[RUMAH KAIL] BELAJAR MANDIRI DI RUMAH DAN KEBUN KAIL
By: Date: October 17, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Any Sulistyowati

Sejak tahun 2014, KAIL sudah menyelenggarakan kegiatan anak di Rumah KAIL. Kegiatan ini diantaranya bertujuan buat membangun kemandirian anak. Setiap bulannya, tepatnya setiap hari Minggu ketiga, kurang lebih 15-30 anak-anak berkumpul pada Rumah KAIL. Mereka dari menurut kampung-kampung di lebih kurang Rumah KAIL. Kegiatan ini dikenal dengan nama Hari Belajar Anak (HBA).

Biasanya kegiatan-aktivitas HBA dimulai pada pagi hari lebih kurang pukul 9 & berakhir sebelum pukul 12 siang. Selama kurang lebih 3 jam mereka berkegiatan beserta. Kegiatan HBA biasanya terdiri berdasarkan beberapa jenis aktivitas yang menarik buat anak-anak. Biasanya sesi dibuka dengan berolahraga beserta pada labirin Kebun KAIL. Kegiatan ini adalah salah satu aktivitas favorit anak-anak. Setelah itu barulah masuk ke materi. Seusai sesi materi, umumnya terdapat proses kerja berdikari untuk memasak materi tadi secara langsung. Bagian ini dapat berupa kegiatan menggambar, membuat karya, mengisi jurnal atau berbagai aktivitas lainnya yang disukai anak-anak. Setelah itu dilanjutkan menggunakan menyantap kuliner sehat yg disiapkan sang Rumah KAIL.

Olahraga pagi pada labirin kebun KAIL

Materi ini umumnya disampaikan menggunakan aneka macam metode penyampaian sebagai akibatnya anak tertarik & tahu materi dengan lebih baik dan gampang. Metode pembelajaran yg dipakai di HBA sangat beragam. Ada yang melatih kemampuan motorik anak, terdapat yg buat menyebarkan kepekaan rasa, ada jua yang mengembangkan kemampuan kognitif. Dengan variasi metode ini, diperlukan keseluruhan aspek kehidupan anak dapat tumbuh & berkembang. Mereka jua belajar lewat permainan. Lewat permainan-permainan ini, anak-anak belajar banyak sekali hal menggunakan senang hati.

Kegiatan-aktivitas selama HBA

Keseluruhan kegiatan tersebut disampaikan oleh para pendamping yang berasal dari para staf dan relawan KAIL. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan. Beberapa dari mereka masih duduk di bangku kuliah dan di waktu luangnya menyempatkan diri untuk mendukung kegiatan HBA.  Para relawan ini adalah tulang punggung dari keberlanjutan kegiatan HBA. Merekalah yang secara rutin bergantian menyelenggarakan HBA dari masa ke masa.

Salah satu materi yang kerap disampaikan adalah seputar kebun KAIL. Lewat kebun KAIL, anak-anak berkesempatan belajar mengenai aneka macam aspek pertanian berkelanjutan, gaya hidup sehat, pangan yg sehat dan proses pengolahannya. Lewat aktivitas ini, mereka belajar mengenal berbagai jenis tanaman yang ada di Kebun KAIL berikut keuntungannya bagi kehidupan. Mereka juga belajar menanam, memelihara & memasak output panen tersebut.

Penanaman pada kebun Kail sang para peserta

Menyiapkan lubang untuk menanam di kebun KAIL

Selain mendapatkan teori, mereka juga praktek langsung di Kebun KAIL. Praktek-praktek yang sempat dilaksanakan di antaranya adalah praktek menanam jahe, talas, lengkuas dan berbagai tanaman yang bermanfaat lainnya. Mereka juga belajar mengolah berbagai jenis tanaman tersebut, seperti membuat aneka hidangan dari hasil panen kebun, misalnya manisan papaya, perkedel talas, keripik bayam dan lain-lain. Mereka juga belajar membuat pewarna dari berbagai hasil kebun untuk mewarnai makanan.  Selain itu, mereka juga praktek membuat minuman sehat dan segar dari panen kebun, seperti wedang sereh dan sirup markisa.

Hasil karya para peserta HBA

Praktek-praktek semacam ini diharapkan dapat membantu anak memperoleh wawasan dan ket erampilan yang mereka butuhkan untuk hidup mandiri di masa yang akan datang. Salah satu aspek kemandirian yang dikembangkan adalah seputar pangan. Topik ini dipilih karena pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Lewat pangan yang sehat, kualitas hidup kita akan meningkat. Di sisi lain, pangan yang sehat tidak selalu tersedia dan mudah diakses. Anak-anak merupakan salah satu kelompok sosial yang rentan menjadi korban budaya pangan yang tidak sehat yang membentuk kebiasaan dan preferensi pangan mereka. Kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat ini dipromosikan di sekitar mereka, mulai dari para penjual makanan di sekolah, warung-warung sekitar rumah serta para orang tua yang ingin praktis. Ketimbang masak makanan sendiri lebih baik membeli yang tampaknya enak dan menarik. Apalagi kalau harganya murah.

Sayangnya, yg ditawarkan warung dan kantin sekolah belum tentu jenis-jenis kuliner yg menurut sisi nilai gizi merupakan nutrisi yang diperlukan tubuh. Kebanyakan kuliner yg dijajakan umumnya banyak mengandung gula dan gandum, yg apabila dikonsumsi terlalu banyak akan menanamkan berbagai potensi penyakit akibat pola makan seperti diabetes, kolesterol dan berbagai jenis penyakit lainnya dalam jangka panjang. Kelebihan gula jua akan mengakibatkan anak merasa kenyang padahal asupan nutrisi yang diperlukan tubuh belum tentu sudah mencukupi. Belum lagi aneka macam zat aditif yang ditambahkan pada kuliner buat membuat rona & cita rasanya lebih menarik dan tahan lama . Bahan-bahan tersebut belum tentu merupakan bahan-bahan yg sehat untuk dikonsumsi.

Add caption

Snack HBA – enak!

Di tengah situasi semacam itulah, snack HBA hadir untuk memperkenalkan kepada anak rasa asli dari makanan. Snack-snackyang disajikan di HBA bukanlah makanan yang mahal. Makanan-makanan itu berasal dari yang ada di sekitar Rumah KAIl, khususnya Kebun KAIL. Diolah dengan proses minimal untuk mempertahankan sebanyak mungkin nilai gizinya. Di HBA anak-anak makan beraneka buah sesuai dengan musimnya, mencicipi aneka resep olahan kue sesuai dengan apa yang ada di Kebun KAIL atau yang bisa disediakan oleh warga sekitar. Untuk menjaga kualitas kesehatan makanan, KAIL mensyaratkan semua makanan yag disajikan diproses tanpa pengawet, pewarna dan perasa kimia. Para penyedia makanan tampaknya tidak keberatan dengan aturan ini dan sejauh ini makanan yang mereka sediakan tetap enak meskipun tanpa MSG.

Mungkin karena itulah beberapa anak peserta HBA kemudian datang setiap Sabtu ke Rumah KAIL untuk belajar lebih lanjut tentang kebun. Mereka melakukan berbagai aktivitas berbasis Kebun KAIL, mulai dari mendata jenis tanaman di Kebun KAIL dan menggambarkannya di dalam buku catatan mereka. Mereka menjiplak daun, melukis bunga dan membuat herbarium dari bagian tanaman yang bentuknya mereka sukai.  Mereka turut melakukan proses pemeliharaan seperti pemangkasan, pemupukan dan penyiraman. Dan salah satu yang paling mereka sukai adalah memanen aneka jenis tanaman dan mengolahnya menjadi berbagai produk pangan yang mereka sukai.

Pengalaman mencecap nikmatnya rasa kuliner alami akan membekas di benak anak-anak. Begitu jua riuh rendahnya kegembiraan mereka selama proses mengolah bersama akan diingat beserta kenangan akan rasa makanan yang akhirnya mereka santap. ?Enak?, begitu istilah galat satu anak. ?Senang mampu membuatnya,? Berdasarkan anak yang lain. ?Saya suka ,? Berdasarkan anak yang lain lagi. Itulah yg dibutuhkan berdasarkan mereka waktu mengonsumsi kuliner sehat ala HBA. Apalagi kuliner-kuliner yg mereka olah sendiri, & bahkan mereka tanam sendiri pohonnya.

Semoga kebiasaan ini bisa mereka terapkan di pada famili mereka. Kalaupun sulit pada keluarga mereka waktu ini, semoga bisa terjadi pada famili mereka kelak saat mereka sebagai orang tua. Semoga proses sederhana yang mereka alami di Rumah dan Kebun KAIL bisa menjadi bekal kemandirian mereka di masa mendatang. Dengan kemandirian tadi, dibutuhkan mereka memiliki lebih poly peluang buat mengembangkan kualitas kehidupan yang mereka cita-citakan. Dengan ketrampilan menanam & mengolah kuliner sendiri, diperlukan mereka sanggup lebih berdikari dalam penyediaan pangan keluarga mereka. Selain mendapatkan makanan sehat, pengeluaran untuk pangan famili pun bisa berkurang. Uang yang semula dialokasikan untuk membeli kebutuhan pangan bisa dihemat buat keperluan lain. Syukur-syukur jika lalu mereka bisa membuat bisnis ekonomi berbasis keterampilan tadi atau bahkan sanggup menularkannya kepada kerabat, sahabat, tetangga dan rakyat sekitarnya. Apabila hal ini terjadi, maka dibutuhkan akan terbangun warga yg berdikari, baik menurut sisi pangan, ekonomi, kesehatan maupun kualitas hayati mereka secara holistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *