[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO. 22 / APRIL 2019
By: Date: October 7, 2017 Categories: Uncategorized

Salam Transformasi!

Pro:aktif Online kembali hadir di tengah pembaca sekalian. Dalam edisi kali ini, KAIL membawakan tema “Ekonomi Baru: Peluang dan Tantangannya”. Ekonomi secara bahasa berakar dari Bahasa Yunani “oikonomia” yang berarti seni mengatur rumah tangga. Mengatur rumah tangga di sini, erat kaitannya dengan pengaturan sumberdaya, yang bertujuan agar manusia memperoleh kesejahteraan. Namun demikian, upaya manusia untuk memperoleh kesejahteraan tersebut bergeser hingga akhirnya sistem ekonomi dipandang sebatas pada perdagangan, hal-hal terkait dengan uang, maupun usaha eksploitasi sumber daya materi.

Ekonomi di masa kini mengalami bentuk baru yang ditopang oleh kemajuan di bidang teknologi informasi atau komunikasi atau yang lebih sering kita kenal dengan istilah dikenal sebagai ekonomi digital. Ekonomi digital ini menjadi menarik karena sifatnya yang mengganggu (bahasa kerennya disrupt) semua bentuk praktik ekonomi konvensional. Hampir semua aspek kehidupan kita sehari-hari pun terpapar oleh teknologi digital. Dalam abad yang disebut sebagai abad disrupsi (the age of disruption), diktum yang beredar adalah terdigitalisasi atau terlindas zaman.

Begitu masifnya pengaruh yang ditimbulkan sang inovasi-penemuan teknologi ini, beberapa pihak bahkan hingga menyebutkan bahwa kita tengah berada di pada sebuah awal menurut masa yang baru. Sesuatu yang oleh beberapa pihak dianggap sebagai revolusi industri 4.0. Dengan penemuan teknologi-teknologi baru di bidang warta dan komunikasi misalnya IoT, AI, hingga Blockchain, revolusi industri ini akan ditandai sang terkoneksinya semua hal, dari mulai manusia, benda, hingga personal komputer . Hal inilah yg menciptakan Klaus Schwab, keliru satu co-founder berdasarkan World Economic Forum dan juga pemopuler kata ini, mendefinisikan revolusi industri 4.0 sebagai mengaburnya batas-batas antara global digital, dunia fisik, dan dunia biologis.

Merasuknya teknologi informasi dan komunikasi di semua lini kehidupan pun membawa dampak yang cukup signifikan, terutama bagi ekonomi. Dengan semua aspek kehidupan yang kini dapat terhubung dengan internet, jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah nilai dalam aktivitas ekonomi pun dapat dipangkas menjadi sangat kecil. Bahkan Jeremy Rifkin, seorang ekonom dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa kita kini berada di dalam zero marginal cost society, sebuah masyarakat dimana marginal cost, biaya yang ditambahkan kepada biaya total dalam memproduksi sebuah produk (jasa atau barang) karena diproduksi secara massal (lebih dari satu), mulai jatuh mendekati angka nol.

Namun hilangnya biaya jeda & waktu tersebut juga mengakibatkan hal yg tidak dapat kita duga. Kita mencicipi bahwa roda ekonomi berputar begitu cepat. Hal ini membuat apa yg kita kira sebagai praktik umum ekonomi di masa kini bisa berubah hanya pada saat satu pekan bahkan kurang. Hal ini membuat kita merasa kebingungan dan tidak dapat menerka, sesungguhnya kemana bergeraknya roda ekonomi digital ini? Apakah tengah membuat dunia sebagai tempat yang lebih baik, atau kebalikannya?

—-

Untuk tahu hal tadi, maka dalam Pro:aktif kali ini, Angga Dwiartama akan mengajak kita secara bersama-sama buat tahu apa makna sesungguhnya berdasarkan istilah revolusi industri 4.0 pada Rubrik PIKIR. Pada Rubrik ini, Angga akan mengupas secara tuntas apa sesungguhnya yg diklaim dengan revolusi industri 4.0 itu, bagaimana dia berdampak pada hayati kita sehari-hari, hingga bagaimana kita seharusnya menyikapi kata ini dengan bijak.

Setelah itu, pada Rubrik MASALAH KITA, Achmad Assifa akan mengajak kita memahami bagaimana ekonomi digital merubah struktur dasar aktivitas ekonomi kita menjadi sebuah model ekonomi yang disebut sebagai Gig Economy. Gig Economy adalah sebuah model ekonomi dimana hubungan antara pekerja dan majikan bersifat fleksibel dalam hal ruang dan waktu. Hal ini dimungkinkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sendiri yang membuat kita dapat bekerja kapan saja dan dimana saja. Meskipun memberikan banyak kemudahan baik bagi para pekerja, yang dicirikan oleh mulai menjamurnya jenis pekerja lepasan (freelancer), menurut Sifa model ekonomi yang dipopuleri oleh Uber dan AirBnB ini  ternyata menghasilkan beragam permasalahannya sendiri.

Sementara buat Rubrik OPINI, Pro:aktif kali ini akan diisi oleh M. Sena Luphdika yang akan membahas mengenai akar permasalahan berdasarkan ketimpangan pada sistem ekonomi yg berjalan ketika ini. Dari sana Sena akan membahas tentang keliru satu kemungkinan jalan keluar yg ternyata sudah berada di Indonesia relatif usang, yaitu contoh ekonomi koperasi. Di sini pula Sena akan membahas mengapa koperasi itu menjadi salahsatu jalan keluar yang paling mungkin serta contoh-model konkret keberhasilan berdasarkan model koperasi pada semua global.

Pada Rubrik TIPS kali ini kita akan mendapati bagaimana tips dan trik untuk membuat pikiran yang lebih sehat melalui teknik KonMari dari Aristogama. Teknik yang dipopulerkan oleh Marie Kondo ini terbukti menjadi sangat penting karena di zaman yang serba cepat dan baru ini, manusia semakin berperilaku konsumtif dan sangat bergantung produk-produk tertentu. Teknik KonMari mampu menjernihkan manusia dari segala perilaku konsumtif dan kemelekatan terhadap produk tertentu.  Gamma, menceritakan melalui pengalamannya dalam mempelajari teknik KonMari, berbagi kepada kita bahwa ternyata dengan secara sadar menyadari “kemelekatan” psikologis yang ada pada diri kita terhadap barang-barang kita, kita secara perlahan juga dapat mulai kembali menjernihkan pikiran kita dari segala kecenderungan kita untuk selalu membeli atau berbelanja. Kesadaran ini tentu merupakan langkah awal menuju pada kemandirian ekonomi.

Pada Rubrik PROFIL, Jeremia Manurung mewawancarai Sena Luphdika yang merupakan salah satu co-founder serta CEO dari perusahaan start-up digital bernama Meridian.id yang juga merupakan seorang pegiat koperasi. Dalam wawancaranya kali ini, Jeremia memperlihatkan kepada kita bagaimana perjalanan Sena yang tidak puas dengan ketidakadilan yang terjadi dalam dunia start-up digital dan sistem ekonomi secara umum membawanya kepada ide mengenai koperasi. Tidak saja terbatas pada sekedar ide, dalam wawancaranya kali ini juga Jeremia memperlihatkan bagaimana Sena mulai menerapkan ide mengenai koperasi tersebut menjadi sebuah aksi nyata yang bisa dimulai dari hal yang kecil yang berada di sekitar kehidupan kita sehari-hari.

Rubrik MEDIA akan dibawakan sang Fransiska Damarratri yang akan membahas bagaimana sesungguhnya praktik di belakang sistem ekonomi yang membentuk krisis 2008 pada Amerika Serikat dalam film The Big Short. Dalam reviewnya kali ini Siska akan mengulas bagaimana film ini menunjukan kepada kita cara kerja sesungguhnya menurut mesin ekonomi yang berjalan di dunia dalam umumnya dan Amerika Serikat khususnya. Selain itu Siska pula membahas bagaimana praktik-praktik pada belakang sistem ini berdampak secara negatif terhadap ekonomi dan kehidupan kita sehari-hari.

Pada Rubrik JALAN-JALAN kali ini, kita akan dibawa oleh Sally Anom melalui pengalamannya untuk berkunjung ke Suku Baduy Dalam. Dalam perenungannya yang mendalam ini mengenai cara hidup masyarakat Baduy Dalam, Sally memberikan kita perspektif yang segar mengenai cara hidup masyarakat tersebut dalam melakukan praktik ekonomi. Di sana Sally menceritakan bagaimana kegiatan ekonomi dari suku Baduy dalam yang bertumpu kepada azas hidup secukupnya serta  menjaga kelestarian alam sehingga dalam kegiatan transaksi mereka jarang sekali untuk menggunakan uang. Salah satu perspektif yang segar yang dapat membantu kita untuk merenungi bagaimana praktik ekonomi alternatif yang mungkin bagi sistem yang berjalan sekarang ini.

Sebagai penutup, dalam Rubrik RUMAH KAIL kali ini Any Sulistyowati akan membagikan bagaimana pengalaman KAIL dalam menciptakan kemandirian ekonomi melalui aktivitas berkebun di program Hari Belajar Anak atau disingkat HBA. Melalui aktivitas berkebun pada HBA, KAIL berusaha buat membangun kemandirian ekonomi yang dimulai menggunakan memupuk kesadaran bahwa berkebun dan mengolah pangan berdasarkan hasil kebun memampukan mereka buat menciptakan makanan sendiri dan nir bergantung berdasarkan kuliner yg dibeli dari luar. Kemandirian berdasarkan sisi pangan ini diperlukan sebagai awal dari kemandirian ekonomi. Kegiatan ini diperkenalkan kepada anak-anak, dimana harapannya sehingga waktu mereka dewasa mereka akan mulai sanggup memulai mempraktekkan kemandirian tersebut di rumah tangga masing-masing.

—-

Akhir kata, keseluruhan artikel dalam edisi ini dibutuhkan bisa menginspirasi kita semua terutama pada hal (1) memahami bagaimana sesungguhnya roda ekonomi yang ditunjang oleh perkembangan teknologi digital fakta & komunikasi ini bekerja, manfaat, peluang, dan tantangannya (dua) mengimajinasikan kemungkinan-kemungkinan menurut bentuk-bentuk praktik ekonomi yg lain; dan yang terakhir (tiga) merogoh tindakan-tindakan konkret yang bisa membuat praktik kehidupan yg ditunjang sang bentuk-bentuk ekonomi baru tersebut ke arah kesejahteraan rakyat secara lebih luas & selaras alam.

Semoga dengan diterbitkan Pro:aktif edisi baru ini kita bersama dapat lebih tahu lagi perubahan besar apa yang sesungguhnya tengah terjadi di antara kita semua yang diakibatkan oleh teknologi digital & bisa merogoh tindakan nyata sebagai akibatnya kehidupan manusia ke depannya tidak berjalan menuju ke arah yg lebih buruk melainkan berjalan ke arah yang lebih selaras dengan manusia & alam.

Tim Editor:

Kukuh Samudra

Okie Fauzi Rachman

Navita Kristi Astuti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *