[Media] Resensi Film: DARI BENCANA MENUJU KREATIVITAS
By: Date: September 24, 2017 Categories: Uncategorized

Judul : From Disaster To Creativity (Dari Bencana Menuju Kreativitas)

Produksi: GROOTs International

Durasi : 15 mnt

Bencana! Kita, rakyat Indonesia tentu telah sangat akrab menggunakan kata tersebut. Bahkan buat warga pada beberapa wilayah, istilah itu sebagai momok yg seram dan juga menyebabkan stress berat. Ya, negara kita memang sering sekali terkena bencana, entah itu tsunami, gunung meletus, badai, gempa, banjir, tanah longsor, dll. Walaupun demikian, tentunya kita tidak boleh larut dalam kesedihan, yg hanya akan membuat kita berputus asa menghadapi masa depan.

Kita tidak sendiri. Bukan Indonesia saja yang pernah mengalami bencana. Honduras, Turki dan India adalah contoh negara-negara yang juga pernah terkena bencana. Namun mereka, khususnya para perempuan di sana, tidak tinggal diam, tidak berpangku tangan saja. Para perempuan juga ambil bagian, para perempuan membangun kembali kehidupan mereka paska bencana. Hal tersebut didokumentasikan oleh GROOTs, sebuah LSM internasional yang peduliterhadap permasalahan perempuan akar rumput di seluruh dunia, ke dalam sebuah film pendek yang diberi judul From Disaster To Creativity / Dari Bencana Menuju Kreativitas”.

Film ini dibentuk GROOTs 2 atau tiga tahun sehabis bencana terjadi. Film ini terbagi atas beberapa bagian. Bagian pertama menggambarkan tentang bala dan dampaknya pada Honduras, Turki & India. Pada tahun 1998, Honduras mengalami badai & kurang lebih 9000 orang mati & ribuan orang luka-luka. Berikutnya digambarkan mengenai gempa yang berkekuatan 7,6 skala richter pada Turki dalam 17 Agustus 1999, yang mengakibatkan 17 000 orang mati, 44 000 terluka & 250 000 kehilangan tempat tinggal . Kemudian, digambarkan mengenai bencana di Gujarat, India. Gempa di sana mengakibatkan 20 000 orang mati, 267 000 terluka dan 600 000 kehilangan loka tinggal. Selain impak fisik, para korban yg selamat juga harus menghadapi masalah sanitasi yg jelek, hayati di tenda sementara yang memprihatinkan buat beberapa bulan, kesehatan & kuliner yg tidak baik.

Di bagian berikutnya, terlihat bagaimana para korban, terutama wanita, sesudah bencana bangkit & mulai menata hidup mereka kembali. Pada saat sehabis bala, banyak sekali bantuan yg tiba dan terdapat ketidakadilan pada pembagian bantuan, donasi yg keliru target, tidak tepat ketika & tidak sesuai menggunakan kebutuhan mereka. Ditambah lagi, bantuan-donasi itu tidak berlangsung usang. Menyikapi hal ini, para wanita pun mengorganisir diri mereka sendiri untuk menghadapi banyak sekali kasus tersebut. Mereka membangun grup tabungan, grup simpan pinjam, mendirikan sentra aktivitas perempuan , tempat penitipan anak, dll.

Pada bagian ketiga, film ini menerangkan cara-cara yang diambil oleh komunitas-komunitas wanita agar mereka sanggup kondusif apabila nantinya terdapat bencana lagi (tindakan-tindakan antisipatif yang mereka lakukan). Di Turki, mereka meminta berita kepada pemerintah mengenai bagaimana cara menciptakan tempat tinggal yg tahan gempa. Setelah itu, mereka berjalan keliling kampung buat mengontrol kualitas tempat tinggal -rumah yg sedang dibangun, sudah tahan gempa atau nir. Di Honduras, komunitas perempuan mencoba mengajak masyarakat lain buat pindah ke wilayah yg lebih tinggi, karena mereka selalu was-was akan terkena bala apabila tetap tinggal pada wilayah yg rendah.

Bagian terakhir film ini, menampakan perubahan-perubahan apa yg diperlukan supaya komunitas-komunitas perempuan mampu bertahan. Langkah awal adalah, wanita harus belajar dari komunitas perempuan lain, misalnya Turki belajar berdasarkan India. Dengan kata lain, terlihat bahwa ternyata wanita bisa berperan banyak pada proses penanganan bala.Namun, kiprah wanita itu nir terjadi secara alamiah, tidak secara otomatis, perlu adanya pertukaran pengalaman dan pengetahuan.

Film yg memperlihatkan keberhasilan-keberhasilan komunitas wanita pada Turki, India & Honduras ini, kiranya mampu dijadikan menjadi media buat proses pembelajaran bagi yg lain, bagi komunitas-komunitas wanita di Indonesia misalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *