[JALAN-JALAN] Sanggar Anak Alam, Belajar dari Sekolah Kehidupan
By: Date: October 31, 2017 Categories: Uncategorized

Berbicara mengenai pendidikan anak memang tidak terdapat habisnya. Sebut saja contoh beberapa masalah terkait kurikulum yang selalu berubah setiap kali ada pergantian menteri, penambahan jam belajar sekolah plus beban tugas anak sekolah yg sangat menyita kesempatan bermain, membatasi ruang interaksi sosial anak dengan famili, teman sebaya di lingkungan terdekat, belum lagi akses pendidikan anak yang terbatas terhadap forum pendidikan. Kekhawatiran tersebut tentu saja sangat merisaukan beberapa orangtua yg anak-anaknya memasuki usia sekolah.

Berangkat dari pertarungan pendidikan yang ruwet ini Sri Wahyaningsih

menggagas perlunya inspirasi-ilham pendidikan yg sesungguhnya, yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak untuk bebas berekspresi & bereksplorasi pada menemukan pengetahuan, dengan memanfaatkan potensi lingkungan terdekat sebagai media belajar. Bu Wahya, begitu dia biasa disapa, dan beberapa orang yg pula mempunyai keprihatinan yg sama mengenai pendidikan pada negeri ini mendirikan Sanggar Anak Alam (Salam) ? Sebuah serikat yang berkecimpung di bidang pendidikan berbasis komunitas yg independen, terbuka dan tidak terikat menggunakan lembaga dana manapun, termasuk pemerintah.

Secara geografis, Salam berada pada tengah perkampungan dan dikelilingi persawahan pada daerah Kabupaten Bantul. Tepatnya pada kampung Nitiprayan, pedukuhan Jomegatan, Kelurahan Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Yogyakarta. Salam mengawali kegiatannya dalam tahun 2000 di Nitiprayan, Bantul, DIY menggunakan program pendampingan remaja. Kemudian pada tahun 2004 menyelenggarakan Kelompok Bermain.

Seiring dengan perkembangan anak-anak dan kebutuhan orangtua untuk keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka, Salam memulai program Taman Anak (TK) pada tahun 2006 dan Sekolah Dasar (SD) pada 2008. Tahun ini adalah semester ke-2 untuk program setara SMP. Melalui program tersebut Sanggar Anak Alam berkeinginan membuka ruang belajar untuk masyarakat  luas dari semua kalangan dan rentang usia, dengan proses yang terbuka, menyenangkan, penuh kesederhanaan serta mengutamakan lokalitas dan persahabatan dengan alam dan lingkungan sekitar. Harapannya adalah Sanggar Anak Alam dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia, terutama pendidikan anak-anak.

Sanggar Anak Alam, poly orang seringkali menyebutnya sebagai sekolah alternatif, atau sekolah alam. Nyatanya bukan konsep berbasis alam yg membuat sekolah ini tidak sama, tetapi di Salam setiap siswa dilatih supaya sanggup menghadapi realitas kehidupan. Belajar menurut norma yg sehari-hari lekat menggunakan kehidupan mereka, kebutuhan dasar untuk sanggup menolong diri sendiri, sesama, dan semesta.

Di Salam, anak-anak belajar membaca, menulis & berhitung melalui insiden yang terjadi dan kegiatan yg sengaja didesain untuk mengantarkan mereka dalam pemahaman terhadap ilmu yg akan mereka temukan sendiri menggunakan pendampingan dan motivasi berdasarkan fasilitator. Sehingga para fasilitator (guru/ pendidik) tidak perlu mencekoki dan menjejali anak-anak dengan segala macam bentuk hafalan.

Anak-anak juga dikenalkan pada makanan, cita rasa, dan manfaat  makanan melalui kebiasaan makan siang yang memang sengaja diselenggarakan setelah kegiatan sekolah usai. Pada kesempatan ini anak-anak belajar mengenali apa saja yang mereka makan, mengapa perlu makan, belajar mengukur kebutuhan makannya, mengelola sisa makanan, belajar menghargai makanan dan semua pihak yang terlibat dalam proses tersedianya makanan yang terhidang di hadapan mereka.

Melalui norma piket sehari-hari di sekolah pada pagi hari, anak-anak belajar mengenai arti bertanggung jawab, kerjasama & disiplin dalam diri sendiri, bagaimana wajib mengatur ketika, membagi peran & tugas menggunakan sahabat lain pada satu gerombolan

Secara historis kultural, Indonesia adalah negara agraris dengan sederet kisah manis dalam masa kejayaan pada sektor pertanian. Pernah dinobatkan menjadi negara pembuat beras terbesar sampai mampu swa-sembada beras bahkan mengimpor beras ke luar negeri. Bersyukur Salam berada sangat dekat dengan lingkungan persawahan. Di loka inilah anak-anak belajar mengenai sejarah budaya bangsa ini juga tentang kearifan lokal dari komunitas petani yg beserta dengan Sanggar Anak Alam menghidupkan kembali tradisi ?Wiwit panen?, yaitu sebuah ritual yang selalu dilakukan para petani ketika akan memulai masa panen padi menjadi ungkapan syukur atas berkah Tuhan atas output panen mereka.

Melalui kegiatan-aktivitas tadi anak-anak juga belajar tahu nilai-nilai religiusitas secara langsung, kontekstual dan riil, contohnya tentang menghargai diri sendiri, teman (sesama), lingkungan dan mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Orangtua, fasilitator/ guru, dan rakyat bagi Salam merupakan warga belajar yg terlibat secara aktif pada proses pembelajaran yg terjadi di Salam. Dengan begitu seluruh pihak akan saling mendukung dalam kerangka dinamika proses belajar yang tidak akan pernah terdapat habisnya.

Semesta dan kehidupan ini sudah menyediakan begitu poly sumber ilmu & temukan keajaiban yang tersimpan di dalamnya. Mendengar, aku lupa; Melihat, aku jangan lupa; Melakukan, saya paham; Menemukan sendiri, saya kuasai; merupakan galat satu motto yg selalu diterapkan pada proses pembelajaran Salam pada sekolah kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *