[Masalah Kita] Mengangkat Seni Sebagai Ekspresi Keprihatinan Masyarakat
By: Date: October 24, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Navita Astuti

?Kesenian kini 90% bisu. NIR POLITIK. Lembaga seni dikuasai birokrat jejadian, atau artis mediocre, sehingga mereka menjadi hamba sahaya.?

Pernyataan tadi dicetuskan oleh seorang seniman pelukis dan budayawan, R. Soehardi (62 tahun) dalam jawaban informasi lapangan yg kami sebarkan ke sekian banyak artis pada Indonesia. Sebuah pernyataan yg mengkritik dunia seni jaman sekarang, terutama di nusantara ini. Apa pasal dunia seni Indonesia menjadi bisu?

Gaya hidup masa sekarang yg serba instan & praktis bisa saja menjadi galat satu penyebabnya. Sesuatu yang instan, dihasilkan secara cepat,

namun dinikmati sementara saja. Kenikmatan yang dihasilkan pun hanya menyentuh permukaan, tak membekas hingga ke dalam sanubari. Karya seni pun dipandang dari permukaannya saja. Orang lebih suka membahas kecanggihan alat, kerumitan pembuatan maupun kecanggihan teknik yang digunakan dalam sebuah karya seni. Orang-orang mengabaikan pembahasan mengenai roh dan latar belakang yang menggerakkan seniman dalam menghasilkan karya seni tersebut.

Di sisi lain, gerusan arus komersialitas turut mensugesti karya para artis. Seniman-seniman tak lagi berkarya sesuai idealisme masing-masing, melainkan mengejar laba demi memuaskan kesukaan pasar.

Anggapan masyarakat luas bahwa bergerak di bidang seni itu tak menjanjikan masa depan, turut mempengaruhi kebisuan karya seni pada Indonesia. Karya seni dipercaya tidak ada keuntungannya, selesai dinikmati, lalu dibuang begitu saja. Karya seni merupakan sampah. Inilah anggapan umum yg turut menyumbang pada kebisuan global seni Indonesia.

Karya Seni yg Peduli

Meski kesenian pada Indonesia mengalami kebisuan, namun ada beberapa artis yang justru mengakibatkan seni sebagai ?Senjata? Buat menyuarakan keprihatinan mereka terhadap fenomena sosial kemasyarakatan. Mereka menganggap karya seni adalah media yang tepat buat menggerakkan warga untuk peduli dalam berita sosial, politik juga lingkungan hayati. Sejumlah 4 orang seniman menurut sekian banyak seniman yg kami kirimi berita umum, menyatakan hal tersebut.

Vivera Siregar (fotografer), sebagai salah satu responden kami menjelaskan, dalam fotografi terdapat genre human interest, yang mengabadikan fenomena sosial kemanusiaan. Karya fotografi seperti ini dapat menjadi media yang tepat untuk menggambarkan kondisi lingkungan, serta beragam manusia dengan segala aktivitasnya.

Fotografi human interest, karya Vivera Siregar

Responden lainnya menyuarakan keprihatinan mereka melalui seni lukis. Tetapi, tak hanya sekedar corat-coret pada atas kanvas, karya lukis yang mereka hasilkan menyiratkan makna. Pelukis Hardi, responden kami yg lain contohnya, dalam tahun 1978 menciptakan karya grafis berupa foto dirinya sebagai presiden menjadi bentuk kritiknya terhadap tekanan pemerintah Orde Baru yg represif & militeristik. Tetap konsisten menggunakan bunyi hatinya, di tahun 2011, beliau melakukan demo melukis di depan gedung DPR menjadi pernyataan menolak dibangunnya gedung baru.

Dari Pergulatan Hingga Solusi buat Masa Depan

Berbagai imbas dituai atas hasil karya seni yg dimaksud di atas. Ada banyak apresiasi maupun geliat warga atas karya seni tadi, namun tak sporadis mendapat kecaman, bahkan penangkapan karena karya seni yang dipercaya terlalu vokal. Pelukis Hardi pun mengalami penangkapan tadi di tahun 1978, waktu beliau memasang lukisan grafis foto dirinya menggunakan pakaian jenderal serta mengenakan bintang, serta memberi judul lukisan tadi ?Presiden tahun 2001?.

Aksi Melukis R. Soehardi pada depan gedung DPR. Sumber : www.Portaltigaimage.Com

Tantangan lainnya yang dihadapi antara lain adalah kurangnya apresiasi dari masyarakat terhadap karya seni yang dihasilkan. Patricia Siswadi, responden kami menyatakan, “… tingkat kegencaran dalam menggulirkan kreasi seni yang mengangkat masalah-masalah keprihatinan (sosial kemasyarakatan, red.) tersebut kurang. Tantangannya adalah bagaimana pelaku seni yang memiliki keprihatinan sosial memiliki kreativitas untuk mengajak masyarakat luas lebih menyukai dan lebih memilih seni –seni yang bernuansa keprihatinan sosial daripada isu-isu romantika saja.

Ungkapan senada juga diucapkan oleh Vivera Siregar sebagai seniman fotografi, “Tidak semua orang mempunyai kepekaan terhadap seni, tidak semua orang bisa memahami pesan yang terkandung dalam sebuah foto. Dan tugas fotografer lah untuk menyampaikan pesan tersebut, mengemasnya dengan cara terbaik, agar pesan dapat diterima oleh masyarakat.”

Menjawab tantangan tersebut, maka para responden kami memberikan saran-saran supaya karya seni yang menyuarakan keprihatinan sosial kemasyarakatan dapat semakin menggugah keberpihakan warga , yaitu menjadi berikut :

Baiknya, para pekerja seni itu down to earth, mensosialisasikan “seni”-nya kepada lingkungannya; membumikannya, mengajak sekitar untuk turut “merasakan” seni. Dengan demikian, seni akan menjadi baur dengan masyarakat umum dan bukan hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.” ~ Vivera Siregar, fotografer human interest.

“… yang jelas, para penggiat seni harus peka terhadap persoalan-persoalan sosial yang ada di masyarakat, dan secara intensif mengadakan event-event kesenian untuk meningkatkan apresiasi masyarakat.” Buletin Kamuning, seni lukis.

“… berkarya dengan cerdas, populer, dan berani menyebut dirinya SENIMAN.” ~ Pelukis Hardi.

Peduli pada persoalan sesama & lingkungan adalah hakikat insan sebagai makhluk sosial & bermasyarakat. Bentuk kepedulian pun bermacam-macam bentuknya. Entah itu dalam bentuk aksi solidaritas yg sesuai dengan profesi setiap orang, memberikan bantuan juga sumbangan, atau mengekspresikannya dalam media eksklusif misalnya seni.

Segala bentuk solidaritas tentu memiliki tantangannya masing-masing. Namun demikian, bukanlah perjuangan jika tanpa kendala maupun tantangan. Jika usaha tidak dijalani, maka dia tidak akan membawa makna dan perubahan bagi pelakunya. Oleh karenanya, meski jalan yang ditempuh terjal & mendaki, inilah tugas yg sebaiknya diemban oleh para seniman Indonesia. Menjadikan karya seni mereka sebagai karya yang membumi dan menyatu pada masyarakat. Membuat masyarakat menyayangi karya-karya seni pada sekitar mereka, agar turut dan beranjak & berpihak kepada kaum tertindas dan terpinggirkan.

Semoga.

Navita Kristi Astuti

Penulis merupakan bunda menurut 2 anak. Menyenangi global tulis menulis dan craft. Ia ingin sekali dapat mengembangkan pada orang lain melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *