[MASALAH KITA] TEMAN DALAM PERUBAHAN
By: Date: November 4, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Karina Adistiana

Beberapa tahun terakhir ini saya tertarik pada gaya hidup zero waste. Dimulai dari melihat video tentang Bea Johnson, seorang perempuan Prancis yang tinggal di California dan mengadopsi gaya hidup bebas limbah sejak 2008. Ketertarikan pada gaya hidup ini turut didorong oleh keterkejutan melihat data tentang timbunan sampah di Indonesia. Dari web Badan Pusat Statistik, saya membaca laporan yang menyebutkan bahwa timbunan sampah di Indonesia pada tahun 2016 tercatat sebanyak 65.200.000 ton per tahun. Timbunan ini rupanya cukup mengagetkan bagi pemerintah mengingat kemudian di tahun 2017 pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden yang menargetkan pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebesar 30% dan penanganan sebesar 70% (Sumber: www.bps.go.id).

Saya perlu berperan dalam mengurangi sampah & tampaknya gaya hidup yang ditunjukkan Bea Johnson tampak sangat gampang dilakukan. Yang penting niat dan terus mencoba. Demikian motivasi awal saya. Akhirnya, aku pun mencoba gaya hayati ini. Saya mulai berusaha mengubah pola konsumsi aku dalam membeli barang. Setelah mencoba beberapa ketika, aku menemukan banyak kesulitan. Tulisan ini merupakan hasil observasi terhadap proses yg aku alami sendiri juga melihat bagaimana sahabat-teman dekat mencoba gaya hayati yg sama.

Tantangan awal saya dimulai dari mencari informasi yang tepat untuk memulai gaya hidup ini. Kesalahan saya adalah melihat grup komunitas yang sudah menjalankan gaya hidup ini secara penuh sejak lama. Maka mulailah saya membeli barang-barang yang kira-kira dibutuhkan berdasarkan paparan para senior di grup media sosial komunitas tersebut. Saya ingat barang yang saya beli di awal adalah wadah plastik aneka ukuran. Saya beli untuk mempermudah belanja di pasar agar tidak pakai kemasan. Lalu saya juga membeli tas kain untuk mempermudah proses belanja. Waktu saya bercerita tentang hal ini pada seorang teman, ia lalu mengingatkan untuk pakai saja barang yang ada di rumah, dan tidak menambah sampah lain. Barulah saya pelan-pelan merencanakan kembali proses yang sedang dijalani.

Wadah plastik aneka ukuran

Tantangan lain yang saya alami adalah ketika harus membeli aneka kebutuhan sehari-hari yang lebih ramah lingkungan. Tak ada bulk store atau toko yang menjual kebutuhan sehari-hari tanpa kemasan di dekat rumah saya. Ketika saya mempertimbangkan membeli kemasan yang lebih ramah lingkungan, saya dihadapkan pada kenyataan pahit, yaitu soal perbedaan harga yang cukup besar pada beberapa barang. Contoh sederhana adalah ketika saya hendak membeli mentega. Suatu hari di tahun 2017, saya melihat harga yang tertera: kemasan sachet plastik 200 gram: Rp. 6.600; wadah plastik 250 gram: Rp. 11.100; wadah kaleng 1 kg: Rp. 51.600; wadah kaleng 2 kg: Rp. 96.100

Sekarang bayangkan jika saya butuh membeli 2 kilogram mentega, menurut perhitungan ekonomi tentulah membeli bungkus sachet plastik jauh lebih menguntungkan dibandingkan membeli wadah kaleng. Harganya hampir 1,5 kali lipat. Mau tak mau saya jadi lebih memperhatikan perbedaan harga ini pada aneka barang. Saat bercakap-cakap menggunakan beberapa teman, aku menerima gosip bahwa teman-teman saya lebih bahagia membeli beragam kebutuhan dalam bentuk sachet dengan aneka macam alasan. Lebih ekonomis, makan tempat lebih sedikit, dan lain-lain. Selain urusan harga, kemasan akbar justru mendorong pemakaian lebih poly, demikian keliru satu alasan yg membuat aku tercenung. Contohnya apa? Saya tanya dalam mereka. Contohnya odol yg mulut tubenya semakin akbar seiring semakin akbar jua tubenya.

Mentega dalam kemasan

Mencoba memisahkan sampah menjadi tantangan baru lain. Setelah berhasil mengurangi dan memilah sampah, saya harus mengurut dada melihat sampah di truk pengangkut sampah kembali menyatukan semua sampah yang sudah dipisahkan. Betapa senangnya hati saya ketika muncul Bank Sampah di perumahan kami. Namun, baru beberapa minggu beroperasi ternyata tutup. Alasannya? Diprotes warga karena bau sampah yang menyengat. Beberapa contoh tantangan ini, ditambah dengan pesimisme akan kebermaknaan tindakan saya terhadap berkurangnya masalah sampah di negara tercinta membuat perlahan-lahan motivasi untuk tetap menerapkan gaya hidup zero waste mulai mengendor. Terkadang keyakinan akan kemampuan untuk bertahan dengan gaya hidup ramah lingkungan juga turut berkurang ketika melihat para pegiat zero waste yang sepertinya benar-benar bersih dari sampah dalam kehidupan sehari-harinya. Rasanya terlalu jauh dan terlalu sulit untuk mengikuti perilaku tersebut.

Semangat untuk kembali menjalankan gaya hidup yang lebih sehat dan ramah lingkungan perlahan-lahan terkumpul kembali justru karena sering bertukar pikiran dengan dua orang kawan dekat yang juga menerapkan hal serupa. Dalam berbagai pertemuan, kami banyak berdiskusi tentang kesulitan dan bagaimana mengatasinya. Kami saling mengapresiasi untuk setiap kemajuan langkah yang dilakukan oleh setiap orang. Dan terutama kami saling berbagi pengalaman, tips dan informasi berkaitan dengan zero waste ini. Dari diskusi-diskusi ini saya juga belajar bahwa komunitas tak selalu cocok untuk semua orang yang baru mencoba membuat perubahan terhadap gaya hidupnya. Terkadang semangat berbagi yang begitu menggebu di anggota komunitas justru dapat memunculkan tekanan pada mereka yang baru mencoba dan disalahartikan sebagai kompetisi. Persepsi ini terutama muncul karena tak selalu terlihat proses dalam sebuah perilaku yang ditampilkan oleh anggota komunitas ketika berbagi. Dari pengalaman awal tersebut, saya melihat bahwa teman dalam perubahan adalah faktor yang penting. Pendekatan-pendekatan pribadi serta contoh-contoh yang dekat dengan kondisi awal adalah hal yang terkadang menjadi lebih efektif dalam menjaga motivasi. Peran teman dalam perubahan ini terutama adalah untuk menjadi model bagi mereka yang baru mulai berkomitmen dalam mebuat perubahan.

Dalam bidang psikologi belajar, ada Social Learning Theory atau Teori Belajar Sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura, seorang psikolog Kanada-Amerika yang juga menjadi profesor ilmu sosial di Stanford University. Teori ini menyatakan bahwa seseorang bisa belajar perilaku baru dari orang lain melalui observasi, imitasi, dan modelling. Beberapa faktor yang turut berperan dalam pembentukan perilaku baru ini adalah karakter model (orang yang perilakunya diobservasi), karakter pembelajar (orang yang mengamati model), dan situasi serta reaksi terhadap perilaku yang dimunculkan. Karakter model berkaitan dengan konsistensi model terhadap perilaku dan kedekatan dengan pembelajar, seberapa mirip pengalaman model dengan pembelajar, seberapa mirip latar belakang model dengan pembelajar, dan bagaimana pembelajar menghargai model sebagai individu. Karakter pembelajar berkaitan dengan motivasi dan perhatiannya terhadap pentingnya perilaku, dalam hal ini bagaimana ketertarikan pembelajar terhadap perilaku sehat dan ramah lingkungan maupun zero waste. Sedangkan situasi dan reaksi berkaitan dengan proses pembelajaran tentang perilaku. Apakah perilaku sehat dan ramah lingkungan maupun zero waste yang dilakukan pembelajar mendapat apresiasi atau justru sebaliknya mendapat pandangan negatif dari orang-orang di sekitarnya, dengan kata lain, apakah perilaku tertentu dipersepsi merugikan atau menguntungkan bagi dirinya. Pada orang dewasa, penerapan teori belajar sosial ini tak harus dengan melihat langsung perilaku, namun juga melalui tanya-jawab, kolaborasi, dan juga diskusi untuk saling berbagi ilmu.

Menularkan kesadaran akan perilaku sehat dan ramah lingkungan ataupun zero waste adalah hal yang penting. Namun semangat untuk melakukan hal ini juga perlu diiringi dengan pemahaman akan tidak idealnya sistem sehingga tidak empatik bila beban membuat dunia lebih baik diletakkan sepenuhnya pada seberapa keras usaha setiap individu. Rasanya kita perlu lebih banyak menerapkan konsep teori belajar sosial dengan memunculkan lebih banyak model yang empatik untuk mendorong kesadaran ini dan memberi lebih banyak teman pada mereka yang sudah memiliki motivasi awal untuk melakukan perubahan, kita pun juga perlu menjadi model bagi orang lain sekaligus menjadi pembelajar di saat yang sama.

Menerapkan konsep teori belajar sosial dalam komunitas juga perlu dan dapat dilakukan. Mendorong ruang diskusi dan tanya jawab serta kolaborasi adalah hal yang esensial untuk disepakati bersama, sehingga komunitas tak melulu menjadi ajang pamer yang kompetitif. Budaya saling mengapresiasi setiap kemajuan yang dibuat oleh anggota juga diharapkan dapat menjadi pendorong semangat para anggota baru. Diskusi-diskusi seputar prinsip rasanya juga perlu terus digaungkan agar perilaku sehat dan ramah lingkungan ini tak sekadar menjadi gaya hidup yang salah kaprah. Salah satu fungsi teman dalam perubahan adalah sebagai model yang memunculkan ataupun memperkuat konsistensi perilaku sehat dan ramah lingkungan. Tanpa model yang empatik dan paham akan konsep zero waste, bisa jadi prinsip zero waste justru tak terpenuhi. Saya melihat hal ini terjadi. Contoh sederhananya adalah soal membeli banyak tas-tas belanja dan wadah-wadah untuk mengurangi pemakaian plastik bila tidak dipertimbangkan baik-baik justru dapat meningkatkan jejak karbon pada produksi dan distribusinya. Saat ini semua orang berlomba-lomba membeli dan memberikan tas-tas kain ini. Trend souvenir pernikahan pun turut bergeser menjadi tas-tas ini. Tidakkah peningkatan produksi besaar-besaran ini turut menyumbang limbah?

Sepanjang pengetahuan saya, gaya hidup sehat dan ramah lingkungan berkaitan erat dengan kedaulatan pangan dan sumber daya alam. Rasanya diskusi terkait hal ini juga perlu terus dikumandangkan dan dikaitkan dengan komunitas. Kita perlu mengingat kembali aneka kearifan lokal di negara yang kaya akan keberagaman ini. Seringkali kita masih menemukan upaya dan gaya hidup sehat yang masih menggunakan aneka bahan pangan yang belum banyak ada di Indonesia, misalnya membuat keju dengan rennet impor ataupun membuat kain pembungkus dengan bees wax dari luar negeri.  Saya pun masih menemukan ini di beberapa toko berkonsep zerowaste yang pernah saya datangi di beberapa daerah. Alangkah terkejutnya saya ketika menemukan kemiri, chia seed, dan kapulaga yang diimpor dari negara-negara lain di toko-toko ini dengan alasan permintaan pasar. Tidakkah kita sebaiknya mengeksplorasi kembali kekayaan ragam sumber daya kita dan mencoba menerapkannya dalam gaya hidup ini? Bukankah itu yang menjadi salah satu prinsip zero waste? Menggunakan apa yang ada di sekitarmu.

Ada poly kekayaan alam dan budaya yang dapat dieksplorasi, & itulah keliru satu fungsi komunitas, di mana kita sanggup saling bertukar keterangan. Berbagi peran dan barter sebagai bagian krusial dalam komunitas. Misalnya, mungkin tidak perlu seluruh orang belajar menciptakan sabun ataupun keju sebagaimana tren belakangan ini. Bisa saja tak seluruh orang punya ketika & kesabaran untuk melakukannya. Dan tidak semua orang jua dapat berkebun dengan segala keterbatasan, terutama di kota besar . Di sinilah kearifan lokal kita yaitu budaya gotong royong berperan. Paling tidak, inilah yg saya dan ke 2 mitra saya biasa lakukan.Misalnya aku yang memang sedang tertarik dalam tanaman yang bisa diolah jadi kuliner menukar biji maupun aneka hasil kebun menggunakan sabun buatan mitra yang memang sedang tertarik menilik pembuatan sabun.

Sabun ditukar menggunakan bunga telang

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengapresiasi mereka yang sudah menunjukkan bahwa gaya hidup sehat dan ramah lingkungan ini dapat dilakukan secara bertahap dengan seru dan menyenangkan, walaupun tetap serius dan dilakukan dengan tujuan mulia. Mereka inilah model yang rasanya dapat mendorong munculnya kesadaran akan pentingnya perilaku yang sama pada orang lain, baik yang belum memiliki pengetahuan akan hal ini maupun yang baru memulai. Semoga semakin banyak model seperti ini yang menjadi “Teman dalam Perubahan” bagi  banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *