[OPINI] Plus Minus Asuransi Kesehatan
By: Date: September 21, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh David Ardes Setiady

Gambar diambil menurut http://www.Kesehatanmasyarakat.Berita/?P=338

Sekarang ini tentu kita telah tidak asing lagi menggunakan produk premi kesehatan. Berbagai perusahaan iuran pertanggungan memperlihatkan produk iuran pertanggungan kesehatan dengan macam-macam fitur yang pada pada dasarnya menunjukkan kemudahan & jaminan ketika mengakses layanan kesehatan. Mengapa iuran pertanggungan kesehatan beredar? Dan apa itu asuransi kesehatan?

Asuransi kesehatan muncul ketika biaya kesehatan menjadi mahal. Membengkaknya biaya kesehatan menjadi momok yang mengerikan bagi siapapun. Maksud hati berobat untuk sembuh, namun ketika mendapati biaya berobat melebihi kemampuan untuk membayar, maka penyakit lain malah bertambah. Dunia kesehatan Indonesia, beberapa waktu terakhir ini, menampilkan kasus-kasus yang menyedihkan. Salah satunya adalah peristiwa dibuangnya pasien miskin di RSUD Lampung, alasan yang diketahui adalah pasien tersebut tidak mampu membayar biaya pengobatan yang diterimanya. Mundur ke tahun 2012, seorang pemulung harus merelakan putrinya terkena muntaber hingga menghembuskan nafas terakhirnya, alasannya tidak mampu membayar biaya pengobatan ke puskesmas. Kedua cerita itu hanya sepotong kecil dari situasi dunia kesehatan yang kadang begitu kejam membiarkan nyawa manusia melayang karena tidak mampu membayar. Atas dasar hal itulah, asuransi kesehatan makin menancapkan kehadirannya di tengah masyarakat.

Asuransi kesehatan pada dasarnya seperti produk asuransi lainnya, yakni memberikan jaminan perlindungan dalam dunia kesehatan. Artinya bilamana terjadi sesuatu  secara tidak terduga pada kesehatan kita, asuransi akan menggantikan biaya kesehatan yang dikeluarkan akibat penyakit yang diderita. Biaya yang digantikan ini tidak berlaku sama untuk semua produk asuransi kesehatan, melainkan tergantung jenis dan kebijakan dari perusahaan penyedianya. Ada yang menawarkan penggantian secara penuh, ada yang  memasang batas maksimal penggantian sehingga apabila biaya yang dikeluarkan melebihi batas, pasien pengguna asuransi kesehatan harus mengeluarkan biaya sisanya.

Umumnya, untuk asuransi kesehatan,  perusahaan-perusahaan penyedia asuransi kesehatan bekerja sama dengan pihak rumah sakit. Hal ini berhubungan dengan pengaturan pembiayaan bagi pemegang polis asuransi kesehatan, karena bila tidak ada kerjasama, beberapa rumah sakit akan mengharuskan pasien untuk membayar biaya pengobatan atau bahkan menolak pasien tersebut. Sementara dari pihak perusahaan asuransi, cenderung  mengarahkan pemegang polis untuk berobat ke rumah sakit yang sudah memiliki jaringan dengan mereka. Hal ini kadang menyulitkan pemegang polis terutama terkait dengan lokasi rumah sakit yang dimaksud.

Penulis pernah melihat pengalaman seseorang teman menurut Swedia yg kebetulan mampir ke Indonesia. Teman tersebut mengalami semacam masuk angin, tetapi karena tidak biasa mengalaminya, dia masuk rumah sakit buat mencari tahu apa yang terjadi padanya. Sebelum masuk ke tempat tinggal sakit, beliau wajib memastikan bahwa tempat tinggal sakit yg akan dikunjungi masuk pada kategori tempat tinggal sakit yang akan ditanggung oleh premi yg diikutinya. Setelah menerima kepastian, barulah beliau berobat di rumah sakit itu.

Gambar diambil dari http://www.asuransi-kesehatan.org/wp-content/uploads/2010/12/asuransi-kesehatan-terbaik.jpg

Bayangkan, bila kita membeli asuransi, lalu dalam suatu keadaan yang mendesak kita harus pergi ke sebuah kota yang rumah sakitnya tidak memiliki jaringan dengan perusahaan penyedia asuransi tersebut. Apakah kita harus terbang ke kota lain yang memiliki rumah sakit yang berjaringan dengan perusahaan asuransi tersebut? Kalau penyakitnya ringan, mungkin masih sempat. Tapi bagaimana kalau penyakit berat atau bahkan penyakit yang bisa mencabut nyawa kita? Tentu sangat merepotkan.

Asuransi kesehatan, pada sistem yang berlaku kini ini, menaruh keringanan pada biaya pengobatan, terlebih jika kita diharuskan buat melakukan operasi. Namun pada prakteknya, perusahaan premi selalu mensyaratkan hal ini dia buat menjadi pemegang polis :

  1. Riwayat penyakit yang diderita; semakin panjang daftar penyakit yang pernah kita derita, semakin kecil kemungkinan kita dapat menjadi pemegang polis asuransi.
  2.  Penghasilan; ini bukan syarat yang diajukan oleh asuransi secara tertulis, namun dari kewajiban menyetor sejumlah uang untuk membeli polis asuransi, maka penghasilan adalah syarat yang penting.

Jadi katakanlah, bila kita cukup sehat buat sebagai pemegang polis iuran pertanggungan, namun bila tidak mempunyai penghasilan yg mencukupi, maka kita nir sanggup memiliki premi kesehatan. Sementara bila kita memiliki penghasilan yang lebih dari cukup, tapi jika sejarah penyakit yg pernah kita derita atau berada dalam kondisi fisik yg jelek, maka kita pun nir menerima persetujuan berdasarkan perusahaan asuransi buat mempunyai polis. Untuk itu, supaya dapat mempunyai sebuah polis iuran pertanggungan, ke 2 kondisi tersebut harus dipenuhi.

Selain kondisi yg telah disebutkan di atas, perusahaan premi juga melihat faktor usia yang akan mempengaruhi besarnya polis yang wajib dibayarkan. Logika yg mendasari adalah semakin tua usia seseorang, mereka dilihat mempunyai kerentanan terhadap penyakit sebagai akibatnya kemungkinan besar akan tertimpa resiko terhadap penyakit. Dengan syarat demikian, perusahaan iuran pertanggungan akan mengeluarkan uang cukup banyak untuk mengklaim resiko yang ditanggung sang pemegang polis. Maka kompromi yang dilakukan adalah menggunakan menaikkan harga polis.

Kecenderungan umum yg terjadi adalah perusahaan premi selalu menunjukkan produk asuransi kesehatan pada orang-orang yang sehat. Hal ini dikarenakan perusahaan asuransi ingin orang menyimpan uang dalam bentuk polis & dalam jangka waktu yg cukup panjang nir menggunakannya. Semakin jarang seseorang pemegang polis sakit pada rentang pelunasan polisnya, maka uang yg ditanamkan akan relatif akbar buat diputar ke pada usaha yang lain. Sementara kebalikannya, bila seseorang pemegang polis beberapa kali sakit atau mengalami sakit yang parah, maka perusahaan asuransi wajib mengeluarkan porto yg relatif akbar buat menanggung pengobatannya. Tentu, menjadi sebuah perusahaan pada paradigma usaha, maka yg diupayakan merupakan mengumpulkan uang sebesar-banyaknya.

Sementara pengelolaan dana iuran pertanggungan kesehatan pada dasarnya memakai prinsip subsidi silang. Penjelasannya ini dia, iuran pertanggungan kesehatan memiliki rentang saat pembayaran polis, rata-homogen 10 tahun lamanya. Pemegang polis diwajibkan buat membayar polis iuran pertanggungan dalam kurun waktu tadi setiap bulan. Di sini, tergantung kebijakan perusahaan asuransi pada mengaktifkan perlindungannya. Ada yg langsung mengaktifkan proteksi terhadap pemegang polis, yang ialah setelah pemegang polis melakukan pembayaran dalam bulan pertama lalu tertimpa penyakit, maka perusahaan asuransi akan menanggung porto pengobatan sinkron dengan kesepakatan . Ada jua yg mensyaratkan bahwa perlindungan hanya terbatas dalam penyakit eksklusif, misalnya operasi nir ditanggung. Hal demikian tergantung pada kebijakan premi & hal itu juga bergantung pada model bisnis yang dibangun sang perusahaan bersangkutan.

Bagaimanapun modelnya, secara prinsip, mereka yang tidak pernah sakit akan digunakan dananya untuk menanggung yang sakit. Apabila dananya tidak dipergunakan dalam rentang waktu tertentu, maka dananya akan diputar dalam instrumen keuangan yang lain agar menghasilkan profit bagi perusahaan tersebut. Profit tersebut yang kemudian digunakan untuk membayar ongkos operasional dan menggaji para staf. Dulu, pernah ada kasus yang membuat trauma masyarakat Indonesia di tahun 1990-an, di mana asuransi kesehatan akan hangus bila tidak digunakan. Kebijakan ini dibuat oleh Perusahaan Asuransi Bumiputera. Dampak yang dihasilkan cukup membekas di hati para korban sehingga mereka alergi untuk mendengar kata ‘asuransi’. Persoalannya adalah polis yang dibayarkan tidak dapat dicairkan kembali setelah masa  pertanggungan berlalu. Polis yang hangus kemudian menjadi hak perusahaan asuransi.Kondisi ini yang menyebabkan para pemegang polis merasa dirugikan.

Dalam kondisi sekarang, hal tersebut tidak  berlaku lagi, yakni ketika polis telah jatuh tempo, dana yang telah dikumpulkan dapat dicairkan kembali. Bahkan beberapa perusahaan memberikan bonus kepada pemegang polis, bila selama masa pertanggungan tidak pernah terjadi kerugian. Kondisi ini mungkin bisa dikatakan sebagai hasil pembelajaran para perusahaan asuransi, atau strategi pemasaran yang dilakukan untuk menarik para nasabah. Jadi, bila kita membeli polis asuransi, maka kita tidak perlu kuatir bahwa polis akan hangus.

Sebagai penutup, asuransi kesehatan bagi beberapa orang merupakan pilihan yg paling masuk akal dalam mengamankan hidup, mempertimbangkan porto kesehatan yg mahal. Di sisi lain, pada sistem keuangan yang berlaku saat ini di mana segalanya bertumpu pada uang, maka menekan pengeluaran keuangan pada jangka panjang melalui pembelian polis sebagai sangat wajar juga. Namun, yang perlu disadari pada membeli iuran pertanggungan kesehatan merupakan pola hidup kita sendiri. Selama pola hayati yang kita miliki seimbang, antara apa yg kita makan & keluarkan, maka kita nir perlu kuatir akan menderita sakit parah sebagai akibatnya nantinya biaya pengobatan menjadi mahal. Maka kiranya tidak arif jika kita merogoh keputusan membeli asuransi kesehatan karena kekuatiran belaka. Kita harus memikirkan dengan nalar sehat & sadar bahwa asuransi kesehatan adalah instrumen pendukung pada kehidupan masa sekarang buat memudahkan kehidupan keuangan masa kini .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *