[Media] Sebuah Dunia Tanpa Suami
By: Date: November 16, 2017 Categories: Uncategorized

Judul : Sebuah Dunia Tanpa Suami: Perempuan Kepala Keluarga Bercerita

Produksi : PEKKA-PPSW berafiliasi menggunakan Komnas Perempuan

Tahun : 2004

Pernikahan, yang dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer diartikan sebagai perjanjian resmi antara pria dan wanita untuk membentuk keluarga ini, pada dasarnya sangat terbuka untuk dimaknai oleh siapa saja dan selalu dimungkinkan untuk munculnya counter-hegemoni ataupun hegemoni alternatif.

Pernikahan, yang oleh mainstream masyarakat selalu dikonotasikan sebagai pernikahan heteroseksual, sekaligus juga mengusung pelbagai mitos dan konstruksi sosial. Kontruksi sosial gender telah menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga yang berarti pemimpin dan penentu kebijakan dalam keluarga tersebut serta menjadi pencari nafkah dan tulang punggung bagi keluarganya. Sedangkan perempuan sebagai ibu dan istri dituntut pengorbanannya serta diberi beban sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa.

Pemikiran tentang pernikahan sebagai sebuah keniscayaan (beserta peran gender sebagai paketnya) pada ujungnya membangkitkan berbagai persoalan pelik yang tak berkesudahan. Mulai dari perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, dll. Pertengkaran, selingkuh, ketidaksetiaan, pengkhianatan dilihat sebagai resiko yang harus ditempuh dalam sebuah keluarga.

Padahal, banyak orang mendamba pernikahan, dengan kebahagiaan sebagai titik akhirnya. Seakan pernikahan sepasang insan adalah kata akhir dan puncak hidup bagi setiap orang. Sepertinya, pernikahan menjadi “kodrat” karena Yang Mahakuasa pun telah “memilihkan” pasangan atau jodoh untuk setiap orang. Pernikahan menjadi lembaga yang normatif, dalam artian ia menjadi patokan kebahagiaan sepasang insan.

Lalu, bagaimana para pelaku pernikahan yang terkonstruksi dan terinstitusionalisasi ini bergelut dengan realita mereka? Mampukah mitos dan konstruksi sosial gender seputar pernikahan dan keluarga ini mewujudkan dambaan para pelakunya atas pernikahan itu sendiri?

Ketika pernikahan tidak lagi ?Ideal? Seperti tuntutan konstruksi itu, bagaimana nasib para pelaku & pernikahan serta famili itu sendiri? Akankah mereka bertahan?

Para wanita dari Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Aceh, dan Sambas yang tergabung dalam PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) menuturkan cerita dan pengalaman mereka lewat film ini. Mereka merupakan para wanita yang pernikahannya dianggap ?Cacat? Atau ?Tidak ideal?, lantaran pasangan mereka tidak mampu mengambil peran yang dikonstruksikan bagi pria buat sebagai ketua keluarga.

Pengambilalihan kiprah wanita menjadi ketua keluarga bukan pilihan mereka pada awalnya. Banyak berdasarkan mereka yg terpaksa menjadi kepala keluarga lantaran sang suami selingkuh, mabuk-mabukan, memukul, berbohong, menipu dan mencuri hartanya, memperkosa, atau karena suaminya sakit, terbunuh atau hilang karena diculik.

Dalam film ini, kita bisa belajar berdasarkan para wanita ini bagaimana mereka mengatasi situasi yg dalam awalnya merupakan keterpaksaan dan beban ini. Satu per satu mereka menuturkan bagaimana harapan-harapan dan impian mereka dahulu mengenai pernikahan, yg kemudian kandas pada tengah jalan. Berbagai insiden dialami mereka masing-masing menyangkut relasi dengan pasangannya. Kesakitan dan kesedihan demikian sarat. Namun, yang hebat adalah proses kebangkitan mereka. Bagaimana mereka menyemangati diri, memotivasi diri untuk bertahan hidup bagi keluarganya dan dirinya sendiri. Pengalaman jatuh bangun sebagai ketua keluarga dan sebagai orang tua tunggal tidak terelakkan. Semua proses itu dilakukan semata-mata karena rasa cinta: cinta pada anak, cinta pada kehidupan. Rasa cinta pada kehidupan inilah yang menggerakkan mereka untuk beserta-sama mentransformasi hidup mereka dan orang lain. Di sinilah makna seorang aktivis….

Pada gilirannya, kesadaran baru serta kehidupan baru terbit sebagai hasil dari pengorganisasian diri dan bersama. Hingga akhirnya mereka bisa berkata: “to forget, to forgive and to continue our live”. (ID)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *