[Jalan-Jalan] Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro Banyu Biru
By: Date: November 9, 2017 Categories: Uncategorized

Terik matahari pagi mengiringi kami menuju lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Banyu Biru milik Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT). Dengan menumpang sebuah mobil yang dikemudikan oleh Pak Aep, kami menuju ke wilayah pinggir sungai yang cukup sempit. Di sana, terlihat pipa-pipa menjulur dari kaki gunung. Ujung pipa-pipa itu berakhir di sebuah bangunan berisi mesin-mesin yang mampu mengkonversi arus air menjadi arus listrik. Bangunan yang luasnya kira-kira 3 x 8 meter itu tampak masih baru, ditandai oleh segarnya polesan cat pada dindingnya. Di depan bangunan terdapat sebuah antena parabola. Namun, antena tersebut belum berfungsi. Rencananya, antena parabola tersebut akan berfungsi sebagai pengontrol mesin PLTMH jarak jauh. Di dekat bangunan kecil PLTMH itu, terdapat tanah seluas 200 m2 yang direncanakan untuk berbagai fungsi di kemudian hari.

Perjalanan ini  dilakukan oleh tim KAIL dalam rangka kegiatan evaluasi keberadaan PLTMH Banyu Biru yang didanai oleh Hivos. Tim KAIL beranggotakan Any Sulistyowati sebagai evaluator, dan para asisten yang terdiri dari Selly Agustina, Hilda Lionata, dan David Ardes. Adapun Tim KAIL mengevaluasi PLTMH dari segi sosial-kemasyarakatan, sedangkan dari segi teknis dilakukan oleh Pak Ady dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelum menuju lokasi PLTMH, rombongan terlebih dahulu mampir ke sekretariat SPPQT yang terletak di Kalibening. Di sekretariat itu, rombongan melakukan wawancara terhadap seluruh pengurus SPPQT tentang mikro hidro dan profil organisasi.

PLTMH dibangun di Dusun Bendo Sari, Desa Kebumen Banyu Biru, Kabupaten Semarang. Perjalanan menuju lokasi PLTMH membutuhkan ketika lebih kurang 45 mnt menurut sekretariat SPPQT di Kalibening. PLTMH diresmikan dalam 15 Mei 2012, sang Menteri BUMN Dahlan Iskan. Beliau berharap, menggunakan keberadaan PLTMH Banyu Biru, masyarakat Indonesia mengetahui bahwa upaya mengadakan tenaga berkelanjutan memang sedang dikerjakan, bukan sekedar tentang. Harapan lanjut berdasarkan eksistensi PLTMH ini merupakan supaya bisa menginspirasi gerakan serupa di tempat-tempat lain. Dengan memakai PLTMH ini, kebutuhan bahan bakar fosil menjadi komponen pembangkit listrik akan diminimalkan. Setidaknya itulah keliru satu tujuan pembangunan PLTMH, yang diungkapkan oleh Mas Faisol, Sekjen SPPQT.

PLTMH Banyu Bening mampu menghasilkan daya listrik hingga sekitar 170 kVA. Total daya listrik tersebut kemudian dijual kepada PLN sebagai pembeli tunggal dengan harga Rp 600/ KWH, atau total sebesar 50 juta rupiah. Listrik tersebut akan disalurkan untuk daerah-daerah di  Jawa Tengah, yang menurut Mas Faisol sangat kekurangan pasokan listrik.

Untuk mengurus kegiatan PLTMH ini, SPPQT membentuk CV (Comanditer Venotschaap) Qaryah Thayyibah, dengan Bapak Turjangun sebagai direkturnya saat ini. Pembentukan CV dirasa sejalan dengan prinsip kebersamaan yang dijunjung tinggi oleh SPPQT, karena seluruh hasil yang didapat dari PLTMH ini sepenuhnya akan dimanfaatkan demi kesejahteraan petani SPPQT. Bapak Tarom yang banyak terlibat dalam proses pembangunan PLTMH memaparkan bahwa mereka telah merencanakan beberapa alokasi penggunaan dana yang didapat dari penjualan listrik.

Salah satu alokasi penggunaan dana dari hasil penjualan listrik tersebut adalah konservasi alam di sekitar daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi sumber tenaga PLTMH. Dari pemaparan Bapak Abidin, ketua paguyuban petani dusun Bendo Sari, konservasi ini dilakukan berkat kesadaran masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan di sekitar DAS yang menjadi sumber air bagi dusun mereka. Upaya konservasi yang akan dilakukan adalah dengan menanam pohon-pohon guna mencegah abrasi dan memastikan debit air terus terjaga. Sementara itu, jenis pohon yang akan ditanam adalah pohon aren. Rencana ini telah dikonsultasikan dengan Dinas Kehutanan setempat dan pihak SPPQT akan membentuk sebuah tim yang secara khusus  menangani kegiatan konservasi di sekitar PLTMH.

Dari pembicaraan mengenai konservasi lahan di sekitar PLTMH, Mas Rukham mengungkapkan tentang program pertanian berkelanjutan, yaitu mengajarkan petani teknik bertanam hortikultura. Tujuannya adalah, agar lahan dapat digunakan semaksimal mungkin. Namun, pelaksanaan program ini dirasa sulit. Beliau berkata, ”Petani itu baru percaya kalau melihat hasilnya, tidak pernah cukup dengan mendengar”. Kecenderungan petani di dusun Bendo Sari adalah memanfaatkan lahannya untuk satu jenis tanaman saja. Sehingga, ketika terjadi kegagalan hasil panen, tidak ada hasil yang didapatkan sama sekali. Untuk itulah lahan seluas 200 m2 yang dimiliki oleh SPPQT akan dimanfaatkan untuk mengajarkan pertanian berkelanjutan dengan menanamkan cabe rawit di pot, peternakan sapi-kambing, perikanan, dan biogas.

Beberapa alokasi penggunaan dana lainnya, misalnya yg diungkapkan oleh Mas Rukham, merupakan buat pendidikan, koperasi, dan penguatan kelembagaan. Sebagian dana akan digunakan SPPQT untuk pendidikan anak-anak petani. Perlu diketahui, ketika ini SPPQT sudah memiliki Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah.

Mengapa penekanan kegiatan lebih diutamakan pada kegiatan konservasi & pertanian berkelanjutan daripada kegiatan koperasi & penguatan kelembagaan, lantaran menurut Pak Tarom, dengan penekanan primer tersebut, diperlukan terjadi peningkatan kesejahteraan petani. ?Kalau kebutuhan utama mampu dipenuhi dengan baik, hal-hal lain sanggup dilakukan menggunakan lancar.? Demikian alasan Pak Tarom.

Walaupun planning alokasi penggunaan dana hasil penjualan listrik sudah dipersiapkan, PLTMH Banyu Biru belum dioperasikan karena masih mempersiapkan petugas operator. Untuk ketika ini, baru terdapat enam orang yg dievaluasi siap menjalankan kiprah operator. Namun, pada masa mendatang kaderisasi petugas operator harus terus dilakukan kepada siapapun yg berminat.

Sembari menunggu beroperasinya PLTMH, pengurus SPPQT terus berkiprah buat menyebarluaskan mimpi mereka tentang kemandirian petani dan kedaulatan pangan. Mereka ingin meyakinkan para petani bahwa mereka sanggup menghidupi diri sendiri, dan menjadi petani adalah pekerjaan yg sama baiknya dengan pekerjaan lain.

Sementara itu, SPPQT sudah melakukan pemetaan buat melihat potensi pengembangan PLTMH pada tempat lain, pada antaranya : Wonosobo, Semarang, Temanggung, Kendal, Magelang, dan Batang. Entah kapan akan didirikan, tetapi rencana itu sudah terdapat & SPPQT berharap dapat merealisasikannya.

Sekilas mengenai SPPQT :

Berdiri pada tahun 1999, dengan kepala pertama bernama Ahmad Bahruddin. Beranggotakan lebih kurang 16.348 petani yg bernaung di 120 paguyuban yang beredar di 11 kabupaten/kota. Sekretariat SPPQT terletak pada Jl. Ja?Far Shodiq no.25 Kalibening Kec. Tingkir Kota Salatiga. Saat ini SPPQT diketuai sang seorang perempuan bernama Ruth.

Referensi fakta :

http://bisniskeuangan.Kompas.Com/read/2012/05/15/18153592/Petani.Jual.Listrik.Ke.PLN

(David Ardes Setiady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *