[OPINI] Takut Untuk Sukses, Sumber Kegagalan Terbesar
By: Date: October 16, 2017 Categories: Uncategorized

Sebuah pertanyaan yang biasa ditanyakan orang tua kepada anak-anaknya adalah, “Kalau sudah besar mau jadi apa?”, lantas anak-anak akan memberi beragam jawaban mengenai cita-cita mereka. Bahkan walikelas saya di SD pada suatu hari pernah menanyakan kepada seluruh siswa, apa cita-citanya. Jawaban yang diutarakan kurang lebih sama, menjadi dokter, astronot, atau pilot.

Terlepas menurut apa yang menyebabkan adanya keseragaman jawaban tersebut, keinginan adalah keliru satu indikator kesuksesan yg hendak diraih. Sukses, adalah istilah yg akan kita bahas bersama di sini.

Kalau setiap orang ditanya “Apakah Anda ingin sukses?”, kita bisa mendapatkan jawaban, bahwa sebagian besar orang menginginkannya. Namun, keinginan tersebut tidak serta merta membuat kesuksesan itu tercapai begitu saja, ada beberapa faktor yang menyebabkan tercapainya kesuksesan tersebut. Apapun faktor yang mendasari tercapainya kesuksesan tersebut, ternyata salah satunya terkait dengan ketakutan. Ketakutan? Ya, walaupun seseorang menginginkan kesuksesan dalam hidupnya, rupanya ada faktor di dalam diri setiap orang yang justru takut terhadap kesuksesan tersebut. Ketakutan ini terkait dengan keyakinan (belief) yang kita miliki terhadap kesuksesan. Keyakinan tersebut menurut Antonius Arif merupakan limiting belief ataupun mental block.

Ada 3 tipe keyakinan (belief)yang terkait dengan ketakutan untuk sukses (Robert Dilts, 1990) :

1. Hopelessness (tidak ada harapan)

Tipe ini dimiliki sang seorang yg merasa tidak memiliki harapan terhadap virtual yg diinginkan. Perasaan tiada harapan ini biasanya terkait ketiadaan pengetahuan mengenai kemungkinan buat sukses tadi. Orang menggunakan tipe ini umumnya selalu beralasan macam-macam terhadap kerja keras. Orang menggunakan tipe ini akan mengungkapkan, ?Orang lain saja nir sanggup, apalagi aku ?. Tipe orang menggunakan keyakinan seperti ini terbentuk lantaran sepanjang hayati orang tadi melihat kerja keras nir berbanding lurus menggunakan output yg didapat. Untuk tipe ini, pernahkah Anda melihatnya atau mengalaminya sendiri?

2. Helplessness (tidak berdaya)

Keyakinan ini terdapat dalam diri seorang yg melihat orang lain bisa melakukannya, tetapi dia sendiri merasa nir sanggup melakukannya. Keyakinan akan ketidakmampuan ini lalu membangun perasaan nir berdaya, atau kebalikannya. Apabila ke 2 hal tadi saling menguatkan maka akan semakin membuat seorang tidak berkecimpung ke mana-mana. Hidup orang misalnya ini akan sebagai stagnan. Pernahkah Anda mendengar seseorang yg mengatakan bahwa kesuksesan itu merupakan milik orang-orang yg punya uang saja? Ataukah Anda pernah mencicipi tidak mampu sukses lantaran Anda bukanlah orang yang pintar?

Situasi ini sebetulnya tak jarang kita dapati dan tampaknya memang syarat yg generik terjadi. Sebagai contoh, ungkapan ini, ?Ya, lantaran bapaknya dokter, makanya beliau pintar belajar kedokteran?.

Adanya kepercayaan tentang faktor keturunan, akhirnya membatasi suatu pekerjaan eksklusif hanya pantas dikerjakan oleh orang-orang berdasarkan keturunan eksklusif. Sehingga keyakinan yg muncul adalah ?Mana mungkin aku bisa menjadi seorang dokter, aku kan anaknya seseorang penarik becak.? Dengan keyakinan misalnya ini, orang tadi terjebak menggunakan pemikiran bahwa mimpinya dibatasi oleh siapa orang tuanya. Padahal, mungkin saja dia memiliki talenta dalam memahami dunia kesehatan. Akibat keyakinan tadi, maka peluang yang ada menjadi hampir tidak ada.

3. Worthlessness (tidak berharga)

Keyakinan  ini terjadi jika seseorang merasa bahwa walaupun hal tersebut mungkin dan bisa dilakukan, namun dirinya merasa tidak pantas dan tidak layak. Contoh yang sering terjadi adalah pada percintaan, misalnya seperti ini, “Saya mencintai pasangan saya dan  yakin sebenarnya bisa berdamai dengannya . Hanya saja, saya merasa tidak pantas dan tidak layak untuk bersama dengan dia.”

Contoh lain yang mampu kita lihat adalah dalam pertemanan. Apakah Anda pernah lihat orang-orang yang menarik diri berdasarkan pergaulan sehari-hari? Terlepas dari kemungkinan adanya faktor lain yg mempengaruhi, pikiran bahwa ?Saya nir pantas berteman dengan mereka? Atau ?Saya tidak layak menerima perhatian berdasarkan mereka? Adalah keliru satu penyebab yg muncul dalam pergaulan pada masa kini .

Saya sendiri pernah mengamati pola ini terjadi pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi dalam waktu yang cukup lama. Kepercayaan diri yang sedang menurun, diimbuhi oleh manajemen stress yang kurang cakap, cenderung membuat mahasiswa tingkat akhir menarik diri dari pergaulan untuk sementara waktu. Ditambah pemikiran “Ah, sudah bukan jamannya saya lagi”  membuat keyakinan itu bertambah kuat.

Semua tipe keyakinan di atas tidak lahir begitu saja, namun dibentuk oleh lingkungan seseorang, baik melalui nilai yang ditanamkan oleh orang tua maupun institusi pendidikan. Pendidikan seseorang secara tidak langsung memberikan sumbangsih terhadap pembentukan keyakinan-keyakinan seperti itu, hingga secara tidak sadar  seseorang tidak sungguh-sungguh mengejar kesuksesan yang  diinginkan. Lebih parah lagi apabila seseorang mengejar kesuksesan yang diciptakan oleh orang lain dan ia tidak sadar sedang melakukannya.

Saat saya masih kuliah, saya berteman dengan seseorang yang mengambil kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Tapi, sebetulnya dia lebih menginginkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Ini disebabkan karena orang tuanya berpendapat tidak ada masa depan untuk seniman. Dia pun terpaksa memilih jurusan Ilmu Komunikasi karena hanya program tersebut yang masih mungkin ia sukai. Di kemudian hari, dia tidak pernah serius menjalani kuliahnya dengan berbagai alasan yang kemudian membuat dia memutuskan untuk mundur di batas akhir waktu perkuliahannya.

Cerita serupa cukup gampang didapati pada mahasiswa-mahasiswa yang prestasi belajarnya rendah (kalau indikatornya merupakan IPK), walaupun belum tentu hal ini terkait dengan faktor intelektual. Ada poly mahasiswa yang memilih program studi tanpa mempertimbangkannya menggunakan matang berdasar hati nuraninya. Banyak yang belum menyadari, bahwa buat mencapai panggilan hidupnya, beliau wajib menjalani perkuliahan pada perguruan tinggi tertentu sinkron dengan minat dan bakatnya. Tidak poly orang yang akhirnya lalu bisa berkembang sampai potensi terbaiknya.

Kalau mau ditelusuri lebih lanjut, bahkan jauh sebelum duduk pada bangku kuliah, kerangka berpikir rakyat pada Indonesia mengenai pendidikan tidak membiasakan peserta didik buat menentukan menurut hati nuraninya. Paradigma pendidikan pada warga kita membatasi masa depan yang hanya bisa diraih dari jurusan-jurusan yg tersedia pada perguruan tinggi. Lebih parahnya lagi pendidikan yang dianggap baik terbatas dalam perguruan tinggi bergengsi.

Dampak dari paradigma pendidikan tersebut adalah terkuburnya impian-impian luhur bagi dunia yang lebih baik. Impian-impian, yang kita sebut juga sebagai visi hidup tidak pernah dapat tercapai, bahkan  tidak mampu memikirkannya. Mengapa? Karena memang kita tidak pernah dididik untuk memikirkan sesuatu dalam perspektif waktu yang panjang, kita dibatasi oleh apa yang kita miliki sekarang, sehingga apabila kita memikirkan sesuatu yang tidak ada, kita dianggap “gila”.

Paradigma rakyat, baik melalui pendidikan maupun kehidupan sehari-hari, telah usang menyumbangkan ketakutan pada keyakinan individu, serta menutup kenyataan bahwa sesungguhnya kesuksesan itu unik bagi setiap orang & merupakan hak setiap orang. Ketika banyak sekali tipe keyakinan tumbuh & semakin mengakar di dalam diri seorang, sangat sulit baginya buat menemukan kesuksesan yang ?Sesungguhnya? Pada pada hidupnya.

Namun demikian, setiap insan dapat membebaskan diri dari keyakinan yg menghalangi kesuksesannya itu. Berikut ini merupakan tips buat keluar menurut belitan keyakinan tersebut :

1      Kenali; bagaimana pandangan kita terhadap diri sendiri? Apakah ada salah satu jenis ketakutan tersebut?

2      Lepaskan; hal-hal yang memang tidak kita butuhkan, sudah saatnya untuk kita lepaskan, berikan “ruang” untuk hal-hal yang baik dalam hidup kita.

3      Berdamailah dengan segala “keburukan” di masa lalu kita, terimalah itu sebagai bagian yang indah dari keutuhan diri.

4      Tanamkan ide ke dalam diri, “saya berhak untuk sukses dan bisa mencapainya”.

5      Fokus pada apa yang kita inginkan.

Meski sulit, tetapi dengan kemauan yang keras, setiap orang bisa membebaskan diri dari belitan keyakinan tersebut, dan berlari mengejar kesuksesannya.

Jadi, mampu kita lihat bahwa penghalang bagi kesuksesan bisa asal menurut dalam, yaitu keyakinan kita sendiri mengenai kesuksesan. Lalu keyakinan ini dipengaruhi oleh pendidikan yang ditanamkan, baik di lingkungan rumah maupun pada sekolah. Ditambah dengan pandangan rakyat (orang-orang di lebih kurang) yang berlaku pada masa itu, maka keyakinan itu akan semakin mengakar bertenaga di dalam diri orang.

“Jikalau ingin sukses, keinginanmu untuk sukses harus lebih besar dari rasa takutmu terhadap kegagalan” – Bill Cosby, komedian berkebangsaan Amerika Serikat.

(David Ardes Setiady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *