaman, berbagi kekayaan batin dan memperkaya ruang-ruang simbolik pada dalam kehidupan.

Bagi Pinochio, membaca adalah mengeja tanda, lambang-lambang yg diturunkan warga ke kitab -kitab sekolah agar ia bisa menjadi seperti yang dibutuhkan, sebagai person, langsung yg diterima pada warga .

Bagi Alice, membaca itu intuitif, menebak, mencari pada kegelapan gua loka bahasa dilahirkan. Membaca bukanlah buat menjadi individu pandai , berkepribadian dan terpelajar, melainkan buat bermain dengan semesta, menemukan kembali imajinasi, mencari makna-makna yang tak terhingga di balik istilah-kata berdaya cipta. Alice tidak memperoleh tugas apapun buat menjadi anak insan, tidak misalnya Pinocchio. Membaca berarti berada secara spontan pada hadapan rahasia semesta.

Ketegangan antara global Parmenides & global Heraclitus, kecemasan akan runtuhnya nilai-nilai dampak perubahan pesat, merupakan kecemasan masyarakat. Membaca ala Pinocchio akan menenangkan rakyat namun merugikan humanitas yang bebas. Membaca misalnya Alice, adalah menelusuri daya naratif humanitas kita. Manusia bukanlah elemen ideologis, pion agama, unsur kebudayaan atau obyek ekonomi yang membangun warga . Manusia itu, tiap-tiap kita adalah sebuah kitab , narasi, dinamis & berharga menjadi bacaan yang senantiasa baru. Individu deskriptif inilah yang mengatasi polemik Heraclitus & Parmenides. Narasi senantiasa berubah dan senantiasa mengenai kebenaran eksistensi kita dalam semesta.

Caption :

Siapa engkau..

realitas diri dan semesta yang senantiasa berubah..

metamorphing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *