[Masalah Kita] KENANGAN DARI BORNEO
By: Date: October 10, 2017 Categories: Uncategorized

Bagi para petani sendiri, perbedaan etnis itu nir terlalu sebagai perkara….

Seorang mitra mengisahkan pulang insiden pedih yg terjadi di Pulau Borneo beberapa tahun yg silam. Tinggal & aktif mendampingi para petani dari berbagai etnis di tanah kelahirannya itu, membuat Lorens turut mencicipi dan menyaksikan bagaimana kejamnya permainan beberapa kelompok kepentingan eksklusif yang ?Memanfaatkan? Keberagaman etnis di daerah itu. Bagi para petani sendiri, disparitas etnis itu nir terlalu menjadi kasus karena toh nasib mereka tetap sama.

Permasalahan yg diangkat menjadi permasalahan antar suku itu sesungguhnya adalah bagian menurut rekayasa politik.

Keinginan sejumlah oknum buat meraih kedudukan eksklusif mendorong mereka buat mencari simpati dari masyarakat. Dalam kondisi yg damai & adem, para oknum itu sulit buat mengumpulkan simpati & dukungan dari banyak orang. Ketika permasalahan itu terjadi, maka mereka sanggup datang menjadi ?Dewa Penolong? Sebagai akibatnya popularitas mereka pun semakin tinggi di mata warga .

Tidak hanya itu saja, kepentingan ekonomi pula menjadi aktor yang mengambil manfaat menurut konflik tadi. Ada persaingan antar pengusaha pada urusan pengelolaan kayu & mereka diuntungkan dengan kekisruhan yg terjadi. Saat orang-orang sibuk & panik karena perseteruan yang terjadi, mereka bisa leluasa buat menciptakan wilayah kekuasaan yg baru.

Pertarunga perebutan sumberdaya alam yg dahulu terjadi antara masyarakat adat menggunakan pemerintah, menjadi semakin rumit menggunakan masuknya perusahaan-perusahaan seperti perusahaan kelapa sawit, yang berusaha mengadu domba masyarakat. Masyarakat pun terpecah menjadi grup yg pro & kelompok yang kontra terhadap kepentingan perusahaan. Saat terjadi pertarungan, gerombolan masyarakat yang pro terhadap perusahaanlah yang dihadapkan kepada gerombolan rakyat yang kontra. Sehingga konflik yang terjadi adalah konflik antar grup masyarakat, bukan lagi perseteruan antara masyarakat menggunakan perusahaan atau pemerintah.

Pasca konflik itu terjadi, mulai timbul cacat-stigma yang melekat dalam masing-masing grup etnis misalkan kelompok A itu orang-orangnya keras, grup B itu orang-orangnya tidak mau diajak kompromi, kelompok C itu nir mau diajak rekonsiliasi sehabis permasalahan. Stigma itu pulalah yang menciptakan rakyat sebagai tersekat-sekat dan komunikasi yg tadinya berjalan dengan baik menjadi rusak. Stereotipe tersebut makin berkembang karena nir adanya pendekatan budaya & pembauran antar etnis.

Secara sosial, sangat kelihatan bahwa masyarakat sebagai terkotak-kotak. Kini orang Madura lebih terkonsentrasi pada kota-kota. Hal ini jua menimbulkan konflik baru pada hal lapangan kerja di kota. Sebelumnya mereka terbiasa menjadi petani dan kini mereka kesulitan karena wajib menyesuaikan diri lagi dengan lapangan kerja baru yang tersedia di kota, misalnya menjadi tukang becak. Orang Melayu yang tinggal di Kabupaten Sambas pun masih sulit mendapat kedatangan orang Madura pada daerah itu.

Dari sisi ekonomi, permasalahan tersebut mengakibatkan banyak infrastruktur di wilayah tadi yg rusak & poly harta benda yg hilang. Kegiatan ekonomi jua terhambat karena orang-orang menurut masing-masing etnis nir bisa melakukan kegiatan ekonomi seperti umumnya.

Rasa takut dan khawatir membuat mereka tidak berani melakukan pekerjaan yg lokasinya berdekatan dengan gerombolan etnis lain.

Secara mental, permasalahan yg jua merenggut banyak nyawa tersebut meninggalkan syok yang mendalam bagi warga . Mereka hidup dalam ketegangan dan rasa was-was, terlebih lagi jika herbi orang atau grup dari etnis lain. Anak-anak pun kini nir sanggup leluasa bermain menggunakan anak berdasarkan etnis lain.

Selama terjadi beberapa kali konflik, upaya yang dilakukan buat mereduksi, manajemen konflik dan lain-lainnya pun tidak mengakomodir masalah yg mendasar. Upaya yang dilakukan hanya sekedar upaya buat meredam situasi saja. Sehingga tidak mengherankan bila kondisi yang terbangun merupakan rekonsiliasi semu. Ditambah lagi duduk perkara nir adanya penegakan aturan & tidak tertatanya manajemen pertarungan ditingkat basis, telah menebar peluang & situasi laten permasalahan.

Sedemikian kuat & besarnya pengaruh yg diakibatkan sang permainan kepentingan segelintir orang yang mampu merenggut kedamaian berdasarkan kehidupan yang plural. Keberagaman yg seharusnya indah dan serasi itu telah dibalikkan sebagai senjata yang menghancurkan estetika & keharmonisan itu sendiri. Luka yang diakibatkan pun, tidak kurun sembuh dalam hitungan tahun. Sungguh pelajaran nyata yg berharga bagi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *