[JALAN-JALAN] MENGINTIP KEHIDUPAN DI KEBUN BELAKANG
By: Date: October 15, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh : Debby Josephine

Apa yang muncul di benak Anda ketika pertama kali mendengar kata kebun belakang? Kemungkinan besar jawabannya adalah sebuah kebun yang berada di belakang rumah. Tapi, kira-kira bagaimana bentuknya? Apa saja yang ada di dalamnya? Kehidupan seperti apa sih yang terjadi di sana? Nah, kali ini saya akan mengajak Anda untuk mengintip sebuah kehidupan di “Kebun Belakang”, tempat yang ide utamanya adalah untuk pemenuhan kebutuhan hidup harian namun berkembang menjadi tempat yang dapat menginspirasi orang lain untuk bergerak bersama ritme alam.

Berlokasi tepat pada pinggir jalan Pesantren, Cimahi, loka ini sempat menimbulkan rasa ragu pada hati aku . Lokasinya terbilang relatif ?Kota? Karena berdampingan dengan ruko akbar dan beberapa tempat tinggal mewah. Ketika hingga, tampak pagar hitam yang cukup tinggi sehingga menutupi pandangan orang luar yg ingin melihat ke dalam. Tidak berapa usang, pagar hitam pun dibuka oleh Teh Ivana. Teh Ivana merupakan pemilik berdasarkan Kebun Belakang. Saya & teman saya disambut dengan hangat & dipersilahkan masuk.

Begitu masuk, kami melihat area cukup luas yg disiapkan buat loka parkir & sedang ada dua mobil terparkir di sana. Berjalan sedikit ke arah kanan, kami melihat bangunan rumah mungil menggunakan jalan mini di sisi luarnya yg terhubung dengan area loka duduk di luar bangunan rumah. Teh Ivana mempersilakan kami buat duduk sembari memanggilkan Kang Misbah, suami Teh Ivana yang lalu lebih banyak bercerita tentang Kebun Belakang.

Kang Misbah pun datang dan menyambut kami dengan hangat lalu bercerita tentang kondisi Kebun Belakang. Ternyata, Kang Misbah sedang memperbaiki green house. Ia mengganti tiang greenhouse yang dulunya memakai materi bambu dengan baja ringan. Hal ini disebabkan kondisi bambu yang sudah lapuk dikhawatirkan dapat roboh. “Dengan baja ringan akan lebih awet.”, katanya.

Di musim kemarau ini, Kang Misbah sedang fokus membereskan kebun, menyiapkan benih, sambil mencoba mengumpulkan jerami dan lumpur untuk membangun gudang. Kami kemudian  diajak melewati jalan setapak di tengah kebun  menuju saung yang letaknya berada di bagian paling belakang dari area yang mereka miliki.

Begitu melihat kebun, kita dapat langsung melihat beberapa raised bed yang biasa ditemukan pada kebun yang menggunakan prinsip permakultur. Di dalam setiap raised bed terdapat berbagai jenis tanaman.  Kang Misbah mengolah berbagai tanaman ini untuk kebutuhan pangan harian dan produksi water kefir yang ia titipkan di beberapa tempat untuk dijual.

Tampak depan Kebun Belakang.

Semakin berjalan ke arah dalam kebun, semakin tenang suasana terasa, semakin dalam jua isi perbincangan kami. Kang Misbah menceritakan bagaimana perjalanannya ?Berjumpa? Dengan konsep permakultur pertama kali dalam tahun 2015 yang kemudian berkembang hingga waktu ini.

Bermula dari menanam selada di lahan seluas 7 x lima meter, Kang Misbah mulai membuka usaha toko sayuran pada loka tadi. Saat itu, Kang Misbah dan famili tinggal di daerah yg relatif jauh dari lokasi kebun. Lama kelamaan, karena Kang Misbah dan keluarga merasa lelah menggunakan bepergian bolak balik antara kebun dan tempat tinggal , akhirnya mereka tetapkan buat berpindah, tinggal pada huma kebun yg mereka namai Kebun Belakang.

Setelah Kang Misbah sekeluarga tinggal di area Kebun Belakang, lahan kebun menjadi lebih terawat karena sudah menjadi tempat tinggal sendiri. Di fase ini, Kang Misbah mulai memaksimalkan lahan seluas 1.600 meter dengan menanam berbagai jenis tanaman sesuai zonasi, membangun kandang ayam, mendirikan saung, dan lain sebagainya. Kang Misbah mengungkapkan bahwa semua sumber pendapatan berasal dari kebun. Apalagi setelah mendirikan saung, pemanfaatan kebun menjadi lebih banyak. Bisa dipakai untuk bermain, workshop kecil-kecilan, dan menjadi destinasi kunjungan sekolah.

Saung pada ujung kebun

Semua keputusan yang diambil Kang Misbah dan Teh Ivana saat ini tak lepas dari pengalaman mereka yang sempat tinggal 4 tahun di Swedia dan kunjungan Kang Misbah ke sebuah daerah di Thailand pada tahun 2015. “Kita belajar orang gak diseragamkan. Mereka gak nuntut kamu punya pendidikan tinggi, selama kamu capable, kamu diterima.” ungkap Kang Misbah yang sempat mengalami culture shock di Swedia. Saat tinggal di Swedia, mereka jadi lebih concern soal pendidikan, kebebasan berekspresi, dan lebih banyak bereksplorasi tentang tumbuh kembang anak. Di Thailand berbeda cerita. Kang Misbah terinspirasi dengan bagaimana sekelompok masyarakat begitu menikmati hidup, apa yang mereka rasa baik mereka jalankan, meski tidak ada kampanye besar-besaran. Semua berjalan seperti apa adanya saja. Dari situ Kang Misbah mulai fokus pada diri sendiri dan keluarga – berjalan lebih pelan mengikuti ritme alam.

Banyak perubahan yang terjadi pada diri Kang Misbah semenjak berprofesi sebagai petani. Sifatnya dulu yang temperamental lambat laun berubah menjadi lebih tenang. Ia merasa lebih berdaya karena apa yang ia dan keluarganya konsumsi tidak perlu tergantung pada orang lain. Dengan menanam sendiri, rasa makanan yang dimasak lebih nikmat dan disukai anak-anaknya. Kang Misbah merasa lebih mandiri. “Saya bisa bebas, tapi juga mengurus diri sendiri dan keluarga, ini merupakan kebebasan level “Wah”. Saya merasa aman, meski cara hidup berbeda dengan orang kebanyakan. Saya gak kelaparan, lebih ke pasrah, jadi lebih rileks, lebih bebas lagi.”, cerita Kang Misbah siang itu.

Dari kiri ke kanan: Rencana green house, kandang ayam dan lahan padi pada Kebun Belakang

Saat ini, Kang Misbah berharap setidaknya 50% kebutuhan hidupnya bisa dicukupi dari kebun. Ia merasa bahwa pemenuhan kebutuhan hayati bergantung dalam gaya hayati, ?Bisa saja output menurut kebun ini mencapai 100% jika saya tinggal di gunung. Kalau sudah begitu, aku nggak usah cari tambahan buat beli pulsa.? Ujarnya sambil tersenyum.

Kami pun diajak berkeliling kebun. Melihat padi, juga bunga mentari & rosella yg sedang berbunga. Kami pula diajak ke kandang loka ayam-ayam pelung. Dipelihara. Benda yang menarik adalah tungku yang dibuat memakai lumpur dan jerami. Kang Misbah menggunakan btg pisang menjadi cetakan lubang tungku yg menunda bentuk sampai campuran materi kering seutuhnya.

Setelah puas berkeliling, Kang Misbah mengajak kami kembali ke tempat duduk di samping rumah utama. Ternyata sudah ada makan siang disiapkan Teh Ivana. Oh ya, selama berbincang, kami dijamu dengan setandan pisang kepok hasil kebun yang besar-besar dan manis sekali.

Makan siang yang disiapkan oleh Teh Ivana

Saya baru menyadari bahwa posisi tempat tinggal itu berada di antara hiruk pikuk jalanan dan kebun belakang yang hening. Rumah itu berada pada tepian. Tepian pada permakultur yaitu loka di mana 2 daerah asal bertemu. Biasanya wilayah ini lebih produktif dan kaya akan keberagaman.

Pengalaman bepergian aku kali ini memberi kesejukan dan ide baru mengenai kebun pada tengah kota. Apakah Anda berminat berkunjung ke Kebun Belakang? Silakan mengatur janji terlebih dahulu via DM instagram @kebunbelakang, ya!

Tungku di Kebun Belakang, yang dibentuk dari lumpur & jerami serta btg pisang menjadi penyangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *