[MEDIA] NEW MEDIA DAN KEMANDIRIAN BERPIKIR
By: Date: November 18, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Jeremia Bonifasius Manurung

Media merupakan mengenai poly hal. Namun waktu berbicara tentang media, kita tidak mampu menghindari percakapan tentang galat satu fungsi media menjadi indera penyampai pikiran atau inspirasi. Media bukan hanya melaporkan peristiwa semata yg berisi akidah 5w & 1h. Mereka juga mengungkapkan ilham dan konteks. Ide & konteks yg coba disampaikan kadang menyelimuti insiden yang diberitakan, atau kadang malah secara halus disembunyikan pada pada warta. Sebuah kabar bisa saja menceritakan peristiwa orang tewas. Namun tentu hal yang ditangkap oleh audiens akan sangat tidak sinkron antara meninggal lantaran ditabrak atau meninggal karena terorisme. Akan ada wangsit-ilham atau pun konteks yang coba dibangun oleh media denga memanfaatkan kejadian atau insiden tertentu.

Karena sifatnya yang seperti itu, media dimanfaatkan oleh segelintir orang sebagai senjata ampuh untuk menyebarkan ide tertentu yang menguntungkan mereka. Mereka yang mempunyai media adalah mereka yang mempunyai power. Ini sudah jadi pengetahuan awam. Namun perlu diketahui bahwa power disini adalah netral. Media bisa menjadi sangat baik namun juga menjadi sangat buruk. Beberapa kampanye atau bahkan revolusi bisa dimulai dari media. Di sisi lain, pengalihan isu, penggiringan opini, sampai hoax juga dihasilkan oleh media.

Audiens tidak menyadari  operasi seperti itu. Mereka yang mengoperasikan media mengerti bahwa manusia adalah makhluk emosional. Manusia cenderung terlalu cepat untuk percaya atau tidak percaya pada hal-hal yang membuat mereka cepat merasa senang atau sedih. Dengan menembak dahulu emosi seseorang, media membuat orang tersebut seperti terblok untuk bisa berpikir rasional. Kombinasikan hal ini dengan modal besar yang bisa membuat bombardir ide terjadi secara masif dan frekuensi tinggi, maka media menjadi alat berdaya tinggi.

New Media

Bila kita kuliti lagi, proses penyampaian ide & konteks pada media terjadi tidaklah serta merta. Ada proses pengumpulan data, pengolahan, dan kemudian eksploitasi data dalam bentuk analisa yg nantinya disajikan ke publik. Mereka memberikan konteks dan wangsit memanfaatkan insiden yang kemudian diolah entah itu secara logis atau seolah-olah logis.

Menurut Zen RS (CEO Narasi) dalam sebuah workshop tentang New Media yang dihelat secara terbatas, New media, atau media baru bukan hanya tentang perubahan bentuk media seperti misalnya dari yang awalnya cetak jadi elektronik. Ia lebih dalam dari itu. New media adalah tentang prilaku baru institusi apapun (tidak hanya media konvensional yang umumnya dicitrakan sebagai penyampai berita) yang bisa menggali atau mengumpulkan data/ide/kejadian, mengolahnya, lalu kemudian mengeksploitasinya dengan cara baru.

Intinya adalah di cara pengumpulan, pengolahan, dan eksploitasi yang  baru. Umumnya, cara baru yang mereka lakukan adalah dengan berbagai teknik terbaru entah itu artificial intelegence, machine learning, atausoftware dan aplikasi digital lainnya. Alat-alat itu mereka gunakan sehingga aktivitas-aktivitas di atas bisa mereka kerjakan dengan kecepatan dan dalam skala yang sulit dibayangkan. Dahulu, media memerlukan banyak wartawan untuk menggali informasi. Saat ini, mereka hanya butuh satu orang ahli IT dengan kemampuan di atas rata-rata dan dampak yang dihasilkan bisa berkali lipat dari banyak wartawan digabung sekalipun. Siapa sangka bahwa tim berisi empat orang bisa mengekstrak, mengolah, dan mengeksploitasi informasi hingga bisa memenangkan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat?

Artikel The Guardian yang menjelaskan tentang cara kerja Cambridge Analytica  memanfaatkan data untuk kepentingan kampanye politik.

Cara Kerja New Media

Ada banyak hal baru yang dikerjakan new media jika dibandingkan dengan old media. Pertama cara mendapatkan informasi. New media mendapatkan informasi dari “pencurian data” melalui berbagai cara.  Mereka “membajak” akun kita, mengekstraksi semua data bahkan data teman kita juga.

Dalam menganalisa data, saat ini sudah ada artificial intelligence dan machine learning yang membuat data bisa diolah dengan kecepatan tinggi dan dalam skala yang amat besar. Banyak sekali informasi dan keputusan yang bisa dihasilkan dari situ.

Ujungnya, eksploitasi data bukan hanya tentang analisis berdasarkan data yg coba ditampilkan atau disajikan ke konsumen. Tetapi hingga konsumen itu sendiri dijadikan sasaran kesimpulan analisis. Mereka bisa menarget mana konsumen yg wajib disodorkan dengan artikel yg mana & mana konsumen yang harus disodorkan artikel yang lainnya.

Mengakali New Media

Mengapa kita perlu mengakali new media? Memangnya apa yang membuat mereka harus diakali?

Menggunakan new media, kita kan keranjinga  sesuatu yang di-setting oleh orang lain, informasi privat  menjadi barang yang mudah diketahui, dan yang paling penting adalah proses pengambilan keputusan yang tak lagi didasarkan pemikiran yang mandiri. Tentu kita tidak mau menjadi “korban” dari itu semua.

Sebagai contoh, tim yang memenangkan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikt sebelumnya juga bekerja mengampanyekan brexit.  Setelah diadakan referendrum Brexit, pencarian “What is Brexit” dan “What is Eurpean Union”  menjadi  top google trend di Inggris Raya. Bisa disimpulkan bahwa propaganda lebih dulu masuk ke orang-orang Inggris sebelum mereka  benar-benar berpikir dan mengambil keputusan matang tentang Brexit.

Tren pencarian google di Inggris Raya.

Sebelum masuk ke dalam aksi untuk mengakali new media kita harus paham dulu apa yang mereka lakukan. Bagaimana mereka bisa mengekstraksi data pribadi kita dan bagaiamana mereka bisa membombardir kita dengan informasi yang bertujuan khusus untuk membuat mereka bisa mencapai kepentingan mereka.

Mereka ingin kita mengambil keputusan menurut emosi. Mereka ingin kita berpikir sinkron koridor yg mereka siapkan melalui bombardir keterangan pada skala yg masif dan frekuensi tinggi. Hal itu membuat kita membiarkan emosi mengambil alih kendali pengambilan keputusan & mengesampingkan kesadaran. Ketika pencerahan kita telah hilang, keputusan yg kita ambil tidaklah merdeka. Keputusan tadi terikat pada hal-hal remeh dan tidak primer.

Untuk menjaga kesadaran pertama-tama kita perlu mandiri dalam berpikir. Kita perlu tahu cara kerja new media yang membuat kita tidak mandiri dalam berpikir. Ketidakmandirian kita dalam berpikir bisa diruntuhkan oleh New Media karena mereka paham diri kita. Melalui data yang mereka dapatkan entah itu secara legal atau ilegal, mereka jadi tahu tiap-tiap orang yang mereka target.

Di sini kita harus mengerti bagaimana menjaga privasi kita sebagai akibatnya mereka nir seenaknya sanggup mengekstraksi data kita. Lebih dalam, lagi kita perlu pula pelajari algoritma-algoritma pengambilan data yg mungkin mereka lakukan. Intinya, kita perlu sebagai lebih pintar berdasarkan teknologi yang dipakai para media baru ini.

Kemudian, yg paling penting, kita perlu benar-sahih tidak membiarkan emosi menjadi kendali diri yang menyetir bagaimana kita mengambil keputusan. Sesuatu yang membuatmu senang , murung , atau marah terlalu cepat justru patut kamu ragukan. Tentu rasa-rasa pada atas akan sangat sulit dikendalikan. Kita tidak mampu memilih emosi apa yg kita nikmati lantaran emosi merupakan hal yang spontan. Namun kita mampu memilih aksi apa yg mau kita lakukan menggunakan emosi tersebut. Dengan kesadaran & sedikit menahan diri buat disetir emosi, kita bisa kembali ke alam rasio sebelum memilih tindakan yg mau kita ambil.

Terakhir, apalagi bila keputusan yang kita ambil cukup penting dan akan memengaruhi hidup kita, bolehlah kita menghabiskan sedikit lebih banyak waktu untuk melakukan check and recheck. Cari berbagai macam informasi dari sumber kedua, ketiga, dan seterusnya. Kalau perlu kita coba lihat cara pandang  yang bahkan kita tidak sukai sama sekali. Untuk bisa melengkapi aksi ini, kita juga perlu banyak belajar tentang sesat pikir (logical fallacy) dan cara pengambilan keputusan secara abduktif, induktif, atau deduktif. Dengan demikian kita punya kemampuan atau sense yang lebih lengkap untuk menentukan mana yang lebih bisa dipercaya atau tidak.

Memang tidak gampang. Namun kita mampu mulai melatih diri menurut hal yang sederhana. Ketika kita sanggup mendapatkan liputan menggunakan mudah & ketersediaan warta yang teramat melimpah seperti waktu inilah, kita perlu sangat menaikkan kemampuan kita supaya kita mampu merogoh keputusan berdasarkan pertimbangan valid, rasional, & berdikari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *